
“RAZOOXX!!”
Tino langsung berlari ke arahku dan ingin menusukku dengan pisaunya.
“Awas!” Aku secara reflek mendorong Ivi agar menjauh.
Kami berdua sampai jatuh.
“Menjauh! Dia hanya mengincarku.”
Aku dan Ivi langsung berguling ke arah yang berbeda, dan benar kalau Tino hanya mengincarku.
Tino terus mencoba menebasku, tapi aku terus menghindar.
SRING
“BERANI SEKALI!”
SRING
“KAU!”
SRING
“MENGANGGAP CINTA!”
SRING
“BEBAN!”
“RAZOOXX!!”
“Tino, tenanglah! Dengarkan aku.”
Aku harus tetap menajaga ketenanganku.
“Kau telah dibutakan hal itu.”
“DIAM KAU!”
SRING
“UNTUK SELAMANYA!!”
SRING
Gadis itu tidak menghentikan Tino, dia benar-benar tidak punya kekuatan untuk melakukan hal itu.
“Apa benar...”
SRING
“... kau akan...”
SRING
“... keluar dari tempat ini?”
SRING
“YA! AKU AKAN KELUAR DARI SINI BERSAMA CINTA!”
Aku melihat Tino lengah.
Ini saatnya.
BUK
Aku menendang kaki Tino sampai dia terjatuh.
“Akh!”
“...”
“Tino, aku tidak akan membunuhmu.”
“Walaupun barusan kau sangat ingin aku mati disini.”
“...”
“Ayo, kita keluar bersama dari tempat ini.”
Aku mengulurkan tanganku untuk Tino.
“...”
“...”
Dia tetap menatapku dengan tatapan kebencian.
“Kau teman baikku sejak aku masih di SD dulu.”
“...”
“Kita akan lulus dari SMA bersama lagi.”
“...”
__ADS_1
“TIDAK AKAN!”
DUAK
Tino langsung menendangku hingga aku jatuh terpental.
“Aduh!”
Tino langsung menghapiriku dan berdiri di atasku dengan menodongkan pisau tepat di depan wajahku.
“Aku akan memaafkanmu,”
“...”
“jika kau meminta maaf kepada Cinta.” Ucap Tino menunjuk gadis itu yang berada di dekat pintu.
“...”
“Kenapa?”
“Tidak mau, ya?”
“KALAU BEGITU MATI!”
Tino langsung melayangkan pisau ke arahku.
“Aku tidak akan mati disini!”
DUAK
Aku menendang Tino lagi sampai dia terjatuh.
“Ivi! Cepat lari dari tempat ini! Bawa gadis itu!” Aku langsung berlari ke pintu keluar.
“Baik!”
Sedangkan Ivi berlari ke arah gadis itu untuk memegang kursi rodanya.
“Ivi!”
Ivi mendapatkan kursi rodanya dan tinggal berbalik lalu keluar dari tempat ini.
“JANGAN LARI!!!” Teriak Tino.
Tino yang belum berdiri, melempar pisau itu ke arah kami.
“Awas!”
Aku menghindar.
Ivi menghindar.
“...”
“...”
“...”
Tidak semuanya menghindar, gadis itu tidak bisa menghindar, dia tetap di kursinya, dan baru saja tertusuk di dada oleh pisau yang dilempar Tino.
“Cinta!”
Tino langsung bangkit dan menghampiri gadis itu. Kami langsung mundur saat Tino menghampirinya.
“Ti... no...”
“Cinta! Maafkan aku! Aku akan mengobatimu!” Tino langsung memegang tangan gadis itu.
“Tidak apa-apa, Tino...” Ucap gadis itu yang sudah tidak bertenaga.
“Ini bukan salahmu...”
“Cinta! Jangan tinggalkan aku! Aku mohon!”
“Tino... keluarlah dari tempat ini...”
“Tidak! Aku sudah berjanji denganmu!”
Tino sudah menahan tangisnya.
“...”
“...”
“Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak!”
Terlambat, kita kehilangannya.
“CINTAAAA!!!”
“...”
Aku berteriak...
Namanya...
Kenapa aku melakukannya?
__ADS_1
Aku langsung berlari ke arah Cinta.
“Tino!”
DUAK
Aku langsung menendang kepala Tino.
“Lihat perbuatanmu!”
“...”
“...”
“...”
“Maafkan aku.” Ucap Tino sambil tertunduk.
“Kau membunuh orang yang tidak berdaya!”
“Maafkan aku.”
“Cinta!!” Ivi berlari menghampiri gadis itu.
“Cintaaa!!!” Dan teriak menangisi kematiannya.
“Uh...” Aku juga menahan tangis dengan mengepalkan tanganku dan mengigit gigiku.
“Tino, tadi Cinta berpesan untuk keluar dari tempat ini.” Ucap Ivi.
“Ayo.” Ajaknya.
“Maaf, aku tidak bisa.”
“Eh?”
“Aku sudah berjanji padanya, jika dia mati, aku juga akan mati.”
PLAK
Aku menampar Tino.
“Dia ingin kau selamat dari tempat ini! Jangan sia-siakan kematiannya!” Bentakku.
“Tidak, aku sudah berjanji padanya... dia justru mati oleh kesalahanku sendiri...”
“...”
“Ini.” Tino memberiku sesuatu ke tanganku.
“Eh?”
“Ya, itu adalah kartu pelajarku, dan milik orang lain yang kudapat, kuserahkan padamu.” Ucap Tino.
“Eh? Bagaimana denganmu?”
“Tidak usah dipikirkan, aku sudah tidak punya alasan untuk hidup.” Ucap Tino.
BUK
Dia memukul wajahku hingga kuterjatuh, dan kemudian berjalan keluar.
“Tino!”
“Razox, selamat tinggal.”
“Tino!”
“Terima kasih.”
“TINO!”
“...”
Dia lompat keluar koridor,
langsung menuju kolam lahar.
“...”
Aku berdiri lagi dan menghampiri Ivi, dia masih menangisi kematian Cinta.
“Kenapa ini bisa terjadi padamu??”
“Ivi, ayo kita pergi.” Ajakku sambil memegang pundaknya.
“Eh? Meninggalkan dia begitu saja?”
“Iya, aku tidak tau harus berbuat apa lagi.”
“...”
“Orang-orang tidak boleh tau, kita akan meletakkannya di ujung ruang yang gelap.” Ucap Ivi.
“Maaf, Cinta, aku harus melakukan ini.” Gumam Ivi.
...
__ADS_1