I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Memulai Dari Awal


__ADS_3

Meski Tuhan menghapus ingatannya tentang anak dan istrinya. Tapi Tuhan masih menitipkan rasa yang sama pada Tara. Perasaan Tara tidak berubah meski kenangan kebersamaan mereka hilang.


Awalnya Tara sendiri tidak tahu apa yang ia rasakan. Perasaan tak wajar apa itu. Baru setelah kejadian siang tadi, Tara yakin jika ia mencintai Caca dan ada rasa ingin melindungi yang begitu kuat. Meski ia sendiri tidak tahu, ingin melindungi Caca dari apa.


"Bener. Tari boleh panggil papa lagi?" bocah kecil itu terlihat bahagia ketika Tara bergabung menemaninya bermain dan meminta Mentari untuk memanggilnya 'papa'. "Emang papa udah inget Tari lagi?" imbuh anak itu dengan senyum yang terus mengembang.


Tara tidak tega untuk mematahkan kebahagiaan putrinya. Apa lagi ini senyum bahagia yang begitu tulus pertama dari Mentari untuknya. Pertama yang terukir di ingatannya.


"Meski papa belum ingat. Tapi papa tetap papa Tari kan?" tanya Tara yang kini tengah memangku gadis kecilnya di ruang keluarga Caca tengah menyiapkan makan malam untuk mereka.


"Jadi papa belum ingat?" Mentari berucap sendu dengan kepala menunduk.


Tara menghela napasnya berat. Dikecupnya dengan sayang pipi gadis yang tengah bersedih itu.


"Bagaimana kalau kita ulang semua?"


Mentari mengerjap lucu menatap Tara. "Ulang apa?"


"Apa yang bikin Tari sedih kalau papa lupa sama Tari? kan yang penting papa tetap sayang dan jadi papa Tari." Tari menelengkan kepalanya bingung. "Tapi papa bisa kembali ingat Tari dengan praktis."


"Gimana pah?"


"Kapan Mentari paling bahagia saat sama papa?" jawab Mentari dengan pertanyaan.


Gadis kecil itu mengetukkan jari telunjuknya di dagu dan menatap langit-lagit. Mencoba mengingat kapan saat paling bahagia ketika mereka bersama.


Tiba-tiba Mentari menjentikkan jarinya. "Semua bahagia sih, pah. Tapi Tari paling bahagia pas kita jalan-jalan ke taman safari." bola mata Mentari terlihat berbinar bahagia.


"Kenapa?"


Tara ingin mengulang semua kebersamaan mereka. Atau membuat kenangan baru yang akan indah untuk di ingat. Bukan suatu kenangan buruk yang akan membuat putrinya bersedih.


Tara akan memulai semua dari awal. Kembali mencoba mengenal anak dan istrinya. Mengetahui setiap kebiasaan keduanya hingga detail terkecil-pun.


Ia harap. Meski ingatannya belum kembali. Tapi ia bisa membuat Caca dan Mentari bahagia.


Mentari menggeleng. "Enggak tahu. Tapi itu hari pertama Tari panggil papa dengan papa."


Tara terenyuh mendengarnya. Harusnya ia yang bahagia di hari itu. Bahagia karena putrinya mau memanggilnya dengan sebutan tersebut. Tapi dia malah melupakannya. Ya.. walau pun sekarang ia sedikit ingat bagaimana saat itu terjadi. Ingat dari ingatan yang berkelebat lewat siang tadi.


"Maafin papa, sayang." Tara mendekap erat tubuh putrinya. Memberinya kecupan di puncak kepala sang putri.


"Kenapa papa minta maaf?" Tari tidak suka melihat ayahnya sedih. Meski ia sempat marah karena Tara melupakannya. Tapi ia tetap menyayangi ayahnya itu.

__ADS_1


"Kata mama, papa sakit. Jadi nggak pa-pa kalau papa belum ingat Tari. Nanti juga ingat lagi kan pah?"


Tara mengangguk tanpa melepas dekapannya. "Papa pasti ingat lagi."


Caca yang tak jauh dibelakang mereka buru-buru menghapus air matanya. Ia ikut terenyuh mendengar pembicaraan keduanya.


"Yuk makan. Makan malam sudah siap." ucap Caca dengan ceria begitu menghampiri kedua orang yang paling berarti dalam hidupnya.


Tara memangku Mentari diatas pundaknya. Berlari mengajak anak gadisnya ke ruang makan. Mentari memegang kepala ayahnya erat dengan tertawa-tawa riang.


Caca yang mengikuti mereka dari belakang tersenyum bahagia. Berterimakasih pada Tuhan yang masih memberi keluarganya kebahagiaan. Berterimakasih karena sudah mengembalikan Tara menjadi suami untuknya dan ayah untuk putrinya.


Meski kenangan tentang mereka belum kembali, tapi yang terpenting Tara menerima mereka dengan penuh kasih sayang.


***


Malam itu, untuk pertama kalinya juga, Tara kembali menemani putri kecilnya untuk tidur. Membacakan buku dongeng yang Mentari sodorkan padanya. Meski gaya mendongengnya terlihat aneh. Tapi putrinya tak henti melengkungkan kedua sudut bibirnya. Sepertinya Mentari benar-benar bahagia karena Tara kembali menjadi sosok ayah untuknya.


Tara membenarkan selimut putrinya yang sudah terlelap. Menatap Caca yang berbaring di sisi lain Mentari yang juga tengah menatapnya.


"Kenapa?" tangan Tara mengusap setetes air yang jatuh di pipi istrinya.


Caca menggeleng. "Makasih mau menerima kami sebagai anak dan istri meski mas belum mengingat kami."


Caca hanya bisa membalas dengan anggukan.


"Haruskah aku juga tidur disini?" tanya Tara yang membuat Caca mengernyit dengan senyum kecil.


"Atau kamu yang mau tidur denganku di kamar kita... mungkin?"


Caca terkekeh kecil. Ternyata Tara tetap Tara.


Tara bangkit dengan perlahan agar putrinya tidak terganggu dengan pergerakannya. Mengulurkan tangan yang langsung di sambut oleh Caca yang ikut bangkit dari posisi berbaringnya.


Ada rasa canggung pada keduanya ketika mereka sudah sama-sama berbaring bersisian. Terlebih Tara, jantungnya berdegup tak santai. Merasa seperti pengantin baru yang baru pertama kali tidur dengan istrinya.


"Boleh tanya sesuatu?" ucap Tara memecah kesunyian dan kecanggungan di antara mereka.


"Apa?"


"Aku sudah merenggut kesucianmu. Dan..." ada rasa ragu untuk Tara menanyakannya.


Caca memposisikan tubuhnya miring. Menunggu suaminya melanjutkan pertanyaannya.

__ADS_1


"Apa Tari hasil dari hubungan tanpa ikatan."


Caca menggeleng tanpa tersinggung. Karena Mentari memang bukan hasil dari hubungan terlarang mereka. Caca bersyukur karena Mentari tidak hadir di saat mereka belum menikah.


Ia dan Tara sudah melakukan dosa besar. Dan itu berjalan cukup lama. Mungkin karena itu hubungan mereka tidak berjalan baik sejak awal. Karena Tuhan tengah menghukum mereka.


Tapi semoga Tuhan menerima taubatnya. Mengampuni segala dosa dan berbaik hati memberikan kebahagiaan untuk rumah tangganya kedepan nanti.


"Kita memang sempat terjerumus dosa selama hampir satu tahun. Tapi Mentari hadir ketika kita sudah menikah secara agama." jawab Caca dengan tenang. Baginya masa lalu hanya sebagai pelajara. Semua sudah ia ikhlaskan dan tak ingin lagi di kenang. Kecuali kenangan indah mereka bersama.


"Lalu sekarang?"


"Sekarang kita sudah menikah secara resmi. Dua bulan lalu."


Tara banyak bertanya tentang mereka pada Caca malam itu. Tentang kenapa Mentari memanggilnya om. Bertanya tentang kenapa mereka baru menikah setelah Mentari besar. Dan menanyakan hal lainnya. Termasuk meminta maaf sudah membuat hidup Caca dan Mentari susah.


"Aku janji. Aku akan memperjuangkan kalian. Berusaha hingga titik darah terakhir untuk melindungi kalian. Dan akan membahagiaakan kalian." ucap Tara ketika Caca menjelaskan kondisi saat ini dimana awak media tengah mengejar mereka karena kecaman banyak pihak yang tidak suka hubungan mereka.


"Apa salahnya jatuh cinta dengan anak angkat? kita kan tidak bisa mengatur kepada siapa kita jatuh cinta." ucap Tara kesal.


"Persepsi orang kan beda-beda, mas." jawab Caca mencoba menenangkan. "Bagi mereka ini hal tidak wajar dan menjijikan. Kita hanya perlu menutup telinga kita. Dan mas harus cepat sembuh untuk menyelesaikan masalah di perusahaan. Kasihan papa yang selama ini urus."


Tara mengangguk. Ia akan mencoba meminta izin untuk kembali ke perusahaan. Jika pun ia tidak bisa lagi sebagai pemimpin disana. Setidaknya ia ingin menyelesaikan permasalahan yang ia buat dan merugikan orang-orang yang menggantungkan hidupnya disana.


"Boleh peluk?" tanya Tara. Ia ingin ketenangan dalam pelukan sang istri.


Caca mengangguk dan langsung menyambut Tara dalam dekapan hangatnya. "Jangan kencang-kencang ya mas, meluknya." pinta Caca.


"Kenapa?" Tara mendongak mempertemukan pandangan mereka dalam satu garis lurus.


Caca tersenyum dan menuntun tangan Tara menuju perutnya yang datar. "Ada anak kedua kita disini."


*


*


*


Bagaimana dengan bab kali ini menurut kalian?


Yuk tinggalin jejak, komen, like atau apa saja yang bikin othro seneng hihihi


Love sejagat untuk kalian semua 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2