I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Untuk Menjadi 'Kita' Kembali


__ADS_3

Tara merasa trenyuh ketika anak kandungnya sendiri takut padanya. Berulang kali ia meminta maaf pada gadis kecil itu, mencoba mengajak berteman. Gadis kecilnya malah menangis.


"Maaf. Sebaiknya jangan terlalu di paksakan. Dia terlalu kecil untuk mengerti situasi kita. Pelan-pelan saja." interupsi Caca dari usaha Tara mendekati Mentari.


Sebenarnya Caca sudah tidak suka sejak mama Shinta mengenalkan Tara sebagai "papa" kepada putrinya.


Ayolah. Mentari masih sangat kecil untuk langsung menerima begitu saja. Dengan anak kecil, kita itu harus sabar dan perlahan. Apa lagi kesan yang ia tangkap, anaknya takut dengan Tara karena pernah di marahi.


Jelas saja Mentari takut. Selama ia membesarkan gadis kecil itu, tak sekalipun ia memarahi. Selalu menegur dengan halus.


Hanya Caca merasa tidak enak hati jika harus menegur saat itu juga. Pasti Tara dan mama Shinta sedang merasa amat bahagia bisa melihat Mentari.


Tapi batas toleransinya cukup sampai anaknya menangis.


"Mari, mas, nek. Masuk dulu."


Tidak mungkin kan, Caca pura-pura tidak mengenal mereka seperti tempo hari. Padahal kedua orang itu sudah mengetahui sarangnya seperti ini.


Setelah memantapkan hati, Caca akhirnya berhasil menarik kaki yang sebelumnya seperti tulang lunak untuk melangkah.


Dengan tangan kiri yang masih memangku putrinya. Caca mencari kunci dalam tas dengan tangan kanan yang masih terasa tremor.


Gerakan gemetar Caca saat memasukan anak kunci yang berulang kali hampir jatuh, tak lepas dari pengamatan Tara.


"Biar aku yang buka." pinta Tara langsung mengambil kunci rumah dari tangan Caca yang membuat wanita itu berjengit kaget dan langsung menarik tangannya begitu Tara mengambil alih kunci rumahnya.


"Bisa geser sedikit?" tanya Tara, karena Caca masih diam di tempat dan menatapnya bingung.


"Ah. Iya." jawab wanita itu gugup ketika kesadarannya pulih. Memberi ruang yang cukup untuk Tara membuka pintu rumah.


"Silahkan duduk. Saya bikinkan minum dulu." pamit Caca tanpa menunggu dua orang itu untuk benar-benar duduk.

__ADS_1


Caca menurunkan putrinya di ruang keluarga. "Mentari sayang. Dengerin mama." pinta Caca yang langsung di patuhi anaknya. Mata polos itu mengerjap dan menatap ibunya lekat.


"Tari nggak boleh seperti tadi lagi, ya? Tari nggak boleh nggak sopan sama orang tua. Kan mama selalu mengajarkan Tari untuk salim dengan orang tua. Menghormati mereka." Caca merasa tidak enak dengan sikap putrinya. Pasti Tara sedih dibenci anaknya sendiri.


"Tapi Om itu jahat, mah." Mentari bukan anak yang susah untuk di beritahu kesalahannya. Tapi jika gadis kecil itu tahu dirinya tidak salah, dia akan menjadi gadis keras kepala yang tidak mau di salahkan.


Seperti saat ini contohnya. Mentari tahu jika ia tidak sopan. Tapi ia berbuat seperti itu bukan karena tanpa alasan. Ia masih takut dengan Tara yang memarahinya di Bali.


"Tapi kan Om-nya sudah minta maaf sayang. Mungkin saat itu Om Tara sedang sibuk makanya marah karena Tari mengganggu waktu kerjanya." tenggorokan Caca rasanya tercekat saat menyebut nama pria itu.


Mentari tetap menggeleng kuat. "Om itu jahat! dan Om itu bukan papa Tari! papa Tari cuma satu. Ayah Rian!"


Caca menghembuskan napasnya. Biar nanti ia bujuk lagi. Tak ingin membuat tamunya menunggu lama.


"Ya sudah. Mama mau buat minuman untuk nenek dan Om di depan. Tari tunggu di sini sebentar ya?"


Gadis kecil itu mengangguk dan meraih mainan yang ada di pojok ruangan dan bermain di karpet ruang tengah.


Rumah yang tidak begitu besar membuat Tara juga mama Shinta mendengar apa yang Caca dan Tari katakan. Apa lagi bagian gadis kecil itu berteriak menolak statusnya sebagai ayah.


Bahkan putrinya sendiri tak mau menerimanya. batinya kembali trenyuh.


Caca yang sudah duduk di sofa single, setelah meletakan teh juga kopi untuk kedua tamunya, meminta maaf. Meminta maaf pada Tara yang masih memandangi putri mereka yang tengah bermain di ruang keluarga.


"Saya minta maaf atas sikap Mentari, tadi. Dari kecil sosok ayah yang dia tau hanya Rian. Jadi jika cara kalian mendekatinya langsung pada intinya, itu hanya akan membuatnya takut dan semakin menjauh."


"Anak kecil jika sudah memiliki mainan yang ia sukai saja, tidak akan mau di ganti dengan mainan yang jauh lebih bagus sekalipun. Karena ini masalah hati. Jika memang mas ingin bisa memeluk Mentari. Coba dekati dia pelan-pelan."


Entah yang ia katakan benar atau tidak. Setidaknya sebagai seorang ibu yang mengerti bagaimana putrinya, hanya itu yang bisa ia sampaikan kepada Tara.


"Apa kamu juga sama dengan Tari?" pertanyaan Tara membuat Caca mengernyit bingung.

__ADS_1


"Apa kamu tidak bisa langsung menerimaku seperti dulu?" imbuh Tara yang mengerti ekspresi mantan istrinya. Hatinya tersayat begitu mengingat Caca bukan lagi istrinya seperti dulu.


Caca menunduk. Memainkan jemarinya. Khas wanita itu jika sedang bingung dan gelisah.


"Situasi kita saat ini sudah berbeda. Dan tentu saja kita tidak bisa begitu saja untuk kembali seperti dulu." ucap Caca kemudian setelah lama terdiam.


"Kenapa tidak bisa? kamu bukan lagi istri dari laki-laki itu kan? dan melihatmu yang memilih merawat putri kita seorang diri, menjelaskan jika kamu masih memiliki rasa yang sama dengan yang aku rasakan."


Caca kembali menghela napas. Ternyata lima tahun tidak membawa perubahan apa pun pada diri Tara. Ia masih pria yang begitu berambisi terhadap dirinya.


"Air yang kotor saja harus melalui banyak proses dan membutuhkan banyak media untuk bisa di gunakan. Apa lagi perasaanku dan Mentari." ucap Caca dengan sedikit emosi.


"Kami bukan barang yang bisa dengan mudah mas bawa pulang, setelah mas menemukannya."


"Kita sudah memiliki kehidupan sendiri-sendiri mas. Dan maaf, karena saya yang membuat keadaan menjadi seperti ini." Caca tahu dia salah sudah meninggalkan Tara. Mungkin orang menganggap dia tidak pengertian dengan suami.


Tapi Caca juga wanita yang perasan. Jika orang lain bisa berlari pada orang tua untuk mengadu, dan kembali lagi saat hati sudah tenang. Dia harus berlari kemana?


Hanya pergi menjauh yang saat itu terlintas di pikiran Caca. Karena Caca bukan wanita tangguh yang sudah jelas-jelas tidak di harapkan, tapi masih punya muka untuk berdiri di hadapan Tara saat itu.


Caca masih ingat sampai saat ini ketika Tara membentaknya dan menyuruhnya diam karena pria itu pusing mendengar suaranya.


Juga saat ia pamit pulang, Tara kembali membentak dan mengatainya bawel. Bukannya merasa khawatir dengan istri yang hamil besar yang akan pulang seorang diri.


Hati wanita mana yang tak sakit di perlakukan demikian. Terlebih hormonnya sedang tidak stabil.


"Coba saja dulu pelan-pelan untuk meraih hati Mentari. Masalah hatiku, pasti akan mengikuti."


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2