
Mungkin keputusannya kembali ke tanah air bukanlah hal buruk. Karena sejujurnya ia juga merindukan rumah yang sesungguhnya. Bukan tempat yang hanya sementara ia tinggali, tapi tempat dimana ia menua nanti.
Jadi, ketika Caca sudah menyetujui untuk melahirkan di Jakarta, Tara langsung memboyong keluarganya kembali ke tanah air.
Mereka disambut dengan suka cita oleh kedua orang tua Tara. Disana juga ada Rani dan Rian serta dokter Risma yang tak kalah bahagia melihat Caca bahagia bersama suami dan anak-anaknya.
Setelah menyalami dan memeluk kedua mertuanya. Kini Caca betalih memeluk sahabatnya.
"Ya ampuun Ran.. Gue kangen banget sama lo." bisik Caca dengan suara bergetar.
Rani memukul punggung Caca pelan, air mata sudah membasahi wajahnya. "Lo pikir lo doang yang kangen. Gue juga tau! Jahat banget lo nggak pernah pulang sekali pun!"
Caca terkekeh dan melepas pelukan mereka. "Lo masih nggak berubah Ran. Masih aja kayak anak kecil suka ngambek."
Rani mengerucutkan bibirnya. "Lo juga! gue bahkan belum nikah. Tapi lihat, anak lo udah sebanyak ini." tunjuk Rani pada anak-anak Caca dan mengusap perut besar wanita itu.
"Suami gue terlalu seneng vonis dokter ternyata salah. Makanya ngelarang gue buat pakai penunda kehamilan."
Semua orang tertawa menatap Tara yang terlihat malu dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kecuali anak-anak yang tak tahu apa pun.
"Ibu seneng lihat kamu sekarang bahagia." bisik Dokter Risma ketika memeluk tubuh Caca.
"Doain ya bu. Biar Caca bisa bahagia terus." pintanya pada wanita yang cukup berjasa dalam masa sulitnya dulu.
"Pasti pasti.." sahut dokter Risma langsung dengan tangan yang mengusap punggungnya lembut.
Caca hanya menjabat tangan Rian dan menggoda pria itu. "Cieee yang berhasil menaklukkan hati pujaan."
Rian hanya tersenyum jumawa. Sebentar lagi memang ia akan melangsungkan pernikahan dengan Rani. Wanita yang cukup sulit untuk ia yakinkan dengan niat tulusnya. Hingga di usianya yang menginjak 30 tahun ini ia baru bisa meyakinkan hati Rani bahwa ia bersungguh-sungguh meminang wanita itu dan mencintainya dengan tulus.
"Doain biar semua lancar." ucap Rian sembali melirik wanitanya yang tengah menggendong anak Caca yang berusia tiga tahun.
"Jaga sahabat gue baik-baik. Jangan pernah sakitin wanita yang lo cintai kalau lo nggak mau kehilangan dia. Perlakuin dia seistimewa mungkin biar rasa cintanya terus tumbuh buat lo." nasehat dari Caca langsung Rian iyakan dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Mereka semua langsung pulang ke rumah Tara dan Caca. Rumah yang sudah lima tahun lebih mereka tinggalkan. Meski rasanya lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Tapi Caca tetap bahagia bisa berkumpul dengan orang-orang yang ia sayang juga menyayanginya.
Asisten rumah tangga dirumah juga tak kalah terharu dengan kepulangan keluarga itu. Asisten senior bahkan sampai meneteskan air mata begitu melihat dan memeluk tubuh Caca.
Caca senang merasa dirindukan seperti ini. Itu berarti masih banyak orang yang menyayanginya meski mungkin di luar sana masih ada orang yang mencacinya.
***
Kabar kepulangan mereka sampai di telingat keluarga Abraham. Tak perlu waktu lama untuk keluarga ayah Tara menyambangi rumah mereka di malam berikutnya.
Baik Tara mau pun Caca menyambut dengan baik kedatangan mereka. Ada William dan sang istri. Begitu juga Aldo dengan istrinya.
Cukup lama mereka hanya berbasa-basi menanyakan kabar dan anak-anak Tara yang baru kali ini mereka lihat.
Aldo juga kini sudah berubah. Pria itu justru yang paling antusias ketika Axel mendekatinya.
Awalnya Caca merasa khawatir pria itu akan berbuat kasar pada putranya. Namun ketika sang suami meremas tangannya sebagai tanda untuk Caca tak mengambil Axel dari pamannya itu, akhirnya Caca kembali duduk dan membiarkan sang putra. Dan terbukti, Aldo seperti seorang kakek pada umumnya yang menyayangi cucu mereka.
Tara menghela napasnya panjang. Ia pergi bukan untuk bersembunyi. Dia hanya tak ingin anak dan istrinya terluka dengan perkataan orang-orang diluar sana.
"Dan sudah cukup juga kamu mengembangkan perusahaan orang, sedangkan perusahaan kita sendiri membutuhkanmu."
Semenjak perusahaan jatuh dibawah pimpinan Aldo, perusahaan Abraham mengalami penurunan drastis dalam omset perusahaan. Tapi William sudah berjanji pada Tara untuk memberi kesempatan Aldo memimpin perusahaan agar pria itu tak lagi berselisih dengan mereka. Untuk itu ia membiarkan saja, asal perusahaan tidak jatuh gulung tikar.
Disana Aldo menunduk malu. Dulu ia sangat sombong dan merasa lebih berhak dan mampu di banding Tara. Namun ternyata menjadi seorang pemimpin tak semudah yang ia bayangkan. Banyak hal yang harus ia pikirkan dan hadapi.
"Saya tidak sembunyi Om." meski Tara akui jika caranya menghadapi masalah cukup pengecut. "Dan untuk mengembangkan perusahaan lain.. Bukankah dimana pun kita bekerja kita harus melakukan yang terbaik yang kita bisa?"
William mengangguk menyetujui yang Tara katakan. Tara memang selalu totalitas dalam bekerja. Tak heran dalam waktu singkat, Tara sudah berada di posisi penting di luar negeri sana. Dan tak heran perusahaan itu semakin berkembang. Karena ia sendiri yang menyaksikan bagaimana perusahaan Abraham juga berkembang pesat dibawah pimpinan keponakannya itu.
"Saya hanya pulang karena mama meminta Nathasya untuk melahirkan disini. Kami hanya sementara." imbuh Tara lagi. Namun sepertinya William tidak setuju.
"Sejujurnya Om ingin kamu tetap berada disini dan kembali memimpin Abraham."
__ADS_1
"Tidak Om. Abraham sudah memiliki Om Aldo sebagai pemimpin. Saya tidak akan lagi mengambil posisi yang bukan hak saya."
William menatap adiknya yang masih menunduk. "Bukankah kamu ingin mengatakan sesuatu pada Tara, Aldo?"
Setelah menghela napasnya panjang, Aldo kini mengangkat dagunya menatap Tara yang penasaran apa yang akan pamannya itu sampaikan.
"Om ingin memohon maaf padamu Tara." Aldo merasa malu dengan semuanya. "Maaf karena sempat berusaha mencelakaimu dan menyebarkan kenyataan tentang keluarga kalian."
Bola mata Caca membulat dan langsung menoleh pada suaminya. Namun sepertinya sang suami tak merasa kaget seperti yang ia rasakan. Karena Tara memang sudah mengetahui segalanya.
"Om memang sempat gelap mata. Merasa sakit hati karena tak dipercaya keluarga sendiri hingga Abraham langsung diserahkan kepadamu."
Terlihat istri Aldo mengusap punggung tangan suaminya lembut untuk menguatkan pria itu.
"Karena sakit hati itulah yang membuat Om ingin menghancurkanmu sehancur-hancurnya."
Kedua orang tua Tara juga sejujurnya kaget dengan kenyataan itu. Tapi tidak dengan William yang sudah tahu. Karena orang-orang kepercayaannya sudah menyelidiki segalanya.
"Sejujurnya Om malu ada dihadapanmu seperti ini. Dulu Om terlalu sombong dan merasa lebih hebat dari pada kamu."
"Tapi nyatanya, Abraham saat ini jatuh sejak Om yang memimpin."
Aldo menatap sang istri meminta dukungan. Wanita itu mengangguk tipis sebagai jawaban.
Aldo kembali menatap sang keponakan. "Untuk itu, Om ingin mengembalikan Abraham kepadamu yang lebih pantas dan mampu untuk mengemban tanggung jawab itu."
*
*
*
Yeayyy akhirnya bisa up... Maafkan lama ya gaes 🙏
__ADS_1