
Keesokan harinya, aku berangkat sekolah tanpa menunggu Tino ataupun gadis itu di halte, aku langsung ke kelas untuk melihat yang telah kulakukan semalam.
BIP
Aku langsung masuk ke kelas yang keadaan masih tidak ada orang.
“Hah?!”
Aku kaget ketika melihat ujung kelas, pintu yang sudah kututupi dengan lakban, lakbannya hilang.
“Kenapa??”
Aku ingat kalau kemarin tidak ada orang lain di sekolah.
“Jangan-jangan...”
Aku berlari keluar kelas lagi dan masuk ke kelas sebelah.
BIP
“Apa?!”
Lakban yang menutupi ‘Pintu Depresi’ di kelas lain juga menghilang.
“Ke-kenapa bisa?”
...
Aku kembali ke kelas dengan keadaan bingung.
Meletakkan tas dan duduk dengan kebingungan.
“Kenapa bisa, ya???”
BIP BIP
Aku langsung menengok ke arah pintu.
“Aku tidak tau kenapa Razox tadi tidak ada.”
Itu adalah Tino bersama dengan gadis itu.
“Eh?” Tino melihat ke arahku yang sudah duduk.
“Razox! Kemana saja kau?!”
“Aku sudah menunggumu di halte tadi!”
“Ribet tau kalau ngerjain ini sendirian!”
Tino terus ngedumel, sementara aku tidak mendengarkannya. Aku masih bingung dengan apa yang telah terjadi. Memangnya aku harus mengawasi pintu itu 24 jam agar tidak ada yang masuk?
“...”
Aku melihat sekitar kelas, semoga saja ada petunjuk.
“...”
“Setidaknya kabari aku dulu!” Keluh Tino.
“Ini harus menjadi yang terakhir kalinya.” Keluhnya lagi.
“Tino, sudahlah, antar aku ke mejaku dulu.” Ucap gadis itu.
“Uh, baiklah.” Ucap Tino dengan nada halus.
Aku bisa mendengar suara decitan yang keluar dari kursi roda itu.
Dan kemudian Tino duduk di sebelahku.
“...”
“Sebaiknya kau menyimpan kontakku dan Cinta.”
“...”
“Aha!” Tiba-tiba aku berteriak.
Di ujung ruang, terdapat kamera CCTV, kenapa aku baru menyadarinya sekarang ya?
Sepertinya CCTV itu yang melepaskan lakbannya, lebih tepatnya orang yang mengawasi CCTV, tapi siapa?
Aku harus mencari tau.
BIP
Pintu terbuka, dan Ivi masuk.
“Ivi, apa kau tau dimana kita bisa melihat rekaman CCTV sekolah ini?”
“Hah? Mana kutau! Aku baru sampai! Lagipula tidak mungkin sekolah menyediakan rekaman CCTV secara umum.” Jawabnya dengan nada ketus, sepertinya karena dia baru saja datang.
“Mungkin saja!” Ucap gadis itu.
“Eh? Yang benar? Kau tau? Dimana?” Tanyaku yang sudah sangat penasaran.
“Entahlah,”
“tapi mungkin ada di ruang monitor.”
“Padahal fasilitas sekolah ini lengkap.” Ucap Tino.
“...”
“Baiklah, nanti aku akan mencoba mencarinya disana.”
...
...
...
Waktu istirahat tiba, aku langsung pergi ke lantai 1 tanpa memberitahu Tino terlebih dahulu.
Pertama-tama, aku ke laboratorium komputer, mungkin disana ada data rekamannya.
BIP
Aku menggesekkan kartu pada kotak akses.
“Eh?”
Muncul tanda merah pada indikator kotak tersebut. Dan pintu tersebut tidak mau dan tidak bisa terbuka.
“Apa artinya aku tidak bisa masuk?”
Aku baru lihat tanda ini, mungkin saja ruang ini hanya dibuka saat pelajaran komputer nanti.
“Baiklah...”
Aku meninggalkan tempat itu. Dan menuju ruang guru.
BIP
Lampu indikatornya tidak merah, tapi pintunya tidak terbuka.
BIP
Aku menggesekkan kartuku lagi.
...
Masih tidak mau terbuka.
TOK TOK TOK
Aku memakai cara manual, mengetuk pintu.
...
Tidak ada jawaban...
Mana ruang ini tidak ada jendelanya...
...
Ketika aku menempelkan telingaku ke tembok, terdengar kalau ada orang di dalam.
TOK TOK TOK
Masih tidak ada jawaban...
“Sudahlah...”
Aku pergi dari tempat itu dan ke tempat lain, perpustakaan.
...
“Apa ada rekamannya di tempat seperti ini?”
Sepengetahuanku, perpustakaan adalah tempat yang sangat membosankan, hanya ada buku-buku yang tidak dibaca, ditambah suasananya yang sangat sepi, itu membuat tempat itu sangatlah membosankan.
“Tidak ada salahnya mencoba.”
BIP
__ADS_1
Aku akhirnya masuk ke perpustakaan, tidak kusangka aku akan masuk ke ruangan seperti ini.
...
Dan benar dugaanku, tempat ini sepi, walaupun aku melihat beberapa orang, tapi mereka semua tertunduk di kursi masing-masing.
...
“Tolong isi dahulu buku tamunya sebelum anda membaca.” Ucap seorang yang berada di sampingku, aku tidak menyadari keberadaan orang itu, untung dia tidak persis di sebelahku.
Aku mengisi buku itu dan melihat orang yang menyuruhku untuk mengisi buku tamu. Orang itu adalah orang yang menjaga perpustakaan, dia tidak terlihat seperti penjaga perpustakaan, dia terlihat seperti bartender.
“Umm... apa disini ada rekaman CCTV?”
“Ada, disana.” Ucap si penjaga perpustakaan sambil menunjuk komputer yang ada di ujung ruang.
“Terima kasih.”
Aku berjalan ke komputer yang tadi si penjaga perpustakaan tunjuk, menyalannya dan mencari rekaman kemarin.
...
...
...
Ketemu!
Aneh juga, tempat yang kupikir tidak akan ada hal yang ingin kucari, ternyata ada.
...
Rekaman itu terlihat aku sedang menutupi ‘Pintu Depresi’ dengan lakban.
Ini terlalu dini, mungkin aku harus melewatinya.
KLIK
Aku mempercepat rekaman itu sampai pukul 2 pagi. Pada pukul 2 pagi, lakban yang menutupi pintu itu sudah hilang.
Berarti sebelum jam 2.
Aku kembali melihat rekaman saat aku menutupi pintu itu dengan lakban.
20:44:25
20:44:26
Selesai menutupi pintu itu dengan lakban, aku langsung keluar kelas untuk menutupi pintu di kelas lain.
20:44:27
20:44:28
20:44:29
...
Tidak ada yang berubah.
20:50:10
“Eh?”
Lakban yang menutupi pintu itu langsung menghilang.
“Bagaimana bisa?”
Aku mengulang rekaman sebelum detik itu.
20:50:08
20:50:09
20:50:10
Lakban itu langsung menghilang. Memang seperti itu adanya.
Tapi aku tidak berhenti disitu.
Aku melihat rekaman CCTV yang ada di depan kelas, mungkin ini akan membantu.
20:49:36
20:49:37
20:49:38
20:39:39
Ada yang masuk ke kelas sebelum lakban itu dilepas. Sosok itu terlihat jelas, memakai jubah hitam dan bertopeng tengkorak, sosok itu berjalan sangat lancar seperti melayang.
Dan sepertinya aku tidak perlu memberi tau hal ini kepada Tino dan yang lainnya, aku takut akan ada kepanikan jika memberitahu mereka tentang ini.
...
...
Aku langsung menutup program itu dan keluar dari perpustakaan.
“Terima kasih.”
...
Setelah keluar dari perpustakaan, aku pergi ke kantin, di sana terlihat Tino sedang duduk bersama yang lainnya.
“Razox! Kemarilah!” Teriak Tino kepadaku yang baru saja datang.
Akupun menghampirinya dan duduk di kursi yang masih kosong.
“Razox! Tadi kau kemana, sih?! Aku kesulitan membantu Cinta turun tangga sendirian!”
“Tadi pagi juga begitu! Kau tidak ada di halte! Tiba-tiba di kelas!”
Harusnya aku tidak kesini...
“Kau seperti sedang menjauh dari kami, ada apa?” Tanya Ivi dengan halus.
“Umm... sebenarnya...”
“Aku sedang memecahkan misteri.”
“Misteri apa?”
“Misteri sekolah ini.”
“...”
Semuanya terdiam dan berpikir, kelihatannya mereka bingung.
“Memang ada???”
...
“Aku mau beli makan dulu.” Aku berdiri dan meninggalkan mereka untuk membeli makan.
...
... dan kembali.
“Hei, jam istirahat sudah mau habis.”
“Lebih baik kita ke kelas sekarang, karena butuh waktu juga untuk membantu Cinta.” Ajak Tino.
“Hei! Aku baru makan! Dan kau bilang seakan-akan dia adalah beban!” Keluhku dengan makanan yang ada dalam mulutku.
“Tidak... aku hanya ingin meninggalkanmu. Hahaha!”
Mereka benar-benar menungguku selesai makan, selesai makan aku langsung mengikuti Tino untuk membantu gadis itu.
...
Kami menaiki tangga dengan membawa gadis itu dan kursi rodanya, tapi saat sedang berjalan di tangga tanpa adanya percakapan dari siapapun, tiba-tiba aku berpikir tentang pintu itu, lagi. Bagaimana kalau ada yang benar-benar depresi dan mengakhiri hidupnya? Bagaimana kalau ternyata salah satu dari kami mengalami depresi dan ingin mengakhiri hidupnya? Bagaimana kalau ternyata aku yang mengalami depresi dan ingin mengakhiri hidupku?
“AAAAAAAAAAAA!!!!!”
“...”
Semuanya berhenti dan menoleh ke arahku.
Yang barusan itu suaraku.
Untung aku hanya memegangi kursi roda.
“Maaf, dipikiranku sedang...”
“Lanjutkan saja jalannya.”
Kami kembali berjalan.
...
...
...
__ADS_1
---
TING TING
Jam pulang tiba, tidak biasanya barang-barangku tidak terlalu berantakan, mungkin aku akan lebih cepat membereskannya.
Tino tiba-tiba berjalan melewatiku.
“Hei, Cinta, apa akhir pekan ini kau mau menonton bioskop bersama?” Tanya Tino.
“Uhh... bagaimana ya??”
“Tidak apa. Aku akan membayarimu.”
“Uh, terima kasih, tapi aku ingin mengajak yang lain, tidak apa?”
“Tidak apa.”
“Baiklah, Ivi, apa kau mau ikut dengan kami?”
“Eh?! Bo-boleh, tentu saja!”
“Tapi aku hanya membayari Cinta, kau tidak keberatan?”
“Sepertinya tidak, aku tetap ikut.”
...
...
“Eh?” Ivi melihatku sedang memandangi mereka.
“Sepertinya dia mau ikut juga.” Bisiknya.
“Tapi dia malu-malu karena tidak diajak.” Lanjutnya.
Aku mempercepat gerakan membereskan barang-barangku dan langsung keluar.
“Hei, Razox!” Panggil Ivi.
“Kau mau ikut, ‘kan?”
“I-i-iya...”
“Tenang saja, aku yang akan membayarimu.”
“Te-terima kasih.”
“Tino, tapi kapan kita akan menonton? Apa akhir pekan ini?”
“Tentu, akhir pekan ini setelah kita menyelesaikan tugas kelompok kita.”
“Baiklah.”
...
...
...
Kami pulang bersama seperti kemarin, mengantar gadis itu sampai halte dekat sekolah, menunggu sampai ibunya menjemput.
...
BOING
Kenapa suara itu terdengar setiap aku berada disini?!
“Hai!”
Ibu gadis itu muncul dan langsung menghampiri kami.
“Terima kasih, nak Tino.”
“Eh? Nak Razox? Kok tadi pagi gak keliatan?”
“Hehe.. iya, anu tante, tadi pagi ada urusan, jadi buru-buru.”
Tawaku kikuk juga.
“Oiya, tante, akhir pekan nanti aku ajak Cinta jalan-jalan ya.” Ucap Tino dengan tegas.
“Boleh, ‘kan?” Tiba-tiba nadanya menjadi rendah.
“...”
Mereka saling menatap, sepertinya Tino ragu kalau jawabannya ‘iya’.
“Dan juga kami akan mengerjakan tugas kelompok di rumah Cinta.” Tambahnya.
“...”
“Boleh, ‘kan?”
“...”
“Iya, tentu saja boleh. Lagipula Cinta pasti bosan kalau di rumah terus.”
“Terima kasih, tante!” Tino sampai mengbungkukkan badannya, lagi.
“Dia ini kenapa?”
“Baiklah, terima kasih sudah mengantar anakku, sampai ketemu besok!”
Beliau langsung pergi bersama anaknya.
“...”
“Ayo kita pulang.” Ajak Tino yang terlihat senang.
“...”
Kami dan Ivi berpisah karena arah pulang kami yang berbeda.
...
Aku bersama Tino berjalan pulang jalan kaki tanpa alasan.
Selama perjalanan kami tidak mengeluarkan sepatah katapun, itu membuat mulutku gatal dan ingin mengangkat suatu topik.
“Hei, Tino.”
“Hm?”
“Apa menurutmu tentang psikologis siswa SMA Platinum?”
“Eh? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal seperti itu?
“Tidak, aku hanya sedang bingung.”
“Soal apa?”
“Pintu itu, pintu yang sepertinya dikhususkan untuk bunuh diri.”
“...”
“Apalagi nama pintu itu yang aneh.”
“Umm... Razox...”
“Dan yang aku bingung, kenapa pintu itu ada di setiap kelas?”
“Razox...”
“Dan anehnya lagi pintu itu tidak ada di kelas XI, hanya ada di kelas X.”
“Razox!”
Tino memanggil namaku dengan suara yang keras dan membuatku terkejut serta diam.
“A-apa?”
“Kau ngomong apaan, sih?”
“Eh?”
“Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan.”
“...”
“Pintu itu, pintu yang ada papan besarnya ‘Pintu Depresi’, tidak mungkin kau tidak tau, pintu itu ada di ujung kelas, dekat dengan tempat duduk kita.”
“Aku benar-benar tidak mengetahuinya!”
“Besok akan kutunjukkan.”
“...”
Obrolan singkat kami membuat perjalanan tidak terasa, kami sudah sampai di komplek perumahan kami. Dan kami berpisah tanpa mengatakan apapun.
...
...
...
__ADS_1
TIK TIK TIK
“Hehe... Ini pasti akan berhasil...”