
...
...
...
Suara petasan itu sudah hilang, langit sudah bersih dari petasan namun asapnya masih terlihat di langit.
Aku melihat Tino daritadi dan belum bergerak.
...
Dia sadar kalau dia sedang dilihat olehku. Gadis itu juga melihatku sekarang. Mereka berdua menatapku dengan tatapan bingung.
“Razox, kamu kenapa?”
“Eh?!”
Aku baru sadar kalau aku juga dilihat oleh mereka.
“Tino... bagaimana hasilnya???”
“Hasil apa?”
“Masa kau lupa?”
“Hah?” Tino terlihat bingung.
Akhirnya aku mendekati mereka.
“Kupikir kalau kamu membantuku naik ke lantai 3 untuk ke kelas setiap hari itu sangat merepotkan.” Ucap gadis itu.
“Mau bagaimana lagi? Semua kelas 10 ada di lantai 3. Lagipula bukan hanya aku yang membantumu, tapi teman-temanmu banyak juga yang membantu.” Ucap Tino.
Ternyata mereka hanya sedang membicarakan topik biasa...
“...”
Aku memeriksa kantung plastik untuk mencari petasan lain.
“Eh? Habis?”
“Tino, petasannya sudah habis?”
“Iya, yang kau nyalakan tadi itu petasan terakhir.”
“Petasan yang tadi kunyalakan hanya satu, memangnya kau hanya membeli satu petasan?”
“Iya, kau benar.”
“...”
Aku memasang muka datar dan mendekati mereka lagi.
“Tapi masih ada kembang api di plastik satunya lagi, kalau mau, ambil saja.” Tambah Tino.
“...”
“Bukan itu yang kumau.”
“Ya, sepertinya ini sudah waktunya.” Ucap Tino.
“Eh?”
Tiba-tiba Tino berdiri dan berlutut di hadapan gadis itu.
“Eh?” Aku bingung melihat yang Tino lakukan.
“...” Gadis itu juga terlihat bingung melihat yang Tino lakukan.
Sedangkan Ivi tidak melihatnya.
“Cinta, sebenarnya aku mencintaimu, maukah kau menjadi belahan jiwaku?”
“...”
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!”
“Kenapa kau mengatakan hal itu di depanku??!!”
“AAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!”
Kepalaku tiba-tiba sakit, aku langsung berlari ke dalam vila dan masuk ke kamar, menguncinya dan menutupi wajahku dengan bantal.
“Sial, kepalaku tiba-tiba saja sakit...”
BEEP
Handphone-ku tiba-tiba saja berbunyi pesan masuk, aku langsung melihatnya.
“Siapa yang mengirimku pesan malam-malam begini?”
Halo, Razox, sedang apa?
“Hmm... nomornya tidak diketahui...”
BEEP
“Dia mengirim pesan lagi.”
Aku lupa memperkenalkan diri, aku Lulu. Aku tau nomormu dari spanduk di depan kelasmu
“Lulu...”
Aku sedang liburan
Singkat sekali kalau aku membalas pesan.
Namanya juga pesan singkat.
BEEP
Liburan? Kenapa kau tidak mengajakku? Padahal aku mau ikut :(
Maaf, aku lupa, lagipula kau bisa melunasi bayarannya tepat waktu? Tidak ada yang bisa meminjamkan uang untukmu disini, semuanya pas
BEEP
Tentu saja bisa, berapa sih? Aku akan melunasinya ketika aku diajak dan mengetahui harganya.
300 ribu, kau bisa membayarnya?
BEEP
300 ribu? Itu jumlah yang kecil! Haha :D
“Eh?”
“Apa memangnya aku seharusnya mengajak dia?”
Wow, itu hebat sekali
BEEP
Atau kau bisa memberitauku lokasi kalian sekarang, aku akan datang kesana sekarang
Tidak perlu, nanti sore kami akan pulang
BEEP
Eh? Kalau begitu beritahu saja tempat dimana kau tiba, aku akan mendatangi tempat itu
Untuk apa? Senin besok kita akan bertemu di sekolah
__ADS_1
BEEP
Aku ingin menunjukkan sesuatu ;)
Kalau begitu Senin saja kau datang ke kelasku
BEEP
Baiklah kalau begitu, aku sebenarnya hanya ingin memastikan kalau ini benar nomor kontakmu. Aku mau tidur dulu ya, selamat malam :)
Selamat malam, ngomong-ngomong, doakan aku selamat, ya
BEEP
Hah?
...
...
Tidak ada balasan lagi setelah itu.
...
Aku baru sadar, sakit kepalaku sudah hilang...
TOK TOK
“Ada yang mengetuk pintu...”
Aku membuka pintu itu.
Ternyata itu adalah Ivi.
“Hai, Razox, tadi kau kenapa?”
“Uhh... aku tidak tau kenapa.”
“Aku tadi melihatmu lari ke kamar sambil memegangi kepala, apa kau sakit kepala? Mau kuambilkan obat? Ada obat untuk sakit kepala di kotak P3K.”
“Tidak, terima kasih, aku sudah baikan.”
“Sepertinya kau sangat lemas, ayo kita keluar, cari udara segar.” Ajak Ivi.
...
Kami berdua duduk di luar, bersama rumput, angin yang sepoi, dan teh hangat.
“Razox, kenapa kau tadi berteriak histeris begitu dan berlari ke kamar?”
“Sebenarnya aku juga tidak tau... tapi saat aku melihat Tino bilang begitu, tiba-tiba saja kepalaku sakit.”
“Oh begitu... lagipula, tadi Tino tidak diterima oleh Cinta setelah kau pergi.”
“Hah?”
“Iya, Cinta membalas perasaan Tino, tapi dia menolak Tino. Katanya dia tidak ingin menyusahkan orang lain. Tino terus membujuk Cinta agar dia menerimanya, tapi Cinta tetap tidak mau. Tino terlihat menahan tangis dan dia pergi juga.”
“Kupikir dia sedang menangis di suatu tempat, aku juga tidak tau dimana.”
“...”
“Tino juga bilang kalau itu bukan pertama kalinya kau berteriak seperti itu saat melihat Tino ‘menembak’ perempuan.”
“...”
“Tapi katanya baru kali ini dia ‘menembak’ perempuan di depan hadapanmu, biasanya kau teriak histeris seperti itu setelah Tino melakukan hal itu dan memberitahumu.”
“...”
“Hahaha... mendengar hal itu cukup lucu bagiku.” Ivi mengeluarkan suara tawa kecilnya.
“...” Aku sedikit kesal mengetahuinya.
“...”
“Ahahaha...” Dan tiba-tiba aku tertawa juga.
...
...
...
Pagi harinya, aku terbangun dan tidak melihat Tino tidur di sampingku, kupikir dia tertidur di luar saat dia menangis.
“...”
Aku keluar kamar dan ke balkon.
“Eh?”
Terlihat Tino sedang olahraga di taman tanpa menenakan alas kaki.
Gerakannya cukup aktraktif dan bersemangat, padahal semalam katanya dia menangis. Kenapa dia bisa terlihat bersemangat begitu?
“Hoii!! Tino!! Ayo sarapan!!” Aku bahkan harus berteriak untuk memanggilnya.
Dia sadar kalau dia dipanggil olehku.
“Aku sudah sarapan!! Di meja makan ada makanan untuk kalian!” Teriak baliknya.
“...”
Aku tidak mempertanyakan itu dan langsung pergi lagi ke dalam untuk ke meja makan.
...
Di meja makan terlihat ada 3 porsi makanan nasi dan telur mata sapi, sepertinya itu untuk semua yang ada di vila ini, tapi siapa yang membuat itu? Ivi? Coba kutanya dia.
Aku berjalan ke kamar Ivi dan mengetuk pintunya.
TOK TOK TOK
...
Tidak ada jawaban...
TOK TOK TOK
“Tunggu!” Teriak seseorang dari dalam, itu pasti Ivi.
Pintu dibuka dan langsung terlihat Ivi yang baru bangun, rambutnya masih berantakan, dan juga dia masih pakai baju tidurnya.
“Hmm...”
Kalau Ivi masih seperti itu, tidak mungkin dia pergi ke dapur dan membuatkan sarapan untuk yang lainnya, jadi yang membuat sarapan itu bukan dia, tapi Tino.
“Ah, tidak jadi, lanjutkan saja tidurmu.” Aku langsung pergi.
“Terserah kau. Nanti kita sarapan bersama, ya, aku dan Cinta mandi dulu.” Ucap Ivi yang juga menutup pintu.
Dan menguncinya.
“Siapa juga yang mau mengintip mereka??”
Aku pergi lagi ke meja makan, keadaannya masih sama, 3 porsi makanan dan aku baru sadar ada 1 piring yang kosong, kurasa Tino memang sudah makan.
Hmm... sekarang hari Minggu, aku baru ingat kalau sekarang ada kartun pagi, lebih baik aku menunggu mereka sambil menonton.
...
...
__ADS_1
...
2 jam berlalu, sampai acara kartun pagi selesai, aku melihat ke meja makan, belum ada siapapun disana.
“...”
“Lama sekali mereka.”
Aku bingung harus menonton apa, sudah tidak ada acara kartun pagi, apa aku harus menonton gosip?
“...”
“Ah, leganya.”
Tino tiba-tiba datang sambil mengelap badannya yang bermandikan keringat.
“Razox, dimana yang lain?”
“Mereka masih di kamar, mereka sedang mandi dan bersiap untuk sarapan.”
“Eh? Sarapan? Ini sudah jam 11.”
“11??”
Tino berjalan ke kamar gadis dan mengetuk pintunya.
TOK TOK TOK TOK TOK
“Dia kenapa, sih?” Aku menatap sinis Tino.
Karena tidak ada balasan dari dalam kamar, Tino langsung menghampiriku dan duduk di sofa.
“Duhh... padahal aku sudah membuatkan kalian sarapan, tapi kenapa tidak ada yang makan???” Keluh Tino.
Ternyata benar Tino yang membuatkannya.
“Termasuk kau juga.” Tambahnya sambil menunjukku.
“Eh?” Aku kaget dan langsung ke meja makan dan mengambil 1 porsi makan dan langsung memakannya.
Ini sudah dingin.
“Percuma saja... aku sudah terlanjur kecewa...”
“Maafkan aku, Tino.”
“...” Tino tetap saja murung.
...
KRIET
Terdengar suara pintu terbuka, itu adalah para gadis yang keluar dari kamarnya.
“Lama sekali, aku sampai harus menunggu 2 jam.” Keluhku.
“Hei, aku lama karena aku belum terbiasa mengurus Cinta!” Balas Ivi.
“Huh? Kalau begitu kenapa riasannya lebih banyak kau daripada gadis itu?” Balasku lagi.
“...”
Mereka saling menatap dan melihat wajah mereka.
“Itu tidak penting! Sekarang, ayo makan.”
Ivi berjalan ke meja makan dan melihat makanan yang tinggal 2 porsi.
“Eh? Sudah ada makanan? Siapa yang buat??” Tanya Ivi.
“Tino.”
“Dan kenapa terlihat dingin???” Tanya Ivi lagi.
“Ya, aku yang membuatnya tadi pagi saat kalian masih tidur. Jelas kalau makanannya sudah dingin.” Ucap Tino ketus.
“Ya... baiklah...”
Ivi dan gadis itu tetap makan makanan itu.
“Razox, kita keluar yuk, olahraga.” Ajak Tino.
“Eh? Sejak kapan kau suka berolahraga?”
“Ini memang sudah kebiasaanku di Minggu pagi.”
“...” Aku hanya menatap datar Tino.
“Baiklah, ini hanya kebiasaan acakku, kadang aku ingin berolahraga, kadang tidak.”
“Baiklah, ayo.”
---
Sore harinya, kami berkemas untuk pulang. Aku, Ivi dan gadis itu berada di depan vila untuk bersiap, sementara Tino sedang membereskan dalam vila.
“Cinta sudah menelpon pamannya tadi, kita akan dijemput sebentar lagi.” Ucap Ivi.
“Aku sangat senang bisa berlibur bersama kalian.” Ucap gadis itu terlihat senang.
“Lain kali kita akan berlibur lagi, dan akan mengajak lebih banyak orang lagi karena pasti teman kita akan bertambah juga.” Lanjutnya.
“...”
“Razox, kau menangis, ya?”
“Eh? Tidak, kok!”
Aku memegang wajahku yang ternyata basah, aku langsung mengelapnya.
“...”
“Razox, apa kau sadar kalau sifat Tino tiba-tiba berubah sejak tadi malam? Dia sama sekali belum bertemu Cinta sejak tadi pagi. Maksudku tadi memang dia bertemu, tapi tidak ada kontak mata. Ada apa, ya?”
“Punya siapa ini?” Tiba-tiba Tino datang dengan membawa sekantung plastik obat.
“Hm? Itu bukan punyaku. Itu punya Cinta.” Ucap Ivi.
“Ohh... memangnya obat apa ini?” Tanya Tino sambil memberi obat itu kepada gadis itu.
“Te-terima kasih. Ini obat untukku.” Ucap gadis itu.
“Baiklah...”
Aku bahkan tidak melihat bola mata mereka saling bertemu...
“Hm... aneh, Tino bisa berbicara seperti itu pada Cinta seperti tidak pernah terjadi apa-apa.”
Tino terlihat terkejut karena ucapan Ivi terdengar, dia langsung menjauh dari kami, gadis itu juga langsung terlihat murung.
...
Tidak lama, datang mobil yang menjemput kami, kami memasukkan barang-barang kami dan naik ke mobil itu, tapi kali ini posisi duduknya berbeda. Ivi bersama supir di depan, barang-barang ada di belakang, sedangkan aku, Tino, dan gadis itu di tengah, mereka duduk bersebelahan.
Mereka juga saling berbicara seakan-akan tidak terjadi apa-apa, padahal jelas-jelas tadi Tino membuat gadis itu murung, aku benar-benar tidak mengerti bagaimana pola pikir mereka. Seingatku juga, Tino tidak pernah seperti itu kepada gadis yang dia buat kesal.
Dia seperti bukan Tino yang kukenal...
Aku akan melihatnya di sekolah, besok...
...
__ADS_1