I Want A Normal Life : No Romance

I Want A Normal Life : No Romance
#35


__ADS_3

TINGTING


“Selamat pagi semua!”


“Sekarang hari ke-85! Sisa siswa saat ini adalah 190 dari 320! Pastikan kalian bisa bertahan hidup sampai waktu habis!”


“Semoga beruntung!”


TINGNONG


Kami masih di ruang yang sama selama beberapa hari dikarenakan Claudia masih belum berani untuk keluar, padahal aku bertanya hal yang sama setiap harinya.


“Claudia, kita keluar hari ini?” Tanyaku yang baru saja selesai makan roti.


“Tidak, aku belum berani.” Jawab Claudia dengan nada ketakutan.


“Iya, aku sudah bosan hanya berdiam disini!” Keluh Ivi.


“Baiklah, kalau begitu aku dan Ivi saja yang keluar.”


Aku berdiri, diikuti dengan Ivi yang juga berdiri. Kami berdua jalan keluar.


“Tunggu.”


Namun Tasla menghalangi jalan kami.


“Kita akan keluar hari ini, tunggu Claudia.” Ucap Tasla.


“...”


Kami saling bertatap tanpa alasan.


“Kalau begitu jawab pertanyaanku.” Ucapku.


“Dimana Tino dan gadis itu?”


“Aku sudah bilang kalau kami semua tidak tahu!” Ucap Tasla dengan keras.


“Kalau begitu ceritakan saja saat terakhir kali kau melihatnya!” Balasku.


“...”


Tasla terlihat ketakutan untuk berbicara.


“Sepertinya buruk, ya?”


“Tidak hanya saja...”


“Terakhir kali kami melihatnya... saat itu dia kembali dengan membawa kursi roda tanpamu, dia langsung mengamuk dengan tongkat yang ia bawa.”


“Wajahnya terlihat sangat marah, Cinta bertanya apa yang terjadi, tapi Tino tidak menjawabnya, dia tetap mengamuk dan mencoba menyerang kami. Lisa langsung menarikku dan mengajak yang lain untuk lari, Rani dan Cinta tertinggal di ruang itu, mereka tidak sempat melarikan diri. Kami langsung lari menjauh dari ruang itu untuk sementara waktu, dari kejauhan kami tidak mendengar suara teriakan ataupun pukulan, kami heran dengan keadaan itu. Kami menunggu beberapa lama untuk kembali ke ruang itu. Saat kami ke ruang itu, kami tidak melihat Cinta maupun kursi rodanya di ruang itu. Kami hanya melihat mayat Rani tergeletak di dekat kulkas. Dan kami berpikir kalau Cinta dibawa oleh Tino.”


“Itu wajar kalau Tino tidak membunuh gadis itu, dia adalah pacarnya Tino.” Balasku memotong pembicaraannya.


“Awalnya Lisa berpikir kalau Tino menjadi seperti itu karena kau sudah mati,”


“Tidak mungkin aku mati semudah itu.”


“tapi karena dia melihatmu masih hidup. Artinya Tino seperti itu bukan karena kematianmu.”


“Kira-kira kenapa dia menjadi seperti itu?” Tanya Tasla.


“Mana kutau, aku baru hadir disini.” Jawab Ivi tidak memberi jawaban.


“...”


Kami semua berpikir karena hal itu, kecuali Ivi.


“Oh ya!” Tasla menepuk pundakku.


“...”


Aku hanya menanggapinya dengan tengokan.


“Saat aku lari dari Tino. Aku sempat melihat orang yang sepertinya kukenal dan dia sering bersamamu!”


“Eh?” Aku sedikit terkejut mendengarnya.


“Siapa?! Lulu?!”


“Ah ya, Lulu namanya!” Tasla memukul telapak tangannya dengan kepalan tangan yang satunya.


“Eh?” Sekarang aku bingung dengan maksudnya.


“Aku melihat dia berjalan sendiri menuruni tangga.”


“Sekarang mana dia?!” Tanyaku sambil menggoyangkan kedua pundak Tasla.


“Ma-maaf.”


“Ha?!”


“Ma-maaf, aku tidak mengajak dia.” Ucap Tasla sambil memalingkan wajahnya.


“Eh?”


“Aku lupa dengannya, jika aku memanggilnya, aku takut kalau dia lupa denganku juga.”


“...”


Aku melepaskan Tasla dan tertunduk.


“Dia bukan orang yang pelupa.”


“Harusnya kau mengajaknya saja untuk menambah aliansimu.”


“Maafkan aku, Razox.”


“Sepertinya hanya aku yang sadar saat melihat dia. Bahkan dia sendiri tidak melihat kami.” Ucap Tasla dengan nada menyesal.


“Uhh... padahal aku ingin bertemu dengannya, aku belum melihatnya sejak hari pertama disini.”


“Sabar, Razox.”


Lisa menghampiriku dan memelukku.


“Kita akan menemukannya bersama-sama.”


“Iya, terima kasih.”


CRAK


“Psstt... ada yang datang! Cepat sembunyi!” Bisik Tasla.


“Eh?”


Lisa langsung melepas pelukannya dan berlari, aku juga ikut mencari tempat persembunyian.


...


...

__ADS_1


...


Akirnya segerombolan orang masuk, aku baru melihat gerombolan itu.


“Wajah mereka terlihat mesum.” Bisik Ivi yang bersembunyi di sebelahku.


“Ya, kau benar.”


...


Gerombolan itu terus masuk ke dalam.


Ah, sial, sarapan kami masih terjajar rapih. Bahkan palu besar milik Ivi juga disana.


“Senjata yang bagus...” Ucap salah satu dari gerombolan itu sambil mengambil palu yang tergeletak begitu saja.


“Sepertinya disini ada orang.” Ucap salah satu juga dari gerombolan itu.


“Sepertinya ada lima orang.”


“Bagus, itu pas untuk kita. Kalau begitu, ayo cari mereka!”


“Memang kenapa? Kami tidak punya kartu pelajar.” Bisik Ivi.


“Tetap saja, kita akan dibunuh kalau sampai ketahuan.” Balasku dengan berbisik juga.


...


Gerombolan itu berpencar untuk mencari kami yang bersembunyi di ruang ini. Aku tidak tau yang lain bersembunyi dimana, di sebelahku hanya ada Ivi, kami berdua bersembunyi dalam kegelapan.


“...”


Seseorang lewat di depan kami, tapi dia tidak menyadari kalau ada kami di penglihatannya.


“...”


“Hachoo!!” Tasla secara tidak sengaja bersin.


“!!!” Mereka langusng menyadarinya.


“Hei! Cepat kesini! Ada orang!”


“Jangan!”


Tasla langsung di tarik dari tempat persembunyiannya. Dia bersembunyi di seberang kami.


“Heh?! Ada satu lagi!”


Orang yang bersembunyi bersama Tasla juga ditarik, dan dia adalah Claudia.


Mereka berdua langsung disekap dan dijatuhkan.


“Wah, ada Claudia... gadis paling populer di sekolah... kenapa bisa sendiri? Mana pacarmu??” Salah satu dari mereka mengelus-elus rambut Claudia.


Ivi terlihat sangat geram dan ingin sekali untuk menghajar mereka, tangannya saja sudah dikepal.


“Dan, teman setianya... betapa beruntungnya kami.”


SRRRTT


Orang dia menggerakkan sesuatu di celananya.


“...”


Dia membuka resleting celananya!


“Tunggu! Jangan sekarang! Tadi kau bilang ada lima orang di ruang ini, berarti sekarang masih ada tiga lagi.”


“Uhh...”


...


Aku melihat Lisa sedang bersembunyi di seberang, dia memberi isyarat untuk lari.


“Dia ingin kita lari? Haruskan kita melawan mereka?” Tanya Ivi.


“Sepertinya begitu, aku takut mereka mengancam kalau mereka akan membunuh Claudia dan Tasla.”


“Baiklah.”


Kami memberi isyarat kepada Lisa agar lari dari tempat ini. Kami berdua akan mengalihkan perhatian orang-orang itu, sedangkan Lisa akan lari duluan, lalu kami akan melawan mereka untuk melarikan diri.


Lisa setuju dengan rencanaku.


“Baiklah, bersiap...”


Aku memberi aba-aba kepada Lisa agar bersiap untuk lari sekencang mungkin.


3...


2...


1!!


“Sekarang!!!” Aku dan Ivi langsung melompat untuk mengagetkan mereka, sementara Lisa mengambil kesempatan untuk lari.


Lisa berlari keluar ruang.


DUAK DUAK


Aku dan Ivi memukul orang-orang itu dan langsung lari menyusul Lisa.


Di luar ruang, aku melihat Lisa sedang berlari, aku langsung mengajak Ivi untuk menyusulnya.


“Lisa! Tunggu kami!”


Untungnya Lisa mendengar kami, dia memperlambat kecepatan berlarinya agar kami bersampingan.


“Kemana kita?” Tanya Lisa.


“Tentu saja kebawah!”


“Ada yang aneh.” Ucap Ivi.


“KYAAAAAAA!!!!”


Terdengar suara teriakan dari ruang yang baru saja kami tinggalkan.


“Itu suara Claudia!” Ucap Lisa.


“Kita harus menolongnya!” Lisa menahanku berlari.


“...”


“Tidak bisa.”


“Kenapa?!”


“...” Aku melanjutkan jalanku.


“Razox!”

__ADS_1


Kami berlari ke lantai bawah dan bersembunyi di ruang kosong.


...


“Hiks... hiks...”


Lisa menangis di ruang itu...


“Jangan menangis, Lisa, kita akan kembali untuk menjemput mereka.” Ucap Ivi yang menyemangati Lisa.


“Untuk apa?! Mereka sudah mati! Kau tidak dengar?! Mereka diperkosa!” Teriak Lisa dengan mata yang berkaca-kaca.


“Uh, maafkan aku...”


“...”


Aku tiba-tiba merasa bersalah karena membuat Lisa sedih.


“Aku menawarkanmu untuk balas dendam, aku akan mencari pembunuh mereka dan membunuhnya.”


“Eh?!” Lisa kaget mendengar tawaranku.


“Sejujurnya aku tidak terima mengetahui hal itu.”


“Diperkosa.”


“Dibunuh.”


“Dan diambil kartu pelajarnya.”


“Lalu keluar dari tempat ini begitu saja.”


“Mereka pasti belum jauh dari tempat tadi.”


“Ayo kita kesana!” Ajakku.


Lisa berhenti menangis dan langsung bangkit.


“...”


“Ayo.”


...


Kami kembali ke lantai 20 dan masuk ke ruang dimana kami meninggalkan Claudia dan Tasla.


“...”


“Claudia...”


“Tasla...”


“...”


Mereka berdua tewas dengan keadaan baju yang robek.


“Jelas mereka memperkosa mereka.”


“...”


Lisa terlihat sangat geram dan ingin sekali menghajar mereka, namun dia tau kalau dia tidak punya tenaga untuk melawan mereka.


“Selamat datang.” Ucap seseorang yang muncul dari kegelapan.


“Aku tau kalian akan datang...”


Aneh, dia terlihat sendiri, aku tidak merasa ada keberadaan orang lain di ruang ini.


“Tapi sayang sekali.”


“Kalian terlambat.”


“Tapi aku jujur saja, tubuh Claudia terasa sangat nikmat walaupun dia sedang mengandung.” Ucap orang itu dengan muka mesumnya, Ivi terlihat jijik dengan muka itu.


“Kalian harus membayar atas perbuatan yang sudah kalian lakukan.” Ucap Lisa.


“Jangan gunakan kata ‘kalian’, aku sendirian disini, menunggu kalian.” Balas orang itu.


“...”


“Tidak mungkin! Panggil semua orang-orangmu!” Teriak Lisa.


“HEEAA!!!” Dia langsung maju untuk menyerang tanpa berpikir.


“Lisa! Tunggu!”


“Habisi dia.” Orang itu menunjuk Lisa.


Lisa langsung dikepung oleh 4 orang lainnya,


“Menjauh darinya!” Teriakku.


Sial, palu besar milik Ivi sudah dipegang mereka, aku harus melawan mereka dengan tangan kosong.


“Kubilang menjauh darinya!” Aku langsung berlari ke arah mereka dan menghajarnya.


DUAK DUAK


Ivi juga membantuku.


Mereka semua terjatuh dan tidak bisa melawan lagi walaupun mereka memegang senjata.


“Lari!”


Mereka juga langsung berlari meninggalkan ruang ini.


“...”


...


“Claudia... Tasla... maafkan aku...” Lisa berlutut di depan mayat Claudia dan Tasla.


“...”


“...”


“Ada apa ribut-ribut disini?” Ucap seorang laki-laki dari luar ruang.


“Aku sedang beristirahat di sebelah.”


Seseorang menampakkan dirinya di pintu masuk ruang ini.


“Apa?!”


“Tidak mungkin.”


“...”


“Cinta!”


 

__ADS_1


 


__ADS_2