
Kami sampai ke rumah gadis itu hanya dengan berjalan kaki, rumahnya memang tidak jauh dari sekolah, jadi memang tidak perlu naik angkutan umum. Tapi yang kuheran, jam berapa dia berangkat? Belum pernah kulihat dia terlambat masuk.
BOING BOING
“Selamat datang, mari masuk.”
Sesampainya disana, kami langsung disambut oleh ibu perempuan itu, kami duduk di ruang tamu, dan disuguhkan makanan.
“Ibu, tidak perlu disuguhkan makanan sekarang, kami mau kerja kelompok.” Ucap gadis itu.
“Tidak apa-apa, makanan ini pasti habis.” Ucapku dengan bangga.
“...”
“Ibu, tolong ambilkan laptopku di kamar.”
“Baiklah.”
Ibu gadis itu naik tangga untuk mengambil laptop gadis itu.
Tunggu, jadi kamarnya di lantai 2? Ini membuatku menjadi tambah bingung.
Tidak lama kemudian, Ibu gadis itu turun dan memberi laptop kepada gadis itu.
“Nah, jadi, siapa yang cepat mengoperasikan ini?” Tanya gadis itu.
“Dia!” Tino langsung menunjukku.
“Eh??!!”
“Setiap hari dia di depan laptop! Kadang aku ragu kalau dia punya kehidupan!” Lanjutnya.
“Ehhh???!!!”
“Enak saja!”
“... tapi benar, sih.”
“Baiklah, jadi apa tugas kita? Coba lihat kembali.” Tanya Ivi.
“Menurut catatanku, kita membuat presentasi tentang peradaban manusia.” Ucap gadis itu sambil melihat buku catatannya.
“Hmm... aku tau sedikit tentang peradaban manusia. Babylonia, ‘kan?”
“Tidak hanya itu!” Ucap Tino.
“Sekarang, kau cari lebih banyak tentang peradaban manusia di internet!”
“Baiklah...”
KLIK
KLIK
KLIK
TIK TIK TIK
“Pe...ra...da...ban... manusia.”
KLIK
“Hmmm...”
“Ada apa, Razox?” Tanya Ivi.
“Uhh... aku baru ingat sesuatu, disini tidak ada koneksi internet, ya?” Keluhku.
“Tau gini kita ke Level aja.”
“Eh? Janganlah, aku sudah pewe.” Ucap Ivi.
“Lagian kita sudah lelah berjalan kesini.” Ucap Tino.
“Ayolah, jaraknya tidak jauh dari sini.”
“Umm... bagaimana kalau begini??” Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari kantungnya.
“Heh?” Kami semua melihat gadis itu.
“Ini.” Dia mengeluarkan ponselnya.
“Ponsel? Untuk apa? Tanya Tino.
“Pakai hotspot.”
“Hotspot? Apa itu?”
“Koneksi internet dari ponsel ini bisa tersambung ke laptop. Itu yang sering orang-orang gunakan sekarang kalau tidak ada koneksi internet.”
“Kenapa tidak bilang daritadi??!!” Keluhku dengan nada keras.
“Ohh... begitu ya... sekarang aku tau.” Tino mengangkuk berkali-kali.
Bohong, aku yakin dia sama sekali tidak mengerti.
“Baiklah, Razox, sekarang cari dan buat presentasi kita.”
...
...
...
Tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat presentasi ini, hanya 3 jam.
“Ini, kalian lihat.” Aku menunjukkan laptop itu kepada yang lain.
“...”
“Ehh??!! Masa cuma begini??” Keluh Tino.
__ADS_1
“Kau mengeluh saja! Kau kerjakan sendiri kalau mau!” Balasku.
“Tino, dia sudah berusaha, tolong hargai.” Ucap gadis itu.
“Dia benar, lagipula, kayanya yang ngerjain cuma aku, dari tadi aku cuma melihat kalian melakukan hal yang tidak ada hubungannya dengan ini.”
“Huft... baiklah...” Tino pasrah.
“Hmm... menurutku, ini sudah lumayan, nanti kupelajari.” Ucap Ivi sambil melihat laptop itu.
“Nah, gitu dong, aku baru senang mendengarnya.”
“Kalau begitu...”
“... tugas ini kunyatakan selesai!” Teriak Ivi.
“Baiklah, sekarang, ayo kita pulang. Terima kasih Cinta.” Lanjutnya sambil mengangkat tasnya.
“Tunggu!” Teriak gadis itu.
“Ada apa?”
“Ibuku sudah menyediakan makanan ini, habiskan dulu.” Gadis itu menunjuk meja tempat kami berkumpul.
“Makanan apa?” Tanya Tino.
“Makanan itu-“
“Eh?”
Ketika gadis itu melihat meja, sudah tidak ada makanan lagi, hanya ada piring dan toples kosong.
“Si-siapa yang menghabiskannya??”
“Ini pasti ulah Razox!” Tino menatap sinis aku.
“Apa?” Aku hanya membersihkan gigiku dengan jari.
“Kau yang menghabiskan makanan ini? Sendiri?”
“Yaa... bagaimana bilangnya, ya?? Mengerjakan pekerjaan kelompok sendiri itu membuatku lapar, aku makan sedikit-sedikit saja tadi, sampai akhirnya habis.”
“Uhh... baiklah, lupakan.”
“Kita pulang.”
“Kami pulang dulu, Cinta.” Ucap Tino.
Kami keluar dari rumah gadis itu dan langsung pulang, tapi kami beristirahat dulu di Level.
“Sudah kubilang, jaraknya tidak terlalu jauh, kita harusnya mengerjakannya disini, disini ada wifi.” Gumamku.
“Sudahlah, tidak perlu dipikirkan, lagipula tugasnya sudah selesai.” Ucap Ivi.
“Hei, Razox.”
“Bolehkah aku bertanya sesuatu?”
“Kalau kuperhatikan, kenapa kau tidak pernah memanggil Cinta dengan namanya?”
“Eh? Benar juga, aku baru sadar kalau Razox tidak menyebutkan namanya.”
“Kau, ‘kan sudah tau, Tino.”
“Kenapa kau tidak menyebut nama belakangnya saja? Felia.” Usul Ivi.
“Uhh.. tidak, aku merasa aneh saja jika menyebut namanya, sekalipun hanya menyebut nama belakangnya saja.”
“Memang kau membencinya?”
“Tidak, kalau aku membencinya, kenapa aku harus repot-repot membantu dia?”
“Lalu kenapa?”
“Hanya saja ada alasan kenapa aku tidak mau menyebut namanya.”
---
Awalnya aku tidak berbeda jauh dengan kalian, punya perasaan itu, ingin punya pasangan, ingin punya orang yang punya perasaan itu kepadamu. Seingatku, itu mulai terjadi saat aku berusia 6 tahun. Orang-orang di sekolahku selalu membicarakan hal itu, setiap hari, padahal mereka masih kelas 1 SD, ingusan! Dan karena pada saat itu aku masih bingung, aku mencoba mendengarkan mereka berbicara tentang hal itu, tapi selama aku mendengarkan mereka, tidak ada satupun hal yang kumengerti. Aku menanyakan tentang hal itu kepada orang terdekatku, pada saat itu, aku sudah mengenal Tino, tapi belum terlalu akrab, jadi aku bertanya kepada ayahku.
“Razox, anakku, kau masih terlalu kecil untuk mengetahui hal itu, kau akan mengerti hal itu saat sudah besar nanti.”
Begitulah yang diucapkan beliau.
Aku tidak mendapat jawaban dari ayahku, aku menanyakannya kepada adik-adikku, mereka tidak tau. Aku bertanya pada saudaraku, jawabannya tidak jauh dari ayahku.
“Razox, kau masih terlalu kecil untuk mengetahui hal itu, kau akan mengerti hal itu saat sudah besar nanti, akupun juga begitu.”
“Tapi, teman-temanku di sekolah banyak yang sedang membicarakan hal itu.”
Hal itu justru membuatku penasaran, setelah itu aku justru gencar-gencarnya mencari referensi tentang hal itu, dari film, buku, wallpaper ponselku, bahkan kamarku pernah kucat warna pink.
Setelah itu, aku masuk SMP, dan aku mendengar istilah baru, yaitu ‘pacar’. Aku memilih untuk tidak bertanya kepada orang di rumahku karena jawaban mereka justru membuatku penasaran. Aku menanyakan hal itu kepada Tino.
“Hei, Tino.”
“Hm?”
“’Pacar’ itu apa, ya?”
“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Sudah, jawab saja.”
“Pacar adalah seorang pasangan lawan jenis yang akan menemanimu suka maupun duka. Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Ohh... tidak apa.”
“...”
“...”
__ADS_1
“Tino, apakah kau punya pacar?”
“Tentu saja, aku punya pacar, namanya Farah.”
“Haa... pasti enak ya punya pacar.”
“Tidak juga, kok.”
“Bisakah kau mencarikan pacar untukku?”
“Eh?! Aku tidak salah dengar?!”
“Tidak, tolong carikan pacar untukku.”
“Umm... baiklah...”
“Terima kasih!”
Aku sangat senang ketika itu, aku punya pacar, pacar pertamaku, kalau tidak salah namanya Lily, dia tinggal di kota yang berbeda denganku, tapi aku tidak tau dia tinggal dimana.
Saat itu aku sangat bahagia,
Tapi itu tidak berlangsung lama...
Beberapa bulan kemudian, dia menghubungiku lewat telepon.
“Razox, hubungan kita sampai disini saja, ya...”
“Eh? Apa maksudmu?”
“Hubungan kita berakhir, kita putus.”
“Tapi kenapa?”
“Maafkan aku, aku hanya berpura-pura mencintaimu, karena kata temanmu, Tino, kau adalah orang yang sangat kesepian, aku merasa kasihan pada saat itu, dan aku sudah tidak mau berpura-pura lagi.”
“...”
“Razox...”
“...”
“Tolong jangan hubungi aku lagi...”
“...”
TUTTT... TUTTT... TUTTT...
Aku mati rasa dan merasa sangat kehilangan saat mendengarnya. Aku berpikir hanya menjadi pengganggu dalam hidupnya. Hal itu tiba-tiba menjerumus ke hidupku, prestasiku menurun drastis, aku jadi tidak nafsu makan, berat badanku menurun drastis, dan masih banyak hal buruk yang masuk dalam hidupku. Orang-orang di sekitarku tetap membicarakan hal itu, aku juga tidak menceritakan kepada Tino kalau hubunganku dengan Lily sudah berakhir.
Sejak saat itu, aku berhenti mengikuti trend, bahkan sampai sekarang
---
“Mungkin tidak kuceritakan secara jelas, tapi aku tetap saja benci hal itu.”
“Hmm...” Ivi berpikir tentang ceritaku tadi.
“Memangnya aku pernah seperti itu ya?” Tino mencoba mengingat perannya dalam ceritaku.
“Kalau menurutku,”
“...”
“kau hanya orang yang terlalu berlebihan karena patah hati sampai membuatmu trauma.”
“Itu hal yang biasa, banyak orang yang patah hati karena putus hubungan cinta sepertimu.”
“...”
“Kalau kusarankan, kenapa kau tidak memberinya nama panggilan khusus?” Usul Ivi.
“Kau bercanda? Aku tidak mau melakukan hal itu! Aku sangat menghargai nama yang telah diberikan orang tuanya. Tino saja yang sudah kukenal bertahun-tahun tidak kuberi nama panggilan khusus.”
“Huftt...” Ivi sampai menghela nafas.
“Padahal aku berniat baik padamu, membuatmu menjadi manusia berperasaan lagi.” Keluh Ivi.
“Terima kasih, tapi aku harus pergi sekarang.” Aku berdiri dari kursiku.
“Eh? Mau kemana?”
“Aku baru ingat, ada jadwal latihan taekwondo.”
“Latihan malam-malam begini?”
“Iya... tapi jangan khawatir, aku latihannya indoor, kok.”
“Baiklah, aku pergi duluan.”
“Hati-hati.” Ucap Ivi dingin.
Aku berjalan meninggalkan mereka.
“Baiklah, jangan lupa hari Minggu nanti kita nonton bersama.”
...
Dan kembali lagi.
“Umm... Tino, memangnya nanti kita mau nonton apa?”
“Aku tidak tau, Cinta yang memilih filmnya.”
“...”
“Baiklah, sampai nanti.”
__ADS_1