
Setelah beberapa saat dirinya tak bisa terlelap, Tara memilih bangkit. Dengan perlahan pria itu menurunkan kakinya agar tidak menimbulkan suara yang mungkin bisa membangunkan sang istri yang belum lama terlelap.
Tara menuju pintu yang menuju langsung ke balkon dari kamarnya. Pria itu membawa sebungkus rokok lengkap dengan korek api.
Ia butuh asupan nikotin untuk meringankan beban dalam pikirannya. Mata-mata yang entah dikirim oleh siapa untuk mengawasi rumahnya, sudah menjadi sinyal bahwa semua tidak akan berjalan mudah kedepannya.
Tara menempelkan benda pipih pada telinganya. Menghubungi salah seorang kepercayaannya. "Siapkan beberapa orang untuk mengawasi rumah. Juga beberapa lagi untuk menjaga anak dan istriku! ikuti mereka kemanapun istri dan anakku pergi!" titah Tara pada orang di seberang sana.
"Pilih orang-orang yang paling kau percaya! Jangan sampai ada musuh dalam selimut nantinya!"
Tara mematikan sambungan teleponnya. Ia hisap kuat asap untuk memenuhi rongga dadanya yang kemudian ia hembuskan perlahan.
Jika ia yang dalam bahaya, tak masalah baginya. Tapi jika sudah menyangkut anak dan istrinya, tidak akan ia biarkan itu terjadi.
Kenapa orang-orang itu mengusiknya ketika sudah kembali pada Caca. Kenapa tidak lima tahun kebelakang ketika ia tengah kehilangan Caca. Kenapa tidak saat ia tak perlu mengkhawatirkan nyawa lain dalam hidupnya.
"Mah! mama... huaaa... papa..."
Suara ketukan di pintu juga tangisan Mentari membangunkan Tara dari kemelut pikirannya. Pria itu melangkah lebar membuka pintu sebelum istrinya terbangun.
Kasihan Caca sudah lelah menunggunya yang terlambat pulang. Juga melayaninya tadi. Jangan sampai istrinya itu bangun karena tangisan anak mereka.
"Anak papa kenapa menangis?" tanya Tara merengkuh Mentari dalam gendongan. Menutup pintu perlahan dan membawa anaknya menjauh dari kamar.
"Tari mimpi buruk, pah." gadis kecil itu masih terisak. Memeluk leher Tara erat. Menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh sang ayah. Pelukannya kian erat, takut Tara akan membiarkannya tidur seorang diri lagi.
"Itu cuma mimpi. Hanya bunga tidur. Dan biasanya jika kita bermimpi buruk, akan ada hal baik dalam hidup kita lho." bohong Tara. Ia tidak paham bagaimana seharusnya ia menghadapi anak kecil. Ia hanya ingin anaknya berhenti menangis.
"Iya pah?" tanya gadis itu, menyusut air mata dengan punggung tangan. Bola matanya membulat penuh rasa ingin tahu seperti biasa.
Tara mengangguk. "Iya. Makanya Mentari nggak boleh takut. Harus berani." jawab Tara dengan mencium puncak kepala putrinya.
"Nanti kalau Mentari takut, siapa yang bakal jagain mama?"
Gadis kecil itu memiringkan kepalanya. "Mama kan sudah besar. Nanti mama yang jaga Tari."
__ADS_1
Tara terkekeh mendengarnya. "Tapi kalau ada yang jahatin mama, memangnya Mentari nggak mau jagain mama?" pancing Tara yang kini mendudukan putri kecilnya di meja dapur. Mengambil gelas bersih di atas meja makan dan mengisinya dengan air untuk putrinya minum.
"Nanti Tari jagain kok. Biar Tari pukul orang yang jahatin mama." ucap anak itu penuh semangat. Memperagakan pukulan dengan meninju udara.
"Minum dulu, biar princessnya papa berani."
Mentari mengangguk dan menerima gelas yang sang ayah berikan. Menghabiskan setengah gelas air.
"Sekarang kita bobo lagi, ya?"
Mentari menatap Tara dengan wajah takut yang berusaha gadis itu sembunyikan. Terlihat ragu dengan gagasan tidur lagi.
"Nonton tivi aja gimana, pah?" ajak gadis itu dengan binar matanya yang begitu cemerlang.
Tara menggeleng tegas. "Sudah malam. Nanti mama marah kalau kamu nggak bobo malah nonton tivi." tegas Tara namun tetap terdengar halus.
"Ah papaaa.. Mumpung mama bobo pah." rengek gadis kecil itu menggoyang-goyangkan tangan Tara penuh harap.
"Besok kan Mentari sekolah! nanti bangunnya kesiangan. Pasti kamu juga mengantuk di sekolah."
Tara tetap menggeleng. "Sudah malam! nggak ada tontonan anak-anak di dini hari seperti ini."
Tanpa peduli protesan putrinya, Tara gendong gadis kecil itu kembali naik ke lantai dua.
"Tari nggak mau bobo sendiri, pah." rengeknya menggerak-gerakkan kakinya.
"Siapa bilang bobo sendiri? Mentari bobo sama mama sama papa. Biar nanti kalau mimpi buruk lagi, papa peluk yang kenceng biar Mentari nggak takut." Mentari mengangguk setuju. Tersenyum dan mencium Tara senang.
Posisi tidur Caca masih sama seperti sebelumnya. Berarti istrinya itu tidak terganggu dengan tangisan putri mereka tadi. Sepertinya Caca benar-benar lelah hingga begitu lelap dalam tidurnya.
***
Caca mengernyit heran ketika banyak pria berjas, dasi hingga kaca hitam berbaris rapi di depan rumahnya.
"Siapa mereka, mas?" tanya Caca ketika pagi itu ia mengantar suami hingga teras seperti biasa untuk berangkat bekerja. Sekaligus dirinya yang juga akan mengantar putri mereka sekolah.
__ADS_1
"Perkenalkan, ini istri dan putri saya. Tugas kalian menjaga kemanapun mereka pergi. Dan sebagian lagi menjaga rumah ini."
"Siap, Tuan." Pengawal yang jumlahnya lebih dari sepuluh itu menjawab serempak. Mereka sebelumnya juga sudah dijelaskan tugas mereka oleh pimpinan mereka yang juga pengawal utama Tara ketika pria itu bepergian keluar kota bahkan keluar negeri sekalipun.
"Jangan sampai saya mendengar ada keteledoran dari kalian hingga memberi celah untuk orang mencelakai anak dan istri saya!" tandas Tara yang kembali mendapat jawaban yang sama.
"Mas!" bisik Caca penuh penekanan, menarik ujung jas yang suaminya kenakan. "Ngapain pakai pengawal segala?"
"Demi keamanan kalian berdua." usap lembut Tara pada sebelah pipi istrinya.
"Tapi ini berlebihan! aku sama Mentari cuma pergi ke sekolah juga ke MFA. Tempat yang sudah sering kami kunjungi. Siapa juga yang akan mencelakai kami?!"
"Cuma buat jaga-jaga aja kok sayang. Mereka juga jaga kalian dari jauh, jadi kalian nggak akan risih di ikutin mereka."
Caca mencebik kesal. "Sama saja! ini terlalu berlebihan!"
"Nggak ada yang berlebihan untuk kalian." tegas Tara. "Kalau aku bisa 24 jam menjaga kalian, akan aku lakuin sendiri."
Caca menarik menghela napasnya berat. "Kami bisa menjaga diri, mas." ucap Caca masih berusaha menolak pengawalan yang Tara berikan. "Kalau mas nggak percaya, cukup mas kasih sopir aja!"
Tunjuk Tara pada pria yang juga berpakaian dan aksesoris serba hitam, pria yang kemudian menunduk ketika Caca menatap pria tersebut. "Itu sopir buat antar jemput kalian. Dia pengawal terbaik yang aku miliki. Orang yang biasa menemaniku saat pergi jauh. Dan dia yang akan menjaga kalian langsung."
Mulut Caca terbuka lebar. Kemudia ia katupkan dan memicingkan matanya menatap Tara penuh curiga. "Ada apa sebenarnya, mas?"
Tara hanya menaikan alis. Seakan bertanya "Ada apa, apanya?"
"Kamu nggak mungkin jaga aku sama Mentari seketat ini kalau nggak ada apa-apa!"
Caca menepis tangan suaminya yang akan mengusap kedua lengan atasnya.
"Nggak ada apa-apa sayaaaang. Percayalah. Semua akan baik-baik saja."
*
*
__ADS_1
*