
“...”
...
“Hoaammmm....”
“Eh?”
“Aku bangun sepagi ini? Tanpa alarm?”
“Wah, hebatnya diriku ini.”
“...”
Dan juga, aku melihat Tino, dia tidur nyenyak di lantai, sepertinya semalam aku tidak berbuat apa-apa.
Baguslah.
“Eh?”
Aku melihat ponselku dan ada notifikasi pesan masuk.
“Hm?”
Selamat malam, Razox, ini aku, Fenrir Reyfall.
“Eh? Dia semalam mengirimku pesan?”
Pesan diterima pada 30/12 Pukul 22:32
“Aku tidak tau itu.”
Bagaimana kabarmu? Semoga baik-baik saja. Maaf kalau ini mendadak. Tolong pada tanggal 8 nanti datanglah ke sekolah untuk menemuiku. Terima kasih
“Kenapa dia mengirimku pesan? Memangnya dia sedang tidak liburan?”
“Tunggu, tanggal 8 nanti? Itu ‘kan 1 hari sebelum masuk sekolah.”
Memangnya ada apa?
“...”
BIP
Eh?! Langsung dibalas?!
Pokoknya datang saja
“...”
Kira-kira ada apa? Apa aku perlu datang?
“...”
TING TONG
“Eh? Ada yang memencet bel?”
TOK TOK TOK
“Iya, aku datang!”
Aku membukakan pintu, dan langsung terlihat Lisa sudah ada di depan pintu. Aku menunjukkan wajahku yang masih ngantuk, dan masih ingin tidur.
“Hai, Razox.” Sapanya dengan senyum.
“Hai, ada apa?”
“Sedang apa?”
“Baru bangun, ada apa pagi-pagi sudah kemari?”
“Hari ini ‘kan acaranya bebas, kau mau tidak hari ini jalan-jalan denganku? Seperti kita saat masih kecil dulu.” Tanya Lisa dengan mata berbinar-binar.
“Uhh.. maaf, aku sudah ada janji, mungkin lain kali.”
“...”
“Oh... begitu ya... maaf ya sudah mengganggumu pagi-pagi seperti ini...” Ucap Lisa dengan nada sedih.
“Iya, tidak apa-apa..”
“Kau sudah berubah...”
“Maaf?”
“Kau sudah berubah!” Teriak Lisa.
Dia langsung berlari pergi, tapi bukan ke kamarnya.
“Eh? Memangnya aku sudah berbuat apa?”
“...”
GRAK
Terdengar suara pintu dari sebelah terbuka.
“Eh? Razox? Baru aku mau ke kamarmu.” Ucap Lulu yang baru saja keluar dari kamarnya.
“Uhh.. iya, kurasa...”
“Ayo, kau mandi dulu, bersiap-siap. Aku akan menunggumu disini.” Ucap Lulu sambil mengorek-ngorek isi tasnya.
“...”
“Baiklah...”
“...”
---
Aku dan Lulu sedang menunggu di lobby hotel. Lulu sedang duduk dan sibuk memainkan ponselnya, sementara itu aku juga duduk dan meminum teh.
“Lulu, kita mau kemana?”
“Seperti yang kubilang kemarin, kita akan ke pasar.” Ucap Lulu.
“Jauh tidak”
“Tidak, kok, kita jalan kaki saja nanti.”
“Begitu ya...”
“...”
Aku melihat Lulu terus melihat layar ponselnya daritadi, bahkan saat berbicara denganku, aku bingung apa yang sedang dia lakukan.
“...”
“Lulu.”
“Hm?” Dia menyahutku, tapi tidak melihat ke arahku.
“Kapan kita berangkat? Tehku sudah habis.”
“...” Baru dia melihat, bukan ke arahku, melainkan gelas yang kosong.
“Ayo, maaf membuatmu menunggu.” Dia juga langsung berdiri.
“...”
...
Kami berjalan keluar bersama, untungnya hari ini tidak terlalu panas, banyak awan juga yang menutupi sinar matahari.
“Lulu, dimana pasarnya?”
“Dekat, kok, dekat stasiun.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Eh? Itu jauh!”
Aku langsung lemas sampai berlutut.
“Ayolah, biar sehat juga, aku sudah lama tidak jalan seperti ini.”
“Aku juga ingin mengobrol denganmu selama kita berjalan ke tujuan, pasti tidak akan terasa.”
“...”
Aku bangkit dan berpikir.
“Mungkin ada benarnya juga.”
“Baiklah kalau begitu, kita berjalan.”
“Nah, begitu dong.”
...
“Aku senang kau mau menemaniku.”
“Sebenarnya aku memang ingin ditemani, sih.”
“...”
“Terutama kau nanti membantuku untuk memilih barang, dan juga menawarnya.”
“...”
Daritadi dia terus berbicara...
Uh, sebagai pendengar yang baik, aku harus mendengarkannya, dan kalau bisa aku memberikannya solusi.
“Disana kau ingin membeli apa?” Tanyaku agar dia tidak terus berbicara sendiri.
“Hmm... entahlah, kau punya rekomendasi? Aku tidak tau banyak tentang kota ini.” Ucap Lulu.
“Begitu ya... aku juga tidak tau sih kalau tentang oleh-oleh begitu...”
“Memangnya kau tidak mencoba untuk mencari di internet? Daritadi kau menggunakan ponselmu itu ngapain?”
__ADS_1
“Oh itu, ibuku menanyakan keadaanku, maaf ya kalau agak lama, aku ini terlalu sayang dengan ibuku.”
“Ohhh...”
“...”
“...”
“Razox?”
“Eh iya, tidak apa-apa.”
“Kau kenapa??”
“Tidak, hanya saja...”
“Ayo, katakan saja...”
“Sebenarnya kedua orang tuaku sudah meninggal saat aku masih kecil...”
Apa yang kukatakan?! Kenapa aku bisa mengatakan itu?! Bahkan Tino tidak tau hal itu walaupun dia sering kerumahku.
“Oh, maaf membuatku mengatakan itu.” Lulu terlihat kaget sampai dia menutup mulutnya.
“Ti-tidak apa-apa. Ayo kita lanjut jalannya, sebentar lagi kita sampai.”
...
“Hmm...”
Aku melihat tempat yang menjadi tujuan kami.
“Pasar yang dekat stasiun...”
“Yang kau maksud itu Malioboro?”
“Iya, memangnya kau pernah kesini?”
“Belum, sih...”
“Kalau begitu, ayo.” Ajak Lulu sambil menarik tanganku.
Disana kami berjalan sepanjang jalan Malioboro yang lurus, dari ujung ke ujung.
Lulu melihat toko yang menjual oleh-oleh khas Yogyakarta dan langsung menarikku.
“Razox, menurutmu ini bagus tidak?” Tanya Lulu sambil mencoba memakai batik.
“Eeerrr... bukannya tadi kau bilang mau beli oleh-oleh untuk ibumu?”
“Iya, memang, aku tau. Maksudku, bagaimana menurutmu tentang baju ini?”
“Iya, bagus.”
“Kalau dipakai saat hari pernikahan kita?”
“Eh?! Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”
Kenapa tiba-tiba aku grogi juga mendengarnya?
“Hehehe, aku hanya bercanda. Aku tau kok hari itu tidak akan datang.”
“...”
“Baguslah, aku juga tau itu...”
“Memang baju ini bagus, sih.” Ucap Lulu sambil melihat baju itu.
“Razox, tolong kau tanya harganya, dong. Kalau bisa ditawar.”
“...”
Aku mengambil baju itu dan berjalan menuju kasir.
“Permisi, berapa harga baju ini?”
“Oh, baju itu, harganya sudah tertera, ‘kan?” Ucap si penjual sambil menunjuk baju itu.
“Hah?”
Aku melihat baju itu juga, ternyata ada label harga di kerahnya.
Rp. 2.250.000
“Uh... apa tidak bisa kurang?”
“Maaf, dek, itu sudah harga pas.”
“...”
“Te-terima kasih.”
Aku kembali ke Lulu dan bilang harganya, sayangnya harga tidak bisa kurang.
“Eh? Serius? Ya sudah kalau memang itu harganya.” Ucap Lulu yang mengambil baju itu.
Dan dia berjalan ke kasir.
“Ayo, kita ke tempat lain.”
“...”
Kenapa dia memintaku untuk menawar kalau dia bisa membelinya dengan harga segitu?
Saat kami berjalan, seperti biasa, Lulu selalu menjadi pusat perhatian, entah kenapa.
Dia melihat toko yang menjual berbagai oleh-oleh juga, tapi sepertinya toko itu tidak menjual pakaian.
“Razox, ayo kesana!”
Dia melihat miniatur candi dengan mata yang berbinar-binar.
Pasti dia menyuruhku untuk menawar lagi.
“Ini harganya sudah pas, ya...” Lulu melihat label yang tergantung di miniatur itu.
“...”
...
Dia pergi ke berbagai toko untuk membeli berbagai oleh-oleh, berapa uang yang sudah di habiskan?
“Lulu, sepertinya bawaanmu berat, aku saja yang membawanya, ya.”
“Oh? Akhirnya kau peka juga, ini.”
Uh, berat sekali, tadi dia membawa ini dengan santai.
Memangnya ini semua untuk ibunya?
Dan ternyata barang bawaan itu terus bertambah.
“Lulu, bisa kita istirahat sebentar?”
“Oh ya, tentu saja.”
...
Kami duduk di taman, dan juga Lulu sedang memakan es krim dengan santainya.
“...”
Sementara aku sendiri kelelahan.
“Lulu, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Hm?”
“Tentang cara bersosialmu, apa kau benar-benar takut bersosial? Maksudku, itu seperti dibuat-buat, untuk beberapa momen, kau bisa bertingkah seperti biasa pada orang. Contohnya saja seperti liburan ini. Kau tidak mengenal semuanya, tapi kau bisa membaur dengan yang lain.”
“Razox, kau tidak apa-apa? Itu benar, kok. Mungkin aku tidak takut bersosial karena ada orang yang kukenal disana.”
“Umm... begitu ya... lalu bagaimana dengan media sosialmu?”
“Itu mudah saja, aku tidak menggunakan identitas asliku, jadi orang-orang tidak akan tau kalau itu adalah aku.”
“...”
Kalau dia menggunakan identitas aslinya, pengikutnya akan melebihi Ivi tidak, ya?
“Oh ya, Razox.”
“Apa?”
“Semoga saja nanti kita dapat satu kelas saat kelas dua.” Ucap Lulu sambil memberikan senyumnya padaku.
“Uh, aku harap juga begitu...”
“Eh? Memangnya kenapa?”
“Aku bahkan tidak tau akan naik kelas atau tidak.”
“Nilai ujian kemarin saja tidak ada yang bagus.”
“Razox, tenang saja, kau pasti akan naik kelas! Kita akan naik kelas bersama yang lain!”
“...”
“Terima kasih... aku merasa lebih baik.”
“...”
“Seperti kau sudah tidak lelah, ayo kita lanjut jalan.” Ajak Lulu.
“...”
Harusnya aku tetap lemas tadi.
“Lihat!”
“Disana pasti ada yang merayakan tahun baru gratis, ayo kita kesana!” Ajak Lulu sambil menarik tanganku yang penuh barang belanjaannya.
__ADS_1
“Eh? Kau ‘kan takut bersosial, disana banyak orang.”
“Tidak apa-apa, ayo ikut saja.”
Dan itu sudah terjadi, sebelum kami kesana, Lulu sudah menjadi pusat perhatian.
“Ini sepertinya pesta kembang api, beli dulu kembang apinya disana.” Ucap Lulu sambil memberikanku segepok uang.
“Eh? Ini terlalu banyak, lagipula, memang aku harus kesana sambil membawa barang sebanyak ini?”
“Baiklah, letakkan barangmu disini, kau pergi membeli saja, aku akan menunggumu disini.”
“...”
“Beli yang banyak kembang api dan petasan, ya.”
Aku pergi untuk membeli kembang api dan petasan sesuai permintaan Lulu, dan kembali untuk menyalakannya di tengah lapangan. Untung saat aku kembali, tidak ada yang terjadi kepada Lulu.
...
...
DUAR DUAR
“Indahnya...”
Langit dipenuhi oleh warna gelap malam dan warna-warna dari petasan yang meledak di langit dan mewarnai langit.
...
“Semoga saja tahun ini menjadi tahun yang baik untukku...”
Kenapa Lulu berkata seperti itu?
...
...
Beberapa lama kemudian, kami kembali ke hotel sebelum jam 2 pagi.
“Wah, senangnya, terima kasih, ya, Razox...”
“Iya, sama-sama...”
Ketika kami berjalan di koridor menuju kamar kami, kami melihat Tino berjalan dengan wajah yang sangat bahagia.
Dan kami berpapasan dengannya.
“Eh? Kau kenapa?” Tanya Lulu.
“Aku sangat senang, aku tadi menembak Cinta, dan aku diterima.” Jawab Tino dengan bahagia.
“Hah?!” Kami berdua langsung kaget mendengarnya.
“Timing-nya tadi pas banget!”
“Aku tadi nembak dia pas detik nol! Pas banget ganti tahun!”
“...”
Tiba-tiba Lulu menarikku dan menjauh dari Tino.
“Hei, kenapa kau menarikku?”
“Tidak apa-apa, hanya saja, aku tidak enak mendengar Tino bercerita seperti itu...” Ucap Lulu.
“Uh, aku juga, sih.”
...
“Razox, terima kasih ya, sudah mau menemaniku seharian. Sampai jumpa besok, jangan lupa bangun pagi, kita pulang besok.” Ucap Lulu sambil berjalan masuk ke kamarnya dan menutup rapat-rapat pintunya.
“Iya, sama-sama, sepertinya tadi kau sudah bilang itu...”
“Baiklah, aku juga sudah mengantuk.”
Aku berjalan ke kamarku sambil memikirkan bagaimana caranya agar nanti tetap bangun pagi.
“Eh?”
Tapi aku melihat seseorang, Ivi dan gadis itu, mereka sedang berada di balkon, karena penasaran, akupun menghampiri mereka.
“Hai, Ivi, kalian tidak tidur?”
“...”
Ivi sedang memeluk gadis itu sambil menahan tangis.
“...”
Dia mengusap matanya sebelum berbicara.
“Be-belum, aku belum ngantuk.”
“Hee?? Ada apa memang?”
“Ti-tidak, tidak ada apa-apa.”
“Jangan berbohong, kau sedang menahan tangis sambil memeluk gadis itu. Ceritakan saja.”
“Uhh...”
“Jadi begini, kau sudah tau ‘kan kalau Tino sekarang pacarnya Cinta?”
“Iya...”
“Aku sudah bilang kepada Cinta untuk tetap tidak menerimanya, itu bukan keputusan yang benar.”
“Tidak.” Sela gadis itu.
“Aku menerima Tino karena dia tidak mau menyerah dan terus berusaha untuk mendapatkan hatiku, aku sangat menghargai usahanya selama ini. Tidak ada yang mau menerimaku seperti itu semenjak aku lumpuh seperti ini.” Ucap gadis itu.
“Tapi bagaimana kalau kau menjadi beban jika bersamanya?” Tanya Ivi.
“Tenang saja, dia juga menerimaku apa adanya, kok.”
“...”
“Harusnya aku tidak bertanya.”
“Dan juga harusnya aku tidak menghampiri mereka.”
Aku langsung berjalan kembali ke kamarku dan tidur.
---
Pagi harinya, kami berkumpul di lobby hotel, bersiap untuk pulang.
“Haaa... tidak terasa kita sudah mau pulang saja.” Ucap Juniardo.
“Hmm... kalau Lulu itu banyak uang, kenapa kita tidak lebih lama liburannya?” Tanya Tino.
“Aku yang bilang untuk disini hanya beberapa hari.” Jawab Ivi dengan ekspresi dingin.
“...”
“Benar, ini juga agar kita lebih menghargai waktu bersama.” Tambah gadis itu.
“Kau benar, Cinta. Kenapa tidak terpikirkan olehku, ya?”
“...”
“Kita akan pulang sebentar lagi, sabar, ya.” Ucap Juniardo yang menenangkan pacarnya, Claudia.
Aku melihat Claudia, dia terlihat panik sambil memegang perutnya, kenapa dia? Sakit perut di pagi hari? Diare? Maag?
“Kenapa tidak ke toilet saja? Kita masih di hotel?” Ucap Ivi.
“Ah, tidak perlu, dia bisa menahannya, mungkin nanti di kereta.” Balas Juniardo.
“...”
“Kalau itu terjadi, biar aku saja yang menanggung.” Ucap Juniardo.
“Aku akan bertanggung jawab.” Tambahnya.
“...”
“Ayo, taksinya mau sampai.” Ucap Tino.
Taksi yang kami pesan datang, kami naik, dan Tino mengambil alih kursi roda gadis itu.
“Hei, apa yang kau lakukan?!” Ketus Ivi.
“Biar aku saja.” Ucap Tino dengan santai.
“Tidak perlu, ini sudah kewajibanku.” Ucap Ivi yang kembali memegang kendali kursi roda gadis itu.
“Baiklah kalau begitu, nanti aku yang mendorongnya, ya, di stasiun sana.”
“Tidak perlu.” Balas Ivi dengan dingin lagi.
Sepertinya Ivi masih kesal dengan Tino karena kemarin...
...
Kami ke stasiun dengan taksi dan kembali ke Jakarta dengan kereta. 10 jam perjalanan membuatku menghabiskan waktu di perjalanan dengan tidur.
...
“Liburan nanti kita jalan-jalan lagi, ya.” Ucap gadis itu dengan senyumnya.
“Ya, tentu saja.” Balas Tino.
“Baiklah, sampai bertemu lagi nanti, saat kita masuk sekolah.” Ucap Lulu yang langsung pergi.
“...”
Setelah itu kami langsung bubar untuk pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1