
TINGTING
“Selamat pagi semua!”
“Sekarang hari ke-153! Sisa siswa saat ini adalah 162 dari 320! Pastikan kalian bisa bertahan hidup sampai waktu habis!”
“Karena sebentar lagi pintu keluar di lantai 1 akan dibuka!”
“Semoga beruntung!”
TINGNONG
Kami berdua tidak langsung ke lantai 1, kami berdua berada di lantai 2.
“Jumlah siswa sudah habis setengah...”
TINGTING
“Tambahan!”
“Karena tepat pada pergantian hari nanti pintu keluar akan dibuka, dengan menyesal kami memberitahukan bahwa tidak ada pembaruan stok makanan untuk hari ini.”
“Dan, ‘Dewa Kematian’ sudah sampai di lantai 20, diharapkan kalian cepat ke lantai 1.”
“Terima kasih.”
TINGNONG
“Apa?!”
“Dia tidak bercanda!” Ucap Ivi sambil membuka kulkas yang isinya adalah sisa makanan kemarin.
“Uh!”
DUK
“Sial!” Aku kesal sampai-sampai aku memukul tembok.
“Bagaimana ini?” Ivi terlihat khawatir.
“Kita harus menahan lapar sampai besok!”
“Eh?” Ivi bingung mendengar saranku.
“Maksudku kita harus cepat ke lantai 1, ‘Dewa Kematian’ menuruni 20 lantai dalam 1 hari, sebentar lagi dia pasti disini!” Ucap Ivi.
“Be-benar, kita harus cepat ke lantai 1!” Ucapku yang langsung berlari.
...
Kami sampai di lantai 1, disana cukup banyak orang, mungkin 80 orang, mungkin karena sekarang masih pagi. Mereka sedang mengantre untuk ke pintu keluar di ujung lorong. Kami pun masuk ke antrean itu.
“Yap, sudah kubilang tidak akan ada pembunuhan di tempat ini.” Ucapku dengan percaya diri.
“...” Ivi terlihat murung walaupun dia akan keluar dari tempat ini.
Tempat ini cukup tenang...
Di lantai ini juga ada ruang kelas seperti lantai-lantai lainnya, bagaimana kalau orang dari hari pertama sudah di lantai 1, ya? Pasti sangat membosankan.
“Razox...” Ivi tiba-tiba memanggilku dan menarik bajuku dengan pelan.
“Hm?”
“Aku... aku harap ini yang terakhir... aku sudah tidak ingin terlibat lagi dengan yang seperti ini... melihat teman-temanku mati satu per satu... aku tidak kuat melihatnya...”
“...”
“Aku juga begitu, Ivi. Aku harap ini yang terakhir...”
“Uh, dan juga, aku telah melanggar janjiku sendri untuk tidak membunuh...” Ucapku menyesal tertunduk.
“Tidak, Razox, kau tidak membunuh siapapun selama disini...” Ucap Ivi.
“Kau hanya menghajar orang sampai dia tidak bisa bertarung lagi, mereka masih hidup, kok. Mungkin...” Tambahnya.
“...”
“Sekarang kita hanya menunggu sampai besok.” Ucapnya lagi.
...
...
4 jam...
“Razox... aku ingin ke toilet.” Ucap Ivi.
“Eh? Tapi kalau kita keluar dari antrean ini kita akan antre lagi dari belakang.”
“Tidak apa-apa, ayo.” Ajak Ivi.
...
Aku menemani Ivi ke toilet.
...
Tidak lama dia langsung keluar.
“Aku lapar, apa ada makanan yang bisa dimakan disini?” Tanya Ivi sambil memegangi perutnya.
“Aku tidak tau. Coba saja cari.”
Kami mencari setiap makanan di setiap kulkas yang ada di ruangan, tidak ada satupun makanan yang layak untuk dimakan, semuanya sudah basi.
“Mau mencoba mencarinya di lantai atas?” Tanyaku.
__ADS_1
“Tidak, itu terlalu berisiko, kita tidak tau ‘Dewa Kematian’ sudah di lantai berapa.”
“Baiklah...”
Kami kembali ke antrean paling belakang, orang di antrean itu sudah bertambah, kami tidak berdiri di tempat kami sebelumnya.
“Ivi...”
“Apa orang yang ingin kau bunuh ada disini dan terlihat?”
“...”
Ivi melihat sekitar dengan jeli.
“...”
“...”
“...”
“Tidak.”
“Sepertinya mereka sudah mati...”
...
Kemudian hening lagi, kami hanya diam menunggu.
...
...
4 jam lagi...
...
“Uh, aku tidak akan merekomendasikan sekolah ini kepada adikku! Walaupun sekolah ini serba gratis.” Keluh Ivi.
“...”
“Eh? Kau punya adik? Sepertinya kau tidak pernah bercerita tentang adikmu.”
“Ceritakan, dong!”
Itu untuk menghilangkan kebosanan menunggu.
“...”
Sepertinya Ivi akan menceritakan tentang adiknya, semoga saja perempuan.
“Aku punya adik perempuan...”
Yess...
“... yang 1 tahun lebih muda dariku.”
“Eh?”
“Aku tidak akan memberitahumu tentang adikku, kau pasti suka dengannya.”
“Ba-bagaimana kau bisa tau?!”
“Wajah mesummu sudah memperlihatkannya padaku. Aku tidak sudi kalau suatu saat nanti kau menjadi saudara iparku.”
“...”
“Baiklah kalau begitu, aku juga tidak akan merekomendasikan sekolah ini kepada adikku!”
“...”
“...”
“...”
“Apa?” Ivi menatap bingung kepadaku.
“Kau tidak bertanya tentang adikku?”
“Ti...dak...”
...
“Hei, Razox.”
“Kadang aku bertanya-tanya tentang adikku.”
“Apa dia mencariku, ya?”
“Mengingat kita belum pulang dan sudah berbulan-bulan di tempat ini.”
“...”
Aku baru ingat tentang itu, apa Jefran khawatir dengan keadaanku sekarang? Apa dia mencariku? Apa dia sadar kalau aku hilang?
TINGTING
“Eh?”
“Selamat sore, semua!!”
“1 menit sebelum waktu habis! Sisa siswa saat ini sudah 160! Pintu keluar akan segera dibuka!”
“…”
...
…
__ADS_1
…
“Sekarang!”
KRRRIIING
Suara bel yang cukup keras dari pintu keluar, pintu keluar langsung terbuka dan semua siswa langsung berjalan masuk dengan tertib, aku dan Ivi pun mengikuti mereka berjalan. Saat aku melewati pintu keluar, aku tidak langsung keluar dari tempat itu, ada ruang lagi, tapi bedanya, ruang ini tidaklah sepanas ruang tadi.
“Hohoho… Maafkan aku, kalian tidaklah langsung keluar.”
“Kalian lihat kapsul yang ada di ujung sana? Masuklah dengan teratur, gesek 2 kartu pelajar yang sudah kalian dapatkan di dalam kapsul, setelah itu kapsul akan berbalik dan kalian akan keluar dari tempat ini.”
“Terima kasih. Sampai jumpa lagi.”
TINGNONG
“Sampai jumpa lagi?”
Di ujung ruang ada 8 kapsul untuk dimasuki oleh 1 orang, kami semua mengantre untuk masuk ke kapsul itu.
...
...
...
Dan akhirnya giliranku, aku masuk ke kapsul itu dan Ivi juga masuk ke kapsul yang berbeda, kami masuk ke kapsul itu dengan bersamaan.
KLEK
Hmm... di dalam kapsul ini ternyata bisa melihat ke arah luar, menarik.
Gesekkan kartu...
1...
2...
“Baiklah, sekarang aku akan keluar dari tempat ini...”
“Eh?”
Aku melihat sesuatu yang tidak asing dimataku.
Itu...
Lulu!
“Lulu!” Aku langsung memanggilnya sampai aku menggedor-gedor dari dalam.
...
Dia sama sekali tidak menyadarinya.
Dia hanya menanggap kalau ada yang memberontak di dalam kapsul.
Kapsul ini sepertinya juga kedap suara, orang-orang yang ada di luar kapsul tidak bisa mendengarku.
DOK DOK DOK DOK
Suara gedoran dari kapsul sebelah, kapsul yang di tempati oleh Ivi.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa ini semua jebakan?
“Lulu!”
Semuanya menjadi gelap, dan akhirnya aku keluar dari tempat itu.
...
Sepertinya...
---
“...”
“Uhh...”
“Sedikit lagi...”
Aku melihat cahaya diujung lorong, itu pasti jalan keluar.
Aku harus bisa kesana.
Walaupun aku sudah tidak kuat, aku tetap memaksakan diri untuk pergi ke cahaya itu.
Aku sudah terlalu lelah, aku tidak bisa berlari, tidak bisa berjalan, aku hanya menuju cahaya itu dengan merangkak.
“...”
“Aku tidak boleh... mengecewakan yang lain...”
“Ivi, kemanakah dirimu???”
“...”
“...”
“Sedikit lagi...”
“...”
“Eh?”
JLEB
__ADS_1
“Maafkan aku.”