
Hari ini akhirnya tiba, kami bersiap untuk berangkat pergi, bersiap berangkat dari rumah gadis itu. Aku dan yang lainnya sudah hadir di tempat itu, aku sedang mengemas barang-barang yang akan dibawa, sedangkan Tino, dia sedang bersisir sambil berkaca.
“Hei, setidaknya bantu.”
“Baiklah.”
Tino justru berjalan keluar.
“Eh?”
Tidak lama, Ivi datang menghampiriku.
“Bagaimana? Apa semua sudah siap?”
“Sepertinya sudah.”
Aku sudah meletakkan semua barang-barang di teras rumah. Aku heran, padahal kami hanya pergi untuk 2 hari, tapi kenapa barang bawaannya banyak begini?
BOING
“Anak-anak, mobilnya akan menjemput kalian sebentar lagi.” Ucap Ibu gadis itu.
“Aku tidak sabar untuk pergi bersama kalian.” Ucap gadis itu.
“Baiklah, aku istirahat sebentar, ya, kalau mobilnya sudah datang, tolong panggil aku.” Aku berjalan masuk.
Baru melewati pintu, aku langsung dipanggil.
“Razox, mobilnya sudah datang, ayo siap-siap.” Ucap Ivi.
TIN TIN
“Cepat sekali!”
Kami langsung memasukkan barang-barang kami ke bagasi mobil, sedangkan Ivi membantu gadis itu untuk duduk di depan sebelah supir, dan yang kuketahui, supir dari mobil itu adalah paman dari gadis itu. Terlihat paman dari gadis itu sedang berbicara asyik dengan ibu dari gadis itu.
“Heh, sudah masuk semua, sekarang kita yang masuk.” Ucap Ivi.
Kami bertiga duduk di bagian tengah, gadis itu dan supir di depan, dan barang-barang ada di belakang.
“Jadi, kita akan pergi kemana? Dan apa saja agenda kita disana?” Tanya Tino.
“Kita ‘kan akan pergi ke vila, itu sudah kita setujui.” Ucap Ivi.
“Eh?”
“...”
“Harusnya kita mengajak Lulu.” Gumamku.
“Hah? Tidak biasanya kau mengharapkan kehadiran orang, kau suka dengannya, ya?” Tanya Tino sambil mendekatkan wajahnya.
“Ti-tidak! Ah, lupakan saja!”
“Hihihi...” Gadis itu hanya tertawa kecil.
...
“Maaf, kalau Om boleh tau, kalian ini siapanya Cinta, ya? Teman sekelas, ya?” Tanya si supir yang mengeluarkan suara untuk menghilangkan kesunyian.
“Iya, Om, kita juga pergi ini juga karena Cinta yang mau.” Jawab Ivi.
“Ohh... Om baru tau kalau temannya Cinta ternyata ganteng dan cantik.”
“Ah, Om bisaan.”
“Sebenernya rumah Om itu jauh, jauh banget dari rumah Cinta, tapi Om udah janji sama Cinta kalau Om bakal memenuhi permintaan Cinta, karena dulu Cinta itu anak yang sangat baik dan suka membantu Om.”
“Sekarang giliran Om yang membantu Cinta.”
Perlukah aku mendengarkan itu?
“...”
...
Saat di tengah perjalanan, aku melihat Ivi dan gadis itu tertidur, Tino sedang memainkan handphone-nya, dan Paman itu fokus menyupir.
Aku bingung harus melakukan apa lagi, mungkin aku tidur saja.
...
...
...
“Hei.”
“Hei.”
“Hei, Razox.”
Itu... seperti suara Tino.
“Uhh.. ada apa??”
Ya, benar itu adalah suara Tino, dia sedang membangunkanku.
“Ayo, bangun, kita sudah sampai.”
Aku melihat mobil sudah kosong, semua sudah berada di luar.
“Eh?”
Aku juga langsung keluar dari mobil.
Tino langsung menyuruhku untuk mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobil. Aku nurut saja.
“Jadi vila ya...” Ucapku memerhatikan tempat itu.
Kami berada di vila yang cukup minimalis. Kelihatannya sangat tentram, jauh dari suasana perkotaan, udaranya masih bersih, dan juga sejuk padahal ini sudah siang. Tapi aku bingung kenapa aku disini.
“Om pamit dulu, ya.”
“Besok Om jemput lagi.” Ucap Paman itu.
“Iya, Om.” Balas Ivi.
“Tapi kalau kalian butuh apa-apa, tinggal hubungi Om. Kalian sudah punya nomernya, ‘kan?”
“Sudah, Om.”
“Kalau begitu, Om pergi dulu, ya.”
Paman itu masuk mobil, lalu pergi meninggalkan kami.
...
“Baiklah, sekarang ayo kita masuk ke dalam.” Ucap Ivi.
“Jangan lupa masukkan barang kita juga.” Tambahnya.
“Memangnya fasilitas disana ada apa saja?”
“Kalau pas aku baca sih ada 2 kamar plus AC dengan kamar mandi di dalamnya, ruang tengah dengan TV kabel, pemandian air panas, kompor, kulkas, kolam renang, terus...”
“Sudahlah, kita lihat saja sendiri, pasti ada fasilitas yang kau lupa.” Sela Tino.
“Tapi itu sudah banyak, kita disini hanya sampai besok, akan banyak fasilitas yang tidak terpakai, kupikir terlalu mubazir untuk biaya Rp. 125.000 per orang.” Keluhku.
“Ya kalau begitu, jangan sia-siakan waktu kalian, ayo cepat masuk, dan nikmati semua fasilitas yang ada.” Ucap Ivi yang masuk duluan ke dalam vila.
...
“Nah, karena kamarnya ada 2, jadi kita pisah berdasarkan jenis kelamin saja, ya. Aku bersama Cinta, dan kau bersama Tino.”
“Baiklah...”
Kami berdua masuk ke kamar yang Ivi bilang.
“Wohooo!!! Akhirnya!” Tino langsung berteriak dan melompat ke kasur dan tiduran.
“Hei, letakkan dulu barang-barang kita.” Keluhku.
“Kau bawa apa saja, sih?”
Aku melihat tas Tino yang ia letakkan di dekat pintu, terlihat besar, sepertinya bawaan dia banyak.
“Razox, apa kau mau tau rahasia?” Tanya Tino sambil melihat langit-langit.
“Hmmm, kurasa tidak.” Jawabku sambil melihat langit-langit juga.
“Malam ini aku akan menembak Cinta.”
“HAH?!”
“Kenapa?”
__ADS_1
“Ka-kau ternyata kejam, tidak berperasaan, pantas saja tasmu berat, jadi isinya senjata, ya.”
“Eh?”
“Tega sekali kau akan menghilangkan nyawa seseorang dan memberitahukannya padaku.”
“Ahahaha!! Sudah kuduga kau akan berpikir seperti itu,” Tiba-tiba Tino bangkit dari tidurnya.
“yang kumaksud itu adalah menyatakan perasaanku.”
“Itu adalah fase sebelum pacaran, kau lupa?” Tanya Tino.
“...”
“Sepertinya begitu. Aku tidak tau.” Jawabku dengan tatapan kosong.
“Ya... aku hanya memberitahumu saja...”
“Oh... hahahaha...”
“Hahaha...”
Kami tertawa bersama karena hal sepele itu.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!”
Dan aku tiba-tiba teriak histeris.
BRAK
“Ada apa, Razox?!” Tanya Ivi yang baru saja mendobrak pintu.
“Eh? Ivi? Aku hanya...”
“kelingking kakiku terpentok meja.”
“Itu sakkiiiittt sekali.”
“...”
Semoga dia percaya.
“Serius? Kau bahkan berdiri jauh dari meja.” Ucap Ivi datar sambil menunjuk meja yang memang jauh dariku.
“Umm...”
Aku mendekatkan diri ke meja.
“Ya, aku dekat dengan meja.”
“Huhh... harusnya aku tidak kesini buru-buru. Kupikir ada apa.” Keluh Ivi.
“Lain kali kalau mau berbohong pikir dulu.” Ucap Ivi sambil menutup pintu dan pergi.
...
KRRIIEETT
Dan dia kembali lagi.
“Oh ya, jika kalian sudah selesai dengan barang-barang kalian, cepat ke meja makan, kita akan makan siang bersama.” Ucap Ivi.
Dan langsung pergi lagi.
“Makan siang... kenapa dia bilang makan siang? Memangnya ini jam berapa?” Tanya Tino.
Aku melihat jam dinding yang tergantung.
“Umm... masih pagi, 8.36.” Ucapku sambil melihat jam itu.
“Umm... Razox, jam itu mati.” Ucap Tino.
“...”
“Eh?.”
“Hmmm... sekarang jam 11.30, pantas dia bilang makan siang.” Ucap Tino yang melihat jam dari handphone-nya.
“Baiklah, ayo kita keluar.” Ajak Tino.
“Hei, bagaimana dengan tasmu? Belum kau pindahkan.”
“Uhh, terlalu jauh dariku, tolong pindahkan, ya, kau ‘kan yang dekat dari tasku.”
...
“Hai, Cinta, lagi ngapain?” Tanya Tino.
“Padahal sudah jelas dia sedang menonton TV.” Gumamku.
“Cinta, apa kau lapar? Ayo kita makan.”
“Ya, tentu aku mau, tapi belum ada makanan.”
“Bagaimana, sih? Tino menawarkan makan, padahal meja makannya hanya ada piring.” Gumamku.
“Ivi sedang keluar untuk membelikan kita makan. Aku juga sedang menunggu disini.” Ucap gadis itu.
“Hmmm...”
“Razox, Cinta lapar, tolong ambilkan cemilan di tasku.” Ucap Tino sambil menunjuk kamar.
“Kenapa harus aku??” Gumamku lagi, tapi aku tetap berjalan ke kamar.
Aku kembali dengan camilan kripik kentang dari tas Tino, mereka makan berdua walau sebenarnya Tino yang mendominasi camilan itu, sedangkan aku mengambil alih remot TV dan menontonnya sendiri.
“Huh, jam segini sudah tidak ada kartun pagi, ya?”
...
...
...
“Aku pulang!” Teriak Ivi, saat aku melihatnya, dia membawa kantung plastik yang cukup besar, padahal kami hanya berempat, dan kelihatannya itu berat.
Aku langsung menghampirinya dan membantu membawakannya.
“Makasih, Razox.”
Kami ke meja makan dan meletakkan semua makanan yang Ivi bawa.
“Eh? Makanan sudah jadi? Kupikir kau akan masak.” Ucap Tino yang menghampirikami.
“Tau begitu kita pesan online saja, aku ada aplikasinya.” Lanjutnya sambil menunjukkan aplikasi yang dia maksud di ponselnya.
“...”
“Kau tidak perlu buang-buang tenaga dan waktu untuk keluar membeli makanan.”
“...”
“Kita bisa saja hanya menunggu sambil menonton TV bersama.”
“...”
“KENAPA KAU TIDAK BILANG??!!”
Ivi kesal dan tiba-tiba dia mencekik leher Tino.
“K-ka-kau sendiri yang tidak tanya.” Balas Tino dengan santai.
“Sudah, sudah, makanan kita sudah tiba, ayo kita makan.” Gadis itu melerai mereka berdua.
“Terima kasih, Ivi karena telah membelikan kita makanan.” Tambahnya.
Mereka berdua langsung menatap Tino.
“Apa?”
“...”
“...”
“Oh, makasih, ya, Ivi.” Ucap Tino datar sambil membuang wajahnya.
Kami makan di meja makan sesuai yang Ivi bawakan, kami makan tanpa adanya pembicaraan dari siapapun, tapi aku hanya menatap Tino dengan rasa curiga, memangnya benar dia akan ‘menembak’ gadis itu nanti malam? Dia tadi baru saja membuat gadis itu sedikit kesal. Kalau begitu, bagaimana skenarionya? Apa aku akan terlibat juga? Jangan sampai.
“Ahem.”
Tino sepertinya akan bicara untuk menghilangkan keheningan ini. Semua langsung melihat Tino, termasuk aku.
“Tadi saat di perjalanan kemari, aku melihat ada pasar yang menjual kembang api, tidak jauh dari sini.”
“Mungkin ada yang berminat untuk membelinya.”
“Wah, aku suka dengan kembang api.” Ucap gadis itu.
__ADS_1
“Tapi aku tidak punya uang untuk membelinya.” Lanjutnya yang langsung murung.
“Tenang saja, Cinta, aku yang akan membelikannya!” Ucap Tino sambil berdiri dengan bangganya.
“Benarkah? Terima kasih, Tino.”
Awas saja kalau sampai dia menyuruhku terlibat.
...
...
...
Akhirnya malam tiba\, aku dan gadis itu sedang di ruang tengah sambil menonton TV acara kesukaan dia\, *Char-*lie.
“Kasihan ya, Charlie terus terpuruk begitu.” Ucap gadis itu sambil menahan tangis, aku bisa mendengarnya.
“...”
“Hei, Razox. Kau sedang sibuk? Mau menemaniku keluar?” Tanya Tino yang tiba-tiba datang.
“Hmm....”
Ivi sedang tidur di kamar, kalau aku bangunkan dia untuk menemani gadis ini menonton mungkin tidak masalah, aku juga tidak suka acara ini.
“Baiklah, aku ikut.”
“Tapi dengan satu syarat.”
“Apa itu?”
“Jangan berbicara denganku selama kita keluar, sedangkan aku boleh berbicara denganmu.”
“...”
“Umm... Razox, bukannya itu dua?”
“Satu! Kau ini bagaimana, sih?!”
“Baik, baik, terserah kau saja.”
“Ayo.”
...
...
...
Kami berdua berjalan ke pasar yang Tino maksud, pasar itu tidak jauh dari vila tempat kami menginap.
“Sepertinya aku pernah kesini...”
“Tidak, ini pertama kalinya, itu hanya perasaan deja vu.” Ucap Tino.
“Mungkin tadi saat tertidur, aku membuka mataku saat lewat sini.”
“Hei, sudah kubilang jangan berbicara denganku!”
“Kau yang mulai bicara.”
“Aku bicara sendiri! Tidak perlu dibalas.”
“Ya... terserahlah...”
...
“Itu toko yang kumaksud, ayo!” Ajak Tino menunjuk toko yang ia maksud.
“Eits, jangan berbicara padaku, aku menunggu di luar saja.”
“Terserah, lagipula aku tidak bicara padamu.”
“...”
Kami berjalan ke toko itu, Tino masuk, sedang aku menunggunya berdiri di luar.
“...”
“...”
“...”
Kenapa daritadi aku melihat pasangan lawan jenis berjalan? Memangnya mereka besok tidak masuk kerja atau sekolah gitu?
“...”
Aku melihat kalender yang ada di dalam toko.
Kalender itu menunjukkan kalau sekarang hari Sabtu.
Pantas saja banyak orang, ternyata hari ini hari Sabtu, besok Minggu, orang-orang tidak ada yang masuk kerja ataupun sekolah.
Pemandangan seperti ini tidak enak terlihat di mataku, lebih baik aku masuk ke toko.
Ketika aku masuk ke dalam toko, aku dihalangi oleh seseorang.
“Terima kasih, Pak!” Teriak Tino.
“Eh? Sudah selesai? Banyak sekali.” Aku melihat Tino dengan 2 kantung plastik yang besar, aku tidak penasaran apa di dalamnya.
Tanpa mengajakku pulang, Tino berjalan pulang dan aku mengikutinya.
...
...
...
Sesampainya di vila, aku masih melihat mereka berdua menonton film yang tadi kutonton, jadi aku yang terlalu sebentar keluar atau film itu memnag durasinya lama?
“Baiklah, Tino, kau sudah boleh berbicara denganku.”
“...” Tino tidak membalasnya, dia tetap mengeluarkan barang-barang dari plastik bawaannya.
“Ivi, harusnya tadi kau saja yang keluar, aku menemani gadis itu sambil menonton film itu tidak apa.” Keluhku yang duduk malas di sofa.
“Eh? Kau sendiri yang minta.” Balasnya.
“Hari ini bukan hari yang tepat untuk keluar.” Keluhku lagi.
...
Setelah makan malam, kami berkumpul di halaman belakang vila sambil menyalakan api unggun. Sekarang sekitar pukul 11.30 malam.
“Haaa... akhirnya aku bisa jalan-jalan bersama teman-temanku.” Ucap gadis itu.
“Harusnya kita mengajak Lulu juga supaya lebih banyak orang.” Tambahnya.
“Eh? Kupikir jangan, terlalu mendadak jika kita mengajak dia, dia bisa saja tidak membayar uang ini tepat waktu. Yang ada dia justru tidak ikut dan kecewa.” Ucap Ivi.
“Ya... kita bisa saja ‘kan membayari dia dulu pakai uang kita?” Usul Tino.
“Ah, iya, kenapa aku tidak memikirkan hal itu kemarin?”
“Tidak, aku tidak bisa membayari dia, uangku sudah pas saat itu untuk jalan-jalan ini dan yang lainnya.” Ucapku.
“Baiklah, aku tidak mau membuang-buang waktu, aku akan mengambil kembang api yang sudah kubeli di dalam vila.” Ucap Tino berdiri dan berjalan ke dalam vila.
...
Dia kembali dengan satu petasan dan beberapa kembang api.
“Eh? Itu kecil sekali, tadi memangnya dia beli apa saja di toko?”
“Razox, tolong nyalakan petasan ini, arahkan ke atas. Aku tidak berani karena aku trauma dengan petasan.” Ucap Tino memberikan petasan kepadaku.
“Lalu kenapa kau membelinya?” Gumamku.
...
DOR
Aku menyalakan petasan itu dan menembakkannya ke arah langit, semua melihat petasan itu, dan petasan itu meledak di langit dengan mengeluarkan warna-warna yang membekas di mata mereka.
“Indahnya...”
“Eh?”
Aku melihat Ivi melihat ke atas sambil memainkan kembang apinya, sedangkan Tino dan gadis itu sedang berbicara tanpa mempedulikan sekitarnya, aku tidak bisa mendengar mereka karena suara petasan yang cukup berisik.
Tunggu, jangan-jangan...
__ADS_1