I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Pot


__ADS_3

Caca tidak mengerti siapa yang bodoh disini.


Ia yang percaya begitu saja dengan pengawal putrinya, atau pengawalnya yang terlalu berlebihan menghadapi situasi.


Rasanya, jika dibolehkan memaki, ia sudah maki-maki pengawal yang menghubunginya tadi.


Pasalanya, ketika ia sudah dengan sangat khawatir turun dari mobil dan berlari kedalam kedung sekolah, ia dibuat melongo dengan apa yang ia lihat.


Mentari masih begitu ceria bermain kejar-kejaran dengan teman-temannya. Tanpa jejak jika gadis itu kecelakaan sedikitpun.


"Mana yang kecelakaan, bodoh!" akhirnya yang ia maki justru sopir pribadinya. Bukan pengawal bodoh yang menghubunginya.


"Maaf nyonya. Tadi saya sudah sampaikan jika nona muda baik-baik saja dan sudah dalam penanganan dokter." bela Bima pada Caca.


"Mana aku tahu kalau nona muda tidak terluka sama sekali." erang Bima dalam hati. Karena tadi ia hanya dihubungi bawahannya jika Mentari kecelakaam dan mereka sudah menghubungi dokter. Dan saat ia menanyakan keadaan Mentari, bawahannya mengatakan kondisi anak itu baik-baik saja.


"Mama!!" teriak Mentari ketika mendapati keberadaan Caca.


Caca tersenyum dan merentangkan tangannya begitu gadis kecilnya berlari kearahnya. "Kamu nggak apa-apa sayang?"


Mentari menggeleng tegas. "Tadi ada pot jatuh dari kelas B. Tari dibawah mah, tapi ada om pengawal yang narik Tari. Jadi potnya kena lantai deh."


Bola mata Caca membesar. Begitu juga dengan Bima. Keduanya melihat ke atas. Dimana lantai dua berada. Bahkan disana tidak ada pot satu pun di balkon. Karena taman kanak-kanak itu sudah di tata seaman mungkin untuk anak-anak.


"Saya permisi sebentar, Nyonya." pamit Bima ingin menyelidiki lebih lanjut. Jika ia tidak sigap, bisa-bisa nanti ia yang kena jika Tara sudah sampai.


Caca menginyakan dengan anggukan. Wanita itu tahu apa yang di khawatirkan oleh Bima. Karena ia sendiri mulai curiga ada yang tidak beres dengan situasinya.


"Mulai sekarang, Mentari jangan jauh-jauh dari Om Pemgawal, ya?" pinta Caca yang langsung di angguki oleh putrinya.


"Tapi kalau ke toilet gimana, mah?" tanya bocah itu. Karena Mentari sudah Caca ajari pendidikan **** sedini mungkin.

__ADS_1


Mengajari putrinya untuk tidak keluar kamar tanpa pakaian yang pantas. Dan mengajari Mentari untuk berani memprotes dan melarang jika ada orang yang memegang alat vitalnya.


"Nanti mama, minta papa untuk ada pengawal perempuan yang jagain kamu."


Mentari mengangguk dan langsung berseru begitu melihat pria berpakaian perlente berlari kearah mereka.


"Sayang." peluk Tara pada putrinya. Ia mulai meneliti tubuh sang putri untuk mengetahui kondisinya. "Mana yang sakit, sayang? mana yang luka?" Tara memutar tubuh Mentari dan merasa lega ketika tidak menemukan luka sedikitpun.


"Kenapa mereka bodoh sekali!" maki Tara. "Padahal aku udah bilang suruh jagain kamu dan Mentari. Awasi sekeliling!" gerutu Tara masih dengan emosi yang mewarnai.


"Mas!" tegur Caca. "Banyak anak kecil disini. Jangan mencontohkan yang nggak baik." bisik Caca menambahkan.


Caca baru sadar jika mereka menjadi pusat perhatian. Tidak hanya anak-anak yang memang tengah jamnya istirahat. Tapi juga oleh para wali murid maupun para suster yang mengantar anak majikan mereka.


"Maaf sayang. Aku hanya khawatir." Tara meminta izin pada guru Mentari untuk mengajaknya pulang. Dan memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menyelidiki kecelakaan yang hampir menimpa putrinya.


"Kamu hutang penjelasan sama aku, mas!" tatap Caca tajam pada suaminya. Sedangkan putri mereka sudah tidur dalam dekapan Tara.


"Iya nanti di rumah." jawab Tara mengusap pipi istrinya yang memasang wajah masam.


Awalnya ia mengira Tara memberi dirinya dan Mentari pengawal karena takut ia akan kabur lagi. Tapi melihat keanehan yang baru saja putrinya alami, ia jadi murka. Karena suaminya tidak jujur dan membuat ia tidak waspada.


"Kalau sampai terjadi apa-apa sama Mentari dan aku nggak tau, aku bakal nyesel dan marah seumur hidup sama kamu, mas!" emosi Caca jika sudah menyangkut putrinya sudah tidak bisa ditolerin lagi.


Selama ini ia menjaga putrinya dengan baik. Seharusnya keberadaan Tara semakin membantunya dalam menjaga. Bukan malah membahayakan putri kecil mereka.


Tara kecup wajah yang memerah menahan emosi itu. "Iya sayang. Nanti dirumah aku jelasin semua yang mau kamu tahu."


"Bukan apa yang mau aku tahu! tapi apa yang seharusnya aku tahu! aku mau tahu semuanya! ada apa sebenarnya ini!" seru Caca makin geram dengan suaminya yang masih tidak mau berterus terang.


"Iya, iya. Jangan disini, kasihan putri kita baru tidur."

__ADS_1


Caca menatap putrinya dan menghela napas. Memejamkan mata mencoba meredam emosinya.


"Maafin mama, nak." bisik Caca sembari mencium kepala putrinya yang tidur di pelukan Tara.


"Maafin papa juga, mah." ucap Tara dengan nada memohon. Juga dengan senyum dan mata yang berkedip. Membuat Caca memutar bola matanya malas.


Sesampainya mereka dirumah dan sudah menidurkan putri mereka di kamarnya sendiri, Tara merangkul istrinya yang masih cemberut kedalam kamar. Bermanja ria meminta istrinya untuk membantu melepas jas juga dasinya. Baru mereka duduk berdua di sofa kamar mereka. Mulailah Tara menceritakan semuanya.


"Jadi ada yang nggak suka sama hubungan kita?" tanya Caca sendu. Meski sejak awal ia sudah tahu hubungan mereka akan menjadi masalah. Tapi Caca tidak pernah menyangka jika akan ada orang-orang yang sampai tega mencelakai putrinya.


"Sebenarnya itu hanya dugaanku saja. Kamu ingat saat kamu lihat orang yang mengawasi rumah kita dari rumah bu Joko?"


Caca mengangguk. Apa lagi kejadian itu belum lama berlangsung.


"Dari situ aku curiga dan memilih untuk memberi pengawalan ekstra untuk kalian."


Lagi, Caca mengangguk mengerti. Mengerti akan kekhawatiran suaminya. Karena ia merasakan hal yang sama menyangkut putrinya.


"Tapi kamu tenang saja. Aku rasa mereka hanya mengancam. Mereka tidak akan benar-benar melukai kalian. Meskipun kita harus tetap waspada."


Terjadi keheningan beberapa saat. Keduanya larut dalam pikirannya masing-masing.


"Mas nggak balik lagi ke kantor?"


"Tanggung. Mau makan siang di rumah aja." ucapnya mulai melepas kancing kemejanya. "Sekalian makan kamu." bisiknya tepat di telinga Caca. Membuat wanita itu merinding dengan rasa yang tak asing lagi baginya.


Meski pikiran masih tak tenang dengan acaman yang mengintai keluarganya. Tapi waktu kebersamaan mereka tak ingin Tara gunakan untuk memikirkan masalah apa lagi pekerjaan.


Waktu bersamanya dengan keluarga adalah hal yang paling berharga baginya kini. Cukup dengan lima tahun ketiadaannya. Ia ingin menebusnya dengan waktu yang berkualitas antara mereka. Meski tak jarang pekerjaan masig menjadi kendala untuknya meluangkan waktu.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2