
TINGTING
“Selamat pagi semua!”
“Sekarang hari ke-24! Sisa siswa saat ini adalah 232 dari 320! Pastikan kalian bisa bertahan hidup sampai waktu habis!”
“Semoga beruntung!”
TINGNONG
Kami berdua turun ke lantai 25, dan memeriksa setiap ruang yang kami lewati.
“...”
“Sepertinya ini ruang yang tadinya ada Lisa dan yang lainnya” Pikirku.
“Bagaimana kau bisa tau?”
“Itu.” Aku menunjuk sesuatu di ujung ruang, tepatnya kulkas.
“Rani!” Ivi langsung menghampiri apa yang kutunjuk.
Terlihat Rani tergeletak tidak bergerak di dekat kulkas, aku juga langsung menghampirinya.
Pintu kulkas itu juga tertutup tidak rapat.
“...” Ivi memeriksa keadaan Rani yang kupikir dia sudah tewas.
“Dia sudah tewas...” Ivi melepaskan mayat Ivi, sedangkan aku menghampirinya dan memeriksa seluruh kantungnya.
“Uh, tidak ada.” Keluhku.
“Dilihat dari posisi terakhirnya, tidak ada yang menghampiri dia, dan juga dia dibunuh ketika sedang mencari makanan di kulkas.” Ucap Ivi.
“Kasihan.” Lanjutnya.
“Yang lainnya sudah pergi lagi, mereka pasti turun dan tidak jauh dari lantai ini.” Ucapku dengan optimis.
“Ya, kita harus berjalan lagi untuk menemukan Cinta!” Seru Ivi.
...
Kami turun lagi dan memeriksa semua ruangan yang kami lewati.
“Uh, mayat lagi.” Ivi melihat mayat yang tergeletak lagi di ruang itu.
Dia menghampirinya dan memeriksa kantungnya untuk mengambil kartu pelajarnya.
“Tidak ada, sudah diambil.” Keluh Ivi.
“Tunggu,” Selaku.
Aku juga menghampiri mayat itu.
“...”
“Kenapa, Razox?”
“Itu...”
“Juniardo...”
Orang yang sudah menjadi mayat tak bernyawa itu Juniardo, pelanggan pertamaku saat aku pertama kali membuka jasa konsultasi.
“...”
“Eh? Maksudmu dia itu pacarnya Claudia?” Ivi tiba-tiba terkejut menyadari hal itu.
Aku menjawabnya dengan anggukan, Juniardo tewas karena luka tusuk di dadanya dan banyak goresan di wajahnya.
“Siapa yang melakukan ini...???”
“Razox, aku semakin khawatir dengan keadaan Cinta.” Ucap Ivi.
“Kemana gerombolan yang kemarin bersama dia?”
Aku melihat sekitar, Juniardo mati sendirian di ruang itu, tidak ada tanda-tanda kalau salah satu dari gerombolannya juga mati disini.
“Razox, ayo kita lanjut pergi.” Ajak Ivi.
Tapi aku tetap diam, ada sesuatu yang mengganjal pikiranku.
Apa Juniardo adalah korban sepertiku? Awalnya dia bersama yang lain dan kemudian dia ditinggalkan sendiri seperti ini.
Ah, tidak mungkin, pasti ada kesalahan di antara mereka...
“Baiklah, ayo kita lanjutkan mencari Tino dan yang lain.” Ajakku.
“Tunggu!” Ivi langsung menarikku.
“Ada yang datang.” Lanjutnya berbisik.
Ivi langsung menarikku untuk bersembunyi.
Beberapa gerombolan orang masuk ke ruang ini dan melihat sekitar.
__ADS_1
“Aduh, bos, kita masuk ke ruang ini lagi.” Keluh salah satu dari gerombolan itu.
“Itu...”
“Gerombolan yang bersama Juniardo.” Aku langsung melihat mereka dengan tatapan sinis.
“Bukan, tadi aku melihat ada orang yang masuk ke ruang ini, sepertinya dua orang, dan itu cukup untuk diambil kartu pelajarnya.” Ucap bos mereka.
“Mereka belum keluar dari ruang ini, pasti mereka sedang bersembunyi, cari mereka sampai ketemu!” Suruh bos mereka.
“Ugh, bagaimana ini?” Tanya Ivi yang langsung panik.
“Sepertinya kita harus melawan mereka.” Usulku.
“Ugh, kenapa aku harus membuang gergaji mesin itu???” Keluhku yang menyesal dengan keputusanku sendiri.
“Razox, jika kau ingin melawan mereka, kita pasti bisa, walau hanya menggunakan ini.” Ucap Ivi menunjukkan palu besar dariku.
“Baiklah.”
“...”
Salah satu dari mereka sepertinya menyadari keberadaan kami.
Orang itu langsung mendekat.
DUAK
Aku langsung memukul orang yang mendekat itu dari kegelapan dengan palu besar tepat di wajahnya.
“Itu dia! Cepat bunuh mereka!”
“WOOO!!!”
Gerombolan itu langsung berlari ke arah kami, mereka bersiap untuk menyerang.
“Bersiap, Ivi!”
Setiap serangan yang mereka arahkan kepadaku, aku terus menhindarinya.
5 lawan 2 orang?! Kami sudah kalah jumlah.
“Tidak peduli dengan banyaknya mereka!” Teriak Ivi.
“Benar, aku harus melawan mereka.”
BUK BUK
Aku langsung mengirim pukulan balasan dan langsung mengenai dada mereka, 2 orang tumbang, 3 lagi.
“Ivi! Jangan bunuh mereka!” Teriakku melihat Ivi mengayunkan palu itu.
“AKU TAU!!” Teriak Ivi.
Pukulannya mengenai 3 orang lawannya dan mereka terlempar ke tembok.
DUAK
“Ce-cepat lari!” Teriak bos mereka yang terpukul oleh palu Ivi juga.
Semua langsung bangkit dan lari pergi.
“Tidak semudah itu.” Tapi kami memegang dengan erat pundak bos mereka,
DUAK
dan menendangnya tepat di perut.
“...”
“Kupikir dia pemimpin mereka...” Ucapku.
“Kau yang tau...”
“Tapi sejujurnya, aku baru melihat dia, sebelumnya Juniardo adalah pemimpin mereka.”
“Apa itu berarti ada pemberontakan dan Juniardo terbunuh karena itu?”
“Sepertinya...”
“...”
“Hei!”
Aku mengangkat dagu orang itu.
PLAK
“Aku tidak akan membunuhmu, jawab saja pertanyaanku dengan jujur!” Bentakku kepada orang itu.
“...”
Orang itu terlihat tidak berdaya.
“Apa kau yang membunuh Juniardo?! Dan kenapa?!”
__ADS_1
“...”
Orang itu tidak menjawab dan hanya tersenyum.
“Jawab aku!”
PLAK
“Dia...”
“Dia...”
“Dia apa?!”
“Dia memang pantas mati!” Teriak orang itu.
“...”
Aku terdiam karena mendengar jawabannya.
“...”
“Dia telah merebut gadisku!”
“...”
“Claudia seharusnya menjadi pacarku sejak lama!”
“...”
“Dan dia merebutnya begitu saja!”
“...”
“Aku ingin sekali membunuhnya, tapi tempat seperti dunia nyata bukanlah tempat untuk melakukan hal seperti itu...”
“Tapi tempat ini... tempat yang bagus untuk melakukan hal seperti itu...”
“Hehehe...”
“...”
“Kau puas?!”
“Kau boleh pergi...” Ucapku dingin.
“Ka-kau tidak akan membunuhku?” Tanyanya ketakutan.
“Tidak.”
“Bohong!”
Dia langsung mendorongku dan lari menjauh, setelah itu melempar kartu pelajarnya.
“...”
“Apa kita harus membunuhnya?” Tanya Ivi sambil mengambil kartu pelajar milik orang itu.
“Tidak, dia memang akan mati.”
“Ayo, kita harus pergi dari ruang ini.” Ajakku.
Ivi langsung berlari mengikutiku. Kami berjalan kembali dan beritirahat di ruang kosong di lantai 21.
“Ivi, kuingatkan kembali, kita tidak bisa langsung turun ke lantai 1.”
“Itu terlalu berisiko, apalagi kalau orang tau kau punya dua kartu pelajar.”
“Risiko kau diincar banyak orang sangatlah tinggi.”
“Bukankah aman, karena semua siswa punya dia kartu pelajar?” Ivi berpendapat.
“Iya, tapi bukan sekarang, seluruh siswa belum habis sampai setengahnya dan masih ada yang sedang mencari kartu pelajar.” Balasku.
“Lagipula kenapa kau harus mencari banyak kartu pelajar seperti itu? Punya dua ‘kan cukup.” Lanjutku.
“Hanya untuk berjaga-jaga, jika ada kartu yang hilang atau diambil, aku masih ada cadangannya.”
“...”
“Aku belum ingin mengambil risiko, kita menetap dulu di ruang ini untuk beberapa waktu.”
“Sampai berapa lama?”
“Entahlah, mungkin sampai waktu habis?”
“Ehh... itu terlalu lama untukku, apalagi aku tidak betah di tempat yang sama terus-menerus.”
“...”
“Baiklah, kita akan menetap di ruang ini untuk beberapa hari, aku janji.”
__ADS_1