
Yuk yang belum mampir di Langit Senja mampir dan ikut ramaikan. Sembari nunggu othor mikir gimana bikin ending buat Caca sama Tara.
Saya terima nikah dan kawinnya Jingga Radika Putri binti Radika Putra, dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." ucap seorang pemuda dengan lantang. Begitu kata "Sah" terucap, gadis di sebelahnya-yang kini resmi menjadi istrinya-menangis sesenggukan.
Ia menghela napas. Ia tahu pernikahan itu sebuah kesalahan. Pernikahan yang tidak di inginkan oleh dirinya mau pun gadis di sebelahnya. Gadis yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri. Terlebih ia juga harus menancapkan luka yang sama pada pemuda yang juga sudah ia anggap adik. Kekasih sang istri.
Jingga merasa begitu tersiksa dengan rasa sakit. Sakit karena harus melepas kekasihnya dengan terpaksa. Sakit karena sudah menyakiti kekasihnya dengan pernikahannya itu. Jika ia bisa, ingin ia berteriak dan menolak pernikahan itu. Tapi apa daya, ia hanya bisa menerima keputusan kedua orang tuanya demi kebaikannya sendiri. Dan ia tidak mungkin terus bersama Bas dengan keadaannya itu. Hatinya dan hati sang kekasih saat ini dalam kondisi yang sama. Hancur berkeping-keping. Tak bersisa kebahagiaan untuk mereka kini.
Senja, yang duduk tepat di belakang mempelai, tertunduk dalam. Menghapus air mata yang tak henti mengalir dari kedua sudut matanya. Merasa bersalah pada sahabat yang kini menjadi kakak iparnya. Mendengar tangis Jingga, hatinya ikut tersayat. Ia ikut terluka seperti sahabatnya merasa terluka.
__ADS_1
Mata gadis itu melirik pada sudut ruangan. Disana, sahabatnya yang lain juga tengah menunduk dalam. Ia tahu pasti Baskara sangat terluka menyaksikan pernikahan kekasihnya dengan pria lain. Ada rasa bersalah yang begitu dalam untuk keduanya. Meskipun keduanya juga pernah menorehkan luka untuknya. Luka yang bahkan sampai hari itu belum juga terobati. Tapi rasa peduli untuk kedua sahabatnya selalu mengalahkan sisi egoisnya.
Sedangkan Baskara, ia jelas terluka ketika tiba-tiba kekasih yang sudah hampir dua tahun ia kencani harus menikah dengan pria lain. Pria yang juga Bas kenal baik sejak dirinya kecil. Pria yang juga sudah ia anggap sebagai abangnya sendiri.
Mungkin jika yang menikahi Jingga bukan pria itu, Bas tidak akan seterluka saat ini. Tapi mengetahui yang menjadi suami kekasihnya adalah pria yang sudah ia kenal dekat, begitu menyakitinya. Keluarga mereka kenal baik. Bahkan mereka sudah seperti satu keluarga yang tidak mungkin terpisahkan. Mampukah ia melihat mantan kekasihnya setiap saat, tapi tak bisa ia raih kembali?
Merasa marah dan terkhianati. Merasa bersalah dan mungkin juga karma untuk dirinya dan Jingga yang sudah berkhianat di belakang sahabat mereka, Senja. Itu pun jika menyembunyikan hubungan mereka di belakang gadis itu bisa di sebut pengkhianatan. Sedangkan mereka tidak ada hubungan apa pun selain tali persahabatan. Meski tetap saja mereka tetap menorehkan luka untuk sahabat mereka itu. Membuat Jingga menjauh dan tak pernah memaafkan mereka. Hingga pernikahan ini terjadi.
Ingin merasa tertegur, tapi pikiran jahatnya justru berpikir Senja yang merencanakan ini semua untuk membalas dendam pada dirinya dan Jingga. Mencoba memisahkan mereka karena tidak ingin melihat mereka bahagia sedangkan gadis itu menangis sendiri.
Sebuah sapu tangan terulur di depannya. Membuat Bas mengangkat wajah dari keterpurukannya.
__ADS_1
"Bukan cuma cewek yang boleh nangis. Tapi jangan terlalu lama terpuruk." ucap datar gadis yang sudah sangat lama tak pernah lagi mengajaknya berbicara. Tak pernah membalas setiap sapaannya. Gadis yang menjauh darinya sejak setahun yang lalu saat gadis di hadapannya ini mengetahui hubungannya dengan Jingga.
Bukannya menerima dan merasa senang karena setelah sekian lama akhirnya Senja mau kembali berbicara padanya, ia malah mendengus dan menepis tangan gadis itu yang masih mengulurkan sapu tangan.
"Nggak usah sok peduli. Gue tau, lo di balik ini semua!" seru Bas tertahan karena banyak orang di sekeliling mereka. Ia tak ingin memancing keributan.
Senja tersenyum hambar. "Terserah lo mau mikirnya gimana. Tapi apa yang terjadi nggak akan bisa kembali lagi." ucapnya seraya berbalik. Sebelum kakinya melangkah, ia kembali berucap. "Gue juga bukan seorang pemaaf yang sok-sokan peduli sama pengkhianat." imbuhnya dan benar-benar pergi meninggalkan sahabatnya. Atau mantan sahabat?
Sudut hati Bas terasa nyeri di sebut pengkhianat oleh Senja. Tapi amarahnya lebih besar dan menguasai dirinya untuk tidak merasa bersalah.
Ia tatap gadis yang kini sudah menjadi istri orang lain. Dalam hati ia panjatkan doa terbaik untuk cinta pertamanya itu.
__ADS_1
"Semoga kamu bahagia dengan pernikahan ini, Jingga. Meski bukan aku orang yang membuatmu tersenyum lagi, tapi aku akan tetap turut bahagia saat aku bisa melihat senyum cantikmu itu." gumam Bas dalam hati. "Izinkan aku pergi untuk menyembuhkan lukaku."
Baskara berlalu sebelum orang-orang menyadari keadaannya yang kacau. Ia tidak ingin melihat tatapan iba dari orang-orang yang mengetahui hubungannya dengan Jingga. Ia tak ingin menjadi orang yang menyedihkan. Ia akan membawa rasa cintanya menjauh. Berharap cinta itu yang akan menyembuhkannya dari rasa sakit yang ia rasakan kini.