
Rani dan Rian ikut bergabung di ruang tamu bersama Tara yang sudah memangku Mentari di sana. Bisa keduanya lihat betapa bahagianya gadis kecil itu ada di dekat sang ayah.
"Gimana persiapannya?" tanya Rani begitu mendudukan dirinya pada sofa. di ikuti Rian yang duduk di sampingnya membuat ia menjadi canggung dan melirik pada pria yang santai saja. Seakan pria itu tidak habis menciumnya.
Itu bahkan hanya kecelakaan. Bukan keinginan Rian untuk menciumnya. Rani meruntuk sendiri dalam hati.
"Semua berjalan lancar. Udah siap semua tinggal nunggu hari H." jawab Caca. Meski ada keraguan pada raut wajah wanita itu.
Pernikahan yang tinggal menghitung hari bukan membuatnya senang, tapi justru membuatnya semakin gelisah.
"Doakan saja. Semoga setelah menikah, semua juga akan berjalan selancar persiapannya." imbuh Caca dengan senyum yang di paksakan.
Hingga hari terasa berlalu semakin cepat. Rasa gugup dan cemas tak lagi Caca rasakan. Seperti kata Tara. "Bahagia dan nikmatilah hari pernikahan kita. Siapa tahu itu kebahagiaan kita sebelum badai mendera."
Jadi yang Caca lakukan adalah menikmati pernikahannya dengan hati bahagia. Bahagia bisa bersatu dengan pria yang memang ia cintai.
Acara pernikahan juga resepsi berjalan cukup lancar. Penuh kebahagiaan. Terutama Mentari dan kedua orang tua Tara yang tak henti mengulas senyum sepanjang acara.
Acara di gelar mewah di sebuh ballroom hotel berbintang. Bahkan ada beberapa media yang meliput pernikahan mereka kali ini. Meski identitas Caca dan keberadaan Mentari tidak di umumkan secara langsung.
Tara juga tidak di izinkan mengadakan konferensi pers oleh keluarga Abraham. William bilang, biar saja media mencari tahu sendiri.
Beruntung pula para kolega tidak ada yang mengetahui status Caca. Selama ini memang Caca tidak pernah ikut jika ada pesta dengan para koleganya. Jadi meskipun para klien perusahaannya tahu ia memiliki anak angkat, yang mereka tahu adalah Caca masa remaja. Berbeda dengan sekarang yang sudah menjadi wanita anggun yang tidak mereka kenali.
Rani dan Rian tersenyum dari tempat duduk mereka. Ikut bahagia melihat kebahagiaan yang tengah Caca rasakan saat ini. Setelah banyaknya penderitaan yang wanita itu rasakan. Caca memang pantas bahagia.
"Lo nggak pengen kaya Caca, Ran?" ujar Rian masih menatap ke arah pelaminan. Dimana Caca dan Tara masih belum selesai menerima ucapan selamat dari tamu yang hadir.
"Pengen apa? pengen nikah?" tanya Rani menatap pria di sebelahnya.
"Pengen ada yang jagain dan nemenin tidur."
Rani mencibir. "Gue berani tidur sendiri. Nggak perlu ada temannya."
"Tapi kan nggak bisa bikin anak, tidur sendiri mah." ujar Rian lagi yang langsung membuat kedua bola mata Rani membola sempurna.
__ADS_1
"Bisa sedikit di saring nggak, ngomongnya?"
Rian balik menatap Rani dengan polos. "Apa yang salah? kalau sendirian ya berarti selamanya lo nggak bakal punya anak kan?"
Rani berdecak keras. "Gue emang belum pengen nikah! tapi bukan berarti selamanya gue pengen sendiri!" tanpa di tanya pun ia ingin ada pria yang ia cintai dan mencintainya dengan tulus. Ia juga ingin melahirkan anak yang lucu-lucu seperti Mentari.
"Kalau gitu kenapa nggak sekarang aja? Gue udah pengen punya anak sendiri."
Rani semakin menggeleng tidak mengerti. Sahabatnya itu sepertinya benar-benar kesambet. "Ya nikah aja sana! kenapa ngajakin gue mulu dah!"
***
Lampu kamar hotel sudah temaram dengan cahaya lampu tidur. Dibawah selimut, Caca yang sudah sah menjadi istrinya secara hukum dan agama sudah terlelap. Ia tahu, wanitanya pasti kelelahan dengan segala prosesi yang mereka lalui hari itu.
"Mimpi indah sayang. Kamu pasti lelah." ujar Tara yang membenarkan selimut yang membalut tubuh istrinya. Tak lupa meninggalakan ciuman dan usapan lembut di kepala sang istri.
Caca menggeliat dalam lelapnya. Mengerjap-kerjapkan matanya berusaha meraih kesadar. "Mas udah selesai?" tanyanya dengan suara serak. Matanya bahkan masih sangat sayu menahan kantuk.
"Iya. Kamu tidur lagi aja." ujar Tara membelai rambut sebahu milik istrinya.
Caca menggeleng. "Mas mandi aja. Biar aku siapkan baju."
Tara mengangguk dan kembali mengecup dahi sang istri sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Menyegarkan tubuhnya yang sudah terasa sangat lengket.
Tak hanya pakaian. Caca juga menyiapkan teh hangat dan makan malam yang ia minta dari layanan hotel. Pasti suaminya lelah. Sama seperti dirinya. Terlebih suaminya belum sempat makan karena langsung bertemu dengan keluarga Abraham selepas pesta.
Aah suami. Pipi Caca menghangat. Rona merah muncul di sana. Merasa malu dengan sebutan yang bahkan hanya ia sebut dalam hati. Jantungnya juga berdegup keras membuatnya sesak napas.
Kenapa rasanya gugup sekali?
Sudah berapa lama ia tak menyebut pria itu suami?
Dan berapa lama ia tidak tidur dalam satu ranjang yang sama dengan Tara?
Ditengah pikirannya yang mulai liar, pintu kamar mandi terbuka lengkap dengan seorang pria yang keluar hanya dengan lilitan handuk pada pinggangnya.
__ADS_1
"Kenapa nggak tidur lagi?" tegur Tara. Tangan pria itu bergerak mengeringkan rambut dengan handuk kecil.
"Mana mungkin tidur kalau kamu aja belum makan." gerutunya dalam hati.
"Makan dulu, mas. Tadi aku udah pesenin." tunjuknya pada meja sofa yang ada di dalam kamar.
"Kalau makan kamu aja, boleh?" tanya Tara dengan senyuman menggoda dan tubuh yang mulai mendekati tempat tidur.
"Eh?" ia tidak sangka suaminya justru meminta itu padanya.
Padahal wajar saja seorang suami meminta hak pada istrinya. Apa lagi ini malam pertama mereka. Tapi aku lelah. Erangnya dalam hati.
Kekhawatiran memikirkan pernikahan mereka, membuat Caca lupa seberapa suaminya selalu menginginkan tubuhnya.
"Makan dulu deh, mas." Caca mencoba mengulur waktu. Selain lelah, ia memang belum siap. Kembali bertemu lagi dengan Tara saja masih membuatnya canggung. Apa lagi harus melakukan hal seperti itu.
"Kamu belum makan?" jawab Tara dengan pertanyaan.
"Udah tadi pas mama masih di sini."
"Ya sudah. Nunggu apa lagi." Tara duduk di sebelah istrinya yang langsung menunduk. Membuat ia mengulum senyum melihat istrinya malu-malu. Bahkan wanita itu lebih berani ketika masih muda dulu. Lebih menantang seakan tak pernah takut apa lagi malu saat ia sentuh.
Melihat Caca menunduk seperti itu, mengingatkannya pada istrinya yang sudah tiada. Ketika mereka baru menikah, dan sama-sama pengalaman pertama mereka.
Tara memegang bahu Caca untuk ia putar menghadapnya. Didongakkannya dagu wanita itu hingga pandangan mereka bersitatap.
"I Love You, Nathasya Gustari." ucapnya sebelum membenamkan ciuman di bibir Caca.
*
*
*
Dilanjut nanti malam kalau gak capek hihihi
__ADS_1