I Want A Normal Life : No Romance

I Want A Normal Life : No Romance
#12 - Dia


__ADS_3

“Cinta, apa kau bisa pulang sendiri?” Tanya Ivi.


“Umm... bisa, tapi nanti ibuku pasti akan bertanya tentang kalian.” Jawab gadis itu.


“Uhh... kalau begitu aku akan mengantarmu sampai halte depan.” Ucap Ivi.


Kami mengantar gadis itu sampai halte depan sekolah.


“Kami langsung tinggal, ya.”


“Iya...”


Tidak sampai ibunya datang, kami langsung kembali ke perpustakaan.


BIP BIP BIP


Kami bertiga masuk ke perpustakaan, keadaan di dalam sudah sepi dan tidak ada orang, termasuk penjaga perpustakaan yang biasanya ada di tempatnya.


“Ternyata ruang ini kedap suara...” Ucap Ivi.


“Sepertinya aku pernah ke tempat ini...” Tino melihat komputer di ujung ruang.


“Ayo, kita pasti akan menemukan sesuatu.” Ajak Ivi yang terus berjalan.


Padahal perpustakaan ini tidak terlalu luas, mudah menemukan sesuatu disini.


“Eh?” Ivi menyadari sesuatu.


“Hei, kemarilah...”


Aku dan Tino menghampiri Ivi, dia menunjukkan sesuatu.


“Lihat itu.”


Ivi menunjuk tangga yang menuju ke bawah, tepatnya pintu yang ada di ujung tangga itu.


“Ruang itu...”


‘Staff Only’


“Pasti ada yang bisa kita temukan disana, ayo.” Ajak Ivi.


Dia mengambil langkah pertamanya untuk menuruni anak tangga menuju pintu itu, Aku dan Tino pun mengikutinya.


KRRIIEETT


Kami melewati pintu itu dan masuk ke dalam ruang yang ada di balik pintu itu.


“Ini... seperti dungeon yang sering dimainkan Razox.” Ucap Tino.


“Apa benar ini tempat ‘Staff Only’?”


Kami terus berjalan menyusuri tempat itu, dan melihat kurungan dengan jeruji besi.


“Razox, apa kau pernah ke tempat ini sebelumnya?”


“Umm... tidak.”


“Apa kau yakin?”


Ivi mendekatiku dan menarik bajuku pada bagian leher.


“Lihat ini.” Ivi menunjukkan kalau aku memiliki bekas luka di leherku.


“Kau juga punya, Tino.”


“Eh? Bagaimana kau tau?”

__ADS_1


“Kemarin bekas luka itu terlihat jelas, kau tidak sadar?”


“Aku tau sadar ada bekas luka ini ketika aku sudah pulang.”


“Sebenarnya apa yang terjadi denganku?” Tino terlihat kebingungan.


KRRIIEETT


“Ada yang masuk! Cepat sembunyi!” Ivi langsung menarik aku dan Tino.


“Eh? Dimana?” Tino langsung panik.


Di dekat jeruji itu ada kasur yang kami tidak lihat ketika sampai kesini.


“Disana!” Ivi menunjuk kolong kasur. Aku dan Tino pun langsung masuk ke kolong kasur tanpa bersuara, diikuti oleh Ivi.


“Diam...”


Seseorang datang ke tempat ini dan duduk di kasur, kakinya terlihat jelas dari bawah.


“Uhh... 3 kali keliling sekolah, aku belum mendapat hasil.” Terdengar suara yang bukan berasal dari kami bertiga, suara itu pasti dari orang yang baru datang.


“Suara itu...” Tino menyadari sesuatu.


Orang itu berdiri dari kasur dan berjalan ke meja terdekat, dia meletakkan sesuatu di meja itu.


“Benda itu...” Sekarang aku yang menyadari sesuatu.


Topeng... tengkorak...


Aku pernah melihat topeng itu, tapi dimana?


Ivi terlihat tersenyum jahat, aku tidak tau apa yang sedang ia pikirkan.


“Akhirnya aku mulai mengerti...” Ucap Ivi dengan senyum jahatnya.


“...” Orang itu duduk kembali ke kasur, dan memeriksa handphone-nya.


“...”


Ketika orang itu keluar, Aku dan yang lainnya juga keluar dari kolong kasur.


“Orang itu seperti ‘Dewa Kematian’.” Ucap Ivi.


“Hah?”


“Aku sering melihat sosok dengan topeng itu di TV, sosok dengan topeng itu biasanya disebut ‘Dewa Kematian’.” Jelasnya.


“Kau benar, aku juga sepertinya setuju denganmu.” Ucap Tino.


“Baiklah, sekarang, ayo kita keluar dari sini sebelum dia kembali lagi.” Ajak Ivi.


...


...


...


“Aku tidak ingat ada jalan seperti ini...” Ivi menunjuk jalan bercabang yang belum pernah kulihat.


“Sepertinya kita tersesat...” Ucap Tino.


“kalau begitu pilih jalan yang mana saja, jalan itu terlihat sama.” Lanjutnya.


Kami pergi ke jalan kanan.


Dan bukan menemukan jalan keluar, kami semakin tersesat disana.

__ADS_1


“Uh, tempat ini sangat pengap.” Keluh Ivi.


“Wajar saja, itu karena hanya ada satu ventilasi, pintu masuk tempat ini.” Celetukku.


“Ini memang bukan jalan untuk keluar, kita berbalik saja.” Usul Tino.


“Ugh, aku tidak tau, memang kau tau jalan kita tadi?” Tanya Ivi.


“Tidak, tapi aku akan mencobanya dengan mengikuti jejak kaki kita.” Ucap Tino menunjuk bawah kaki kami, memang terlihat jejak kaki, tapi samar-samar.


Tino tetap mencoba mengikuti jejak kaki kami yang kami tinggalkan tadi, dan kami mengikutinya.


...


...


...


“Itu dia!” Seru Tino menunjuk pintu yang ada di ujung lorong.


Itu adalah pintu masuk ke ruang ini dan pintu keluar dari ruang ini menuju perpustakaan.


Kami langsung berlari ketika tau kalau kami akan keluar.


“HOSH!!! HOSH!! Akhirnya keluar juga dari tempat itu. Syukurlah kita selamat.” Ivi sangat lega sampai dia bernafas tidak beraturan.


Aku dan Tino juga begitu.


“Teman-teman...”


“...”


“Jangan pernah beritahu ini pada Cinta, aku tidak mau dia terlibat dalam hal ini.” Ucap Ivi.


Aku dan Tino mengangguk dengan kelelahan.


“Sudah kuduga, ada yang tidak beres dengan orang itu...”


“Maksudmu penjaga perpustakaan?”


“Ya, siapalah itu.”


“Diviana, kenapa kau menyebut dia ‘Dewa Kematian’?”


“Itu...”


“...”


“karena kita belum tau nama asli orang itu, jadi sebut saja itu.”


“Tapi bukannya ada nama sebutan yang lebih singkat? Kupikir itu terlalu panjang.”


“Kau mau apa? Badut?”


“Umm... tidak.”


“Lagipula, kebetulan dia berpakaian seperti itu, makanya aku kepikiran untuk menyebutnya dengan nama itu.”


“Tapi apa tujuan dia menenakan pakaian seperti itu?” Tanya Tino.


“Uh, aku juga tidak tau...”


“Kita akan membahas ini lebih lanjut nanti.” Ucap Diviana.


“Sekarang, ayo kita keluar dari tempat ini!” Lanjutnya.


Kami langsung keluar dari perpustakaan dan sekolah...

__ADS_1


 


 


__ADS_2