
TINGTING
“Selamat pagi semua!”
“Sekarang hari ke-52! Sisa siswa saat ini adalah 220 dari 320! Pastikan kalian bisa bertahan hidup sampai waktu habis!”
“Semoga beruntung!”
TINGNONG
Aku dan Ivi terus berjalan mengelilingi lantai 21 sampai 30 selama hari berlalu, kami belum berani untuk turun lebih jauh, tepatnya aku yang tidak berani.
Ivi terus saja mengeluh setiap aku berencana untuk naik ke lantai atas.
Sekarang kami berada di ruang di lantai 30.
“Razox, ayo kita turun ke lantai 1!!!” Ajak Ivi sambil menarik-narik bajuku.
“Iya, iya, kita tidak bisa terburu-buru untuk turun, kau ingat?”
Melihat Ivi merengek seperti itu mengingatkanku kepada adikku saat dia ingin membeli mainan robot-robotan saat masih kecil...
“Kita tidak bisa turun sekarang, jumlah siswa yang tersisa belum habis setengahnya.” Tambahku.
“Uh...” Ivi berhenti menarik bajuku.
“Razox, apa ada temanmu yang belum ketemu sampai hari ini?” Tanya Ivi dengan nada serius.
“Eh? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Tidak apa, jawab saja.”
“...”
Aku mencoba mengingat dan menghitung orang yang sudah kutemui.
“Sepertinya sudah semua.” Ucapku dengan yakin.
“Dan beberapa dari mereka juga sudah mati...” Tambahku.
“...”
“Aku juga begitu... sepertinya.” Balas Ivi yang terlihat murung.
“Tapi aku bersyukur bisa bertemu denganmu.” Lanjutnya, wajahnya berubah menjadi tersenyum cerah, padahal dia berada di tempat yang suram seperti ini.
“Apalagi kau tadi bilang kalau kau sudah bertemu yang lain. Masih ada harapan untuk menemui mereka.”
“Ivi, sebenarnya gadis itu juga mengkhawatirkanmu sejak hari pertama, aku bertemu dengannya saat hari pertama.” Ucapku.
“Dia terlihat sangat putus asa, dan menunggu ada yang membunuhnya.”
“Tapi Tino menyemangatinya, dia berjanji akan membantu gadis itu untuk menemuimu dan keluar dari tempat ini.”
“Lalu apa peranmu?” Tanya Ivi.
“Eh? Jelas aku membantu dia juga.” Jawabku sedikit emosi.
“Hahaha... aku tau, kok, suasana ini terlalu tegang...” Balas Ivi dengan tawa kecilnya.
“...”
“Hehehe...” Aku ikut tertawa kecil saja.
“Razox, apa kau yakin kalau semua temanmu sudah kau temui?” Tanya Ivi dengan pertanyaan yang seperti tadi.
“Ya, aku yakin.” Jawabku dengan tegas.
“...”
Kami saling bertatap wajah, seakan ada yang kurang.
“Eh?”
“Razox?”
“Lulu! Aku belum menemuinya!”
“Aku belum menemuinya dari hari pertama!”
Tiba-tiba aku panik dan berjalan mondar-mandir.
“Razox!” Ivi langsung memegang tanganku.
“Tenanglah, kita akan menemuinya, sama seperti Cinta akan menemukanku.”
“...”
“Uh, maaf, aku tidak tau kenapa aku bisa sekhawatir ini.” Ucapku sambil memegangi kepalaku yang sakit.
“Ya, itu wajar, kok. Kau mengkhawatirkan orang yang kau pedulikan.” Ucap Ivi.
“...”
“Kau membuat pikiranku tambah sakit.” Balasku ketus.
“Mungkin saja dia ada di lantai yang belum kau kunjungi.” Ucapnya lagi.
“Coba ingat, dari lantai paling atas sampai sini, kita belum menemukan mayat Lulu, dia masih memiliki kemungkinan kalau dia masih hidup.” Ucapnya mencoba menyemangatiku.
“Ya, kau benar.”
“Kalau begitu, ayo kita lanjutan perjalan kita ke lantai 1, sekaligus mencari dia!” Ajakku melangkah keluar.
“Eh?”
“Seharusnya aku bertanya seperti ini dari kemarin.” Gumam Ivi.
...
Aku dan Ivi berjalan turun, dan kami berada di lantai 27.
“...”
Kami berpapasan dengan seseorang.
“Ivi!” Panggil orang itu yang langsung menghampiri Ivi.
“Eh? Apa kau kenal dia?” Tanyaku.
__ADS_1
“Tentu.” Jawabnya singkat.
“Dia teman dekatku.” Tambahnya.
“Puzzle!” Ivi meneriaki namanya dan menghampirinya juga.
“...”
“Aku tidak tau ada nama itu di angkatanku.” Gumamku.
Mereka terlihat berpelukan.
“Ivi! Kemana saja kau?! Aku tidak melihatmu sejak lama!” Ucap Puzzle.
“Aku bersama dia.” Ivi menunjukku, dan aku langsung memberi lambaian tangan canggung.
“Kau sendiri bagaimana?”
“Aku tadinya bersama yang lain, tapi mereka mati terbunuh.”
“Uhh... tempat ini memang kejam.”
“Bagaimana kalau kau ikut dengan kami?” Ajak Ivi.
“Eh? Tidak apa? Nanti aku merepotkan kalian.” Ucap Puzzle ragu.
“Tidak apa.” Ucap Ivi dengan anggukan kepalanya.
“Te-terima kasih...”
“Bukannya Ivi bilang itu teman baiknya, seperti baru kenal.” Bisikku.
“Apa dia seperti itu karena ada aku?”
“Puzzle, bagaimana dengan kartu pelajarmu? Apa kau sudah mendapatkannya?” Tanya Ivi.
“Belum!”
“Kalau begitu ini.” Ivi memberikan 1 kartu pelajar kepada Puzzle.
“Aku masih ada banyak, kok.” Ucap Ivi tersenyum.
“...”
“!!!”
Aku menyadari ada langkah yang masif ke arah kemari.
“Ivi!”
Gerombolan orang langsung mencegat kami berdua dari depan dan belakang, sehingga kami tidak memliki celah untuk kabur, kecuali melompat dari koridor dan terjun ke kolam lahar jika kami mau.
“Well, well, well...” Ucap seseorang dari gerombolan itu.
“Kerjamu bagus juga sebagai orang baru.” Ucapnya lagi.
Mereka langsung menarik Puzzle, dan ada yang menodong kami dengan senjata tajam.
“Puzzle!” Teriak Ivi.
“Kalian berdua!” Teriak orang itu.
“Serahkan semua kartu pelajar kalian! Dan kami akan membiarkan kalian hidup.” Bentak orang itu.
“Maafkan aku, Ivi.” Ucap Puzzle dengan wajah murung.
“Iya, ini juga bukan salahmu.” Ucap Ivi.
“Cepat serahkan!” Bentak orang itu yang menginterupsi mereka.
“Uh, aku menyesal membuang gergaji mesin itu.” Keluhku.
Aku ingin melawan mereka, tapi aku sudah kalah jumlah dan persenjataan, 2 lawan 12. Bisa bisa aku yang kalah dan tewas.
“Razox, apa kita harus melawan?” Tanya Ivi.
“Sepertinya tidak, serahkan saja kartu pelajar milik kita.” Jawabku pasrah.
Kami berdua mengeluarkan semua kartu pelajar kami dan melemparnya kepada mereka.
“Sekarang pergi.” Ucapku sinis.
“Baiklah.” Balas orang itu yang kelihatannya adalah pemimpin mereka.
Pemimpin mereka mengambil kartu pelajar kami tanpa melihat kami.
“Banyak juga.” Ucapnya.
Dia langsung berjalan menjauhi kami lagi.
“Habisi dia.” Ucapnya sambil membelakangi kami.
“Eh?” Aku bingung dengan maksudnya.
Apa mereka akan menghabisi kami dan mengingkari janji mereka?
Gerombolan dan yang ada di belakang kami melewati kami begitu saja dan berjalan...
... menuju Puzzle.
“Eh?” Aku tambah bingung.
Mereka mendekap Puzzle dan mengangkatnya.
“Ivi!” Teriaknya.
“Aku sudah tidak membutuhkannya.” Ucap Pemimpin mereka.
“Puzzle!” Teriak Ivi yang langsung berlari menghampirinya.
DUAK
Tapi salah satu dari mereka menendang wajah Ivi sampai dia terjatuh.
“Hei!” Aku kesal melihat tindakan mereka.
Dan mereka lempar Puzzle keluar koridor...
“Ivi!!!”
__ADS_1
“Puzzle!!!”
“...”
“Ayo, kita pergi dari sini.” Ajak pemimpin mereka.
“...”
“Kau.” Ivi yang tertunduk menunjuk pemimpin mereka.
“Hm?” Dia meresponnya seakan tidak terjadi apa-apa.
“Kau...”
“Sebaiknya aku tidak ikut campur.” Aku sedikit melangkah mundur.
“BERANINYA KAU!!!” Ivi langsung bangkit dan berlari ke arah pemimpin mereka.
Ivi langsung maju dan menghajar mereka semua dengan tangan kosong, walaupun dia memiliki palu besar.
“...” Aku melihat keganasan Ivi dari kejauhan.
“Aku tidak boleh membuat dia marah.” Ucapku ciut.
“Ugh! Lari!”
Semuanya terkalahkan sampai mereka tidak berdaya, namun pemimpin mereka yang memegang semua kartu pelajar berhasil melarikan diri.
“...”
“Kenapa?”
“Kenapa mereka tega melakukan hal seperti ini kepada orang sebaik Puzzle?”
“...”
“Harusnya dia bergabung saja denganku.”
Ivi terlihat sangat sedih, karena hal itu, aku tidak berani untuk mengganggunya.
“...”
“Ivi, biarkan saja, mereka sudah membayar.” Ucapku grogi.
“Tidak! Mereka belum membayarnya!” Bentak Ivi.
“HII!! Ta-tapi pemimpin mereka kabur...” Ucapku yang ketakutan melihat kemarahan Ivi.
“Aku tau, dan saat bertemu lagi di lantai 1, aku akan membunuhnya. Karena ini masalah pribadi...”
“Baiklah...”
...
...
...
TINGTING
“Selamat pagi semua!”
“Sekarang hari ke-53! Sisa siswa saat ini adalah 210 dari 320! Pastikan kalian bisa bertahan hidup sampai waktu habis!”
“Semoga beruntung!”
TINGNONG
Kami bermalam di ruang di lantai 27, dimana kami bertemu dengan Puzzle.
“Razox, bagaimana kalau kita turun ke lantai 1 sekarang.” Usul Ivi.
“Sampai waktunya habis.” Tambahnya.
“Nanti Cinta juga ada disana.” Tambahnya lagi.
“Tino juga ada disana.” Tambahnya lagi.
“Eh?” Aku menyadari sesuatu.
“Ada apa, Razox?”
“...”
“Entahlah, tiba-tiba aku teringat sesuatu...”
“Aku sampai melupakan hal ini, kenapa aku bisa ke lantai paling atas sendiri? Padahal saat itu, aku dan Tino sedang mengambil kursi roda milik gadis itu di lantai 25, apa benar Tino yang membuatku seperti ini?” Jelasku.
“Sudahlah, tidak usah dipikirkan, lagipula manamungkin Tino melakukan hal seperti itu kepada teman baiknya sendiri.” Ucap Ivi menyikutku dengan pelan.
“...” Aku memikirkan sesuatu mendengarnya.
“Baiklah, kalau begitu, ayo kita lanjut...” Ajakku.
...
Kami turun ke lantai 25 lagi, dan untungnya tidak ada kendala apapun dalam perjalanan kami.
“Kenapa tempat ini selalu terlihat sepi, ya?” Tanya Ivi yang memecah keheningan.
“Tempat ini sebenarnya ramai, tapi nanti di lantai 1.” Jawabku sok tau.
“Dan kenapa juga kita ditempatkan di tempat seperti ini?” Tanya Ivi lagi.
“...” Aku langsung menghentikan langkahku.
...
Ivi juga ikut berhenti.
“Razox?”
Aku baru menyadari sesuatu, lagi. Orang-orang disini terlalu fokus untuk keluar, tapi mereka sama sekali tidak tau kenapa mereka berada di tempat ini.
“Benar juga...”
“Ivi, kita akan menemukan jawaban itu nanti.”
“Ketika kita keluar dari tempat ini.”
__ADS_1