I Want A Normal Life : No Romance

I Want A Normal Life : No Romance
#09 - Kesalahanku Adalah Tidak Mau Mendengarkanku


__ADS_3

Aku dan Tino berjalan ke sekolah dengan biasa, tapi aku masih memikirkan tentang kemarin, dan Tino sepertinya tidak peduli dengan itu karena dia melihat ke arah lain.


Apa yang kulihat bukanlah mimpi atau bayang-bayangku, tapi kenyataan. Tapi aku masih bingung dengan kenyataan yang kualami, jelas-jelas kemarin aku mengikuti sosok itu masuk ke perpustakaan, tapi saat aku membuka pintu perpustakaan, sosok itu langsung menghilang dan hanya terlihat penjaga perpustakaan yang menyuruhku untuk pulang.


Apa nanti akan ada yang konsultasi tentang ini?


Aku berpikir demikian karena menurutku bukan hanya aku saja yang melihat, tapi yang lain.


“Oi, Razox, kenapa kau diam saja daritadi?”


Tapi sepertinya siswa yang lain tidak mengetahui hal itu.


“Oi, Razox.”


Mungkin aku yang akan konsultasi dengan diriku sendiri.


“Oi!”


Aku yakin sosok itu adalah sosok yang melepaskan lakban di pintu itu.


BUK


Tino memukul punggungku sehingga aku meresponnya.


“Eh?! Ada apa?”


“Kau ini kenapa? Sedang memikirkan sesuatu?”


“Eh! Tidak,”


“ayo, sebentar lagi masuk.” Ajakku untuk mengalihkan topik.


“Hah? Sekarang masih jam 5 pagi!”


“Tidak apa, kita bisa datang lebih cepat dan membersihkan kelas.”


Aku berlari lebih cepat menuju sekolah, dan Tino mengejarku


“Tunggu! bukan kita yang piket hari ini!”


...


...


...


TING TING


Waktu istirahat tiba, aku berpikir untuk pergi ke perpustakaan untuk melihat rekaman CCTV kemarin.


“Tino, aku pergi ke perpustakaan. Kalau ada yang mencariku, bilang kalau aku sedang keluar.”


Aku langsung keluar kelas dan menuju perpustakaan.


Di dekat tangga, saat aku ingin turun, aku berpapasan dengan Lisa.


“Hai, Razox, mau kemana?” Sapanya dengan senyum.


“Ke perpustakaan.” Jawabku singkat.


“Eh?” Dia bingung mendengarnya.


Aku tidak merespon dia lama-lama, karena aku juga buru-buru.


BIP


Aku masuk ke perpustakaan, suasananya seperti biasa. Sambil mengisi buku tamu, aku melihat sekitar dengan seksama.


Tidak ada yang mencurigakan, hanya siswa lain yang sedang fokus dengan bacaannya tanpa mempedulikan sekitar.


Aku berjalan menuju komputer yang ada di ujung ruang, saat aku berjalan, aku melihat tangga ke bawah tanah dengan papan di atas pintu,’Staff Only’. Mungkin itu kenapa kemarin penjaga perpustakaan tidak keluar, dia tinggal disini.


Sesampainya di depan komputer, aku langsung mencari rekaman CCTV kemarin dan melihatnya.


Kemarin sore, sekitar pukul 16:39, CCTV yang mengarah pintu depan kelas.


Sosok itu terlihat lagi, sosok dengan jubah hitam dengan topeng tengkorak. Sosok itu berjalan di sepanjang koridor sekolah dan masuk kelas manapun.


16:39:10


16:39:11


16:39:12


16:39:13


16:39:14


Sosok itu berjalan menuju perpustakaan dan masuk. Melihat itu aku langsung memindahkan rekaman CCTV yang ada di dalam perpustakaan.


Pada detik yang sama, sosok itu tidak terlihat di dalam perpustakaan, hanya ada penjaga perpustakaan yang sedang membereskan barang-barangnya.


16:39:30


16:39:31


16:39:32


Tidak lama, terlihat aku datang dengan wajah yang bingung, penjaga perpustakaan itu menyuruhku untuk keluar.


Aku menghentikan pencarianku dan berjalan menuju penjaga perpustakaan.


“Permisi, aku ingin bertanya sesuatu.”


“Hm?”


“Tentang rekaman CCTV, apa rekaman itu murni tanpa diubah sedikitpun?”


“Ya, tidak ada rekaman CCTV kami yang diubah sedikitpun.”


“Eh?”


“...”


“Baiklah, terima kasih.”


Aku langsung kembali ke komputerku.


Tidak ada yang diubah...


Kelihatannya begitu...


Tapi...


Aku mencoba melihat kembali rekaman itu pada 16:39 pada CCTV yang ada di dalam perpustakaan.


16:39:28


16:39:29

__ADS_1


...


16:39:30


Aha! Perpustakaan yang tadinya kosong langsung ada penjaga perpustakaan yang sedang membereskan barang-barangnya.


16:39:31


Dan aku muncul lagi.


Tapi apa maksudnya ini?


Ugh, aku tidak mengerti.


Aku harus menangkapnya sore ini.


Aku menutup program, dan langsung keluar perpustakaan dan menuju kelas.


Selama berjalan, aku jadi kepikiran tentang sosok itu.


Apa sosok itu ada kaitannya dengan penjaga perpustakaan?


Ah, tidak mungkin.


Saat aku melihat rekaman CCTV dalam kelas juga begitu, keadaan berubah secara tiba-tiba.


Atau mungkin...


Sosok itu tidak bisa terlihat CCTV?


Ah, tidak mungkin juga, aku sudah melihat sosok itu.


Mungkin lebih spesifik.


Selama aku melihat rekaman CCTV, aku hanya melihat sosok itu berjalan di koridor sekolah, lantai berapapun. Tapi tidak pernah sekalipun aku melihatnya di dalam ruangan manapun.


Itu dia!


Sosok itu tidak akan muncul dalam rekaman CCTV ruang manapun!


Aku langsung berlari ke kelas setelah mengetahui hal itu.


BIP


“TINO!”


“Hm?” Tino yang sedang memotong kuku kakinya sadar kalau namanya disebut.


“Aku tau sekarang!” Aku berlari kegirangan ke arahnya.


“Apa?”


“Aku mengerti!!!” Aku memegang pundak Tino dan menggoyang-goyangkannya.


“Ehh??? Ada apa???”


“Razox, tadi ada yang mencarimu.” Ucap Ivi yang tiba-tiba muncul.


“Huh? Siapa?”


“Lisa, dari kelas sebelah.”


“Eh?”


Bukannya aku tadi berpapasan dengannya?


“Ba-baiklah...”


Uhh... aku tidak tau dia ingin bercerita tentang apa.


Semoga saja tentang masalah psikologisnya.


Tapi apakah mungkin? Dia selalu terlihat ceria.


Ah, mungkin saja justru karena ada sakit yang dia pendam.


Pasti itu.


---


TING TING


Waktu pulang sekolah sudah tiba, Tino dan yang lainnya pulang duluan, sedangkan aku bersama Lisa di kantin sekolah yang sudah sepi.


“Jadi, apa yang mau kau ceritakan?”


“Umm... sebenarnya aku tidak punya masalah,”


“...”


“hanya saja...”


“... aku hanya ingin mengobrol denganmu, sudah lama sekali, ‘kan?”


“Uhhh...”


Aku ragu untuk menjawab pertanyaan itu, aku lupa kapan terakhir kali kami bertemu sebelum hari pertama sekolah.


“I-iya, sudah lama.”


“Umm, Lisa, apa kau mau kalau kau bercerita sambil berjalan mengelilingi sekolah saja?”


“Eh? Kenapa?”


“Umm... aku sudah lama tidak banyak bergerak.”


“Hahaha... baiklah.”


...


“Jadi bagaimana keadaanmu selama kita tidak bertemu? Sudah 10 tahun atau 15 tahun ,ya?”


“Lama juga ya.”


Lisa mengikutiku berjalan tanpa tujuan mengelilingi gedung sekolah.


“...”


“Apa kau ingat Rheza? Aku dengar dia sudah meninggal.”


“Sayangnya aku tidak sempat datang ke pemakamannya.”


“...”


Maaf, aku tidak mendengarkan Lisa dengan seksama, aku memperhatikan sekitar, keadaan sangat sepi, tidak ada satu pun siswa yang lewat selain kami.


Aku berpikir kalau sosok itu memang jalan, tapi kami tidak berpapasan.


Mungkin aku harus ke tempat terakhir melihatnya di rekaman CCTV.

__ADS_1


“Hei, apa kau mendengarkanku?” Tanya Lisa yang sepertinya sadar kalau aku tidak mendengarkannya.


“Uh, maaf, sepertinya pikiranku sedang kosong, tolong ulangi perkataanmu.”


“Haduhh, kau ini... bagaimana kabarmu selama kita tidak bertemu?”


“Eh?! Kabarku, baik kok, buktinya aku ada disini sekarang.”


“Kudengar kau pernah punya pacar.” Tiba-tiba wajahnya menjadi genit.


“Uh, iya, pernah...”


“...”


“Ngomong-ngomong, kenapa kita kesini?” Tanya Lisa yang melihat plang ruangan di atas pintu.


Plang itu bertuliskan ‘Perpustakaan’, kami ada di depan perpustakaan.


“Eh? Aku hanya ingin lewat sini.”


“Hanya ingin lewat? Tapi kenapa kita diam saja disini?”


“Itu... umm...”


“lupakan! Ayo jalan lagi!” Aku langsung menarik tangan Lisa.


Kami berjalan kembali, kami menuju kantin. Saat kami melewati UKS, aku melihat pintu UKS yang baru saja ditutup, aku langsung berlari dan masuk ke UKS.


BIP


“...”


“Eh?”


Tidak ada hal yang terjadi, aku hanya melihat penjaga perpustakaan sedang melihat isi laci.


“Eh? Kau lagi?”


“...”


“Apa yang kau lakukan disini? Pulanglah.”


Aku langsung keluar dari UKS dengan muka malu.


“Ada apa, Razox?” Tanya Lisa.


“Tidak, aku hanya bingung...”


KRIET


Pintu UKS terbuka dari dalam, sepertinya penjaga perpustakaan itu keluar dari UKS.


Aku langsung menarik Lisa untuk tidak terlihat pandangannya.


“Ada apa, sih?”


“Ssssstttt diam, ikuti aku.”


“Eh?”


Kami diam-diam mengikuti penjaga perpustakaan itu berjalan, dan dia berjalan ke sarangnya, perpustakaan, kami hanya mengikutinya sampai depan perpustakaannya saja tanpa masuk ke dalam.


...


“Sebentar lagi, sosok berjubah hitam dan bertopeng tengkorak akan keluar, tunggu saja.”


...


...


...


Sudah 30 menit kami menuggu, tidak ada yang terjadi.


“Razox, aku pulang duluan ya! Aku ngantuk.” Ucap Lisa yang kemudian meninggalkanku sendiri.


“Baiklah...”


Lagipula aku tidak mau melibatkan dia.


“...”


Pintu itu masih belum bergerak dari 30 menit yang lalu.


“...”


Aku melihat sekitar, dan terdapat kamera CCTV yang lensanya mengarah kepadaku.


Menurutku, dia tidak akan keluar jika diawasi seperti ini.


Lebih baik aku istirahat dulu, ini cukup melelahkan.


Dimana aku bisa tiduran?


Oh ya, kalau tidak salah di UKS ada kasur, aku akan kesana.


BIP


“Ahh... punggungku terasa pegal...”


Aku tiduran di kasur dan memejamkan mata.


“...”


“...”


“...”


“...”


“...”


GREK


“Hm?”


Aku membuka mataku, ada suara pintu terbuka.


Tunggu dulu, setauku hanya ada aku di sekolah ini.


Dan pintu itu tadi dibuka tanpa kartu pelajar.


“...”


“Jangan-jangan...”


 


 

__ADS_1


__ADS_2