
TINGTING
“Selamat pagi semua!”
“Sekarang sudah hari ke-152! Sisa siswa saat ini adalah 164 dari 320! Pastikan kalian bisa bertahan hidup sampai waktu habis!”
“Karena sebentar lagi pintu keluar di lantai 1 akan dibuka!”
“Semangat semua!”
TINGNONG
...
...
...
“Hikss... hiks...”
“...”
Sudah lebih dari sebulan sejak kematian Cinta, dan Ivi masih merasa kehilangan...
Kami berdua sedang berada di sebuah ruang di lantai 3, Ivi melihat dan menangisi kartu pelajar yang dia pegang, kartu pelajar itu milik Cinta.
“Cinta... kenapa...???”
“...”
Aku sendiri tidak enak melihat Ivi menangis seperti itu.
“Ivi...”
“...”
“Sudahlah... jangan menangis begitu...”
“Razox!” Ivi langsung membentakku.
“Kau tidak tau rasanya kehilangan orang yang disayang!” Bentaknya lagi.
“Aku berpikir kalau aku akan keluar dari tempat ini bersama Cinta...” Ucap Ivi dengan nada sedih.
“...”
“Maafkan aku, aku gagal melindunginya.”
“Aku juga berpikir kalau aku akan keluar dari tempat ini... bersama yang lain...”
“Lisa... Tino... Claudia... Rani... Tasla... Yuli... Puzzle... bahkan Cinta, aku harus kehilangan mereka semua!”
“Ivi, sebenarnya aku juga kehilangan teman-temanku.”
__ADS_1
“Kita harus bergerak maju, terima saja kalau hal ini sudah terjadi.”
“Kau masih juga tidak tau rasanya!” Bentak Ivi.
“Kau tidak akan pernah mengerti...”
“Ivi...”
“Sebentar lagi pintu keluar akan dibuka, ayo, bersemangatlah!”
“Cinta...”
“Uh... kenapa kau bisa merasa kehilangan seperti itu? Padahal kau juga pernah menghilangkan nyawa orang.”
“Itu tidak benar! Aku berbohong soal itu!” Ivi langsung membentak lagi.
“Aku hanya mengancam mereka hingga mereka mau menyerahkan kartu pelajar mereka!”
“...”
“Uh... maaf kau sudah menuduhmu.”
“Memang sih, orang sebaikmu tidak akan pernah membunuh...”
...
“Ayo, Ivi, sebentar lagi pintu keluar akan terbuka di lantai 1, aku jamin tidak akan ada pembunuhan disana!” Ajakku.
“...”
“Apa kau yakin tidak akan ada pembunuhan disana?” Tanya Ivi dengan nada serius.
“Eh?”
“Jangan lupakan hal ini, aku akan membalaskan dendamku untuk Puzzle, Claudia, dan teman-temanku yang pembunuhnya masih hidup. Aku masih ingat jelas siapa pembunuhnya.”
“Jadi aku yang akan melakukan pembunuhan di lantai 1!” Seru Ivi.
“Err... apa kau yakin soal itu?” Tanyaku melihat Ivi dari atas sampai bawah.
“Hm? Memangnya kenapa?” Tanya balik Ivi.
“Kau tidak punya senjata.”
“...”
“Cih! Semoga saja dia sudah mati dan aku tidak bertemu dengannya di kelas 2.”
“Kalau aku bertemu di kelas 2, aku akan membunuhnya!”
“Ya! Itu semangat yang bagus!”
“Sepertinya...”
__ADS_1
“Razox...” Tiba-tiba Ivi memanggilku.
“Apa?”
“Aku baru ingat, kita belum bertemu Lulu sejak hari pertama. Kira-kira kemana dia?”
“...”
“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” Tanyaku balik.
“Aku baru ingat tentang dia.”
“...”
“Aku jadi khawatir tentang dia.” Ucapku tertunduk.
“Dia adalah orang yang sangat pemalu, apa dia bisa bertahan di tempat seperti ini?”
“Kita tidak tau, tapi kita akan melihatnya di lantai 1 nanti.”
“Uh... di lantai 1 nanti akan ada 160 orang, itu jumlah yang cukup banyak untuk hanya mencari 1 orang, bahkan aku yakin walaupun kau ingat dengan orang yang akan kau bunuh, kau tidak akan menemukannya karena terlalu banyak orang.” Jelasku ragu.
“Bukannya aku meragukanmu, tapi bisa saja kita kebetulan bertemu mereka, bahkan bisa saja kita bertemu dengan mereka sebelum di lantai 1.” Balas Ivi optimis.
“Uhh... baiklah, kita bersiap untuk keluar.”
“Ayo.”
TINGTING
“Pengumuman tambahan!”
“Eh?”
“Untuk mempercepat waktu, kami akan menurunkan ‘Dewa Kematian’.”
“Apa?!”
Aku merasa ada yang aneh ketika mendengar nama itu,
“Sepertinya aku pernah mendengar nama itu...” Ucap Ivi.
“Aku juga, tapi dimana??”
“Dia akan ‘mengosongkan’ setiap lantai, dimulai dari lantai paling atas, lantai 40, dia menggunakan palu besar yang bisa menghancurkan apapun.”
“Dimohon kepada semua peserta agar ke lantai 1, terima kasih.”
TINGNONG
“Ayo! Kita harus cepat!” Ajakku yang tiba-tiba ketakutan dan menarik Ivi.
Aku dan Ivi keluar dari ruang itu.
__ADS_1