I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Father and Daughter


__ADS_3

"Nanti kamu tanya mama aja. Mending sekarang kita jalan-jalan, mau?" tawar Tara.


Pada akhirnya, ia lebih memilih untuk tidak menjawab pertanyaan anaknya. Karena pasti akan ada pertanyaan lain yang akan muncul dari jawaban yang ia berikan.


Ini pengalaman pertamanya menghadapi anak kecil. Sepertinya ia perlu banyak belajar tentang Mentari dari Caca. Agar ia bisa mengimbangi anaknya yang tengah aktif bertanya.


"Jalan-jalan kemana Om?" tanya Mentari antusia. Ia paling suka jika di ajak jalan-jalan karena ibunya sangat jarang mengajaknya pergi.


"Panggil papa dulu dong. Tadi kan sudah janji mau panggil papa." Tara memasang tampang merajuk.


"Om kan belum jawab pertanyaan Tari. Kan Om nyuruh Tari tanya ke mama."


Tara menghela napasnya. Anaknya memang sama persis seperti dirinya. Tidak pernah mau mengalah.


"Nanti Om ajak jalan-jalan kemana aja yang Tari mau, kalau Tari mau panggil papa."


Anak itu memicingkan matanya pada Tara. Otaknya sedang mempertimbangkan.


"Ya udah pulang aja. Aku nggak pa-pa kok gak jalan-jalan." anak kecil itu melipat kedua tangannya di depan dada dan memalingkan wajahnya.


"Yassalam.. Anak siapa sih kamu, pinter banget?" Mengacak rambut anaknya gemas.


"Katanya anak Om." jawaban Mentari terdengar jutek. Karena ketidak jelasan nasibnya jalan-jalan. Membuat sang ayah terkekeh dengan tingkahnya.


"Baiklah tuan putri.. Mau jalan kemana kita?"


Bola mata gadis kecil itu berbinar menatap Tara.


***


"Tari mau.. Tari mau.." Mentari melompat lompat di kursinya begitu Tara membuka kaca jendela dan memberi makan beberapa ekor rusa yang mendekat.


Tara sampai menggelengkan kepalanya melihat begitu senang anaknya melihat hewan-hewan.


Tara meraih Mentari dan memangkunya. Ia tak mau mengambil resiko dengan membuka kaca jendela di samping anaknya.


Jadi sepanjang perjalanan di taman safari, Mentari duduk di atas pangkuan Tara yang mengemudikan mobil.


Sesekali berhenti memberi makan hewan yang tidak berbahaya.


"Waaaahhh lehernya panjang." tunjuk Mentari pada Jerapah yang baru saja ia beri wortel.


"Memang Tari belum pernah kesini?" Tara penasaran karena anaknya begitu terkagum-kagum.


Saat anaknya meminta ingin melihat binatang. Tara langsung melajukan kendaraannya ke arah kawasan puncak. Memilih taman safari sebagai tujuannya.

__ADS_1


Mentari menggeleng. "Mama nggak ajak pergi. Mama cuma ajak main di Mall."


Tara mengernyit bingung. Karena ia tidak melihat Caca kesulitan dalam finansial.


"Kenapa?"


Mentari mengangkat bahunya. "Tari pernah dengar mama bilang sama nenek takut ketemu sama 'orang itu'. Tapi Tari nggak tahu siapa."


Tara tertegun. Jadi selama ini Caca mengorbankan kebahagiaan anak mereka untuk menghindarinya.


Membatasi gerak Mentari agar tidak terbaca keberadaan mereka.


"Maafin papa ya sayang?" Tara mengecup kepala anaknya dari belakang.


"Kenapa minta maaf?" saat Mentari mendongak, gadis kecil itu bisa melihat kesedihan di wajah Tara.


"Kenapa Om sedih? Om marah ya, karena Tari panggil Om?"


Tara menggeleng dan tersenyum tipis. Tak apa di panggil Om, asal ia bisa tetap sedekat ini dengan putrinya.


Kesedihan Tara mengundang kesedihan juga untuk Mentari. Tapi gadis kecil itu juga tidak tahu kenapa dirinya sedih.


"Papa jangan sedih. Maaf ya pah." anak itu berdiri di atas lututnya. Memeluk leher Tara dan mencium pipinya.


Air mata Tara justru jatuh dengan perlakuan anaknya. Air mata yang entah kapan terakhir kalinya keluar. Kini keluar karena rasa yang begitu bahagia karena anaknya mau memanggil dirinya papa. Bahkan anak itu tak ingin ia sedih dan menciumnya.


Tara mengangguk. Menyusut air matanya dengan malu.


"Boleh papa cium Tari?" pertanyaan Tara langsung dijawab anggukan oleh putri kecilnya.


Tara mencium kedua pipi juga dahi putrinya. Meluapkan rasa bahagia dalam hatinya.


"Papa gajah!!" tunjuk Mentari pada hewan berbelalai panjang dan telinga yang lebar itu. Kembali duduk di atas pangkuan Tara yang mulai melajukan mobil yang sebelumnya sempat berhenti.


***


Caca baru saja selesai memberikan penjelasan tentang produknya, dari bahan dan harga yang ia berikan pada calon Reseller yang akan mengambil produk-produknya untuk orang itu jual secara online juga.


"Kok Mentari belum pulang?" gumamnya saat melihat jam sudah menunjukan pukul 16.12.


Caca mengambil ponsel dan menghubungi Tara. Pria yang ia beri kepercayaan untuk menjemput putri mereka. Juga sebagai bantuannya mendekatkan keduanya.


Beberapa kali nada sambung terdengar baru Tara mengangkat panggilannya.


"Dimana mas?" tanya Caca begitu Tara mengucapkan hallo.

__ADS_1


"Di taman safari." dibelakang suara Tara, Caca dapat mendengar anaknya berseru. "Pandanya imut sekali ya pah. Tari boleh bawa pulang tidak?"


"Nggak boleh di bawa pulang dong. Kasihan pandanya nanti karena Tari nggak bisa ngerawatnya." ayah dan anak itu tengah berada di istana panda.


Caca cukup terkejut sekaligus senang mendengar anaknya yang sudah memanggil Tara dengan sebutan 'papa'.


"Kenapa nggak pulang dulu. Kasihan Mentari pasti lapar."


Caca mendengar Tara berdecak. "Kami sudah makan kok. Aku juga tahu harus memberi anakku makan."


Caca mengulum senyum. "Mau pulang jam berapa? biar aku masak makan malam."


"Tari masih betah. Mungkin nanti kami pulang satu jam lagi, biar belum gelap juga."


"Mau di masakin apa?" untuk pertama kalinya Caca ingin memasakan yang special untuk Tara. Biar Tara tahu ia sudah bukan anak manja. Ia sudah jadi koki hebat untuk anaknya.


"Nggak usah masak. Kamu pasti capek. Biar aku nanti beli makanan di jalan sekalian ke situ."


Caca sedikit kecewa karena mengira Tara tidak ingin memakan makanannya. Berpikir jika Tara kapok makan nasi gorengnya pagi itu.


Tara yang tak mendengar jawaban dari Caca kembali berucap. "Kalau kamu mau masak buat aku. Pas weekend aja. Jadi kamu nggak lagi capek." takut Caca salah sangka.


Caca malu sendiri. Begitu jelas terlihatkah dirinya yang ingin memasak untuk Tara.


"Siapa juga yang pengen masakin." kilah Caca dengan wajah yang sudah memerah. Padahal tak ada Tara di hadapannya.


Diseberang Tara terkekeh. "Ya sudah. Sampai jumpa nanti malam."


Caca mendekap ponsel dalam dadanya yang bergemuruh.


Kenapa perasaannya masih sama seperti dulu?


Masih berdetak keras. Bahkan saat ini lebih tak karuan. Seperti anak ABG yang tengah jatuh cinta.


Ooh menggelikan sekali dirinya. Padahal sudah ada Mentari di antara mereka. Tapi rasanya begitu mendebarkan. Debaran yang melenakan.


Pesona Tara memang tak terbantahkan. Diusia yang semakin matang, Tara malah semakin terlihat gagah di usia pertengahan tiga puluh ini.


Selama ini hanya Tara yang mampu menyusup ke dalam hatinya. Bukan karena tak ada pria lain. Selain Rian, masih banyak pria yang berdatangan ke rumah untuk melakukan pendekatan. Tapi tak satupun Caca tanggapi. Dengan alasan ingin membesarkan anaknya, ia bisa terbebas dari pria-pria itu.


Tapi untuk Tara. Ia bahkan membuka pintu rumahnya lebar-lebar..


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2