
Ibu mana yang tak sedih melihat anaknya seperti tak berjiwa. Hanya raganya saja yang saat ini bertahan hidup. Sedangkan jiwanya telah lama mati semenjak kepergian wanita yang amat di cintainya. Pergi dengan keadaan yang tidak baik, juga pergi membawa calon anak mereka.
Mama Shinta setiap pagi selalu datang ke rumah anaknya. Hanya untuk memastika bahwa anak sematawayangnya masih hidup dan tidak berbuat di luar batas kewarasannya.
Seperti pagi ini, yang lagi-lagi di suguhkan pemandangan anaknya yang tergeletak di sofa ruang tamu dengan keadaan yang sangat berantakan.
Kaki menjuntai masih lengkap dengan sepatu kerja. Kemeja yang beberapa kancing atasnya sudah terlepas tapi masih menggantung dasi yang hampir terlepas pada kerah baju.
Jangan lupakan juga aroma menyengat yang selalu melekat ditubuh Tara setiap kali melewati malam dengan minuman keras. Seakan sudah menjadi teman setiap malam bagi pria itu. Hingga tiada hari tanpa alkohol.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini, Tara?" gumam wanita yang semakin tua itu dengan suara bergetar. Merasa sedih juga teriris dengan kondisi anaknya.
Mereka bukan tidak berusaha mencari keberadaan Caca. Dari puluhan orang yang Tara sewa sejak bertahun-tahun yang lalu, tidak membuahkan hasil apa pun. Dunia seakan menyembunyikan keberadaan wanita itu.
Atau Tuhan yang belum memberikan maaf pada Tara yang sudah menyakiti hati wanitanya hingga memilih pergi.
***
Caca sedang mengemas baju-baju Mentari untuk berlibur bersama Rian dan ibunya.
Kemarin, kedua orang itu datang untuk meminta izin mengajak Mentari berlibur ke Bali.
"Ayolah Cha. Mumpung gue lagi liburan. Sebelum gue balik lagi ke Ausie." Rian yang saat itu tengah memangku Mentari dan tak henti menciumi pipi bulat anaknya, memohon dengan sangat pada Caca.
"Iya Icha. Lagian bunda juga pengen ngajakin Tari jalan-jalan."
"Baiklah bu, Yan. Tapi maaf kalau nanti Mentari merepotkan kalian di sana."
Sebenarnya Caca berat mengizinkan putrinya pergi bersama Rian dan dokter Risma. Apa lagi selama ini Caca tidak pernah berpisah seharipun dengan anaknya itu.
Takut terjadi apa-apa dengan anaknya, atau merepotkan Rian dan ibunya.
Tapi mengingat kedua orang itu yang sudah begitu baik padanya di saat ia sulit dulu, membuat Caca tidak tega untuk melarang.
Kalau saja pekerjaan sedang tidak banyak. Pasti Caca memilih ikut dan mengawasi anaknya sendiri secara langsung.
Pukul sepuluh pagi, Rian dan dokter Risma kembali datang untuk menjemput Mentari.
"Mentari sayang. Disana nggak boleh rewel dan menyusahkan ayah dan nenek, ya?"
__ADS_1
Mentari yang sudah sangat antusias begitu mendengar akan di ajak jalan-jalan mengangguk mantap. "Siap, mama!" seru anak itu bahkan sampai memberi hormat layaknya polisi.
Mentari memang sampai sebesar itu belum pernah Caca ajak jalan-jalan. Caca takut secara tidak sengaja bertemu dengan Tara.
Hanya sesekali mengajak anaknya jalan ke Mall. Itu pun Caca selalu memilih di hari kerja dan di jam orang sibuk kantor.
Dan sejauh ini, semua aman tanpa ada yang mengenali mereka.
***
Siang hari Rian dan rombongan sampai di Denpasar. Baru sore hari setelah beristirahat sejenak, mereka turun ke pantai.
Mereka memang memesan hotel dekat dari pantai Nusa Dua yang terkenal dengan kebersihannya.
Mentari yang baru pertama kali melihat pantai, sangat antusias. Berlari ke sana kemari dan tertawa begitu ombak datang menyentuh kaki kecilnya.
"Jagain Rian! nanti terbawa ombak!" seru bunda Risma dari pinggi pantai mengawasi anak dan cucunya.
"Ayah. Tari lapar." rengek anak itu dengan memegangi perutnya.
Rian terkekeh dan meraih Tari dalam gendongan. Tadi saat di minta makan siang di kamar hotel memang Tari tidak mau, dan hanya memakan dessert. Jadi jelas saja anak itu lapar. Apa lagi setelah bermain air beberapa jam.
Rian menurunkan Mentari dari gendongan.
"Kamu nggak mandi dan ganti baju dulu?"
"Nggak usah bun, cuma sebentar kok."
"Ya sudah. Ayo Tari, kita ke kamar."
Tari yang tidak mau di gandeng malah berlari mendului dokter Risma. "Hati-hati sayang."
Tari malah tertawa-tawa dan berlari mundur. "Kejar aku nenek... Kejar aku.. hahaha!"
Tari terus saja berlari mundur membuat dokter Risma sedikit kewalahan. Gadis kecil itu sangat aktif. Berlari, tertawa seakan tiada lelahnya.
BUGH
"Aakh. Huaaa aaaaa sakit nenek.." teriak Tari ketika tidak sengaja menabrak seseorang dan terjatuh. Gadis kecil dengan rambut sedikit keemasan itu menangis kencang. Mengusap bagin lututnya yang mendarat cukup keras.
__ADS_1
"Tari!" seru dokter Risma panik dan berjalan mendekat.
"Makanya jangan lari-lari! ini bukan lapangan!" bukannya menolong, pria yang Tari tabrak justru memarahi anak kecil itu.
"Ibu juga dong! di jaga anaknya. Jangan di biarkan berlarian di tempat seperti ini!" tatapan tajam pria itu hunuskan pada dokter Risma.
Dokter Risma yang berusaha menenangkan Tari dengan menggendong anak itu, menatap pria itu sama tajamnya.
"Namanya juga anak-anak, pak! masih suka berlarian. Anda saja yang bermain ponsel terus, bukannya melihat jalan. Anda mungkin belum memiliki anak, jadi tidak tahu bagaimana tingkah anak-anak!"
Pria yang dimarahi balik oleh dokter Risma terlihat menegang dan sedikit memucat.
Dokter Risma yang merasa tidak tega pun menyuruh Tari meminta maaf meskipun masih sedikit kesal. Tapi Tari juga salah karena berlari, apa lagi mundur. "Ayoo Tari, minta maaf sama Omnya."
Mentari yang sudah berhenti menangis, kini berani memalingkan wajahnya dari leher dokter Risma dan menatap pria dewasa yang ia tabrak.
"Ma-maaf Om. Tari tidak sengaja." cicit gadis kecil itu takut-takut.
Bukannya menjawab. Pria itu justru terpaku pada wajah gadis kecil itu yang mengingatkannya dengan seseorang. Wajah yang begitu mirip. Hanya yang ini versi kecilnya. Dan jenis mata yang berbeda dari gadis dalam ingatannya.
"Kenapa bun?" tanya Rian yang baru datang dan melihat anak dan ibunya masih berada di lobby hotel.
"Ini, tadi Tari menabrak tuan ini, saat berlari."
Rian beralih menatap pria yang ibunya tunjuk. Dada rian bergemuruh. Tubuhnya menegang. Takut pria yang ada di hadapannya mengenali dirinya.
"Maafkan anak saya tuan. Kami pergimisi." Rian mengambil alih Tari dalam gendongan dan menarik ibunya menjauh dari sana.
Pria itu masih terpaku di tempat. Merasa familiar dengan wajah Rian. Namun tidak bisa mengingat kapan dan dimana ia bertemu pria itu.
Juga sorot terkejut yang sempat pria itu lihat di mata Rian begitu pertama melihatnya, semakin membuat pria itu penasaran.
"Mari Pak. Meetingnya sudah akan di mulai."
Pria itu melihat jam mewah di pergelangan tangannya dan berlalu dari rasa penasarannya.
*
*
__ADS_1
*