I Want A Normal Life : No Romance

I Want A Normal Life : No Romance
#36


__ADS_3

“Cinta!”


Ivi langsung terlihat bahagia.


Dia langsung berlari menghampiri gadis itu.


“Berhenti disitu!” Ucap seseorang dari belakang gadis itu.


Orang itu menunjuk Ivi dengan pisau.


“...”


Ivi langsung menghentikan langkahnya.


“...”


“Tino?!” Ivi kaget melihat kemunculan Tino.


“Tino! Kemana saja kau?!” Tanyaku.


“Eh?” Aku bingung melihat kalau itu adalah Tino.


“...”


Tino menatap sinis Ivi.


Tatapan itu...


Berbeda dari biasanya...


“Tino, apa itu benar kau?” Tanya Lisa.


“Eh?”


Dia menyadarinya juga? Ada yang berbeda dari Tino.


“Sepertinya kau masih sama seperti saat itu.” Lanjutnya.


Saat itu...


“Maaf, tapi aku kekurangan kartu pelajar...” Ucap Tino dingin.


“...”


Gadis itu kaget ketika melihat Tasla dan Claudia sudah tewas di hadapannya.


“Siapa yang tega melakukan hal ini kepada mereka??” Tanya gadis itu yang sudah mengeluarkan air mata.


“Maafkan aku, Cinta, aku tidak sempat menyelamatkan mereka.” Ucap Ivi dengan nada menyesal.


“Dia harus mati dalam keadaan mengandung anaknya...”


“Eh?” Aku bingung mendengarnya.


“Kau tau soal itu?” Tanyaku untuk memastikan.


“Iya...”


Gadis itu memalingkan wajahnya dariku.


“Aku tau sejak pertama melihatnya...” Ucapnya dengan nada lemas.


“...”


“Tunggu, maksudmu dia...”


“Ya, Razox, dia hamil!” Ucap Ivi.


“Hah? Serius?”


“Iya, kau ‘kan sudah dikasih tau juga soal itu! Makanya kau diminta menjadi ayah dari anaknya untuk sementara.”


“Eh? Kukira dia hanya bercanda.”


“Kau ini bodoh, ya...”


“...” Aku langsung tertunduk dan berpikir.


“Kenapa kau tidak bilang hal itu, Cinta?” Tanya Ivi.

__ADS_1


“Aku tidak ingin menuduhnya sembarangan!” Ucapnya membela diri.


“Aku takut dia tidak terima dan menuduhku balik sebagai pemfitnah!” Lanjutnya dengan nada tinggi dan menahan air mata yang terus keluar.


“...”


Aku baru dengar gadis itu berteriak sekaligus sedih.


Kepadaku.


“Ti-tidak apa-apa, Cinta, katakan saja dari awal, kemarin dia sendiri kok yang bilang seperti itu.” Ucap Ivi dengan tenang.


“Maaf,” Ucap Tino dengan nada tinggi.


“tapi aku kekurangan kartu pelajar, sebenarnya aku sudah ada dua kartu pelajar, tapi Cinta masih satu.”


“Bisakah kalian memberikannya satu kartu pelajar untuknya?” Tanya Tino dengan nada datar.


“...”


“Bukannya kita tidak punya kartu pelajar?” Bisikku.


“Ada apa dengannya?” Bisik Ivi.


“Kau memaksa kami, Tino. Cinta tidak memaksa kami untuk memberikan kartu pelajar kami, bahkan dia tidak memintanya.” Ucap Ivi.


“Ya! Dia benar!” Tambahku.


“Lagipula kenapa kau melakukan ini?”


“...”


Tino diam saja, dia sama sekali tidak berkata apa-apa setelah aku bertanya.


Sedangkan gadis itu menatap Tino, seakan-akan matanya berkata untuk menjawabku.


Tapi kelihatannya Tino tidak peduli dengan hal itu, dia terus menatapku dengan tatapan kebencian.


“Uh...” Dan akhirnya Tino mengeluarkan suara.


“Harusnya aku membunuhmu saja.”


“Ha!” Tiba-tiba aku langsung menyadari sesuatu.


Tidak hanya hal itu saja, tiba-tiba ada ingatan yang terlintas di dalam pikiranku.


Saat itu aku tidak langsung pingsan dan sadar di lantai paling atas, aku beberapa kali sadar dalam keadaan digendong, tapi ketika aku akan sadar sepenuhnya, Tino memukulku hingga membuatku pingsan lagi. Dia terus melakukan hal itu sampai dia meletakkanku begitu saja di lantai paling atas.


“Uh, kami menunggumu, dan saat kau kembali, kau langsung mengamuk seperti orang gila yang kehilangan kewarasannya.” Ucap Lisa.


Jadi itu sebabnya aku berada di lantai paling atas...


“...” Tino terlihat ingin berkata lagi.


“Aku tidak membunuhmu karena aku yakin kalau kau akan mati dengan sendirinya jika kau mulai dari lantai paling atas.” Ucap Tino.


“Tapi kau salah!” Balasku.


“Kau seharusnya tidak membuatku berada di lantai paling atas, karena dari lantai 35 ke atas, sudah tidak ada orang.”


“Aku tau itu.” Ucap Tino.


“Eh?”


“Aku sempat berpikir kalau kau tidak akan kuat dalam kesendirian seperti itu, tapi aku salah lagi. Kau sudah sangat terbiasa sendirian, hal itu tidak bisa membunuhmu...”


“Aku salah memperhitungkannya.”


“Ugh...”


Entah kenapa, aku kesal mendengarnya, sampai-sampai aku mengkepalkan tanganku.


“Sudalah,”


“cepat berikan kartu pelajar kalian.” Ucap Tino.


“Ka-kami tidak punya satu pun.” Ucapku dengan nada halus.


“Jangan berbohong!” Bentak Tino.

__ADS_1


“Dia tidak berbohong.” Ucap Ivi membelaku.


“Bohong!” Teriak Tino.


Tino langsung berlari ke arah kami, tepatnya dia berlari ke arah Lisa.


“Lisa!” Aku juga langsung berlari ke arah Lisa, tapi jarak dia lebih dengan Tino lebih dekat daripada jarakku dengannya.


“TINO!” Teriak gadis itu.


JLEB


“...”


Aku terlambat lagi.


Tino menusuk Lisa dengan pisau tepat di jantungnya.


“...”


“Ke... kenapa kau melakukan ini???” Tanya Lisa yang sudah mengeluarkan darah dari mulutnya.


Ivi dan gadis itu terlihat shock melihat apa yang baru saja di lakukan oleh Tino.


“Ti-Tino...”


“Bukankah kau suka denganku?”


BRUK


Dan akhirnya Lisa terjatuh...


“KYAAA!!!” Gadis itu langsung berteriak histeris.


“Tino! Kenapa kau melakukan itu?!” Tanya Ivi.


“...”


Tino tidak menjawabnya, dia justru merogoh kantung baju Lisa, dan mengambil kartu pelajarnya.


“...”


Dia diam dan melihat kartu pelajar itu.


“Khuhu... dia belum mengambil kartu pelajar siapapun.” Ucap Tino.


“...”


“Kenapa kau tidak menyerang kami?” Tanyaku.


“Aku tau kau tidak berbohong, kau memang tidak punya kartu pelajar.”


“Aku tau itu.” Tino berdiri dan kembali menuju kursi roda gadis itu.


“...”


“Baiklah, aku dan Cinta sudah punya dua kartu pelajar...”


“Jadi... sampai bertemu di lantai 1.” Ucap Tino yang beranjak pergi sambil mendorong kursi roda gadis itu.


“Tunggu!” Teriak Ivi.


“...” Tino menghentikan langkahnya karena mendengar Ivi.


“Apa, Ivi?” Tanya gadis itu.


“Tino, kenapa kau melakukan semua ini? Aku tau kau adalah orang yang baik, aku sering melihatmu bersama Razox, tapi kenapa kau menjadi seperti ini? Apa yang membuatmu menjadi seperti ini? Padahal kita semua bisa keluar bersama dari tempat ini.”


“...”


“Tino, tolong jawab.” Ucap gadis itu sambil menatap Tino dengan wajah memohon.


“Uhh...”


Tino berbalik dan menghadap kami.


“Semua ini karenamu.” Ucap Tino dingin.


Dan dia menunjukku.

__ADS_1


 


 


__ADS_2