I Want A Normal Life : No Romance

I Want A Normal Life : No Romance
#30


__ADS_3

TINGTING


“Selamat pagi semua!”


“Sekarang hari ke-15! Sisa siswa saat ini adalah 258 dari 320! Pastikan kalian bisa bertahan hidup sampai waktu habis!”


“Semoga beruntung!”


TINGNONG


“...”


Aku terbangun karena suara speaker itu, kami menetap di ruang ini selama sekitar 2 minggu, dan syukurlah, tidak terjadi hal buruk selama itu, tapi kami juga tidak menemukan orang lagi sejak 2 minggu yang lalu.


“Selamat pagi semua.” Sapa Tino.


Akhirnya yang lain bisa bangun tanpa harus ada kontak fisik, hanya perlu suara keras, seperti suara speaker barusan.


“...”


Wajah gadis itu terlihat murung.


“Kamu kenapa, Cinta?” Tanya Tino yang langsung menghampiri gadis itu.


“Aku... aku semakin khawatir dengan Ivi, kita belum bertemu dengannya sejak hari pertama.” Ucap gadis itu dengan lesu.


“Oh... ternyata itu, tenang saja! Aku dan Razox akan menemukannya untukmu!” Seru Tino.


“Eh?! Aku?!” Aku kaget namaku disebut oleh Tino.


“Ayo, Razox, kita mencari Ivi!” Ajak Tino.


“Eh? Sekarang?”


“Ya, tentu saja!”


“Bagaimana dengan mereka?” Aku menunjuk Claudia dan yang lainnya.


“Kupikir mereka bisa bertahan disini. Kita berdua keluar mencari Ivi.” Ucap Tino dengan santainya.


“Berikan saja mereka persentajaan untuk bertahan hidup.” Lanjutnya.


“Lagipula kita tidak akan lama, kita akan kembali sebelum hari berganti.” Tambahnya.


“Baiklah...” Ucapku pasrah.


“...”


“Razox, apa aku boleh ikut?” Tanya Lisa yang tiba-tiba berada di sampingku.


“Eh? Lisa?”


“Kau tetap disini ya, bersama yang lain.”


“Tolong jaga mereka.”


“Baiklah,” Tino menunjukkan tongkat besi, “ini persenjataan kalian, gunakan sebaik mungkin, kami akan kembali.” Ucap Tino.


“Dah~”


“Kenapa tidak dari kemarin mencarinya?” Gumam Tasla.


Aku dan Tino pergi meninggalkan ruang itu tanpa persenjataan.


...


Turun dan memeriksa setiap ruang yang kami lewati dengan hati-hati, dan bersembunyi setiap kami akan berpapasan dengan gerombolan lain.


Kami turun lagi dan melakukan hal yang sama. Selama pencarian kami, tidak ada tanda-tanda dari Ivi.


“...”


“Argh! Dimana sebenarnya Ivi?!” Keluh Tino yang kelihatannya sudah frustasi.


“Tino, lihat!” Seruku menunjuk seseorang perempuan yang lewat di lantai atas.


“Itu...” Tino memfokuskan pandangannya kepada yang kutunjuk, “seperti Ivi!”


“Ayo cepat hampiri dia!” Ajak Tino yang langsung berlari tanpa menungguku.


“Ivi!!!” Teriak Tino sambil berlari.


Kami melihat sosok itu di lantai atas, Tino langsung berlari mengejarnya, tapi sepertinya sosok itu tidak menyadari kalau dia dipanggil.


...


Kami berada di lantai yang sama dengan sosok itu.


“Kemana dia?!” Tanya Tino yang terlihat tergesa-gesa.


“Kalau tidak salah ke ruang itu.” Ucapku menunjuk ruang yang tidak jauh dari kami.


Kami langsung berlari masuk ke ruang itu, memang tadi aku sempat melihat sosok itu masuk ke dalam ruang ini.


“Ivi!” Teriak Tino.


“...”


Tidak ada balasan dari ruang itu.


“...”


“Sepertinya kau berhalusinasi.” Ucap Tino dengan nada kecewa.


“Tidak! Sungguh, aku tadi melihatnya! Dia berjalan ke ruang ini!” Ucapku dengan nada keras.


“...”


“Bau apa ini?!” Tino langsung menutup hidungnya.


Akupun ikut menutup hidungku.


“Darah... kenapa baru tercium sekarang?” Tino bingung.

__ADS_1


“...”


Kami melihat lebih jelas isi ruang ini.


...


Ruang ini penuh dengan mayat, sekitar 10 mayat sudah tergeletak di ruang ini.


“Ugh! Siapa yang melakukan hal keji seperti ini?!” Keluhku yang masih menutup hidung.


“Lihat ini...” Tino menghampiri salah satu mayat.


“Eh?” Aku terkejut melihat mayat tersebut.


Itu adalah teman sekelas kami, Kevin Evin, dia adalah salah satu korban dari pembantaian ini.


“Uhh... seharusnya dia bertemu dengan kita lebih awal...” Ucapku dengan nada menyesal.


Aku juga sebaiknya tidak memberitahu ini kepada yang lain, dan juga aku berusaha untuk menghindari ruang ini nanti.


“Razox, ada yang datang!” Bisik Tino.


“Cepat sembunyi!” Tino langsung menarikku ke tempat yang tertutup bayangan.


Aku pasrah dan mengikuti apa kata Tino.


“...”


Kami bersembunyi dalam kegelapan yang ada di ruang ini sambil menutup hidung kami karena bau darahnya masih tercium.


...


Mereka masuk, hanya 2 orang, keduanya laki-laki.


Mereka juga memeriksa seluruh mayat di bagian kantungnya.


“Sepertinya mereka sedang mencari kartu pelajar.” Bisik Tino.


“Razox, apa kita harus menyerang mereka?” Tanya Tino.


“Ya, ayo.”


Kami berjalan ke arah pintu untuk mencegat mereka.


“Aha!” Tino langsung melompat keluar dari bayangan dan mengejutkan mereka.


“Ah!” Mereka kaget dan langsung panik.


Aku langsung menghantam salah satu dari mereka.


BUK


Sedangkan Tino hanya memukul, 1 dari mereka berhasil melarikan diri.


Dan aku sudah menjatuhkan 1 orang.


“Hei! Hei! Hei! Jangan bunuh aku!” Teriak orang itu ketakutan dan melindungi wajahnya.


“Aku mengenalmu!” Tambah orang itu.


“Kau Razox, ‘kan?”


“...”


Dia tau namaku?


“Iya, kau Razox, orang yang membuka jasa konsultasi.” Ucap orang itu.


“Aku teman sekelasmu!” Orang itu menunjuk dirinya.


“Jangan percaya, Razox!” Teriak Tino.


“...”


Tapi sejujurnya, aku tidak ingat kalau dia adalah teman sekelasku.


“Uhh...”


“Kau membuatku bingung...”


“Aku tidak akan membunuhmu.” Ucapku yang sudah mengepalkan tangan.


“Tapi aku hanya akan membuatmu pingsan.” Lanjutku.


“Eh?”


BUK


Aku langsung memukul orang itu tepat di wajahnya.


Aku dan Tino langsung berjalan meninggalkan ruang itu.


“Uhh... aku tidak ingat kalau dia teman sekelas kita, memangnya benar?” Tanyaku.


SET


Tino langsung menarik kerah bajuku.


“Tidak! Dia hanya ingin mendapatkan kepercayaan kita dan kemudian membunuh kita secara diam-diam!”


“Bai-baiklah...”


Tino melepaskan tarikkannya.


“Sekarang kita harus mencari Ivi kemana lagi, ya?”


“Aku benci mengatakannya, tapi kita harus melanjutkan pencariannya besok lagi.” Ucapku.


“Kita harus kembali dan bilang pada gadis itu kalau kita belum menemukan Ivi.”


“...”


“Baiklah.” Ucap Tino dengan tegas.

__ADS_1


...


Kami kembali ke ruang dimana yang lain menetap.


“Eh?”


Ruang tersebut terlihat kosong, terlihat kursi roda kosong.


“Kemana yang lain?! Apa mereka mati?!” Tanya Tino yang langsung panik.


“Tino! Jangan panik begitu!” Aku memegang pundak Tino, kemudian berjalan masuk.


“...”


“Mereka tidak mati, mereka hanya lari.”


“Kursi roda ini masih bagus dan tidak terlihat noda darah.”


“Di lantai juga tidak terasa basah.”


“...” Tino terlihat sedang berpikir dengan apa yang kukatakan.


“Kalau aku berasumsi, mereka lari tidak jauh dari ruang ini, mungkin masih di lantai ini.”


“Kalau begitu ayo kita cari mereka!” Ajak Tino.


Kami keluar lagi dari ruang itu dan berjalan pelan mencari yang lain.


“Hoi! Razox! Tino!”


Seseorang memanggil kami, dan saat kami melihat orang yang memanggil kami, itu adalah Lisa.


“Ya, mereka masih ada di lantai ini.”


Lisa memanggil kami di ruang yang berada dekat tangga, kami berdua langsung menghampirinya dan masuk ke ruang itu.


“Cinta! Kau tidak apa-apa?” Tanya Tino melihat gadis itu, dia sedang duduk bersandar di tembok karena tidak ada kursi rodanya. Tino langsung menghampirinya.


“...”


“Aku baik-baik saja, Tino.” Jawab gadis itu.


Aku juga melihat Claudia sedang duduk dan masih kesakitan di perutnya.


“Hm?”


Aku juga melihat Rani sedang mencari makanan di kulkas.


“Apa yang telah terjadi?” Tanyaku.


“Tadi kami menemukan Rani sedang berjalan sendirian dan kebingungan.” Jawab Lisa.


“Kenapa kalian bisa ada di ruang ini?” Tanya Tino.


“Tadi ada gerombolan bersenjata ingin datang ke ruang tadi, tapi sebelum mereka melihat kami, aku langsung berinisiatif untuk membawa Cinta dan yang lain untuk berlari ke ruang lain.” Jawab Lisa lagi.


“Kalau gerombolan itu ada di lantai ini, berarti ada kemungkinan mereka akan ke ruang ini juga.” Ucapku.


“Sepertinya tidak, tadi aku melihat mereka pergi menjauh ke tangga.” Ucap Lisa.


“Baiklah, kalau begitu, ruang tadi sudah kosong,” Tino berdiri dengan bersemangat.


“aku akan mengambil kursi roda milik Cinta!” Ucapnya dengan penuh percaya diri.


“Lagipula, dia kelihatannya tidak nyaman dengan keadaannya yang sekarang.” Lanjutnya sambil melihat gadis itu.


TEP


Gadis itu memegang tangan Tino.


“Tino, tidak perlu, aku baik-baik saja kok seperti ini.” Ucap gadis itu.


“Kita tetap akan mengambilnya, ini strategi.” Ucapku dengan tegas.


“Gadis itu tidak bisa terus-terusan seperti itu,”


“jika dia tidak berada di kursi rodanya, salah satu dari kita harus terus menjaga dia, gendong-turun dia setiap saat. Itu bisa menurunkan efektifitas kelompok kita dalam bertarung maupun berjalan...” Jelasku.


“Maka dari itu, kita akan mengambil kursi rodamu.”


“Ayo, Tino.” Ajakku.


“...”


“Tino.”


“Eh? Ya.” Tino baru sadar kalau tadi dia dipanggil.


“Oh ya, bolehkah aku meminjam persenjataan kalian, aku takut ada yang menyerang kami nanti.” Ucap Tino.


“Ini.” Tasla melemparkan tongkat besinya ke arah Tino.


“Terima kasih.”


“Ayo, Razox.” Tino langsung berlari.


...


Kalau tidak salah ruang tadi itu berjarak 6 ruang dari ruang saat ini.


Artinya ruang ini.


Aku masuk ke ruang itu, dan melihat kursi roda milik gadis itu masih ada di ruang itu.


“Baguslah, ayo kita langsung kembali.” Aku langsung menghampiri kursi roda itu.


“Razox! Awas!”


BUK


 


 

__ADS_1


__ADS_2