
"Ternyata seperti ini rasanya kembali pada keluarga."
Rasa nyaman dan bahagia seakan tak pernah pergi. Masih rasa yang sama yang Caca rasakan ketika berada di tengah-tengah keluarga Tara. Tak ada yang berubah. Seakan ia tak pernah pergi. Senyumnya mengembang sempurna.
Rindu yang selama ini ia rasakan akhirnya tuntas sudah. Dadanya sesak oleh luapan rasa bahagia. Rasa sesak yang menyenangkan.
Bisa berkumpul dan bercengkrama menikmati makan malam dengan keluarga. Suasana hangat yang sudah lama sekali tidak ia rasakan. Mungkin dulu sekali sebelum ia menikah dengan Tara adalah terakhir kalinya Caca merasakan hal seperti itu.
"Kalian menginap di sini kan?" tanya mama Shinta menatap Tara dan Caca bergantian.
Caca melirik Tara untuk memberikan jawaban. Yang di lirik malah bertanya pada putri kecil mereka.
"Mentari mau bobo di rumah nenek, tidak?"
Gadis kecil yang tengah menikmati makanan dalam piringnya itu hanya mengedik. "Tari bobo sama mama."
Caca menghela napas. "Caca sama Mentari pulang aja mah." kini Caca dilarang memanggil nenek dan kakek. Kedua paruh baya itu memintanya untuk memanggil dengan panggilan yang sama dengan Tara.
"Kenapa? kamu masih tidak nyaman di rumah ini?"
"Bukan begitu, mah. Hanya, Caca dan mas Tara sudah bukan lagi suami istri. Takut menjadi gunjingan nanti."
Caca yakin di komplek perumahan orang tua Tara tidak akan mungkin ada yang menggunjingkan mereka. Tapi pasti akan ada kabar miring lagi ketika besok ia pulang di antar Tara setelah semalaman tidak pulang.
"Kalau begitu, kenapa kalian tidak secepatnya menikah lagi. Biar papa bisa sering bertemu dengan cucu papa." pria paruh baya itu ikut menyahut. Melemparkan pertanyaan yang membuat Caca sedikit tidak nyaman.
"Iya. Biar kalian sering menginap di sini." mama Shinta mengangguk setuju dengan ide suaminya. "Mama sama papa sudah tua. Kami hanya ingin melihat Tara bahagia. Bersama kamu dan Tari tentunya."
Caca menunduk gelisah. Dirinya memang masih mencintai Tara. Selama ini tidak ada seorang pun yang berhasil menggeser posisi pria itu dalam hatinya.
Meski cintanya berawal dari kesalahan juga paksaan. Tapi cinta itu tumbuh dengan tulus. Cinta tanpa syarat yang hadir dalam hatinya begitu saja tanpa permisi.
Tapi jika membahas pernikahan, entah kenapa ia masih ragu. Masih ada rasa cemas akan melewati kepahitan yang sama. Apa lagi dengan orang yang sama juga.
__ADS_1
Tara berdeham begitu menangkap raut tidak nyaman di wajah wanitanya. "Kita jalani dulu saja mah. Lagian aku juga baru dekat dengan Mentari. Masih butuh waktu untuk kami saling memahami agar tidak terjadi kesalahan yang sama seperti dulu lagi." Tara mengusap kepala anaknya yang tidak terganggu dengan pembicaraan orang tua yang ada di sana. Tapi mata pria itu tak lepas dari Caca yang kini menatapnya saat kalimat terakhir terucap.
"Dulu kesalahan kalian karena kalian tidak jujur. Mana mungkin kami tahu kalian memiliki hubungan lebih dari anak dan ayah. Tapi sekarang kan kami sudah tahu, dan kami merestui."
"Tara tahu papa dan mama merestui. Tapi masih ada orang-orang yang harus Tara mintai restu agar hubungan kami tidak lagi ada masalah nantinya."
Mama dan papa Tara saling pandang dan mengangguk. Sedangkan Caca mengerutkan dahinya tidak mengerti.
Memang siapa lagi yang harus mereka mintai restu. Dia saja sudah tidak memiliki orang tua. Dan setahunya, saudara dari kedua orang tuanya tidak ada yang mau menerimanya.
Caca buru-buru menggeleng. Mengusir pikirannya yang seakan sudah setuju dengan pernikahan bahkan terkesan sudah tidak sabar itu. Untung saja ia tak mengungkapkan isi kepalanya barusan. Jika itu terucap, akan semalu apa ia.
"Biar Tara cari waktu yang tepat untuk membawa Caca dan Tari untuk meminta restu. Dan biarkan hubungan kami lebih dekat dulu. Menghilangkan kecanggungan antara aku dan Caca setelah perpisahan yang sekian lama."
"Ya. Kamu memang harus meminta restu pada mereka. Dan kalian berdua harus siap untuk berjuang bersama mendapatkan restu mereka." pria paruh baya yang mewariskan iris mata pada putra dan cucunya itu terlihat menyimpan beban yang Caca tidak mengerti.
Sebenarnya mereka harus meminta restu pada siapa sampai papa Tara begitu berat mengatakannya.
"Nanti kamu akan tahu." ucap Tara mengelus sebelah pipi Caca.
***
Terdengar pintu kamar di ketuk saat Caca tengah menyelimuti tubuh putri kecilnya yang sudah tertidur selepas makan malam. Anak itu sepertinya masih kelelahan.
"Ca. Sudah tidur belum? aku boleh masuk?" suara bas Tara terdengar setelah ketukan berhenti.
Caca bangkit dari tempat tidur dengan hati-hati agar tak membangunkan Mentari.
"Kenapa, mas?" tanya Caca setelah membuka pintu.
Tara melongokan kepalanya. "Tari sudah tidur?"
Caca hanya mengangguk dan membiarkan saja pria itu masuk. Mencium dahi putrinya yang menggeliat dan kembali memeluk boneka yang tadi siang Tara dapatkan di taman hiburan.
__ADS_1
"Kamu nggak nyaman tidur di sini?" Tara duduk di tepi tempat tidur, menatap Caca yang menyandarkan tubuhnya pada dinding samping pintu, penuh rasa rindu. Merindukan kebersamaan hangat mereka.
Meski kini mereka telah bertemu kembali. Tapi keadaan tak sama seperti dulu. Hubungan mereka tak sehangat dulu meski masih sama-sama memiliki perasaan yang sama.
Seakan ada kaca transparan yang memisahkan mereka. Menghalangi mereka untuk saling mendekat dan meraih. Tak ada peluk meskipun ingin. Tak ada yang keduanya bisa lakukan meskipun sebenarnya mereka bisa. Asal keduanya mampu menghancurkan dinding tipis yang memisahkan mereka.
"Rasanya masih sama. Tidak ada yang berubah." jawab Caca setelah cukup lama hanya terdiam.
"Lalu kenapa belum tidur?"
Caca mengedik. "Banyak yang aku pikirkan. Semua terasa nggak nyata."
Tara berdiri dan meraih tangan Caca. Mengajaknya untuk keluar agar tidak mengganggu tidur Mentari.
"Apa yang tidak nyata? kamu masih belum bisa memaafkan aku?" ruang keluarga yang sudah sepi hanya diterangi pendar lampu yang tak begitu terang karena lampu utama sudah di padamkan, menjadi pilihan Tara untuk berbicara dari hati ke hati dengan ibu dari anaknya itu.
Tara masih menggenggam erat tangan kiri Caca meski wanita itu tak sekalipun menatapnya. Caca selalu mengalihkan pandangannya kemanapun asal tidak mata Tara.
Mata yang mengingatkannya akan dosa dan luka di masa lalu. Ia juga tak menafikan, jika dimata itu juga mengingatkannya akan kebahagiaan sebagai seorang wanita yang di puja pada masanya dulu.
"Mungkin karena aku terbiasa hidup berdua dengan Mentari. Sehingga kehadiranmu terasa semu, mas." Caca menunduk dalam. Menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Memberanikan diri menatap mantan suami sekaligus ayah dari anaknya.
"Semua terasa semu karena aku biasa hidup sendiri. Berjuang sendiri. Dan.... Menangis sendiri."
Kalimat terakhir Caca bagai sembilu yang menaikam Tara begitu dalam. Menorehkan luka yang tak kasat mata.
"Maaf. Aku datang terlambat." bisik Tara. Menunduk penuh penyesalan.
Caca dengan mata berkaca-kaca menggeleng dan menaikan dagu pria yang tertunduk dalam itu. "Kamu nggak salah, mas. Aku yang memutuskan pergi. Jadi itu sudah menjadi risiko untukku jalani. Karena itu jalan yang ku pilih sendiri."
*
*
__ADS_1
*