I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Panik


__ADS_3

Caca ingin mengabaikan keberadaan beberapa pengawalnya. Inginnya menganggap mereka tak ada.


Tapi keberadaan para pengawal yang jumlahnya tidak sedikit itu, cukup menarik perhatian wali murid ketika ia mengantar Mentari.


Terlebih, mereka ikut turun dan mengecek sekolah untuk memastikan keamanannya. Membuat Caca geram sekaligus malu pada wali murid lainnya.


Ayo lah, ini bukan sekolah kalangan elit yang orang mungkin akan biasa saja melihat pria berjas mengawal salah satu murid. jerit Caca dalam hati.


Kemampuan finansial Caca dulu, hanya sanggup menyekolahkan Mentari di sekolah biasa. Tapi sudah cukup bagus. Meski tak sesuai standar Tara yang tadinya ingin memindahkan Mentari ke sekolah elit yang tak jauh dari rumah yang mereka tinggali.


Setelah menitipkan Mentari pada wali kelasnya. Caca mendekati pengawal yang baru saja selesai mengecek keamanan sekolah.


Karena bisik-bisik para ibu-ibu mulai mengganggunya. Dulu ketika ia seorang janda, ia sudah menjadi bahan gunjingan. Dan sekarang begitu ia sudah menikah, ia kembali menjadi bahan gunjingan. Mereka kira ia merayu pria kaya demi kesenangan dirinya.


"Kalian hanya di minta menjaga kami dari jauh! jadi jangan terlalu terlihat mencolok." bisik Caca dengan geram.


"Ini sudah perintah dari Tuan, Nyonya." jawab salah seorang pengawal dengan menunduk, yang sebelumnya melirik ke belakang punggung Caca dengan takut.


Caca menghela napas. Jika itu sudah perintah dari Tara, tidak akan ia mampu untuk melawan. Karena para pria berbadan besar itu tidak akan mendengarkan perkataannya. Biar saja nanti ia yang akan memberi perhitungan dengan suaminya.


"Kamu juga! ngapain ngikutin saya terus!" sentak Caca pada sopir yang mulai hari itu akan mengantar sekaligus menjaganya langsung.


Caca melengos melewati pria-pria itu. Masuk kedalam mobil, menutup pintu dengan kasar.


Mobil meninggalkan halaman sekolah Mentari. Diikuti mobil pengawal yang sebagian menunggu di sekolah untuk menjaga anak tuanya itu.


Caca terus saja menggerutu dalam hati. Memaki suaminya yang terasa sangat berlebihan.


"Istri dan anak presiden aja nggak gitu-gitu amat jagainnya!" sungut Caca dengan mengutak-atik layar ponselnya, untuk mengirimkan pesan peringatan untuk sang suami. "Emang aku ratu Inggris!"


***


Meski kondisi masih kondusif, tapi Tara tak mengendurkan kewaspadaannya.


Ia selalu meminta laporan apa ada gerak-gerik atau orang yang mencurigakan di rumah, juga meminta laporan keamanan anak dan istrinya tiap jam.

__ADS_1


Ia tidak ingin lengah dan kecolongan akan keselamatan dua bidadari dalam hidupnya itu.


Tara yang tengah memimpin rapat, mengulum senyumnya begitu membaca pesan ancaman dari sang istri.


"Lihat saja! kamu akan bayar semua penderitaan dan rasa maluku gara-gara pengawal-pengawal nggak berguna itu hari ini, mas!" gemas sekali Tara pada istrinya jika tengah marah seperti itu. Pasti akan terlihat menggemaskan jika ia melihatnya langsung.


Aah membayangkan saja sudah membuat Tara merindukan istrinya itu. Ingin hari lekas sore dan ia bisa kembali ke rumah, memeluk sang istri.


Ia bukan CEO dalam dunia novel yang sering istrinya baca.


Banyak pekerjaan yang ia emban sebagai seorang pemimpin.


Belum lagi pertemuan dengan klien yang setiap harinya selalu saja ada. Bahkan tak jarang hingga malam hari.


Rapat dengan berbagai anak cabang yang ia miliki. Turun langsung untuk sidak di hotel maupun restoran yang tersebar di berbagai penjuru.


Ia selalu ingin memastikan sendiri jika semua usahanya berjalan lancar tanpa ada orang-orang tak berguna yang hanya merugikan perusahaan dan karyawan lainnya.


Ia baru bisa bekerja dari rumah jika benar-benar dalam kondisi mendesak atau pun sakit. Itu pun semua tanggung jawabnya ia percayakan pada asistennya.


Tara berpikir sejenak. Kapan kiranya ia bisa datang langsung ke Bali dengan membawa serta anak dan istrinya?


Karena disituasi seperti ini, ia tidak mungkin bisa tenang meninggalkan keluarganya untuk pergi keluar kota berhari-hari. Meskipun dengan pengawal yang dilipat gandakan sekalipun.


Dan pikirannya tidak mungkin fokus pada pekerjaan jika ia pergi. Bukannya malah beres, semua bisa jadi berantakan.


"Nanti saya pikirkan." jawab Tara yang kemudian mengakhiri rapat pagi itu.


***


Caca tengah membuat design baru untuk baju anak yang ia jual. Terinspirasi dari putrinya yang tak pernah mau ia pilihkan baju dan selalu memadu padankan pakaiannya sendiri.


Dan baiknya, setiap baju yang dipilih dan dipadankan oleh putrinya terlihat bagus dan pas. Selalu bisa membangkitkan inspirasi di kepala Caca.


Tak heran produk anak yang ia jual, 70%-nya adalah pakaian anak perempuan. Dan itu selalu laris manis terjual.

__ADS_1


Ponselnya berdering nada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Tanpa prasangka apapun, Caca mengangkat panggilan itu dengan tangan yang masih sibuk dengan kertas dan pensil yang menari di atasnya.


"Halo nyonya. Nona muda kecelakaan di sekolah. Nyonya harap segera datang ke sekola-" belum sempat orang yang entah siapa itu menyelesaikan ucapannya. Caca sudah langsung mematikan sambungan dan bergegas menuju sekolah sang putri.


Diluar, mobil juga sudah disiapkan. Tinggal menunggu dirinya untuk langsung bergegas. Sepertinya seluruh pengawal sudah mengetahui apa yang tengah ia khawatirkan.


"Cepatlah sediki!" sentak Caca pada sopir yang juga kepala pengawal itu.


"Itu akan membahayakan keselamatan anda nyonya." jawab pria bernama Bima dengan tetap tenang. Pria itu sudah menjalani berbagai peristiwa dan kejadian bersama tuannya. Jadi ia tidak merasa panik ketika ada dikondisi saat ini.


"Memangnya kamu tidak diajari untuk ngebut?! memangnya bapak tidak pernah dalam situasi buru-buru?!"


"Saya bukan sopir tuan, nyonya. Jadi saya tidak mengurusi hal seperti itu."


Caca menggeram kesal karena sopirnya yang selalu saja menjawab dan melawan perintahnya yang berkebalikan dari apa yang Tara perintah.


Padahal ia yakin. Semua orang yang menjaga Tara sudah di latih dalam segala situasi termasuk untuk mengebut.


"Kamu mau tanggung jawab kalau anak saya kenapa-kenapa?!" sentak Caca lagi ketika mereka berhenti di lampu merah.


"Nona muda baik-baik saja, nyonya. Nona muda sudah dalam penanganan dokter." masih menjawab dengan tenang tanpa mempedulikan istri tuannya yang sudah terlihat sangat marah dan gelisah.


"Tuan juga sudah dalam perjalanan kesekolah. Jadi nyonya tidak perlu khawatir."


Caca semakin tidak tenang. Jika Tara sudah turun langsung. Berarti keadaan putrinya tidak baik-baik saja seperti yang di bilang Bima.


Meski perasaannya tidak menentu dengan mobil yang belum juga mendekati tujuan, tapi Caca tidak lagi membuat keributan dengan mendesak Bima. Karena wanita itu yakin ia hanya akan membuang energinya untuk perdebatan yang tidak akan membuahkan hasil apa pun.


*


*


*


Maaf ya gaes semalam nggak up.. Aku nulis cuma dapet setengah masa 😭

__ADS_1


__ADS_2