
Beberapa hari setelah memutuskan untuk kembali ke perusahaan, Tara mengadakan konferensi pers. Pengacaranya menyarankan untuk Caca ikut, Tapi Tara melarangnya. Ia takut situasi tidak kondusif dan membahayakan keselamatan Caca dan calon buah hati kedua mereka.
Mengundang beberapa awak media ke ruang khusus konferensi pers di salah satu hotel miliknya, Tara berharap masalah pernikahannya yang tengah menjadi polemik segera tuntas.
Dengan di dampingi pengacara dan asisten pribadinya, Tara memasuki ruang konferensi. Tentu dengan pengawalan ketat.
Lampu blitz dari kamera para wartawan terus saja berkedip mengambil gambarnya. Begitu juga kamera yang sudah on merekam sepanjang acara.
"Selamat siang kawan media semua, juga untuk semua yang melihat tayangan ini." sapa Tara pada awak media. Pria itu tampil gagah dengan setelan jas mahal berwarna abu-abu. Mata tajamnya menatap berkeliling pada semua yang hadir dalam ruangan.
Sedangkan di luar sana juga sudah banyak masyarakat yang datang membawa senjata seperti telur dan tomat busuk.
Tara bersyukur mengambil keputusan untuk tidak mengajak Caca hadir hari itu. Setidaknya Caca tidak akan sakit hati dengan orang-orang di luar sana.
"Saya Guntara Abraham, berdiri disini untuk mengklarifikasi berita yang tengah beredar dan semakin tak terkendali di luar sana."
"Saya mengakui memang wanita yang beberapa saat lalu saya nikahi adalah anak angkat saya dengan istri pertama saya dulu. Anak yang kami rawat sejak remaja."
Kasak kusuk mulai terdengar di ruangan. Menggaungkan kata-kata yang jika Caca mendengar pasti akan menyakiti hati. Tapi sekretarisnya bisa membuat suasana kembali tenang dan memudahkan Tara untuk mengungkap segalanya.
"Mungkin ada yang menganggap kami menjijikan. Kami tidak tahu moral dan sebagainya. Itu hak kalian untuk berspekulasi. Tapi saya tegaskan disini, cinta tak bisa memilih kemana dia akan berlabuh."
Tara sebenarnya belum ingat selain beberapa bayangan dan mimpi waktu itu. Maka beberapa hari ini, ia meminta Caca untuk menceritakan semuanya. Termasuk bagaimana cara dia memperlakukan Caca dalam hubungan mereka
selama ini. Hingga Tara bisa mengambil kesimpulan sebesar apa cintanya untuk Caca. Termasuk kenapa ia bisa mencintai gadis itu.
__ADS_1
"Putri kecil kami juga bukan hasil dari hubungan gelap. Dia ada setelah kami menikah secara agama."
Tara terkekeh dan membuat para wartawan yang hadir mengernyit heran.
"Dulu saya terlalu pengecut untuk mengakui hubungan kami pada orang tua dan orang di luar sana. Hingga kami hanya menikah secara agama." Tara menunduk sesaat untuk menenangkan gejolak hatinya. Menarik napas dan menghembuskannya sebelum kembali mengangkat dagunya.
"Seperti apa yang terjadi saat ini yang saya takutkan. Dimaki orang padahal mereka tidak tahu apa-apa. Dihakimi ucapan orang-orang yang bahkan kami tak mengenal mereka. Dianggap rendah dan diasingkan ketika kami keluar rumah."
"Saya laki-laki. Itu semua tidak berpengaruh untuk saya. Tapi bagaimana untuk anak dan istri saya? bagaimana sakit hatinya istri saya begitu orang-orang menjauhi bahkan menghinanya? Bagaimana sedihnya anak saya begitu teman-temannya di larang bermain dengannya?"
Ya. Itu yang tengah terjadi pada Caca dan Mentari. Terasingkan dan di hina didunia luar. Padahal orang yang merendahkan mereka belum tentu bermoral baik. Yang mereka tahu hanya buruknya seseorang, tanpa introspeksi dirinya sendiri seperti apa.
"Saya tidak pernah memikirkan perasaan saya sendiri. Saya hanya mementingkan ketenangan hidup untuk anak dan istri saya."
"Kalian hanya bisa menghinanya tanpa mau mengenal. Padahal bagi saya, dia adalah wanita terhebat. Saya sudah melukainya hingga dia meninggalkan saya dan berjuang sendiri ditengah kehamilan besarnya. Melahirkan dan mencari nafkah sendiri hingga anak kami sebesar itu tanpa rasa mengeluh."
"Bahkan dia masih mau memaafkan pria brengsek seperti saya ketika kami bertemu kembali."
Tara mencoba menceritakan semua. Agar masyarakat di luar sana bisa sedikit membuka mata dan hati mereka agar tidak merendahkan istrinya.
"Kami bertemu lagi belum lama ini. Dan kesempatan yang tuhan berikan kali ini tidak ingin saya sia-siakan begitu saja. Untuk itu, saya memutuskan untuk meresmikan hubungan kami secara agama dan negara."
Diluar hotel masyarakat yang hadir untuk menghina, memaki atau apalah tujuan mereka, terdiam. Sebagian dari mereka ada yang hatinya goyah. Namun tak sedikit juga yang tetap membenci Caca dan Tara. Menganggap Tara terlalu membela dan membesar-besarkan cerita tentang Caca.
"Hubungan kami penuh luka. Penuh air mata. Penuh pengorbanan yang tak mudah kami lalui. Sekarang, bolehkah saya minta pada kalian... Jangan menambah luka di hati istri saya. Tolong jangan membuatnya kembali meneteskan air matanya."
__ADS_1
"Jangan menyalahkan dan menghinanya... Karena dia tidak salah apa pun."
Tidak mudah memang merubah spekulasi orang terhadap kita. Tapi setidaknya Tara sudah berusaha. Berusaha mematahkan pendapat mereka yang menyakitkan jika didengar.
"Jika kalian ingin menyalahkan dan menghina. Lakukan kepada saya saja. Jangan lakukan itu pada anak dan istri saya."
Tara menatap pengacaranya yang di balas anggukan oleh pria disebelah kanan Tara itu.
"Saya kira, cukup itu yang perlu saya sampaikan. Semoga kedepannya kita bisa hidup berdampingan dengan damai."
Tara mengucapkan salam penutup dan meninggalkan aula konferensi pers di adakan. Karena Tara memang tidak membuka sesi tanya jawab. Tara hanya ingin menyampaikan kebenaran yang semakin simpang siur di luar sana. Kabar yang menyudutkan Caca sebagai wanita penggoda dan sebagainya. Kabar yang melukai keluarganya.
Perjuangan Tara untuk media cukup sampai di situ. Biar masyarakat yang menilai sendiri. Meski tidak langsung membaik, setidaknya Tara harap masyarakat bisa bersikap baik dan tidak lagi mengasingkan anak dan istrinya. Tidak menghina dua bidadarinya.
Kini Tara hanya perlu menyakinkan para kolega untuk kembali bekerja sama dengan perusahaan keluarganya. Mengembalikan kepercayaan mereka pada perusahaan dan pada posisinya sebagai pemimpin.
Semoga semua berjalan lancar. Karena seharusnya kinerjanya selama ini bisa untuk menyakinkan mereka semua kembali.
Didunia usaha, tidak penting seperti apa rumah tangga kita. Asal kinerja kita baik dan bisa memberikan keuntungan dan kemajuan yang baik untuk perusahaan. Itu sudah cukup.
Caca hanya bisa mendoakan suaminya dari rumah. Semoga segala urusan suaminya bisa berjalan lancar. Semua masalah bisa cepat usai. Keluarga mereka bisa kembali bahagia.
Meski kondisi terburuk saat ini sudah pernah diprediksi akan terjadi. Namun tetap saja rasanya berat untuk mereka jalani.
Tapi Caca masih memegang teguh habis gelap terbitlah terang. Ada pelangi usai hujan. Caca percaya setelah kesulitan yang tengah mereka hadapi kali ini, akan ada kebahagiaan yang menyambut mereka di didepan sana. Asal mereka selalu bersama dan saling menggenggam menguatkan satu sama lain. Tidak jalan sendiri-sendiri yang semakin menghancurkan mereka.
__ADS_1