I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Kakek


__ADS_3

Semakin hari, hubungan antara Tara dan Mentari semakin dekat. Membuat Caca merasa lega. Karena putrinya bisa merasakan kasih sayang ayah kandungnya.


Begitu juga dengan Tara yang memenuhi kewajibannya sebagai seorang ayah. Tiap akhir pekan mereka selalu pergi jalan-jalan. Memuaskan Mentari mengunjungi setiap tempat wisata yang belum pernah anak itu lakukan selama ini.


Kondisi yang membuat Caca menyembunyikan keberadaannya dan sang anak, begitu besar merenggut kebebasan anaknya.


"Gimana kalau lain kali kita jalan-jalan keluar kota? atau luar negeri mungkin?"


Jalanan cukup padat saat mereka keluar dari taman hiburan di sore hari. Weekend membuat jalanan dipenuhi wisatawan seperti mereka. Menghabiskan akhir pekan bersama orang terkasih atau keluarga tercinta.


Caca menatap mantan suaminya tak setuju. "Mas punya banyak kerjaan di kantor. Begitu juga dengan aku. Jalan-jalan disini juga sudah cukup kok. Lagian masih banyak tempat yang belum kita kunjungi."


Tara berdecak. "Aku kan pengen nyenengin anakku, Ca."


"Cukup dengan kehadiran kamu di antara kami, itu sudah membuat kita senang, mas. Tidak perlu yang berlebihan." Caca menatap lurus kedepan. Menatap padatnya kendaraan yang merayap. Tak mampu bergerak cepat.


Tara tersenyum penuh arti dan menoleh menatap mantan istrinya. "Jadi.. Kamu senang dengan kehadiranku, Ca?"


"Eh?" Caca terkejut. Tak menyadari apa yang ia ucapkan sebelumnya. Membuat wanita itu salah tingkah. "Ma-maksud aku Mentari, mas. Ibu mana yang tidak senang melihat anaknya senang."


Caca yang gugup memalingkan wajahnya menatap keluar jendela. Putri mereka yang kelelahan bermain sudah terlelap di jok belakang.


"Anggap saja begitu. Tapi aku akan menganggap yang membuat hatiku senang. Aku akan menganggap jika kamu senang dengan keberadaanku."


Caca tak menjawab atau merespon apa pun. Dia memang senang dengan kehadiran Tara kembali dalam hidupnya. Orang yang sudah lama ia rindukan kehadirannya.


Sekuat apa pun Caca berusaha membunuh perasaannya terhadap Tara selama ini. Cintanya tetap bertahan dengan angkuhnya.


Setelah hampir satu jam mereka terjebak kemacetan, jalan mulai lancar ketika Tara mengambil jalan menuju rumah orang tuanya.


"Lho. Kita mau ke rumah nenek, mas?" Tara tak bilang apa pun sebelumnya jika mereka akan ke rumah orang tua pria itu.


"Iya. Mama sama papa pengen ketemu sama Mentari. Kamu tahu sendiri kan jika Mentari cucu mereka satu-satunya. Cucu yang sudah sejak lama mereka inginkan."

__ADS_1


Wanita yang tengah melipat tangan di depan dadanya melirik sinis. "Aku kan cucunya juga."


"Astaga Ca. Kamu kan sudah mereka anggap sebagai menantu mereka. Aku juga nggak mau terus-terusan di anggap ayahmu. Aku mau jadi suamimu di depan semua orang."


Caca mengabaikan Tara. Ia tak ingin terlalu berharap untuk di akui di hadapan semua orang. Cukup dengan melihat putrinya bahagia dengan ayah kandungnya, itu sudah cukup untuk Caca.


***


Rumah besar itu cukup sepi. Hanya beberapa pelayan yang tengah menjalankan tugasnya masing-masing.


Kedua pria dan wanita berusia senja yang mereka cari ternyata tengah menikmati udara sore mereka di taman belakang. Dimana mama Shinta menanam banyak sayur yang mudah di rawat untuk mengisi waktu.


"Assalamualaikum, mah, pah."


Kedua orang yang tengah duduk santai dengan cangkir teh masing-masing itu menoleh ke arah pintu dimana suara yang menyapa mereka berasal.


Keduanya terpaku. Tidak hanya karena heran mendengar putra semata wayang mereka mengucap salam. Tapi juga keberadaan dua wanita beda generasi yang juga berdiri di sana.


Mama Shinta lebih dulu mencair dari keterbekuannya. Wanita paruh baya itu berdiri dan langsung menghampiri gadis kecil yang matanya masih sayu terlihat masih mengantuk.


"Hallo cantik. Masih ingat nenek?" tanya mama Shinta setelah sebelumnya memeluk dan mencium gadis kecil itu.


Mentari mengangguk. "Kata mama, kalau ada yang mengucap salam itu di balas, nek. Kita harus sama-sama mendoakan."


Caca tersenyum kikuk, sedangkan Tara mengulum senyum. Keluarganya memang bukan keluarga yang taat beribadah. Bisa di bilang agama untuk mereka hanya sebatas mengisi kartu tanda penduduk.


Begitu juga dengan Caca dulu. Tapi setelah melewati banyak pelajaran hidup. Terutama kesendiriannya setelah keluar dari rumah itu. Dengan di bimbing dokter Risma, Caca lebih mengenal siapa Tuhan untuknya. Dokter Risma bilang, semua orang mungkin akan meninggalkan kita, tapi tidak dengan Tuhan.


Dan ketika merasa sendiri saat itu, Caca tidak terlalu bersedih. Karena ada Tuhan bersamanya.


Sejak saat itu, Caca mulai mendekatkan diri dengan belajar agama. Melaksanakan kewajiban meski belum dapat dibilang seorang yang ahli ibadah. Setidaknya ia bisa berubah menjadi lebih baik ketika sudah memiliki anak.


Mama Shinta terkekeh. "Ooh iya nenek lupa. Waalaikumsalam. Nenek senang Tari mau datang ke rumah nenek."

__ADS_1


"Papa yang ajak. Bukan Tari yang minta." jawab gadis kecil itu polos. Karena tidak merasa mengajak orang tuanya ke rumah itu.


Caca mengabaikan nenek yang tengah melepas rindu pada cucunya. Pandangan Caca menatap lelaki bertubuh tegap dengan mata kebiruan yang menatapnya sendu.


Tak disangka pria paruh baya itu berjalan mendekati Caca dan bersimpuh di kaki wanita muda itu.


"Kakek!" pekik Caca yang langsung ikut terduduk. "Kakek sedang apa? bangun kek."


Terdengar isak dari pria paruh baya itu. "Maafkan kakek, Ca. Maafkan anak kakek yang sudah menghancurkan masa depanmu. Maafkan kakek yang terlampau emosi sehingga mengabaikanmu dan membuat kamu meninggalkan rumah ini."


"Enggak kek. Kakek nggak salah." Caca menggenggam jemari yang sudah renta milik pria yang tengah menunduk dalam memohon ampunannya.


"Pasti kamu kesulitan di luar sana. Hamil besar dan melahirkan seorang diri. Merawat anakmu sendiri."


Mata Caca ikut memanas dan menumpahkan air mata yang berlomba-lomba membasahi pipinya.


Ia tak pernah menyangka hal pertama yang ia dapat setelah datang kembali ke rumah itu adalah permohonan maaf dari orang yang tak seharusnya melakukan hal tersebut.


Pria itu bahkan sampai terisak-isak dan terus memohon maaf pada Caca. Mama Shinta juga Tara sudah membujuk ayahnya untuk menyudahi dan membantu pria itu berdiri. Tapi pria itu bersikeras untuk tetap bersimpuh hingga mendapatkan maaf dari Caca.


"Caca maafin kakek. Karena ini semua bukan salah kakek. Lagi pula Caca sudah melupakan apa yang pernah terjadi. Saat ini yang terpenting untuk Caca adalah Mentari. Cucu kakek." Caca menarik tangan putrinya untuk mendekat.


"Kenalin kek. Ini namanya Mentari, cucu kakek."


Papa Tara menatap gadis kecil di hadapannya. Wajah yang masih berurai air mata itu tersenyum ketika melihat gadis kecil itu. Terlebih ketika gadis kecil itu tanpa disangka memeluk dirinya.


"Tari senaaaang sekali punya kakek. Teman Mentari semua punya lho, kek. Cuma Tari aja yang tidak punya. Dan sekarang Tari punya kakek juga." bocah yang masih bingung dengan kesedihan yang ada di sana merasa senang mengenal ayah Tara. Sosok kakek yang tak pernah ia miliki. Hanya ibu dari Rian yang ia anggap nenek.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2