I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Bidadari Kecil


__ADS_3

"Mama!!" teriak anak kecil berambut sedikit keemasan, dengan kulit putih dan pipi tembam yang menggemaskan itu ketika memasuki rumah. Jenis wajah dan rambut yang turun langsung dari ayah biologisnya. Meski Tari sekilas mirip dengan Caca, tetapi baik warna mata dan jenisnya, juga hidung bangirnya, semua sama persis dengan milik Tara. Kecuali pipi bulat khas anak-anak itu.


Anak berumur empat setengah tahun itu baru pulang dari sekolahnya di usia dini. Anak yang hadir dengan penuh luka dan air mata. Tapi Caca bersyukur bidadari kecilnya tumbuh menjadi anak ceria dan kuat.


"Salam dulu sayang kalau masuk rumah." tegur Caca seraya mengusap rambut halus buah hatinya ketika mencium punggung tangannya.


"Maaf mama." ucap gadis kecil itu dengan ekspresi polosnya. "Asalamualaikum.. Mentari pulang."


"Waalaikumsalam. Gitu dong. Itu baru anak mama yang cantik." cubit Caca pada pipi tembam milik anaknya.


"Sekarang ganti baju dulu, terus kita makan. Okeee."


"Oke!!"


Caca selalu suka dengan semangat putrinya yang seakan tiada habisnya. Menjadi suntikan semangat juga untuknya menjalani hari. Berjuang demi masa depan sang buah hati.


Semenjak Mentari lahir, Caca tidak lagi tinggal di rumah dokter Risma. Wanita itu mencicil rumah dekat dengan usaha rintisannya yang di beri nama Mentari Fashion Art-nama yang akan Caca gunakan untuk nama putrinya ketika lahir dulu. Memilih yang dekat agar ia bisa bekerja sekaligus menemani anaknya agar tak sendiri di rumah. Karna Caca tidak memakai jasa babysitter dan memilih untuk merawat anaknya sendiri.


Hanya asisten rumah tangga yang bertugas untuk beberes dan mencuci pakaian yang datang pagi dan pulang ketika pekerjaannya sudah selesai.


"Kapan kita main ke rumah nenek, mah?" nenek yang di maksud Mentari adalah dokter Risma. Wanita itu benar-benar menganggap Tari seperti cucunya sendiri.


Padahal Caca sudah sering melarang putrinya agar tidak terlalu sering berkunjung kesana. Di lubuk hati terdalamnya, ia masih merasa tidak enak karena seperti mempermainkan putra semata wayang wanita itu.


Caca yang tidak bisa menerima pernikahannya dengan Rian, langsung pergi dari rumah itu dan memilih tinggal di MFA (Mentari Fashion Art). Disebuah kamar yang memang dulu sempat ingin ia tinggali sebelum dokter Risma melarang.


Rian yang merasa khawatir, membujuk Caca agar mau kembali ke rumah bundanya. Pria itu juga berjanji untuk tidak akan pernah datang ke rumah bunda selama Caca di sana, jika itu membuat Caca tidak nyaman.


Sungguh. Caca bukan tidak nyaman dengan adanya Rian. Ia hanya tidak ingin merusak masa depan Rian yang begitu cemerlang.


Jadi. Ketika sang anak berumur dua bulan, Caca menggugat cerai Rian. Karena tujuannya menikah memang hanya untuk mendapatkan identitas putrinya. Dokter Risma pun sudah pernah mengatakan dia boleh mengajukan cerai jika anaknya sudah lahir.


Jahat memang. Tidak adil untuk Rian. Dia sangat merasa bersalah pada pria itu. Tapi itu semua Caca lakukan demi kebaikan Rian sendiri. Juga karena hatinya masih belum bisa melupakan ayah anaknya. Dan mungkin selamanya akan seperti itu.


Untuk itu, Caca memutuskan untuk tidak akan pernah menikah lagi. Cukup pernikahan palsu yang ia lakukan dengan Rian. Dan pernikahan dari hati yang ia lakukan dengan Tara.

__ADS_1


Ia tidak ingin ada pernikahan yang lain.


Rian bahkan masih sangat baik padanya juga Tari meski ia sudah menyakiti hati pria itu. Sesekali pria itu berkunjung untuk menemani Tari bermain atau mengajaknya jalan-jalan.


"Mah! mama!" guncangan pada lengannya mengagetkan Caca yang tengah tenggelam dengan masa lalunya.


"Kenapa sayang?" Caca membersihkan mulut putrinya yang menempel makanan di sudut bibir.


"Kapan kita main ke rumah nenek.." rengek anak itu lagi.


"Nenek pasti sibuk sayang. Jangan sering-sering main kesana ya, nanti saja kalau Mentari libur."


"Tapi Tari maunya sekarang mah.. Tari kangen sama nenek. Tari juga sudah lama nggak ketemu ayah. Katanya ayah sekarang sekolahnya jauh ya mah?"


Caca menghela napas. Rian memang setahun yang lalu melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Setelah sekali lagi pria itu melamarnya secara sungguh-sungguh tapi ia menolak.


"Iya. Ayah Rian sedang sekolah jauh biar bisa kerja dan jadi orang sukses. Nanti kalau Mentari sudah besar. Mentari juga harus rajin belajar biar bisa sekolah yang tinggi ya sayang."


Anak itu mengangguk mantap. "Iya mah. Tari mau kaya ayah. Tari mau jadi orang hebat."


Caca hanya bisa mengangguk dan pasrah saja ketika Rian berkata demikian, dulu.


Caca bahkan dulu tidak berpikir jika dirinya masih bersatus istri siri Tara ketika menikah dengan Rian. Yang ada di kepalanya hanya agar ia bisa memberi identitas kepada buah hatinya.


"Assalamualaikum!!" seruan dari pintu depan membuat Caca beranjak.


"Habiskan makanannya baru boleh turun." ujar Caca memperingati anaknya. Caca memang menerapkan hidup teratur untuk anaknya.


"Iya mama.."


Caca buru-buru menuju ruang depan karena si tamu kembali mengetuk pintu.


"Rian! dokter Risma!" seru Caca terkejut. Pasalnya sejak kapan Rian kembali ke Jakarta.


"Gak di ijinin masuk, nih?" sindir Rian yang melihat Caca masih tertegun.

__ADS_1


"Eh. Iya. Silahkan masuk, Bu, Yan." kini gadis itu membuka pintu rumahnya lebar-lebar.


"Mana nih cucu bunda. Kok gak kelihatan." dokter Risma melongokan kepalanya ke arah pintu penghubung ke ruang keluarga.


"Mentari sedang makan bu, baru pulang sekolah dia."


"Anak gue udah sekolah?" mata Rian berbinar mendengarnya.


Ingin sekali Caca mencibir "Bukan anak, lo!" seperti biasa. Tapi sayangnya ada dokter Risma.


Sebenarnya Caca hanya merasa tidak enak pada dokter Risma saja. Meski ada rasa bersalah pada Rian, namun karena Rian selalu bisa membuat dirinya merasa seperti ketika mereka berteman dulu, membuat dirinya sedikit banyak kembali pada Caca yang Rian kenal saat kuliah dulu.


"Baru masuk ajaran tahun ini. Jadi baru masuk sekolah dua mingguan." terang Caca.


"Pantes, pas main ke rumah bulan lalu Tari tidak cerita sudah sekolah."


Caca tersenyum dalam anggukan. "Sebentar, saya panggilkan Mentari dulu, bu. Tadi juga anak itu tanya kapan main ke rumah ibu. Anak itu kangen katanya."


"Waah.. Kita sehati berarti!" seru dokter Risma seperti mendapat undian berhadiah.


Belum sempat Caca memanggil anaknya, Tari sudah lebih dulu muncul di ruang tamu dan langsung berseru begitu melihat siapa yang datang.


"Ayah!!" gadis kecil itu langsung melompat ke atas pangkuan Rian dan mengalungkan lengannya pada leher pria yang di anggapnya ayah itu.


Kadang Caca berpikir, apa Tara akan sebahagia Rian ketika bersama dengan Tari?


Dan entah bagaimana kabarnya pria itu. Caca hanya berharap semoga Tara selalu sehat dan di limpahi kebahagiaan.


Yang Caca tidak tahu. Tara hidup dengan mengerikan sejak perginya Caca.


Menjadi atasan super dingin dan galak yang di takuti semua karyawan. Menghabiskan setiap malam dengan pergi ke club malam. Hanya untuk bisa tertidur tanpa memikirkan Caca yang keberadaannya belum di temukan, dengan menenggak berbotol-botol minuman keras.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2