I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Siapa Wanita Itu


__ADS_3

Hari ke enam, kondisi Tara menunjukan peningkatan. Dokter bahkan mengatakan jika pria itu akan sadar dalam waktu dekat. Keluarga pun mulai diperbolehkan untuk masuk kedalam. Dengan syarat harus memakai pakaian steril yang sudah di sediakan. Juga harus bergantian satu per satu.


Orang tua Tara menjadi yang pertama masuk bergantian. Caca memilih terakhir. Karena ia ingin memiliki waktu paling banyak berdua suaminya.


"Hai mas..." sapanya lirih. Derit kursi terdengar pelan ketika Caca menarik dan mendudukinya. "Apa kabar?" tanyanya mulai bergetar.


Ia usap wajah sang suami dengan punggung tangan. Tak ada luka gores sedikitpun pada tubuh Tara. Hanya wajah pucatnya cukup membuat hati Caca teriris.


Pria yang biasanya segar bugar dan paling suka mengganggunya, kini hanya terbaring lemah tak berdaya.


"Kamu capek banget ya, mas? kenapa tidurnya lama banget?" tanya Caca dibuat seperti mengomel, padahal matanya sudah berembun.


"Kamu nggak kangen sama aku.. sama putri kita? dia nangis lho. Kangen papa katanya." air mata mulai berjatuhan. Tapi sebisa mungkin Caca menahan agar tidak terisak. Karena kata dokter, meski suaminya masih belum sadar, ia tetap bisa mendengarkan apa yang kita katakan. Untuk itu Caca tak ingin suaminya mendengarnya menangis.


"Mas bilang ingin kasih Mentari adik. Tapi.. kalau mas tidur terus seperti ini, bagaimana bisa adik untuk Mentari ada." ucapnya mencoba berseloroh. Meski yang diajak bercanda masih setia tak merespon apa pun.


Setelahnya, Caca hanya duduk memandang wajah suaminya yang terlihat sangat tenang. Selama ini waktu tidur suaminya memang sangat sedikit. Meski Caca sudah marah-marah dan meminta Tara untuk tidur, pria itu hanya akan pura-pura tidur hingga Caca terlelap. Pria itu akan kembali bangun dan menyelesaikan pekerjaannya di kamar. Dan semua itu tak luput dari pengamatan Caca. Meski ia hanya bisa menghela napas melihat suaminya yang tak hentinya memikirkan perusahaan.


Tangan yang sejak beberapa saat lalu ia genggam dan cium itu terasa sedikit pergerakan. Gerakan samar dan hanya sekali.


Caca yang jantungnya sudah berdegup dengan rasa bahagia mendongak, menatap wajah suaminya lagi.


Kelopak mata itu. Kelopak yang melindungi sorot hangat yang ia rindukan, bergerak seperti mencoba terbuka.


"Maaaass... Kamu sadar?" bisik Caca dengan suara bergetar karena bahagianya. Penuh rasa syukur karena suaminya kembali pada mereka.


Caca menekan tombol merah yang ada di atas brangkar Tara. Memanggil dokter dan timnya untuk segera memeriksa suaminya.


"Mentari pasti bakal seneng banget dengernya mas." pria itu masih mencoba menggerak-gerakan matanya. Seperti mencari tahu dimana dirinya berada.


Ketika tatap mata mereka bertemu, alis Tara berkerut seperti orang bingung.


"Kenapa, mas?" tanya Caca takut suaminya merasakan sakit atau apa. Tapi Tara tetap bungkam. Entah pria itu masih sulit untuk bicara setelah hampir seminggu tak sadarkan diri atau...


Caca menggeleng tegas. Tidak. Tidak mungkin suaminya tidak bisa berbicara. Hanya butuh penyesuaian. Begitu batinnya menolak keras pikirannya.


Tim dokter yang menangani Tara datang dengan tergesa. Tapi mereka bernapas lega begitu melihat Tara yang sudah membuka mata dan menatap mereka semua bingung.

__ADS_1


"Nyonya keluar dulu ya. Biar kami periksa dulu."


Caca mengangguk. "Aku keluar sebentar ya, mas?" pamitnya. Tapi Tara tetap saja diam dan semakin terlihat bingung.


***


Meski bahagia Tara sudah sadar. Tapi mereka tetap merasa cemas karena Tara yang tak merespon.


Dokter dan tim-nya juga masih didalam. Padahal waktu sudah berlalu cukup lama. Apakah kondisi Tara serius? apakah ada masalah yang membuat Tara tak merespon?


Banyak prasangka buruk merayapi mereka saat dokter tak kunjung keluar.


"Kenapa lama sekali." gumam mama Shinta di sebelah Caca yang juga sama cemasnya. Namun wanita itu sebisa mungkin terlihat tenang. Jika semua cemas, siapa yang akan menenangkan.


"Mama tenang saja. Tadi mas Tara terlihat baik-baik saja."


"Tapi kata kamu dia tidak menjawab saat di tanya."


"Iya. Mungkin mas Tara hanya masih bingung kenapa bisa sampai di rumah sakit."


"Nyonya Nindi?" panggil seorang perawat yang baru keluar dari ruang ICU dimana Tara berada.


Caca dan kedua mertuanya saling pandang. Mereka bingung siapa yang perawat itu maksud. Karena di ruangan itu hanya ada Tara, ketiganya bergerak mendekat.


"Siapa suster?" tanya papa Adley.


"Tuan tara mencari istrinya yang bernama Nindi."


Deg. Jantung Caca seperti berhenti berdetak. Apakah suaminya menikah diam-diam di belakangnya?


Karena rasanya tidak mungkin Tara mencari almarhum istrinya Nindi. Pria itu tahu sendiri jika Nindi sudah lama meninggal dunia.


"Sa-saya istrinya sus. Tapi nama saya Nathasya bukan Nindi."


Suster mengernyit bingung. "Apa tuan Tara memiliki istri lain? pasien hanya ingin bertemu dengan nyonya Nindi. Untuk menjaga kondisinya tetap stabil, kami tidak dapat mengizinkan nyonya masuk sekarang. Karena bukan nyonya yang di cari pasien."


"Tapi saya istrinya suster. Istri sah-nya. Istrinya satu-satunya!" ngotot Caca tak terima dengan permintaan perawat seusia Tara.

__ADS_1


"Maaf nyonya. Lebih baik kalian panggilkan saja nyonya Nindi kemari." perawat itu juga mengira jika Tara menikah diam-diam dibelakang Caca.


"Apakah mereka di jodohkan dan tuan Tara memiliki istri simpanan yang dia cintai?" gumam suster dalam hati sembari masuk kembali dan menutup pintu ruang ICU.


"Nindi siapa mah?" cecar Caca dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Cobaan apa lagi ini. Benarkah kesempatannya untuk bahagia hanya sebulan?


Tak adakah perpanjangan waktunya untuk bahagia bersama keluarga kecilnya ini?


"Mama tidak tahu, Ca. Tara tidak pernah cerita apa pun."


"Benar-benar keterlaluan anak itu kalau sampai benar ada wanita lain!" papa Adley ikut marah mendengarnya.


"Papa jangan mengambil kesimpulan sendiri dulu. Kita perlu tanya langsung ke Tara nanti kalau kita sudah di perbolehkan masuk." mama Shinta sudah takut dulu melihat emosi suaminya. Ia tak ingin suaminya berbuat kasar pada putra mereka yang baru saja sadarkan diri.


"Papa tahu sendiri saat Caca menghilang. Seperti apa kacaunya putra kita. Jadi apa mungkin Tara tega mengkhianati Caca disaat putra kita begitu mencintai Caca."


Papa Adley menghela napasnya kasar. Ia sendiri tidak tahu mana yang benar. Kepalanya sudah cukup pusing menangani segala kekacauan yang menjadi tanggung jawab putranya.


"Sudah Ca. Nanti kita akan tahu saat kita masuk ke dalam." ucap mama Shinta menenangkan putrinya yang menangis.


Tak lama kemudian, mereka di perbolehkan masuk. Tapi Caca masih diam di tempat. Tidak mengikuti kedua mertuanya yang sudah masuk dengan tergesa karena rasa cemas yang sudah menumpuk sejak enam hari yang lalu.


Caca takut akan penolakan Tara atas kehadirannya. Ia takut jika kehadirannya tak di harapkan suaminya itu.


Pantas saja Tara diam saja ketika ia yang bertanya tadi. Ternyata suaminya mengharapkan wanita lain yang berada di sana.


Hatinya sesak. Hatinya takut. Tapi hatinya juga bahagia atas sadarnya sang suami.


*


*


*


Akhirnya bisa up lagi.. Semoga suka ❤

__ADS_1


__ADS_2