
Keesokan harinya di waktu istirahat, ini sudah hari Senin, dan aku hanya berdiri di depan kotak saranku yang masih kosong.
“Kenapa masih kosong sampai sekarang, ya???”
“Hm?” Aku melihat ke arah lain.
Orang-orang melihat ke titik yang sama, ketika aku melihat apa yang dilihat oleh orang-orang, aku melihat Lulu, dia sedang berjalan ke arahku.
“Eh?”
Dia terlihat berjalan dengan kikuk karena menjadi pusat perhatian.
Dia menghampiriku dan langsung memegang tanganku dan menariknya.
“Ikut aku.”
Aku mengikutinya saja.
...
Dia menarikku ke kantin.
Sesampainya di kantin, kami duduk dan Lulu langsung memberikanku uang.
“Tolong, belikan aku bubur ayam.” Ucapnya sambil tertunduk.
Aku membelikannya...
“Terima kasih, oh ya, tolong belikan aku jus jeruk juga.”
Aku membelikannya...
“Terima kasih, oh ya, tolong belikan aku camilan juga, kerupuk mungkin.”
Aku membelikannya...
“Terima kasih, oh ya, tolong belikan ak-“
“Tunggu! Uangnya sudah habis.” Selaku yang menunjukkan tanganku sudah kosong.
“...” Dia melihat tanganku yang kosong.
TAP
Dan memberikanku segepok uang lagi.
“Razox, uang ini untukmu, kau sudah banyak membantu.” Ucapnya yang tetap tertunduk.
“...”
“Baiklah...”
Aku pergi untuk membelikanku makan juga, aku juga lapar.
...
“Jadi, kenapa kau mengajakku kesini???”
“Aku ingin memberitahumu sesuatu.”
“Ya, aku tau itu, apa ‘sesuatu’ itu?”
“Ini.”
Lulu menunjukkan handphone-nya.
“Apa?”
Tiba-tiba Lulu menunjukkan wajahnya.
“Aku punya akun media sosial!” Ucapnya dengan nada gembira.
“Eh?”
Aku melihat handphone-nya lagi, itu menunjukkan kalau handphone itu sedang membuka aplikasi onstagram, aplikasi media sosial berbagi foto.
“Tunggu dulu.”
Aku fokus terhadap foto yang ada di handphone itu.
“Itu ‘kan Ivi.”
Terlihat foto Ivi sedang di dalam mobil, dia berfoto dengan aku dan Tino saat kami sedang tertidur saat itu, keterangan foto menunjukkan kalau dia sedang berlibur.
“Hah?!”
“Sejak kapan?”
Aku kaget lagi melihat foto itu, foto itu sudah di-like lebih dari 500 orang.
“Aku tidak tau kalau Ivi ternyata punya akun onstagram...” Ucapku yang langsung merasa hampa.
“Hei, Razox, apa kau punya akun onstagram juga? Apa namanya?”
“Ah, aku tidak punya,”
“aku juga tidak punya akun media sosial manapun, satupun.”
“Kenapa?”
“Menurutku media sosial itu sangat mengganggu privasiku, lagipula aku hanya menggunakan internet untuk mengerjakan tugas, mencari hiburan, jual-beli...”
“Padahal kau bisa mengubah privasimu dari publik menjadi privat, jadi hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat postinganmu.”
“Tidak, aku tetap tidak mau.”
“Baiklah... oh ya, apa yang lain juga punya akun onstagram? Biar ku-follow.”
“Mana kutau? Aku tidak pernah melihat orang menggunakan handphone-nya untuk membuka media sosial seperti itu.”
“Jadi sejak kapan Ivi punya akun itu dan punya banyak pengikut???” Tanyaku kepada diriku sendiri.
“Aku tidak tau.” Jawab Lulu.
“Uhh... aku tidak bertanya padamu.”
“Baiklah, Razox, aku hanya ingin memberitahumu itu.” Ucap Lulu sambil mengelap mulutnya.
“...”
“Hanya itu? Kupikir hal yang lebih penting.” Aku kecewa dan menjatuhkan kepalaku ke meja.
“Sudah dulu, ya.” Lulu langsung berdiri dari kursinya.
BEEP
Handphone-ku tiba-tiba berbunyi, ada pesan masuk, aku langsung melihatnya, semoga saja itu orang yang ingin berkonsultasi.
“Eh?”
Aku baru sadar, orang harusnya membuat perjanjian denganku dari nomorku yang ada di spanduk, jadi mereka tidak perlu repot-repot lagi datang ke kelasku. Jadi itu fungsi nomor telepon yang ada di spanduk.
“...”
Tapi ternyata pesan itu bukan dari pasienku, itu hanya pesan dari operator yang mengingatkanku kalau minggu ini masa aktif pulsaku akan habis.
“...”
Berhubung makananku sudah habis, aku lebih baik pergi kembali ke kelas.
BEEP
Handphone-ku berbunyi lagi, itu adalah pesan masuk.
Razox, anda dimana? Tolong segera ke kelasmu, ada yang ingin kubicarakan
Salam, ketua OSIS
“Hah?”
“Lulu! Temani aku ke kelas sebentar, yuk!” Teriakku sambil menghampiri Lulu yang sudah berjalan keluar kantin.
Lulu tidak menjawabnya, dia hanya mengangguk.
...
__ADS_1
Kami berjalan ke kelas. Terlihat seorang lelaki sedang berdiri di kotak saranku sambil memperhatikan sekitar. Sepertinya aku pernah melihatnya.
“Oh, Razox!” Dia sadar dengan keberadaanku, aneh.
“Perkenalkan, namaku Eesa Bima, aku dari kelas XII-IPS-2 dan aku adalah ketua OSIS periode tahun ajaran ini.”
“...”
Ah, iya, aku pernah melihatnya saat upacara hari pertama sekolah.
“Razox, sebenarnya aku ingin menghilangkan spanduk ini.” Ucap Eesa.
“Eh?”
Tidak, mimpi burukku akhirnya tiba, kegiatan itu akan dianggap ilegal dan tidak boleh ada kegiatan konsultasi seperti itu lagi di sekolah ini.
“Aku ingin kau pindah ke gedung sebelah.” Ucap Eesa.
“...”
“’Gedung sebelah’ katamu...???”
“Ya, aku mendukung kegiatanmu ini, tapi aku tidak mau kau melakukan kegiatan ini di dalam sekolah, karena tempat ini memang untuk kegiatan belajar mengajar.”
“Heee....”
“Nanti sepulang sekolah, pergilah ke gedung sebelah dan beri surat ini kepada resepsionis disana, kau akan di tunjukkan ruangmu.” Ucap Eesa memberiku sepucuk surat.
“...”
“Oh ya, dan juga, aku akan memberimu anggaran untuk membuat brosur promosi, nanti akan kukirimkan pesan tentang prosedurnya.”
“...”
Aku tidak percaya dengan apa yang kudapat.
“Ah, aku baru ingat,”
“sebenarnya kau boleh memasang spanduk di depan kelasmu, tapi tolong perkecil ukurannya.”
“Ba-baiklah.”
“...”
“Aku pergi dulu.” Eesa pergi meninggalkan kami, sedangkan aku masih tidak percaya dengan apa yang kudapat.
“Ya, terima kasih...”
“...”
---
Sepulang sekolah, setelah kami menurunkan gaids itu ke lantai 1, kami berkumpul di halte. Aku langsung menarik tangan Lulu dan pergi duluan meninggalkan yang lain.
“Sebentar! Aku ada urusan, tolong temani aku ke gedung sebelah!”
Aku dan Lulu pergi ke gedung sebelah yang tadi Eesa bilang, gedung itu memang ada di sebelah sekolah, tepat sebelahnya.
Aku baru tau kalau gedung ini milik sekolah juga.
Kami masuk ke gedung itu.
“Woww...”
Aku langsung terkagum melihat isi gedung itu, ketika masuk, udara di dalam gedung itu langsung berubah menjadi sejuk, warnanya didominasi oleh warna kuning emas.
Ini seperti hotel bintang lima.
“Selamat datang.”
Sapa perempuan yang menyambut kami dengan suaranya yang ramah.
“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya perempuan itu yang berada di balik meja lebar yang sepertinya resepsionis.
Kami berjalan mendekati meja resepsionis sambil mengagumi tempat ini.
“Wow, tempat apa ini?”
“Tuan, ini adalah gedung sekretariat setiap ekskul yang disediakan oleh SMA Platinum yang dibuka untuk umum, jadi siapapun boleh masuk. Apa kalian murid baru di SMA Platinum? Karena pakaian kalian itu menunjukkan kalau kalian adalah murid sini, dan kalian tidak tahu tentang gedung ini yang ada di sebelah sekolah yang sudah ada sejak lama.”
“...”
“Oiya, dan juga, ini.”
Aku memberi surat dari Eesa tadi kepada resepsionis.
“...”
Aku menunggu resepsionis itu membaca surat itu dan aku hanya melihat sekitar.
“Razox, aku pulang, ya.” Ucap Lulu sambil menarik bajuku pelan.
“Sebentar, temani aku, ya.”
“Baiklah, tuan, berdasarkan surat ini, ruang anda berada di lantai 4, saya sudah memberi tanda untuk anda saat di lantai 4, lift-nya ada di sana, terima kasih.” Ucap perempuan itu.
“Gedung ini punya lift? Kenapa di sekolah tidak ada?” Tanyaku ketus.
“Pembuat sekolah ini ingin para siswanya banyak bergerak di sekolah...” Balas perempuan itu.
“Umm... baiklah... bolehkah aku meminta surat itu lagi?”
“Oh, tentu saja, ini.”
“Terima kasih.”
Kami berjalan ke lift dan naik ke lantai 4.
“Gedung ini hebat juga, ya, walaupun sudah di luar jam pelajaran sekolah, gedung ini tetap beroperasi.”
“Hebat...”
TING
Kami sampai di lantai 4, terlihat ada 6 ruang dan aku langsung mencari ruangan untukku.
“Jadi, yang mana ruangnya?”
“Mungkin itu.” Lulu menunjuk ruang yang ada di ujung dengan lampu hijau menyala di atas pintunya.
“Tunggu dulu, sepertinya itu satu-satunya ruangan yang aktif,” Pikirku.
“karena ruangan yang lain memiliki lampu merah di atas pintunya, sedangkan hanya ruangan itu yang punya lampu hijau.”
“Hee... mungkin itu maksudnya keadaan pintunya terkunci atau tidak.” Ucap Lulu.
“Eh?”
“...”
“Kau benar! Tidak sia-sia aku mengajakmu! Hahaha!”
Kami berjalan ke ruang itu.
Dan membuka pintu itu.
GREK
Pintu itu tidak terbuka.
“Dikunci.”
Di pintu itu juga terlihat bel, Lulu langsung menekannya.
GREK
Ada bunyi dari pintu itu.
“Apa itu?”
“Itu suara dari pintu.”
“Aku tau, maksudku, apa maksud dari suara itu?”
“Entahlah.”
__ADS_1
Lulu memegang gagang pintu dan memutarnya.
Pintu itu langsung terbuka.
Kami langsung masuk, dan aku terkagum dengan isinya.
“Wahh...”
“Ini kantorku??”
Di dalam ruang itu ada meja dan kursi, serta rak buku yang sudah ada banyak buku. Juga terlihat jendela yang menunjukkan pemandangan luar.
“Wah...”
“Lulu, kau sekarang sudah resmi menjadi sekertarisku!” Ucapku sambil menunjuk Lulu.
“Eh? Aku?”
“Ti-tidak, aku tidak bisa!”
“Kenapa? Kau bisa jadi sekertarisku! Kau bisa kenal banyak orang! Memperluas koneksimu!”
“Justru karena itu aku tidak mau, aku takut dengan banyak orang seperti itu.”
“Hmm... kau tidak perlu terus berkomunikasi dengan orang-orang, cukup membantuku dengan berkas-berkas yang akan kukerjakan.”
“Uh...”
“Dan mungkin juga kau akan memberitahuku jika ada yang mau menghubungiku.”
“Ba-baiklah, aku setuju, aku akan mencobanya...”
---
Keesokan harinya, di depan kelas, aku berdiri sambil memegang kotak saranku,
di depan tong sampah.
“Hasta la vista.”
Aku membuang kotak saranku.
“Hei, sedang apa kau?” Tanya Tino yang tiba-tiba muncul, dia datang bersama Ivi.
“Tino? Aku baru saja membuang kotak saranku, orang-orang bisa memberikan saran mereka ke nomor telepon pribadiku yang sudah kucantumkan di spanduk.”
“Seharusnya kau lakukan itu sejak lama...”
“Oiya, Tino, kau tau tidak? Aku sekarang punya kantor sendiri, loh!”
“Iya, aku tau, kantormu di gedung sebelahkan?”
“Apa?! Kau tau?!”
“Ya... aku tau, kemarin kau berbisik dengan Lulu terlalu keras, aku tidak sengaja mendengarnya.”
“Huhu...”
“Yaa... semoga beruntung dengan bisnismu...” Ucap Ivi.
“Baiklah, aku mau pergi dulu, ya, dah~” Aku langsung pergi meninggalkan mereka.
Aku pergi ke kelas Lulu, X-1.
BIP
“Lulu!!”Aku melihat Lulu sedang membaca buku di mejanya, dia memang tidak punya teman, tapi seperti biasa, dia menjadi pusat perhatian.
Memangnya dalam jam pelajaran juga begini, ya? Ah, itu tidak penting.
“A-ada apa, Razox?”
“Bagaimana? Apa ada yang menghubungimu untuk membuat perjanjian denganku?” Tanyaku yang tiba-tiba mendekatinya.
“Ti-tidak, kemarin tidak ada yang mengirim pesan, seorangpun.”
“Hmm...”
“Mungkin aku kurang melakukan promosi...”
“...”
“Ah! Benar juga, kemarin ketua OSIS bilang padaku untuk membuat brosur, itu pasti untuk promosi. Aku lupa hal itu, aku akan membuatnya.”
Aku langsung berlari lagi keluar ruang itu.
---
Malamnya, aku langsung membuat desain brosur, pergi ke percetakan untuk mencetaknya dalam jumlah banyak, membayarnya, dan berpikir untuk dibagikan kepada para siswa besok.
---
Dan esok hari, aku langsung berdiri di gerbang sekolah sendirian dan membagikan brosur itu kepada siswa yang lewat.
Aku melihat Ivi, Tino, Lulu, dan gadis itu datang ke arahku.
“Hei, kalian.” Sapaku dengan bahagia.
“Razox! Kami menunggumu daritadi di halte!” Ucap Ivi dengan alis melengkung ke bawah.
“Apa itu?” Tanya Tino menunjuk kertas yang kupegang.
“Ah, ini? Ini kertas brosur promosi konsultasiku, silahkan dilihat.” Aku menjawabnya dengan santai dan membagikannya kepada mereka.
“...”
“Bagaimana kau bisa membayar semua ini?” Tanya Ivi sambil meraba-raba brosur itu.
“Ya, dari mana kau mendapat uang? Ini pasti mahal, kualitas kertas dan tintanya terlalu bagus.” Ucap Tino.
“Pakai uangku dulu, nanti digantikan oleh OSIS.”
“...”
“Baiklah, semoga beruntung dengan bisnismu.” Ucap Ivi.
Mereka langsung pergi meninggalkanku, termasuk Lulu.
“Hei, Lulu, kalau ada yang ingin konsultasi padaku bilang, ya!” Teriakku pada mereka yang sudah jauh.
...
...
...
TING TING
“Razox, ayo pulang.” Ajak Tino.
“...”
“Kenapa...???”
“Razox??”
“Kenapa tidak ada yang mau berkonsultasi denganku hari ini???”
“Huhuhu... padahal aku sudah melakukan promosi...”
“Hueeee!!!”
“Sudah, sudah, ayo pulang.” Tino menghampiriku.
Dan menggendongku.
“Nanti pasti ada, kok, tenang saja.”
...
...
...
__ADS_1