
Keesokan harinya, aku naik angkot untuk pergi ke sekolah karena aku sudah tau jalurnya.
Selama perjalanan, aku ditemani oleh 2 orang yang berseragam SMA Platinum juga, tetapi aku tidak mengenali mereka, dan juga sang supir.
Sesampainya di halte dekat sekolah, aku tidak langsung masuk, aku menunggu Tino disana, aku juga bingung kenapa dia tidak menghampiriku tadi pagi.
“Mana dia?”
...
...
...
30 menit aku menunggu.
“Oi!! Razox!!” Seseorang meneriaki namaku.
Aku langsung menengok ke arah asal suara itu, dan itu adalah Tino, dia berlari ke arahku sambil melambaikan tangannya.
“...” Aku hanya menatapnya datar.
Sesampainya dekatku, dia menunduk sambil memegang dengkulnya dengan nafas yang tidak beraturan.
“Kemana... kau...??? Tadi... aku... ke rumahmu...”
“Aku kira kau sudah berangkat, jadi aku berangkat lebih awal juga. Saat sampai sini, kau tidak ada.” Ucapku dengan nada datar.
“Dan kau tidak terlihat berkeringat. Memangnya kau tidak lelah jalan kaki sejauh ini?” Tanya Tino yang nafasnya sudah teratur.
“Tidak, aku tidak jalan kaki, aku naik angkot.” Jawabku dengan nada bicara yang masih datar.
“Ehh??!! Curang! Kenapa kau tidak bilang-bilang?!” Keluh Tino.
“Kupikir kau sudah tau.”
“Uhh... kau harus menunjukkanku tentang angkot itu.” Ucap Tino dengan nada mengancam.
“Ya sudah, sekarang ayo kita ke kelas.” Ajakku yang mulai melangkah.
“Tunggu.” Tino menahan langkah pertamaku.
“Ada apa?”
“Kita menunggu Cinta.”
“Gadis itu? Dia mungkin saja sudah di kelas!”
“Mana mungkin?! Ini masih jam 5 pagi!”
“Uhh... baiklah, terserah katamu.”
...
Ya, aku menunggu lagi, menunggu gadis itu sesuai kata Tino. Untungnya tidak lama kemudian, gadis itu datang. Dia datang dengan kursi rodanya bersama ibunya.
“Itu dia!” Seru Tino.
“Ya, aku tau.” Ucapku datar.
“Tante!” Sapa Tino.
BOING BOING
Aku mendengarnya lagi!
...
“Kayanya kemarin tidak seperti ini.” Gumamku menatap sinis Tino.
...
“Eh, nak Razox, nak Tino.” Sapa ibu dari gadis itu.
“Halo, teman-teman.” Sapa gadis itu sambil melambaikan tangannya dan tersenyum.
“Halo, Cinta.” Balas Tino.
“...” Sedangkan aku hanya menyapa mereka dengan wajah datar dan menunjukkan telapak tanganku sambil digerak-gerakan sedikit.
“Sudah, bu. Aku bersama teman-temanku.” Ucap gadis itu.
“Baiklah.”
“Nak Razox, nak Tino, tolong jaga Cinta ya.” Ucap ibu dari gadis itu dengan nada yang ramah dan juga senyumnya.
Kemudian beliau langsung pergi meninggalkan kami.
“Iya, bu! Kami akan menjaganya baik-baik!” Teriak Tino sambil memegangi kursi roda gadis itu.
“Ayo, Razox.” Ajak Tino yang tiba-tiba terlihat bersemangat.
“Uhh...”
Kami membantu gadis itu untuk sampai ke lantai 3 dan masuk kelas kami. Dan kami belajar seperti biasa.
...
Guru laki-laki masuk ke kelas kami setelah bel masuk berbunyi. Beliau memberikan materinya, sejarah dunia dengan rinci.
...
“Anak-anak, untuk presentasi minggu depan maju perkelompok, ya.”
“Minggu pertama langsung presentasi, guru lain juga paling cuman perkenalan doang.” Keluh Tino.
“Umm... secara itu minggu depan, minggu kedua.” Selaku dengan polos.
“Ya, apalah itu.”
“Baiklah, sekarang silahkan bentuk kelompok masing-masing.” Ucap sang guru.
“...”
“Bagaimana gadis itu presentasi, ya?” Pikirku yang tidak sengaja melihat gadis itu.
“Baiklah...” Tino bangkit dari kursinya.
“Aku akan sekelompok dengan orang pintar!” Serunya.
“...” Aku hanya menatapnya datar.
“...”
“...”
“Siapa?? Aku tidak tau...” Tino kembali duduk dengan wajah sedihnya.
“Kau belum mengenal semuanya lebih dalam.” Ucapku dengan nada meremehkan.
“Uhh... sepertinya tidak ada pilihan lain.” Ucap Tino.
“Aku akan sekelompok denganmu.” Tino langsung murung mengatakannya.
“Memang begitu seharusnya.”
“Sekarang anggota lain...” Tino mengeluarkan gaya berpikirnya.
“Ayo, anak-anak, lama sekali kalian.” Guru itu sudah terlihat tidak sabar.
Tino berdiri lagi.
“Siapa yang mau sekelompok dengan kami??!!” Tanya Tino dengan berteriak, seisi kelas ini pasti mendengar suara dia.
“...”
“...”
“...”
Tidak ada yang menjawab, semua hanya melihat Tino dengan tatapan heran, termasuk sang guru.
“Baiklah...”
“Sepertinya tidak ada.” Tino kembali duduk.
“Umm... Tino...” Panggil seseorang gadis, suaranya datang dari kiriku.
Sudah kuduga, ternyata gadis itu.
Tino langsung menengok ke arah suara itu ketika mendengarnya.
“Ada apa, Cinta?”
Eh??!! Dia langsung berubah??!!
“Ummm... Ano... apakah kami boleh sekelompok dengan kalian? Kami belum masuk kelompok manapun.” Ucap gadis itu gugup.
Kami?
“Oh, tentu saja!”
“Ayo merapat.”
“...”
Gadis itu dan teman sebangkunya yang kalau tidak salah namanya Diviana, duduk dekat dengan kami, menjadikan kami 1 kelompok 4 orang.
“...”
Aku merasa canggung dengan suasana ini, sedangkan Tino bisa sangat menikmati suasana ini, sepertinya aku harus pindah ke kelompok lain.
“...”
Semua kelompok sudah penuh, 1 kelompok memang didesain hanya untuk 4 orang.
“Baiklah, anak-anak. Ini materi untuk setiap kelompok...” Ucap Sang guru yang berdiri dan berjalan ke papan tulis, beliau menuliskan materi yang akan di kerjakan untuk setiap kelompok.
Kami masuk kelompok 4 dan mendapatkan materi tentang sejarah peradaban manusia.
“Baiklah, akhir pekan ini kita harus menyelesaikan tugas ini!” Ucap Tino yang bersemangat.
“Kupikir jangan akhir pekan.” Potongku.
“Eh? Memangnya kenapa?” Tanya Tino.
“Aku tidak bisa, aku harus mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. Dan biasanya saat akhir pekan, aku maunya bersantai karena sedang berlibur dan tidak sekolah.” Ucapku.
“Benar juga, ya...”
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita mengerjakannya hari Jum’at saja? Setelah pulang sekolah.” Usul Diviana.
“Boleh juga usulanmu.” Ucap Tino yang setuju.
“Tapi dimana kita kita akan mengerjakannya?” Tanya Diviana.
“Kaya tadi kau yang mengusulkan...” Ucapku datar.
“Hmm... bagaimana kalau di Level?” Usul Tino.
Level adalah kafe yang berada dekat dengan sekolah kami, disana memang biasa menjadi tempat nongkrong orang-orang. Orang yang sedang berbisnis, orang yang sedang mengerjakan tugas, orang yang hanya mengobrol, mereka melakukannya sambil membeli beberapa camilan. Dan juga disana ada free wi-fi.
“Jangan, aku tidak suka tempat ramai.” Ucapku.
“Lalu dimana?” Tanya Tino.
“Bagaimana kalau di rumahmu?” Tanyaku balik.
“Ah, jangan, rumahku jauh, kau ‘kan tau sendiri.”
“Benar juga...”
“Bagaimana kalau di rumahmu?” Tanya Tino.
“Itu bukan ide yang bagus, rumahku banyak orang, nanti kita tidak bisa fokus.” Ucapku yang sebenarnya tidak mau mereka ke rumahku.
“...”
Aku tiba-tiba menengok ke arah Diviana yang diam saja.
“Bagaimana kalau di rumahmu?”
“Aku?!” Diviana kaget, dia tadi diam dan bengong.
“Tidak bisa, aku tidak diperbolehkan oleh ibuku untuk membawa teman laki-laki, apapun alasannya.”
“Jadi mau dimana?” Tanya Tino.
“...”
“...”
Semuanya tertunduk dan berpikir dengan memegang dagu masing-masing.
“Bagaimana kalau di rumahku saja?” Tiba-tiba gadis itu mengeluarkan suaranya.
“Eh?” Semuanya kaget mendengarnya, termasuk aku.
“Cinta, apa tidak apa-apa?” Tanya Tino.
“Aku hanya risih melihat kalian bingung dan tidak ada yang memberi solusi.” Jawabnya.
“...”
“Memangnya rumahmu boleh menerima tamu teman laki-laki?” Tanya Diviana.
__ADS_1
“Boleh, terutama Razox dan Tino, mereka sudah bertemu dengan ibuku kemarin.” Ucapnya.
“...” Tino tiba-tiba diam dan bengong.
“Hei!” Aku sontak memukul punggungnya, dan dia langsung tersadar.
“Kau mikirin apa?”
“Ah! Tidak, lupakan.”
“Benar juga, ya, kenapa tidak terpikirkan oleh kita? Mengerjakannya di rumah Cinta, agar dia tidak perlu susah payah untuk pergi keluar.” Ucap Diviana sambil membayangkannya.
Tino berwajah tegas lagi.
“Baiklah, kita sudah tentukan, kita akan mengerjakan di rumah Cinta pada hari Jum’at!”
“...” Tapi gadis itu tiba-tiba tertunduk.
“Ada apa, Cinta?”
“Umm... bagaimana mengatakannya ya?” Gadis itu tiba-tiba bingung juga.
“Walaupun begitu... rumahku tidak siap untuk menerima tamu, sepertinya tidak ada makanan untuk kalian...”
“Eh?”
“Hanya itu?”
“Haha!! Tidak perlu dipikirkan! Kami kesana memang tidak perlu makan, karena kami ke rumahmu untuk mengerjakan tugas. Bukan begitu, Razox?”
...
“Hahaha!!” Kami tertawa setelah itu tanpa sebab, termasuk aku, aku tidak tau kenapa aku ikut tertawa.
...
...
...
TING TING
“Baiklah, anak-anak, minggu depan tolong persiapkan presentasi kalian.” Ucap sang guru yang kemudian berdiri.
“Selamat siang.” Sang guru berjalan keluar dari kelas.
Padahal masih jam 9 pagi...
Itu tadi adalah bel tanda istirahat.
Tino berdiri dan melewatiku, aku melihatnya dengan tatapan datar, dia menuju gadis yang ada di seberangku.
“Hei, Cinta, ayo kita ke kantin.” Ajak Tino.
“Eh?”
“Umm... tidak, terima kasih. Aku di kelas saja.” Balas gadis itu.
“Uhh.. baiklah, apa kau ingin menitipkan sesuatu?” Tanya Tino, sepertinya dia mencari topik pembicaraan.
“Ohya, tolong belikan aku makanan.”
“...”
“Ini uangnya.” Gadis itu memberikan Tino selembar kertas berwarna biru.
Banyak uang...
“Baiklah,” Tino menerima uangnya.
“Ayo, Razox, kita ke kantin.” Sekarang Tino mengajakku.
“...”
Aku tidak mengeluarkan suara, aku hanya diam dan mengikuti Tino. Lagipula aku tidak betah diam saja di kelas tanpa melakukan apapun.
...
...
Aku hanya menemani Tino untuk membeli makan di kantin, tapi aku juga membeli makanan untukku yang nanti akan kumakan di kelas.
Selesai membeli, kami langsung berjalan kembali ke kelas.
“Hei, kau membeli apa untuk dia?” Tanyaku yang mencegah adanya keheningan saat kami berjalan di tangga.
“Ini? Ini nasi uduk, dia tidak mengatakan spesifik makanan apa yang dia inginkan, jadi kubelikan ini.” Ucap Tino sambil menunjukkan plastik yang ia bawa.
“Semoga di suka.” Lanjutnya.
“Tino, kenapa kau sangat baik kepadanya?” Tanyaku.
“Heh, tidak biasanya kau penasaran dengan orang, ada apa?” Tanya balik Tino.
“Tidak, aku hanya merasa kau memperlakukannya berbeda dari orang lain, bahkan kepadaku.”
“Itu, itu karena aku suka dengannya.” Ucap Tino dengan lancar dan tersenyum kepadaku.
“...”
Aku berhenti berjalan karena aku merasa ada yang mengganjal di tubuhku ketika mendengarnya.
“Eh? Ada apa?”
“...”
“...”
“...”
“Tidak, ayo jalan lagi.” Ucapku yang kembali berjalan.
...
BIP BIP
Kami kembali ke kelas dan berjalan menuju gadis itu. Sedangkan aku ke kursiku dan makan sendiri.
“Ini.” Tino memberikan plastik itu yang isinya adalah nasi uduk.
“Apa ini?” Tanya gadis itu yang menerima plastik itu dan melihat isinya.
“Nasi uduk, aku tidak tau kau ingin memesan apa.” Ucap Tino.
“Oh, terima kasih ya. Kebetulan aku memang ingin nasi uduk untuk makan pagi ini.”
“...”
Aku ingin pindah...
“Ya... kau taulah, yang namanya kantin, banyak orang makan disana.”
“Ohh begitu ya, hahaha...”
...
Aku hanya fokus memakan makananku sambil mendengarkan mereka terus mengobrol. Tau seperti ini, aku seharusnya makan di kantin saja.
BIP
Pintu terbuka dan ada yang masuk.
Itu adalah Diviana.
Dia berjalan ke kursinya, tapi ketika melihat teman sebangkunya sedang mengobrol dengan teman sebangkuku, dia berjalan ke arahku, dan duduk di kursi yang ada di depanku yang kebetulan kosong.
“Hai, Razox.” Sapa Diviana.
“Oh, Diviana.”
“Umm... sepertinya nama itu terlalu ribet untukmu, dan aku juga tidak biasa dengan panggilan itu untuk teman dekatku,”
“panggil saja aku ‘Ivi’.”
“Baiklah, Ivi...”
Teman dekat? Apa dia sudah menganggapku seperti itu?
“Lihatlah mereka,” Ivi menunjuk Tino dan gadis itu.
“akrab sekali ya mereka, aku jadi iri...” Lanjutnya menghela nafas.
“...” Aku melihat yang Ivi tunjuk, mereka berdua yang sedang mengobrol.
Mereka memang sudah terlihat akrab.
“...”
“Tunggu sebentar...”
Aku menyadari sesuatu.
Di belakang mereka, ada sebuah pintu, akupun menghampirinya.
“Eh? Razox? Kau mau kemana?” Ivi mencegahku agar tidak pergi, tapi terlambat. Akhirnya Ivi mengikutiku.
Aku sudah di depan pintu itu dan berdiri di depannya sambil melihat pintu itu dengan seksama.
“Apa ini?”
Aku melihat sedikit ke atas, ada papan yang bertuliskan ‘Pintu Depresi’.
“Pintu Depresi?”
Aku penasaran dan akhirnya membuka pintu itu.
WOOSSHHH
Suara angin kencang langsung terdengar ketika aku baru sedikit membuka pintu itu, karena penasaran kenapa ada suara itu, aku justru membuka pintu itu lebih lebar.
Aku kaget ketika melihat isi di balik pintu itu, aku langsung menutup pintu dan melompat mundur sampai aku terjatuh.
“Razox?!”
Suara langkah Ivi masih terasa kalau dia ada di belakangku.
“Kau tidak apa-apa? Apa yang kau lihat?”
“...”
Aku merasa gemetar ketika melihat isi di balik pintu itu: angin kencang; awan-awan; ketinggian. Tidak salah lagi...
“Itu ruang terbuka...”
“Razox! Tenanglah!”
“Kenapa? Kenapa ruang itu kosong?”
“Kalau diingat-ingat lagi, konstruksi sekolah ini memang seperti itu. Tidak ada ruang setelah pintu itu.” Ucap Ivi.
“Bukan itu yang kumaksud.”
“Maksudku, kenapa ada pintu seperti itu di kelas ini? Dan kenapa namanya harus ‘Pintu Depresi’?”
“Sudahlah, tenangkan dirimu.”
“Kemarin aku tidak melihatnya!”
“...”
TING TING
Bel tiba-tiba berbunyi, aku langsung melupakan apa yang baru saja kulihat, tapi tidak bisa. Selama pelajaran, aku tertunduk diam dan memikirkan tentang pintu itu. Kenapa di sekolah yang seperti ini bisa ada pintu seperti itu? Kenapa tidak ada ruang di pintu itu? Apa pintu itu hanya ada di kelas ini? Atau di setiap kelas juga ada pintu seperti itu? Apa yang lain juga menyadari keberadaan pintu itu? Bagaimana jika ada seseorang yang benar-benar depresi dan memutuskan bunuh diri lewat pintu itu? Aku harus mencegah hal itu terjadi.
...
...
...
TING TING
Sampai akhirnya jam pulang telah tiba, aku tidak bisa berhenti memikirkan pintu itu.
“Baiklah, anak-anak, sampai ketemu minggu depan.” Ucap sang guru yang kemudian keluar dari kelas.
“...”
Aku yang kebiasaan dengan meja yang berantakan masih membereskan mejaku.
Tino berjalan menghampiri gadis itu.
“Cinta, kau ingin turun, ya? Biar kubantu.” Ucap Tino sambil memegang kursi roda gadis itu.
Tapi gadis itu langsung memegang tangan Tino.
“Tino, terima kasih atas tawaranmu,”
“tapi sepertinya hari ini kau tidak perlu membantuku, aku sudah terlalu banyak merepotkanmu hari ini.” Ucap gadis itu sambil menunduk.
“Tidak apa-apa, aku memang ingin membantumu.” Ucap Tino.
“Tidak perlu.” Gadis itu melepaskan Tino dan berjalan dengan kursi rodanya.
Aku melihatnya melewati Tino dan aku menuju pintu keluar, setelah gadis itu sudah keluar pintu, Tino langsung mengikutinya, dia ikut keluar.
__ADS_1
“...”
Aku yang kebetulan sudah selesai membereskan barang-barangku, langsung mengikuti Tino keluar.
Saat aku keluar, Tino hanya melihat gadis itu sedang berdiam di depan tangga, akupun menghampiri Tino.
“Daritadi dia disana?”
“Sepertinya begitu, saat aku baru datang juga melihatnya seperti itu.”
“Hmm... aku akan kembali.” Aku langsung meninggalkan Tino lagi tanpa melewati tangga karena aku menuju kelas.
BIP
“Mungkin aku bisa menutup pintu itu dengan meja dan kursi.”
Tapi kalau dingat-ingat, setiap kursi dan meja di kelas ini ada yang menempati, kalau dipindahkan untuk menutupi pintu itu, besok akan diambil lagi.
Mungkin aku harus ke kelas sebelas untuk mengambil kursi dan meja yang tidak dipakai.
Karena terpikirkan hal itu, aku berjalan ke kelas sebelah, kelas X-6.
BIP
“...”
Sepertinya di kelas ini semua kursi dan mejanya ada yang menempati, hal itu bisa dilihat dari buku-buku yang sengaja ditinggalkan di loker meja.
“Hah?!”
Aku terkejut ketika melihat ujung kelas.
‘Pintu Depresi’ juga ada di kelas ini, kupikir hanya ada di kelasku, atau jangan-jangan semua kelas di sekolah ini ada ‘Pintu Depresi’? Tapi untuk apa?
“Uhh... ini hal buruk...”
Aku ingin keluar dari kelas ini.
BIP
Pintu terbuka dari luar dan ada yang masuk.
“Eh? Razox?”
“Li-Lisa?”
Orang itu adalah Lisa. Dia melihatku berdiri di depan ‘Pintu Depresi’.
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku.
“Harusnya aku yang bertanya begitu, ini ‘kan kelasku. Aku hanya ingin mengambil barangku yang tetinggal.”
“Dan kenapa kamu berdiri disana?”
“Umm... aku ingin menutup pintu ini! Apa kau punya lakban? Atau apapun itu.”
“Hahaha... kupikir kamu sudah bosan hidup dan ingin mengakhirinya...”
“Tidaklah!”
“Aku tidak punya lakban. Mungkin ada di-“
“Baiklah, terima kasih!”
Aku langsung berlari keluar kelas.
Dan kembali ke Tino.
Dia masih mengawasi gadis itu.
“Apa sudah ada pegerakan?”
“Belum, dia masih ada di tempat yang sama daritadi.”
“...”
Aku juga ikut melihat gadis itu dari kejauhan.
...
Gadis itu benar-benar diam tidak bergerak.
...
Tidak lama kemudian, dia mencoba berdiri. Karena hal itu memicuku untuk menghampirinya.
TAP
Tapi Tino menahanku.
“Jangan, lihat itu.” Ucap Tino sambil menunjuk yang ada di bawah tangga.
Aku melihat apa yang Tino tunjuk, itu adalah Ivi, dia sedang berdiri di bawah tangga sambil melihat gadis itu juga.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
“Ini adalah keputusan Cinta, dia sendiri yang bilang padaku.” Bisik Tino.
“Dia ingin menuruni tangga dengan kakinya sendiri.” Lanjutnya.
Jadi ini sebab Tino diam saja dan melihatnya dari kejauhan seperti ini.
Gadis itu memulai langkah pertamanya setelah berdiri dari kursi roda, aku semakin memajukan wajahku untuk memerhatikannya.
Dia berpegangan kepada pegangan yang ada di tembok.
Langkah pertamanya...
...
Dia langsung terpleset dan terjatuh.
“Cinta!” Ivi langsung siap menangkapnya dari bawah.
Aku juga langsung berlari menghampirinya.
“Uh!” Aku tidak berhasil memegangi gadis itu.
Tapi Ivi menangkap gadis itu karena dia terjatuh ke bawah.
Gadis itu terlihat lemas dan bernafas secara tidak beraturan.
Kami langsung membawakannya ke UKS yang ada di lantai 1.
...
...
...
“Dia tidak terluka parah.” Ucap Ivi.
BIP
Pintu terbuka dan ada yang masuk. Aku dan Ivi langsung melihat ke arah pintu.
“...”
Orang itu adalah Tino, dia datang sambil tertunduk.
“Tino...”
“Cinta, maafkan aku...” Ucap Tino.
“Hehe... Tidak apa, ‘kan aku yang mau.” Ucap gadis itu sambil tersenyum.
“...”
“Sepertinya kau benar, dia tidak terluka parah. Kalau begitu, ayo kita pulang.”
“Ya.” Gadis itu bangkit dari ranjangnya dan dibantu oleh Ivi untuk duduk di kursi roda.
...
...
...
Kami jalan bersama untuk pulang, sesampai di pinggir jalan, suasana sudah sepi, lebih tepatnya tidak ada orang lagi.
BOING
Aku mendengar suara itu lagi!
“Cinta, anakku, ayo pulang.” Ucap ibu gadis itu yang tiba-tiba muncul.
“Ibu!”
“Cinta, lengamu kenapa?” Tanya ibu gadis itu, lengan gadis itu diplester bagian sikutnya.
“Tidak apa-apa kok.” Jawabnya sambil tersenyum paksa.
“Itu,” Tino tiba-tiba bersuara.
“dia tadi kesenggol tembok.” Ucap Tino.
“Aku minta maaf, itu salahku!” Lanjutnya sambil membungkukkan badan.
Hoi! Kau tidak perlu melakukan itu!
“Baiklah, terima kasih ya.” Ibu itu mengambil alih kursi rodanya dan berjalan menjauh.
“Terima kasih, Tino.” Ucap gadis itu dengan pelan.
“...”
“Baiklah, sampai ketemu besok.” Ucapku sambil melambaikan tangan ke Ivi.
Kami berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing
...
...
...
BRAK
Sesampainya di rumah, aku langsung membuka pintu dengan keras tanpa menutupnya kembali, berlari ke kamar. Adikku, Jefran yang sedang menonton TV bingung melihatku terburu-buru.
“Dimana itu??”
Aku mencari barang yang kucari di setiap laci yang ada di kamarku.
“Aha! Ketemu!”
Aku mencari lakban, untuk menutup ‘Pintu Depresi’.
“Tapi sepertinya ini tidak cukup.” Pikirku melihat lakban yang sekiranya hanya bisa menutupi satu pintu.
“Uh!”
Aku mengambil uang yang kusimpan di selipan buku acak, kemudian aku langsung berlari ke minimarket untuk membeli lakban yang banyak.
Setelah itu aku langsung berlari ke sekolah lagi, menutup setiap ‘Pintu Depresi’ yang ada di lantai 3 dengan lakban yang kubeli.
Aku turun ke lantai 2.
“Hah?!”
Aku kaget ketika melihat jumlah kelas XI yang ada di lantai 2, hanya ada 4.
“Aku tidak menyadari hal ini.”
“Jangan-jangan kelas XII juga?”
Aku langsung berlari ke lantai 4, tapi baru sampai tangga, tangga menuju lantai 4 ditutup dengan jeruji besi.
“Sepertinya aku tidak menyadari hal ini juga.”
“Apa yang salah dari sekolah ini?”
Aku turun lagi ke lantai 2 untuk masuk ke salah satu ruang kelas XI.
XI-IPA-2.
BIP
Aku merasa tidak nyaman dengan suasana kelas ini, terasa sumpek, entah kenapa.
Dan aku merasa ada hawa suram.
Aku tidak melihat adanya ‘Pintu Depresi’ di ujung ruang kelas ini.
“Eh? Apa ini berarti ‘Pintu Depresi’ hanya ada di kelas X?”
“Tau begini aku tidak perlu membeli lakban sebanyak ini.”
“Buang-buang uang saja.”
Aku keluar dari sekolah dan melihat gedung sekolah dari kejauhan, tidak terlihat pintu dari sini.
“Sudahlah, lebih baik aku pulang...”
__ADS_1