I Want A Normal Life : No Romance

I Want A Normal Life : No Romance
#31


__ADS_3

TINGTING


“...uhh...”


“Selamat pagi semua!”


“Sekarang hari ke-18! Sisa siswa saat ini adalah 248 dari 320! Pastikan kalian bisa bertahan hidup sampai waktu habis!”


“Semoga beruntung!”


TINGNONG


Aku terbangun karena suara speaker itu.


“Eh?”


Kenapa aku bisa tertidur?


“Dimana Tino?”


Aku terbangun sendirian di dalam ruang.


“...”


“Kemana kursi roda itu?”


Aku juga melihat tempat yang tadinya ada kursi roda, sekarang sudah tidak ada, mungkin sudah diambil oleh Tino.


“Sepertinya tadi ada yang menyerang...”


Aku berdiri dan berjalan keluar.


“Serpertinya aku tadi dipukul dengan keras di bagian kepala sampai aku pingsan...”


“Saat orang itu ingin menyerang Tino, Tino langsung mengambil kursi roda itu dan lalu langsung lari pergi dari tempat itu...”


“Mungkin...”


“Tapi seingatku tidak ada orang di sekitarku.”


“...”


Aku berada di luar dan melihat ke bawah.


“APAA??!!”


Aku kaget dan langsung melompat ke belakang.


Ketinggian lantaiku berada terlalu tinggi. Sebenarnya dimana aku?


“A-aku masih di gedung yang sama, ‘kan?”


“...”


Aku ketakutan dan melihat sekitar.


“...”


Sepertinya aku berada di lantai 40.


...


Ya, aku di lantai 40, itu diperkuat dengan tidak adanya tangga untuk naik lagi. Dan tidak terlihat lagi ada lantai di atas lantai ini.


“Kenapa aku bisa ada disini?”


“Uh, tempat ini sangat sepi...”


Aku tidak melihat ada seorangpun terlihat di lantai ini.


GRRUUTTT


“Aku lapar, sangat...”


Aku kembali masuk dan mencari apa yang bisa dimakan di kulkas.


“Tapi kenapa aku bisa tidak makan juga selama aku tidak sadar?”


Aku tidak peduli, aku tetap mencari makan dan makan sendirian di ruang itu.


...


Selesai makan, aku langsung keluar dan mencari persenjataan yang bisa dibawa di semua ruang yang ada di lantai itu. Aku menemukan palu yang cukup besar di salah satu ruang di lantai 40.

__ADS_1


Dan karena aku berada di lantai paling atas, aku bisa menghitung setiap lantai yang kulewati.


“Ini sepertinya ada untungnya.”


Aku turun ke lantai 39, 38, 37, 36, 35. Tapi semua lantai kosong, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan.


“Sepertinya semua sudah saling bertemu dan berkumpul.”


“Seharusnya aku begitu juga.”


Aku turun lagi ke lantai 34.










“Lelah juga...”


Turun 1 lantai lagi, deh...


“Aku lelah!!!”


“Razox!!!”


“Eh?”


Ada yang menyebut namaku, dan itu bukanlah aku, suaranya saja suara perempuan. Aku bingung harus bersembunyi atau tidak. Itu sudah pasti orang yang mengenalku, dia baru saja memanggilku.


Seseorang melambaikan tangannya padaku sambil berlari ke arahku.


“Razox!”


“Eh?” Aku bingung melihat orang itu.


Dia tersenyum sambil terengah-engah mengatur nafasnya.


Itu...


“... Ivi?”


“Akhirnya aku menemukanmu!” Ucap orang itu yang adalah Ivi.


Dan dia bersenjata...


... gerjagi mesin!


Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat.


“Ivi! Apa ini benar kau?!” Tanyaku yang masih tidak percaya.


“Ya, ini aku.” Jawab Ivi dengan santainya.


“Oh ya, Razox, apa kau sudah mendapatkan kartu pelajar untuk keluar dari sini?” Tanya Ivi sambil merogoh kantung roknya.


“Oh ya! Kartu pelajarku!” Aku langsung panik mendengar kata itu dan memeriksa kantung celanaku.


...


Kantung celanaku terasa kosong.


“Diambil...”


Bahkan termasuk dompetku, diambil juga.


“Ti-tidak.” Jawabku dengan malu-malu.


“Baiklah, ini untukmu.” Ivi memberikanku 1 kartu pelajar miliknya.


“Eh? Bagaimana denganmu?” Aku menerimanya tapi bingung.


“Tenang saja,” Ivi mengeluarkan kartu pelajar lainnya dan menunjukkannya padaku.

__ADS_1


“aku masih punya empat.” Lanjutnya.


Itu 4 kartu pelajar yang termasuk atas nama Ivi. Artinya aku memegang kartu pelajar milik orang lain.


“Hah? Bagaimana kau bisa mendapat sebanyak itu?”


“Aku membunuh pemiliknya.” Jawabnya dengan santai.


Aku kaget mendengarnya, aku langsung mengembalikan kartu pelajar yang baru saja Ivi berikan padaku.


“Maaf, aku tidak mau menerima kartu pelajar yang didapatkan dengan cara membunuh pemiliknya.” Ucapku dengan tegas.


“Eh? Memangnya kenapa?”


“Aku tidak mau mendapatkan kartu pelajar dengan cara membunuh, tapi aku masih bisa kalau mengambil kartu pelajar dengan cara mengambilnya dari orang yang sudah mati.” Jelasku.


“Aku mengambilnya dari orang yang sudah mati.” Ucap Ivi membela diri.


“...”


“Baiklah.” Aku mengambil lagi kartu pelajar itu.


“Mati karena kubunuh.” Bisik Ivi.


“...”


“Uhh... aku akan menyimpannya saja, lagipula ini pemberian, dan bukan aku yang membunuh. Hahaha!”


“Tapi ingat, Ivi, setelah ini jangan membunuh lagi. Buang senjatamu itu.” Ucapku sinis melihat gergaji mesin yang dipegang Ivi.


“Ini, pakai saja ini.” Aku memberikan palu besarku ke Ivi.


“...”


“Baiklah...”


Ivi langsung melempar gergaji mesin itu keluar koridor, jatuh langsung ke kolam lahar. Pasti banyak yang akan terkejut.


“Bagus...”


“...”


“Oh ya, Razox,” Ivi langsung memanggil namaku lagi.


“ngomong-ngomong, dimana Cinta?” Tanya Ivi.


“...”


“Gadis itu...” Aku langsung membuang wajahku.


“Dia berada di lantai bawah bersama yang lain.”


“Eh? Kau tau? Memangnya kau sudah bertemu dengannya?” Tanya Ivi lagi.


“Ya, tadinya aku bersama dia dan yang lainnya, tapi entah kenapa aku bisa tersadar di lantai paling atas sendirian.” Jawabku.


“Kenapa kau bisa ada di lantai itu?”


“Aku juga tidak tau, beberapa hari sebelumnya, aku masih bersama dengan gadis itu, tapi aku dipukul di bagian kepala sampai aku tidak sadar. Kemudian aku bangun di lantai paling atas.”


“Uhh... kasihan juga, ya...” Ivi kelihatan bersimpati kepadaku.


Ivi langsung memegang kedua pundakku.


“Razox! Ayo kita temukan Cinta!” Ucap Ivi bersemangat.


“...” Aku merasa canggung.


“Dan yang lainnya!” Ucap Ivi lagi.


“Ba-baik...”


“Tapi berjanjilah, kau tidak akan membunuh untuk mendapat kartu pelajar lagi.” Ucapku gugup.


“Ya, aku berjanji.” Ivi mengangguk dan melepaskan kedua pundakku.


“Lakukan itu saat kita sudah sangat terancam dan kita akan dibunuh...” Tambahku.


“Iya, siap, bos!” Seru Ivi.


“Baiklah, berjalan lagi...”


 

__ADS_1


 


__ADS_2