I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Abraham Family


__ADS_3

Keluarga besar Abraham dibuat bingung ketika cucu dari putra kedua keluarga itu meminta mengadakan rapat keluarga. Pasalnya, mereka hanya akan bertemu dalam satu ruangan yang sama dalam situasi dan acara penting seperti perusahaan. Atau rapat keluarga hanya akan diadakan jika ada hal penting yang perlu mereka bahas. Seperti pernikahan karena restu dari semua, terutama tetua lah yang menentukan. Atau jika salah satu anggota keluarga tengah tersandung masalah berat.


Mereka menyebut diri mereka Abraham Family. Keluarga pemilik perusahaan raksasa yang hampir merambah semua bidang. Di setiap anak perusahaan akan langsung di pimpin oleh turunan asli Harrison Abraham.


Guntara Abraham atau Tara adalah cucu dari putra kedua Harrison Abraham. Pria asli Inggris yang menetap dan membangun perusahaannya di Indonesia puluhan tahun silam.


Ayah Tara, Wadley Abraham atau biasa di sapa Adley adalah anak kedua. Tara saat ini duduk di kursi pimpinan tertinggi perusahaan milik keluarga tersebut. Menggantikan kakak dari Adley, William Abraham yang merupakan anak tertua.


William hanya memiliki tiga anak yang semuanya perempuan. Sehingga kepemimpinan jatuh ke tangan Tara begitu pria itu pensiun sepuluh tahun silam.


Tara tahu, meminta restu pada keluarga papanya bukanlah hal mudah untuk ia dapatkan. Keluarga mereka selalu menjunjung tinggi bibit, bebet dan bobot orang yang akan masuk dalam keluarga mereka. Pun mereka akan menyelidiki kepribadian mereka baik atau tidak. Dan mereka adalah keluarga yang sangat patuh aturan dalam keluarga mereka.


Tara tidak yakin semua akan berjalan sesuai keinginannya. Apa lagi saat ini Tara ingin meminta restu untuk menikahi anak angkatnya sendiri. Belum lagi kehadiran Mentari yang tidak mereka ketahui pasti akan menjadi masalah lain dalam rapat nanti malam.


Tapi apa pun yang terjadi. Tara ingin secepatnya memperkenalkan Caca pada keluarga besarnya. Bukan sebagai anak, melainkan sebagai istri juga ibu dari anaknya.


Pria itu sudah gelisah sejak Om William menentukan waktu rapat akan di adakan. Sedangkan tempat, tentu saja akan di adakan di rumah utama keluarga Abraham. Kediaman yang saat ini di tempati oleh William. Pria itu masih memegang keputusan terbesar dalam keluarga.


Dalam keluarga mereka, yang paling tua lah pemimpin keluarga. Pemimpin Abraham Family setelah Herrison Abraham menghembuskan napas terakhir belasan tahun silam.


Tak hanya Tara. Di tempat berbeda, Caca juga tengah merasakan hal yang sama. Padahal Tara sengaja memberitahukan semalam pada Caca. Berharap wanitanya tidak terlalu memikirkan acara nanti malam.


Tapi nyatanya Caca tidak lelap dalam tidurnya. Perasaan gelisah, khawatir, takut melebur menjadi satu. Jantungnya sudah di pompa lebih kuat sejak semalam. Rasa gugup yang sampai detik ini masih terasa.


Tara bilang akan menjemputnya pukul enam sore. Mereka akan melakukan makan malam bersama di kediaman Abraham. Tradisi yang tak pernah terlewati. Kesempatan berkumpul yang hanya akan terjadi di saat-saat tertentu saja.


Tara juga mengirimkan gaun untuk Caca dan Mentari untuk di kenakan nanti.


***

__ADS_1


Caca duduk dengan gelisah. Memangku Mentari di sebelah Tara yang mengemudikan mobil memasuki kawasan elit.


"Waahh.. Rumahnya besar ya, mah?" tanya gadis kecil yang begitu kagum begitu mereka memasuki gerbang yang tinggi menjulang. Menyembunyikan rumah yang begitu megah di dalamnya.


Jarak antara gerbang dan rumah saja cukup jauh. Di depan rumah megah itu sudah berjajar mobil-mobil mewah. Termasuk mobil kedua orang tua Tara yang sudah lebih dulu berangkat.


Jantung Caca semakin bertalu-talu seiring kendaraan mereka mendekati pintu utama rumah mewah itu.


Sudah ada yang menunggu untuk membukakan pintu juga memarkirkan mobil untuk mereka. Caca tidak merasa datang ke sebuah rumah. Ia lebih merasa tengah hadir ke sebuah acara resmi yang di adakan di hotel berbintang. Acaranya orang-orang penting. Bukan orang seperti dirinya.


Banyak juga pelayan yang berjajar rapi menyambut mereka. Entah untuk alasan apa lagi mereka berdiri di sana. Caca hanya mengikuti Tara yang juga menggandeng Mentari di antara mereka memasuki pintu utama yang tingginya tiga sampai empat meter.


Caca semakin gelisah. Tidak bisa menerka seperti apa keluarga yang akan ia temui. Yang ia tahu, Tara dan keluarganya sangat menghormati keluarga ini.


Caca menelan ludahnya kelat begitu memasuki lorong setelah pintu utama. Membawa mereka masuk ke sebuah ruangan yang sudah berisi banyak orang dengan pakaian formal sama seperti dirinya dan juga Tara.


Caca tak berani memandang wajah orang di sana satu persatu. Ia hanya berani memandang wajah mama Shinta yang memberinya senyum semangat. Senyum teduh yang menenangkan.


Wanita itu juga Tara membungkukan sedikit badannya, memberi hormat seperti yang Tara ajarkan ketika mereka akan berangkat. Hal itu di lakukan juga oleh Mentari.


"Selamat malam Om, tante, dan para sepupu." sapa Tara begitu formal. Padahal ia menyapa keluarganya sendiri. Sama sekali tidak terlihat sisi kekeluargaannya.


Memberanikan diri menatap sekitar. Caca bisa melihat berbagai ekspresi orang-orang yang ada di sana begitu mereka menatap dirinya dan sang putri.


Ada tatapan bingung, kaget juga tatapan datar tapi terlihat menyeramkan akan kewibawaannya, dari pria yang sedikit banyak mirip dengan papa Adley. Pria yang duduk di kursi utama ruangan itu. Pria yang Caca yakin adalah kakak tertua ayah mertuanya.


"Duduklah Tara. Perkenalkan juga orang-orang yang kau bawa." suara berat itu terdengar dari pria yang menjadi pusat keluarga.


Tara mengajak Caca dan Mentari untuk duduk di dekat mama Shinta dan papa Adley.

__ADS_1


Tara berdeham. Ia sendiri merasa gugup menghadapi keluarga papanya. Tapi bukan Tara namanya jika menyerah begitu saja.


"Ini Nathasya Gustari. Mungkin dulu kalian sudah mengenalnya sebagai anak angkat saya dan mendiang istri saya. Gadis belia yang istri saya bawa begitu ia kehilangan ibu yang juga keluarga satu-satunya."


Dulu, begitu Nindy memutuskan untuk mengangkat Caca sebagai anak, mereka juga mengadakan rapat yang sama. Meminta persetujuan agar Caca juga di akui di dalam keluarga Abraham.


Tapi dulu Caca tidak di ajak langsung dalam rapat. Hanya video yang di ambil oleh orang suruhan Tara yang mengawasi Caca yang menjadi bahan perundingan mereka malam itu. Hingga keputusan semua keluarga untuk menyetujui menerima Caca setelah memperhitungkan Tara yang sulit memiliki anak.


"Dan gadis cantik ini," Tara tersenyum kepada putri kecilnya. Putri kecil yang juga tersenyum kepadanya.


"Namanya Mentari Abraham.." Tara menjeda ucapannya begitu terdengar dengungan protes ketika anak itu menyandang nama belakang mereka. Karena biasanya yang menyematkan nama belakang juga William sebagai putra tertua. Tapi William tidak merasa pernah datang saat gadis kecil itu di lahirkan. Bahkan ia tidak tahu siapa gadis kecil itu.


"Mungkin dia memang belum sah menyandang nama Abraham. Karena saya juga belum sah menjadi ayahnya secara hukum."


Gumaman-gumaman semakin terdengar. Membuat Caca meremas jemari kecil putrinya. Berusaha menetralkan debaran jantungnya sendiri.


"Tapi secara agama dia adalah putri saya..." banyak seruan kaget yang terlontar. Belum pernah ada sebuah pernikahan tanpa restu semua anggota keluarga di keluarga itu.


"Pun secara biologis. Dia adalah putri saya dan Nathasya."


"APA?!"


*


*


*


Gimana-gimana? dapet gak konfliknya?

__ADS_1


__ADS_2