
Caca menggeliat dalam tidurnya ketika sebuah tangan memeluknya dari belakang. Juga sebuah kepala yang terasa dingin menyentuh tengkuknya.
Entah jam berapa Caca tertidur ketika menunggu Tara yang hingga hampir tengah malam belum kunjung pulang.
"Baru pulang, mas?" tanya Caca dengan suara serak seraya membalik posisi tidurnya menghadap Tara.
Aroma sabun dan sampo menguar memenuhi indra penciuman Caca. Rambut Tara juga masih sedikit basah.
"Iya. Kata bibi, kamu nungguin?" ketika Tara pulang, asisten rumah tangga mereka memberitahu jika Caca belum lama memasuki kamar setelah menunggu Tara di ruang keluarga selepas Mentari tidur. "Maaf ya, pulangnya kemaleman."
Caca mengangguk dan tersenyum lembut. "Mas kelihatan capek." tangan lentiknya membelai sisi wajah Tara. Membuat pria itu memejamkan mata menikmati sentuhan sang istri pada wajahnya. "Mas sudah makan malam?"
"Belum." jawab Tara singkat. Pria itu masih setia memejamkan mata. Memegang tangan Caca untuk tak pergi dari wajahnya. Menarik tangan yang sehalus tangan bayi itu untuk ia cium.
"Kenapa belum makan?!" seru Caca yang ingin beranjak berdiri tapi di tahan oleh Tara. "Nanti mas sakit, kalau makannya nggak teratur sepetrti ini! Mas kalau lagi banyak kerjaan tuh harusnya malah prioritaskan makan. Karena mas butuh tenaga ekstra buat kerja agar semua bisa cepat selesai!"
Tara terkekeh. Kekehan dengan rasa bahagia di hati. Akhirnya ada yang memarahinya karena khawatir selain ibunya. Akhirnya ada suara yang terdengar menyebalkan tapi justru membuat hatinya lega di tengah masalah yang ia hadapi.
"Kamu bisanya nasehati orang." Tara mencubit ujung hidung istrinya yang kemudian ia cium saat wanitanya itu mengaduh. "Tapi giliran kamu sendiri lagi fokus kerja, jangankan makan. Suami aja kamu lupa."
"Kapan aku lupa sama suami sendiri?!" cibir Caca yang kini sudah duduk sempurna, menggelung rambutnya asal bersiap untuk berdiri. Diikuti Tara yang juga sudah duduk di sampingnya.
"Ayo turun." ajak Caca pada suaminya yang masih diam di tepi tempat tidur.
"Ngapain turun?"
"Makan lah, mas! kamu butuh makan buat kembali beraktifitas besok."
Tara menggeleng dan menarik Caca hingga jatuh kepangkuannya. "Aku nggak lapar."
__ADS_1
"Lapar atau enggak, mas tetap harus mak-" kalimat Caca terputus dengan bibir basah yang sudah menempel dan mulai memagut bibirnya.
Bola mata Caca membesar ketika sebelah tangan suaminya menyusup kebalik gaun tidur yang ia kenakan. Mengusap perut ratanya. Mengantarkan geleyar aneh yang membuat napasnya semakin berat. Rasa menggelitik yang mulai memanaskan seluruh tubuhnya akibat kegiatan tangan suaminya yang sudah berada di area favoritnya. Sedang sebelah tangan lagi menahan belakang tubuhnya agar semakin rapat dan memperdalam ciuman mereka.
***
Caca masih menggerutu setelah membersihkan diri dan turun ke dapur untuk menghangatkan makan malam yang sudah terlewat jauh hingga dini hari.
"Kalau kamu masih menggerutu, nanti aku makan kamu lagi di sini." acam Tara dengan melingkarkan lengannya pada perut sang istri dan berbisik tepat di telinga Caca yang tengah menunggu makanan di dalam microwave.
Caca berdecak. "Coba tadi makan dulu. Aku pasti nggak akan kesel begini, mas!"
"Ooh jadi maunya habis makan, baru di makan?" goda Tara. "Oke. Nanti aku makan lagi setelah kita makan."
Caca merotasikan kedua bola matanya. Memilih diam tak menanggapai. Membawa piring yang berisi makanan ke atas meja dapur.
"Kenapa tadi pulangnya malam banget, mas? ada masalah di kantor?"
"Maaf ya sayang. Aku lupa tidak mencharge ponsel. Terlalu fokus pada kerjaan." kilah Tara. Ia tidak mungkin memberitahu istrinya tentang masalah yang hampir dan mungkin akan terjadi.
Tara pulang terlambat juga bukan karena banyak pekerjaan. Pria itu bertemu dengan pengacara pribadinya untuk merencanakan perlindungan untuk Caca dan Mentari.
Juga merencanakan apa yang akan ia lakukan ketika skandal tentang dirinya dan Caca terekspos ke media.
Ia tidak ingin anak dan istrinya susah ketika rumor tentang mereka muncul kepermukaan. Ia tidak ingin membuat anak dan istrinya sedih.
Selama ia masih bisa menghadapinya tanpa Caca tahu, akan ia lakuan segala hal yang ia bisa.
Tapi, mengingat pasti orang yang memberitahu klien-kliennya tentang Caca anak angkatnya adalah orang yang tidak suka padanya. Kemungkinan besar untuk berita itu akan muncul di media. Dan ia harus melindungi anak dan istrinya apa pun caranya.
__ADS_1
"Lain kali jangan gitu lagi ya mas. Aku tuh khawatir. Apa lagi tadi siang kaya ada orang yang mantau rumah kita." ucap Caca sambil lalu. Sebenarnya ia tidak menganggap serius orang yang siang tadi ia lihat. Dan hanya berucap asal agar Tara tidak lupa lagi untuk memberinya kabar.
Tapi reaksi Tara justru membuat ia kaget. Tara meletakan sendoknya cukup keras. "Orangnya seperti apa? kamu yakin dia mantau rumah kita?" ekspresi Tara begitu serius dengan rahang yang mengeras. Dadanya juga naik turun tak beraturan.
"A-aku ng-nggak yakin sih mas." jawab Caca dengan susah payah menelan ludah. Wanita itu dibuat takut dengan ekspresi wajah Tara yang begitu serius.
Bukan. Bukan takut pada wajahnya. Tapi takut atas situasi penting apa yang ia tak tahu hingga membuat Tara terlihat sekhawatir itu.
"Kamu lihat dimana!" cecar Tara kembali.
"Di seberang jalan. Di depan rumah Bu Joko yang sekarang kosong itu." rumah kosong di samping rumah yang berhadapan persis dengan rumah Tara.
"Kamu inget ciri-ciri orang itu?"
Caca mengangguk dan menceritakan semuanya.
Siang tadi setelah menjemput Mentari sekolah, Caca langsung pulang ke rumah. Tidak kembali lagi ke MFA. Ia ingin memasak makan malam spesial untuk sang suami-yang justru pulang terlambat dan membuat makanan yang ia masak tak selezat sebelumnya.
"Ada mobil sedan hitam parkir di depan rumah Bu Joko. Aku kira Bu Joko pulang dari luar negeri. Tapi sampai sore, mobilnya tetep parkir nggak masuk ke dalam." cerita Caca.
Begitu sore hari ketika Caca akan menyiram bunga di halaman depan, ia melihat dua pria dengan pakaian serba hitam memasuki mobil tersebut kemudian melajukan kendaraan meninggalkan tempat yang sudah sejak siang atau mungkin pagi sebelum Caca pulang. Dan sebelum pergi, salah seorang yang berpakaian hitam itu sempat tersenyum ke arahnya. Senyum yang menyeramkan bagi Caca.
Caca bisa melihat jelas karena gerbang tinggi rumah mereka tengah terbuka lebar. Dan saat itu Caca akan menyiram bunga yang ada tepat di depan pagar samping gerbang.
Cerita Caca semakin membuat Tara gusar. Sebenarnya apa tujuan orang-orang itu memantau rumahnya. Dan mau tidak mau, ia harus memberikan pengawal untuk anak dan istrinya. Agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.
*
*
__ADS_1
*