
Tara bersiul senang. Melajukan kendaraan besarnya menuju taman kanak-kanak dimana Mentari belajar.
Satu jam yang lalu Caca menghubunginya untuk menjemput Mentari karena Caca ada klien yang akan ikut memasarkan produk-produknya.
Akhirnya ia bisa juga menjalankan tugasnya sebagai seorang ayah tak hanya mengantar tapi juga menjemput putrinya.
Saat ia turun dari mobil dan melangkah memasuki gerbang sekolah. Ada anak-anak mengerumuni anak yang tengah menangis.
Samar ia dapat mendengar apa yang anak-anak itu ucapkan.
"Nggak punya ayah.. nggak punya ayah.." sorakan mereka pada anak yang menunduk dalam tangis.
Bel pulang memang belum lama berbunyi. Sehingga masih banyak anak-anak yang belum di jemput. Tapi kemana guru-guru sampai terjadi perundungan seperti ini.
"Aku punya ayah!!" jerit gadis kecil yang ada di tengah lingkaran.
"Mana? kemarin saja ayah kamu nggak datang kan?" ucap gadis gembul dengan botol minum tergantung di depan dada.
"Iya. Kata mami aku, mama kamu kan jan-" ucapan anak laki-laki kurus dengan kaca mata bulat, terpotong dengan kehadiran Tara.
"Ada apa ini. Bidadari kecil papa kenapa menangis?"
Gadis kecil yang berjongkok dan membenamkan wajahnya di lipatan lututnya langsung mendongak begitu mengenali suara Tara.
"Papa!!" Mentari langsung beranjak memeluk kaki Tara. Menangis sesenggukan yang langsung di raih Tara dalam gendongan.
"Kenapa? kenapa bidadari papa menangis?" ucap Tara sembari menyusut air mata putrinya dengan ibu jari. Hatinya seperti teriris melihat putrinya menangis sedih hingga sesenggukan seperti itu. Apa lagi pemicunya karena ketidak hadiran dirinya dalam masa pertumbuhan putrinya. Kealpaan sosok ayah.
Anak-anak yang tadi merundung Mentari beringsut mundur. Saling berpegangan, takut jika Tara memarahi mereka.
"Mereka jahat. Mereka bilang Tari nggak punya papa, gara-gara kemarin papa nggak datang pas acara ayah." adu Mentari. Entah anak itu tengah memanfaatkan keadaan atau apa. Tapi Tara merasa tersentuh dengan sikap putrinya seperti itu.
Hal yang ia impikan. Menjadi tempat bersandar dan mengadu untuk putri kecilnya ini. Menjadi perisai di saat ada yang menyakitinya.
"Oh ya? maaf ya sayang. Kemarin papa kerja, jadi tidak bisa nemenin Tari di sekolah."
"Kalian lihat kan? aku punya papa. Papaku sibuk bekerja. Lihat saja mobilnya bagus. Itu karena papa kerja terus."
Mentari sudah tidak menangis lagi. Kini ada Tara yang pasti akan membela dan melindunginya.
__ADS_1
"Om yakin kalian anak yang baik. Dan Om harap kalian bisa berteman baik juga dengan Tari, ya?" tak ada nada marah dalam suara Tara. Untuk apa ia marah, jika kejadian itu bisa membuat putrinya memanggil 'papa'. Kata keramat yang sejak pertama kali ia mengetahui keberadaan Caca dan Mentari, ia ingin putrinya memanggil demikian. Meskipun harus melewati jalan yang melukai putrinya.
Anak-anak yang tadi merundung Mentari mengangguk tanpa suara. Mereka masih merasa takut dengan kehadiran Tara di sana.
***
Mentari bukan tidak pernah melihat Tara. Di ponsel ibunya, banyak foto Tara bersama dengan ibunya. Bahkan foto ayahnya saja tidak ada.
Dan pernah beberapa kali Mentari memergoki ibunya menangis malam-malam memandang foto Tara. Dan yang Mentari tahu, jika Tara sudah jahat pada ibunya dan membuat ibunya bersedih.
Anak kecil mana tahu jika Caca menangis karena merindukan Tara.
Kehadiran Tara yang seperti dewa penolongnya membuat Mentari sedikit mengendurkan tali permusuhan di antara mereka.
Tara yang awam dengan anak kecil, bingung harus apa. Lebih memilih fokus dengan jalanan yang ada di depannya.
Sedangkan Mentari sedari memasuki mobil pria itu, sudah menatap Tara tajam tak sedetikpun mengalihkan pandangannya.
"Memang Om Tara benar papa Mentari?" tanya gadis kecil itu memecah keheningan.
"Eh?" Tara menggaruk rambutnya yang tak gatal. Tak siap dengan pertanyaan anaknya. Bahkan tak menyangka Mentari akan bertanya demikian.
Dari gambar-gambar keluarga yang ia lihat di buku juga hanya ada satu ibu dan satu ayah. Jika anak baru ada dua, tiga bahkan lebih.
"Terus, kenapa Om Tara baru nemuin Mentari setelah besar? kenapa Om nggak nemenin mama sama Tari terus? kenapa kita nggak tinggal di rumah yang sama seperti teman-teman Mentari?"
Tara menelan ludahnya kelat. Takut salah saat menjawab. Lagi pula, kenapa anaknya memberi pertanyaan yang susah untuk ia jawab.
"Kenapa Om?" desak Mentari karena Tara hanya diam saja.
"Panggil papa. Nanti papa jawab." tawar Tara memberi kesepakatan.
"Nggak mau. Jawab dulu baru Tari panggil papa!"
Tara menggeleng. Ternyata anaknya cukup cerdik untuk anak dengan usia lima tahun.
"Karena papa sibuk kerja, makanya papa nggak bisa nemenin kamu sama mama setiap hari." mengambil dari jawaban yang Mentari berikan pada teman-temannya tadi.
"Terus, kenapa sekarang bisa nemenin Tari? papa di pecat?" ops Mentari langsung menutup mulutnya ketika kelepasan memanggil papa.
__ADS_1
Dan Tara yang menyadarinya tersenyum simpul. "Memang di pecat itu apa sih?" alih Tara.
"Teman aku pernah cerita. Katanya ayahnya di pecat gara-gara nggak masuk kerja lama. Terus sekarang ayahnya nggak kerja, jadi bisa menemani teman aku bermain di rumah sepuasnya."
Tara terkekeh mendengar jawaban anaknya. "Papa nggak di pecat. Papa kan bos. Jadi papa bebas masuk kapan saja."
Tak ada rasa kagum di mata Mentari. "Bos itu kaya mama ya Om?" Mentari pernah mendengar kakak yang bekerja di MFA memanggil ibunya bos.
"Iya kaya mama. Tapi papa punya lebih banyak karyawan dari pada mama."
"Karayawan itu apa?" tanya gadis itu polos dengan mata mengerjap lucu.
"Karyawan." koreksi Tara. "Karyawan itu yang kerja di tempat mama kerja."
"Ooh kakak-kakak sama om dan tante itu? Om punya teman banyak? Kata mama itu semua temen mama. Bukan karayawan."
"Ya anggap aja teman papa. Papa punya banyak sekali teman seperti mama."
Mentari mengangguk-angguk. Sejenak perhatiannya teralihkan dari pertanyaan yang belum bisa Tara jawab.
"Sekarang kita mau kemana cantik? mau main? makan?"
"Om kan belum jawab pertanyaan Mentari. Om papanya Mentari?"
Salah. Ia kira putrinya sudah teralihkan. "Iya. Om papanya Tari. Darah yang ada di tubuh Tari adalah darah Om juga."
Mentari mengernyit bingung. Bagaimana bisa darahnya darah Tara juga. Memangnya ia pernah meminum darah pria dewasa di depannya ini?
"Tari nggak ngerti."
Tara terkekeh. "Nanti kalau Tari sudah besar, Mentari akan tahu semua yang terjadi saat ini."
"Lalu ayah Rian?" Mentari masih penasaran dengan semuanya. "Teman aku cuma punya satu ayah dan satu mama lho. Memang ayah sama Om berbagi mama?"
Tara menjerit memanggil nama Caca dalam hati meminta pertolongan. Kenapa anaknya kritis sekali.
*
*
__ADS_1
*