
...
...
...
“Uh... dimana ini???”
“Eh?!”
“Kenapa aku bisa ada disini?”
Aku ingat jelas kalau tadi malam aku tidur di kolong jembatan tol sendirian, seingatku juga tidak ada orang di sekitarku.
Sekarang, kenapa aku tiba-tiba terbangun di ruang kelas? Bahkan aku terbangun kursi dimana aku duduk.
“Ke-kemana yang lain?”
Aku juga bangun di ruang itu sendirian, meja dan kursi tertata rapih persis seperti ruang kelas.
“Benar juga! Handphone-ku!”
Aku mengambil handphone-ku untuk menghubungi yang lain di kantung celanaku, tapi tidak ada handphone-ku di kantung celana, hanya ada dompet, jadi aku hanya mengambil dompet.
“Eh?”
Sebagian dari isi dompetku juga menghilang, semua lembaran uang, kartu keanggotaan perpustakaan, catatan-catatan, kartu ATM, yang tersisa hanyalah satu...
“Ini... kartu pelajar...”
“Kenapa hanya kartu pelajarku yang ada?”
“Ini aneh... sebenarnya ini kelasku bukan, sih?”
Tapi sepertinya ini bukan di kelasku, walaupun posisiku bangun di kursi dimana aku duduk di kelas, dan suasana ruangnya seperti kelasku, kelas X-5. Ini bukanlah ruang kelas X-5, aku yakin itu, tempat ini juga terlihat sedikit gelap, hanya ada satu sumber pencahayaan, yaitu dari luar.
“Uhh... panas, ya...”
Aku berdiri, lalu melangkah keluar.
Aku melihat saklar lampu sebelah pintu yang terbuka.
“Eh?”
Ternyata pintu itu bukan terbuka, tidak ada pintu yang menutupi jalan akses ke kelas ini.
TEK
TEK
TEK
TEK
Aku juga mencoba menyalakan saklar itu, tapi tidak berfungsi sama sekali.
“Sebenarnya tempat apa ini?”
TINGTING
Suara itu, suara bel sekolah yang biasa kudengar, berbunyi sangat keras.
“Halo, tes, tes, apa sudah menyala?”
“…”
Aku menengok ke arah asal suara itu, speaker yang ada di atas papan tulis, benda itu berbunyi dengan baik.
“...”
Suara dari speaker itu laki-laki, dan suaranya terdengar cempreng, mungkin ini suara samaran.
“Yak, semuanya sudah bangun ya?”
“Selamat datang di semester 2! Ini adalah momen yang ditunggu-tunggu olehku dan orang-orang, dan ini juga akan menentukan apakah kalian layak untuk naik kelas atau tidak.”
“Apa ini yang di maksud Reyfall?”
“Sebagai kata sambutan, saya akan menjelaskan bagaimana sistem ini bekerja, tempat ini memiliki 40 lantai dan semua sama, jadi seluruh penghuni kelas dan angkatan kalian tersebar di tempat ini. Program ini akan berlangsung selama 6 bulan, sampai bulan Juni, dan cara untuk dinyatakan berhasil dari program ini adalah dengan mengambil kartu pelajar milik pelajar lainnya, dengan cara apapun, mencurinya, mengambilnya secara paksa, membunuh pemiliknya, atau apapun, terserah bagaimana caramu mendapatkannya, atau dengan kata lain, yang naik kelas hanya setengah dari angkatan kalian, sisanya tidak naik kelas.”
“…”
“Jika kalian mendapat kartu pelajar temanmu sebelum waktunya habis, lebih baik kau bersembunyi di tempat yang sangat aman sampai pemberitahuan waktu telah habis. Atau jika kalian tidak berhasil mendapatkan kartu pelajar siapapun sampai waktunya habis, kalian dinyatakan tidak naik kelas atau dikeluarkan dari sekolah. Tergantung perlakuanmu selama setahun ini.”
“Jika kalian ingin buang air, jangan khawatir! Toilet tempat ini dijamin bersih, toiletnya sangat bersih, tapi juga tidak memiliki lampu ataupun pencahayaan, jadi tetap gelap.”
“Oiya, saya tidak akan membiarkan kalian mati kelaparan, setiap ruang sudah disediakan kulkas yang menyala, dan akan diganti makanannya setiap hari, ya, setiap hari.”
“Makanan?!”
Aku melihat kulkas yang dimaksud dan langsung menghampirinya.
“Tunggu dulu, tempat itu...”
Setelah kusadari lagi, tempat kulkas itu berada di pojok belakang kelas dan menutupi tembok yang seharusnya menjadi ‘Pintu Depresi’, namun hanya tembok saja di belakang kulkas itu, tidak ada tanda kalau tempat itu dulunya adalah ‘Pintu Depresi’, hanya tembok polos.
“Cukup mudah, bukan?”
“Semoga beruntung, terima kasih.”
TINGNONG
“Sepertinya aku butuh asupan.”
Aku mengambil makanan yang ada di dalam kulkas itu, apapun yang kusuka dan ingin makan. Dan lalu memakannnya, sendirian...
...
...
...
“...”
TINGTING
“Halo, maaf saya tambahkan sedikit.”
“Untuk semuanya, jangan sampai mati ya...”
“Karena jika kalian mati di tempat ini, kalian akan benar-benar ‘mati’.”
“Maksud saya ‘mati’ di sini adalah benar-benar mati, mati dari dunia ini, mati dari ingatan teman-teman, bahkan mati dari ingatan keluarga.”
“Jadi pesanku untuk semua, jangan sampai mati dan tetaplah hidup.”
TINGNONG
“Hah?”
“Aku tidak mengerti maksudnya, apa ini ada kaitannya dengan hal yang diberitahu Reyfall?”
“Sudahlah, sekarang aku harus bertemu yang lain.”
Aku berdiri dan keluar dari ruang itu.
“Hah?!”
Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aku berada di koridor, tapi ini benar-benar terasa tinggi, bukan di lantai 3 yang seharusnya, seperti di lantai 30 ke atas, ditambah ada air terjun lahar, yang sepertinya tidak akan habis, sepertinya sumber pencahayaan dalam ruang dari air terjun lahar itu.
“Ternyata aku memang bukan sedang di kelas...”
Aku melihat ke atas, langit masih terlihat jelas, karena tempat ini sepertinya tidak memiliki atap. Dan ada lantai-lantai lagi di atas.
“Sepertinya sekarang masih pagi...”
Aku melangkah ke pinggir dan melihat ke bawah.
“Uh, Ternyata benar ada 40 lantai...”
Terlihat ada kolam lahar tepat di lantai 1, dan sepertinya aku berada di lantai 35.
“Pantas saja panas...”
“...”
“Tapi apa benar yang lain ada di tempat ini???”
Aku berjalan ke ruang sebelah dan masuk.
“Permisi.”
“...”
“Ra-Razox? Apa itu kau?” Aku mendengar suara balasan dari ruang itu.
“I-iya ini aku.” Jawabku ragu.
“Baguslah...”
Seseorang langsung keluar dari kegelapan dan memunculkan diri di hadapanku.
“Kau...”
Dia adalah Claudia.
“Razox, tolong aku untuk mencarikan yang lain, aku ketakutan.” Ucap Claudia sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
“Eh? Kau ini kenapa?”
“Aku tidak tau, sejak aku bangun di tempat ini, perutku sudah terasa sakit.” Ucap Claudia.
“Ohh... mungkin itu hanya diare biasa, nanti juga sembuh dengan sendirinya, aku juga pernah mengalaminya, kok. Bangun tidur, terus perut terasa sakit.” Ucapku dengan santai.
“Kalau begitu sekarang bantu aku mencari yang lain, ayo.” Ajak Claudia.
“Ba-baik. Tapi apa kau masih bisa berjalan dengan keadaan seperti itu?”
“Tentu saja, ini bukan masalah untukku!” Claudia terlihat sangat bersemangat walaupun dia masih memegangi perutnya.
“...”
Kami berdua berjalan ke arah tangga.
“Mau naik atau turun?” Tanyaku.
“Jelas turun, pintu keluar ‘kan ada di lantai satu.” Ucap Claudia.
“Tadi kau bilang ingin mencari yang lain. Bisa saja mereka ada di atas.”
“Baiklah, aku ikut saja.” Ucap Claudia pasrah.
“Lagipula, turun ke lantai satu dengan terburu-buru juga bukan ide yang bagus.” Tambahnya.
Kami memeriksa ruangan satu per satu dengan sangat hati-hati, memastikan kalau orang yang di dalam ruang itu adalah orang yang salah satu kami kenal.
“Tunggu, Claudia.” Ucapku menahan Claudia.
“Ada apa?”
“Lihat itu.”
Aku menunjuk bayangan yang ada di dalam ruangan itu, terlihat sesosok orang yang sedang duduk dan tertunduk.
“Hmm... aneh...”
Aku menyadari sesuatu, ada 2 tongkat di kedua bahunya dan sesuatu seperti kain yang menyambungkan kedua tongkat itu.
“Kau pikir itu apa?”
“Itu...” Claudia mempertahikan objek yang kutunjuk.
“Itu pegangan untuk mendorong kursi dan sandaran.”
“Itu kursi roda!”
“Itu pasti Cinta!” Seru Claudia.
“Hei, darimana kau bisa tau? Kita belum memastikan siapa gadis itu.”
“Jelas itu Cinta, menurutmu siapa lagi di sekolah kita yang pakai kursi roda?”
“...”
Tidak ada, hanya dia.
Tanpa ragu, Claudia langsung menghampiri gadis itu.
“Hoi! Cinta!”
“...”
Orang itu sadar kalau ada yang memanggilnya dan langsung menunjukkan wajahnya.
Ternyata benar kalau itu adalah gadis itu.
“Clau... dia...”
“Kenapa kau terlihat sangat lemas? Apa kau sudah makan?” Tanya Claudia yang langsung mendorong kursi roda itu ke kulkas.
Gadis itu tidak hanya terlihat sangat lemas, namun juga terlihat sangat putus asa.
“Bukan, bukan itu...” Gadis itu menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?” Tanyaku.
“Hanya saja... aku tidak yakin bisa keluar dari tempat ini dan aku akan segera terbunuh...” Ucap gadis itu dengan sangat lemas.
“Uh... tidak perlu khawatir, kami akan melindungimu.” Ucapku sambil berjalan mendekatinya.
“Kau tidak akan mati disini, kami akan membantumu keluar dari tempat ini...”
“...” Gadis itu masih tampak lemas dan mulai sedih.
“... dan menemukan Tino,”
“dia pasti disini juga dan sedang mencarimu.”
“...”
“Ra... zox...”
“...”
“Terima kasih!!!” Gadis itu melontarkan diri dari kursi roda dan langsung memeluk pinggangku yang ada di depannya.
“EEHH!!” Aku langsung mengangkatnya kembali dan meletakkannya di kursi rodanya.
“...”
“Ini,” Claudia memberikan gadis itu sepiring daging untuk di makan.
“semoga saja ini cukup, tapi kalau kurang, bilang saja.”
“Terima kasih.” Gadis itu menerima makanan dari Claudia dan langsung memakannya.
Dia belum makan sejak sadar dari tempat ini...
...
...
...
“Bagaimana, Cinta? Sudah kenyang?” Tanya Claudia.
“Ya.”
“Sekarang ayo kita cari yang lain dan keluar dari tempat ini.” Ucapku bersemangat.
“Baiklah.” Gadis itu terlihat setuju, tapi aku masih melihat keraguan dari wajahnya, terlihat kalau dia belum siap untuk keluar dari ruang ini.
Tapi ya sudahlah, kami keluar dari ruang itu.
“...”
“Sepertinya yang lain ada di bawah...” Ucap Claudia.
“Kalau begitu kita ke bawah.” Balasku.
“Hei! Claudia!” Panggil seseorang dari kejauhan.
“Siapa itu?!” Aku langsung mengeluarkan kuda-kuda untuk bertarung.
“Eh?”
“Yuli?!” Claudia langsung menyadari kalau itu adalah temannya, Yuli.
“Claudia!”
Mereka berdua saling menghampiri dan berpelukkan.
“...”
“Aku kira aku kehilanganmu.”
“Tidak, aku disini, Yuli.”
“...”
Aku merasa tidak nyaman melihat pemandangan itu.
“Teman-teman, ayo kita lanjutkan perjalanan kita, masih ada banyak lantai di bawah.” Ucap gadis itu yang menginterupsi mereka.
...
Saat di depan tangga, kami menatap ke bawah kebingungan.
“Bagaimana ini? Bagaimana kita bisa menurunkan Cinta?” Tanya Claudia.
“Lakukan saja seperti biasa, kamu ‘kan sering menaik-turunkan aku di tangga, Razox.” Ucap gadis itu.
“Memang benar, tapi ini berbeda, tangga itu terlihat gelap, bahkan aku tidak bisa melihat anak tangganya.” Ucapku yang ragu dengan diriku sendiri.
“Aku akan membantu.” Ucap Yuli.
“Eh? Te-terima kasih.”
“Aku juga!”
Kami turun ke lantai bawah dengan bantuan Claudia dan Yuli.
“Razox, sepertinya aku kelelahan.” Ucap Claudia yang sudah tertunduk.
“Baiklah, kita akan beristirahat dulu.”
__ADS_1
Aku mengajak mereka ke ruang dimana aku sadar tadi. Tadi aku tidak makan banyak, jadi makanan di kulkas masih tersisa banyak.
“...”
“Kita harus menemukan yang lain dan keluar dari tempat ini.” Ucap Claudia dengan mulut yang penuh dengan makanan.
“Hei, jangan berbicara saat mulutmu ada makanan!” Aku menegurnya.
“Hmm... tapi kelihatannya tidak semudah itu,” Ucap Yuli.
“kau dengar pengumuman tadi? Untuk keluar dari tempat ini setidaknya satu orang memiliki dua kartu pelajar,”
“dan kartu pelajar itu bisa di dapatkan dengan cara apapun, yang berarti bisa membunuh pemiliknya.”
“Kalau begitu pasti akan ada pembunuhan di tempat ini!” Claudia terlihat takut.
“Aku tidak boleh sampai terbunuh!” Lanjutnya yang terlihat semakin takut.
“Ta-tapi apa kalian tau tidak akan ada pembunuhan di malam hari?” Ucap gadis itu.
“Eh?” Kami semua bingung mendengarnya.
“...”
“Penerangan tempat ini hanya dari luar, air terjun lahar itu, dan satu lobang besar yang memungkinkan cahaya masuk,”
“dan pada malam hari, tempat ini benar-benar akan gelap gulita, tidak akan ada yang berani keluar, tidak akan ada yang berani membunuh.” Ucap gadis itu.
“Eh? Kau yakin? Tau darimana kau? Bahkan kita belum melewati malam di tempat ini.” Tanyaku yang meragukan argumennya.
“Pada malam hari, orang-orang akan kelelahan karena naik-turun tangga pada siang hari, itu juga adalah waktu untuk mengisi tenaga mereka.”
“Tunggu dulu, air terjun dari kolam lahar itu bisa dijangkau, dan meja-kursi ini bisa diangkat, mereka bisa saja menjadikan meja atau kursi yang terbuat dari kayu ini menjadi sumber penerangan mereka.” Ucap Yuli.
“Sudah! Sudah! Hentikan perdebatan kalian yang tidak menghasilkan apa-apa ini!” Sela Claudia.
“Sekarang, ayo kita lanjutkan perjalanan kita untuk mencari yang lain.” Ajaknya.
...
Kami berjalan ke arah tangga lagi.
...
“Sekarang mau kemana kita?” Tanyaku.
“Turun.” Jawab Claudia singkat.
“Eh? Tidak ke atas lagi? Kalau yang lain ada di atas, bagaimana?”
“Kupikir cukup sekali saja kita ke atas, lagipula tidak mungkin semuanya ada di atas.” Ucap Claudia.
“Baiklah kalau itu maumu.”
Aku menuruti perkataan Claudia saja. Kami turun dan memeriksa setiap ruangan yang kami lewati. Tapi sebelum kami memeriksa setengah dari ruangan di lantai itu, kami berpapasan dengan segerombolan orang.
“...”
“...”
Mereka menatap kami seperti sedang mengincar kartu pelajar kami.
“Sepertinya sudah dimulai...”
“Razox, aku takut, ayo kita pergi dari sini.” Ucap gadis itu.
“...” Aku menganggukkan pelan dan memulai langkahku untuk berjalan, sementara yang lain mengikuti di belakangku.
“Hei.”
Salah satu dari mereka menutupi jalan kami dengan tongkat besi dan menghentikan langkah kami.
“Hah?! Darimana kalian mendapatkan tongkat itu?” Tanyaku kaget melihat tongkat besi di depan mataku.
“Tidak penting! Aku tau kalian punya kartu pelajar, cepat serahkan!” Bentak orang itu.
“Tidak.” Aku membalasnya dengan pelan dan tenang.
“Serahkan!”
“Tidak.”
“Kubilang serahkan!”
Dia langsung mengayunkan tongkat besinya dan akan mengenaiku.
Tapi aku langsung menahan tongkat besi itu yang hampir mengenai kepalaku.
“Semuanya, cepat lari!” Teriakku.
Yang lain langsung berlari ke depan, melewatiku dan orang itu, tapi aku baru ingat kalau orang itu tidak sendiri, masih ada 3 orang di belakangnya, aku langsung menepis tongkat itu dan berlari untuk menjatuhkan 3 orang itu. Aku berhasil dan yang lain terus berlari melewati mereka.
“Lawan kalian adalah aku!”
Sial, situasi ini, 4 lawan 1, aku harus bisa melawan mereka.
“Hmm... tidak seimbang, jika kau kalah kami hanya mendapat satu kartu pelajar, sedangkan kalau kami yang kalah, kau mendapat 4 kartu pelajar sekaligus.” Ucap orang itu.
“Tapi, bos, setelah mengalahkan dia kita bisa mengejar yang tadi, apalagi salah satu dari mereka tidak bisa berjalan.”
“Kau benar, kau akan kalah disini.”
Cih, bahkan mereka tidak tau siapa aku, dan siapa gadis yang mereka bilang tidak bisa berjalan itu.
Tunggu dulu, aku juga tidak mengenal mereka, hanya pernah melihat mereka sekilas saat di sekolah.
“HEEAAA!!!” Orang pertama yang memegang tongkat besi langsung maju yang mengayunkan tongkat besi itu untuk memukulku.
Aku terus menghindari ayunan itu agar tidak mengenaiku sedikitpun.
“Mereka masih amatir!”
Yang lain juga ikut menyerang walaupun memakai tangan kosong.
Aku terus menghindar tanpa menyerang sampai aku mendapat celah untuk menyerang.
...
...
...
Sekarang!
DUAK
Aku melihat kaki salah satu dari mereka terbuka dan langsung memegang dan menariknya.
BRUAK
Dan memutarnya hingga mengenai ketiga orang itu, dan melontarkan orang yang berputar bersamaku.
“...”
“Aku tidak akan mengambil kartu pelajar kalian.”
“...”
Mereka tidak membalas, mereka terlihat tidak kuat untuk berdiri dan bertarung lagi.
Aku langsung berlari dan mencari yang lain.
“Kemana yang lain??”
“Razox, disini.” Ucap Claudia yang daritadi mengintip dari pintu.
Aku langsung masuk ke dalam ruang itu.
“Kalian tidak bersembunyi di ruang yang lebih jauh?” Tanyaku.
“Tidak, aku sudah lelah! Lagipula, mereka tidak melihat kita.” Balas Claudia.
“Apa disini masih ada makanan?” Tanya Yuli sambil menghampiri kulkas.
“Sepertinya begitu.” Ucap gadis itu.
“Hm?”
Tiba-tiba terdengar suara dari ujung ruang yang gelap.
“HIII!!” Yuli kaget dan langsung menghentikan langkahnya.
“Cinta? Apa itu kau? Cinta?”
Suara itu semakin mendekat dan bertanya tentang gadis itu.
“...”
Akhirnya sumber suara mendekat dan memunculkan dirinya.
“Ini aku,”
“Tino.”
__ADS_1