
Keesokan paginya, aku berangkat seperti biasa. Aku merasa ada yang salah...
Tapi biarlah.
“Tumben, sudah jam segini, Tino belum memanggilku.”
Aku melihat depan rumahku yang kosong, hanya ada tukang koran yang baru saja lewat.
“Pagi, Razox!” Sapa tukang koran kepadaku.
“Pagi juga.”
Aku bingung harus membalasnya seperti apa.
“Ah! Aku berangkat sekarang saja, takut terlambat.”
“Jefran! Aku berangkat dulu!”
Aku pergi ke sekolah tanpa Tino, dan menunggu di halte depan sekolah.
“Tumben gadis itu belum datang...”
BOING BOING
Aku tau suara itu akan terdengar.
“Dek Razox, selamat pagi.” Sapa orang itu yang adalah Ibu dari gadis itu, tentunya sambil mendorong kursi roda yang dinaiki gadis itu.
“Uhh... selamat pagi...”
“Dek Tino kemana? Kok tidak ada?” Tanya Ibu gadis itu.
“Umm.. aku tidak tau, sejak aku berangkat kesini, dia sudah tidak ada.”
“Ohh begitu ya... kalau begitu, tante nitip salam aja ya, Dek Razox.”
“Nitip Cinta, ya...”
Ibu gadis itu langsung ketika sudah menyerahkan anaknya kepadaku.
“Dahh...”
BOING BOING
Aku mendorong kursi roda itu ke arah sekolah.
“Tino kemana, ya?” Gumamku.
Gadis itu tidak berbicara apapun sejak aku melihat dia bersama ibunya tadi.
“Razox!”
Seseorang memanggilku dari belakang.
“Eh? Siapa ya?” Aku menengok ke asal suara itu dan pura-pura tidak tau, padahal memang tidak.
“Hee... kejamnya, aku Juniardo, masa kau lupa?” Tanya orang itu yang ternyata adalah Juniardo.
Juniardo... kalau tidak salah, dia adalah klien pertamaku, uh, payahnya diriku, bisa melupakan hal seperti ini.
“Ohhh ya, Juniardo.” Aku baru ingat lagi.
“Kemarin kok gak masuk, sakit apa kau memang? Demam, ya?” Tanya Juniardo.
“Eh?” Aku bingung mendengarnya.
Adikku kemarin juga berpikir kalau aku tidak sekolah...
“Tidak, kemarin aku masuk...”
“Eh? Yang benar?! Kemarin Tino bilang kau tidak masuk.”
“Siapa bilang? Kemarin aku ada di sekolah, kau lupa?”
“Hee...”
Aku tidak mendengar suara langkah kaki darinya, sepertinya dia menghentikan langkahnya.
“...”
Gadis itu nampak kebingungan, terlihat dari wajahnya.
__ADS_1
“Kau memikirkan apa?”
“...” Gadis itu tidak menjawab.
“...”
Aku juga diam dan terus jalan ke kelas seperti biasa.
...
Sampai waktu istirahat tiba, aku tidak melihat sosok Tino, mungkinkah dia yang sakit?
“Ivi, kemana Tino? Kenapa hari ini dia tidak masuk?” Tanyaku kepada Ivi yang sedang membaca buku novel.
“...”
“Tino... aku tidak tau dia kemana.” Jawab Ivi.
“Yang pasti kemarin dia mencarimu.” Sambung gadis itu.
“Eh? Mencariku? Untuk apa?”
“Kemarin kau hilang? Kau tidak ingat?”
“EH?! Kenapa semua orang bilang kalau aku tidak masuk kemarin??!! AKU MASUK TAUUU!! APA INI PRANK??!!”
“...”
“Cih.”
“Perlukah kita mencari Tino?” Tanya gadis itu.
“Aku pikir tidak perlu, mungkin saja dia akan muncul seperti Razox.” Ucap Ivi.
“Eh?” Aku langsung berhenti marah ketika namaku disebut.
“Apa maksud kalian?”
“Ya benar, kemarin kamu hilang, Tino mencarimu dan sekarang dia yang hilang, tapi kabar baiknya kamu tiba-tiba ada.”
“Ini aneh, banyak yang mengira kalau aku tidak masuk kemarin, padahal kemarin aku ada di kelas ini. Aku butuh penjelasan lebih rinci”
“Kau pasti tidak ingat kalau kemarin kita bertemu di taman sebelum bertemu di koridor.” Ucap Ivi dengan nada tegas.
“Eh?”
“Biar kutunjukkan nanti.”
“...”
...
...
...
Sampai akhirnya jam pulang sekolah tiba, Ivi mengajakku ke kantin.
“Apa yang kita lakukan disini? Orang yang berjualan di kantin sudah tutup.” Keluhku.
“Cinta akan menceritakan secara rinci bagaimana kami menemukanmu.” Ucap Ivi.
“Razox, aku tau kamu akan bingung mendengar ini...”
“Tidak apa, ceritakan saja.”
“Umm... jadi kemarin sedang menunggu Ivi disini, kemudian aku melihat sosok hitam lewat situ,”
“aku memanggil Ivi, lalu kami mengejar sosok itu,”
“saat kami mengejar sosok itu, tiba-tiba kami melihat kamu sedang duduk di taman sendirian, apa kamu ingat itu?”
“Tidak. Apa benar aku ada di taman kemarin?”
“Lalu saat kami menemuimu, kami disuruh pulang olehmu.” Ucap gadis itu.
“...”
“Maksudmu...”
“... sosok seperti itu??” Tanyaku sambil menunjuk sosok yang baru saja lewat.
__ADS_1
“Itu pasti Tino! Cepat kejar!” Seru Ivi.
Kami langsung berlari mengejar sosok yang baru saja kulihat tanpa gadis itu.
“Arah sana!” Teriak Ivi sambil menunjuk arah sosok itu pergi.
Sosok itu pergi ke arah perpustakaan.
...
Saat kami berlari disana, pintu perpustakaan terbuka dari dalam.
“...”
“...”
Kami terkejut saat melihat sosok yang keluar dari perpustakaan.
“Tino?”
Dia terlihat sangat kaku dengan tatapan kosong ke depan.
“Eh? Razox? Diviana?” Tino menyadari keberadaan kami berdua.
“Apa yang kalian lakukan disini?”
“Kami... kami sedang mencarimu!”
“Eh? Untuk apa? Sebaiknya kalian pulang, ini sudah mau malam.” Ucap Tino.
“Kata-kata itu...” Ivi memikirkan sesuatu.
Ivi langsung menarikku untuk pergi dari tempat itu.
“Eh? Ada apa?”
“Kata-kata itu, hampir sama seperti yang kau katakan kemarin.”
“Hah? Memangnya aku pernah mengatakan itu?”
“Lihat saja! Pasti siklusnya sama, nanti kita akan kembali kesana.”
Kami kembali ke kantin untuk menjemput gadis itu.
“Cinta, ayo kita pulang, kami sudah menemukan Tino.” Ucap Ivi.
“Eh?! Yang benar?! Dimana dia sekarang?” Tanya gadis itu yang terlihat sangat senang.
“Kami melihatnya di perpustakaan, ayo kita kesana.” Ajak Ivi.
Kami pergi ke perpustakaan lagi, kali ini bersama gadis itu.
Sesampainya disana, terlihat pintu perpustakaan terbuka dan seseorang keluar dari sana.
“Tino!” Gadis itu tiba-tiba terlihat sangat senang.
“Cinta!” Orang itu yang ternyata Tino langsung merespon.
“Diviana! Razox!” Dan dia baru menyadari ada kami di belakangnya.
“Darimana saja kau?” Tanya Ivi.
“Dari perpustakaan, aku sehabis membaca buku.” Jawab Tino.
“Hmm???” Ivi terlihat meragukan jawaban itu.
“Sebelum dari perpustakaan, kau dari mana?” Tanya Ivi.
“Kelas.” Jawab Tino singkat.
“Hmm??” Ivi terlihat ingin berteriak.
“Aku tidak puas dengan yang kulihat sekarang.” Ucap Ivi.
BIP
Ivi menggesekkan kartu pelajarnya untuk masuk ke perpustakaan.
“Tempat ini pasti menyimpan sesuatu.”
“Ayo!”
__ADS_1