
KRIIINNNGGG
TIP
“...”
“Hari ini, ya?”
Aku bangkit dari tidurku dan pergi ke kamar mandi.
“Tumben, kak, jam segini udah bangun, biasanya kalo liburan gini kakak masih tidur.” Ucap Jefran.
“Aku mau pergi dulu.”
Aku berjalan ke kamar mandi yang sudah pasti kosong untuk mandi.
“Ivi bilang untuk berkumpul dulu di sekolah, sebelum ke stasiun...”
“...”
Aku sarapan dan bersiap-siap di teras rumah.
“Tino juga bilang untuk langsung pergi ke sekolah tanpa harus menghampiri dia...”
“...”
Aku berangkat sendiri ke sekolah, sepertinya Ivi bilang tempat berkumpulnya di halte depan sekolah.
...
...
...
“Hoi, Razox!” Sapa seseorang yang sudah berada di halte.
Itu adalah Lulu, dia sudah sampai. Terlihat yang lain juga sudah sampai, seperti Ivi, Tino, Kevin, bahkan gadis itu sudah disana, sepertinya aku yang terakhir sampai, semuanya sangat bersemangat untuk liburan, sampai datang lebih awal, ini pasti karena semua biaya ditanggung.
“Baiklah, semuanya sudah hadir, ya.” Ucap Ivi sambil memegang selembar kertas.
“Kita pesan taksi dari sini untuk pergi ke stasiun.” Jelas Ivi.
“Tino, tolong pesankan kita 2 mobil untuk kita.”
“Eh? Tidak 1 saja?” Tanya Tino yang sudah mengeluarkan ponselnya.
“Tidak, jumlah kita cukup banyak, nanti taksinya tidak muat menampung ktia semua.”
“Baiklah...”
Tidak lama kemudian 2 taksi datang dan kami naik, serta menuju stasiun untuk keberangkatan kami.
...
“Baiklah, ini tiket untuk kalian masing-masing.” Ucap Ivi memberi kami tiket kereta.
Melihat isi tiket itu, ternyata tempat duduknya sudah ditentukan, padahal aku mau duduk di dekat jendela. Semoga saja aku dapat.
“Eh? Tempat duduknya sudah ditentukan begini? Aku ingin duduk sebelah pacarku!” Keluh Juniardo.
“Ah, itu hanya formalitas, nanti kalian bisa bertukar tempat sesuai dengan kursi kita saja, semuanya 1 gerbong dan berdekatan, kok.” Ucap Ivi.
Gadis itu melihat tiketnya, lalu melihat Ivi.
“Ivi, nanti aku duduk di sebelahmu, ya.”
“Oh, tentu saja, tiket kita kursinya juga sudah bersebelahan.”
“Umm... Razox.” Kevin tiba-tiba menghampiriku.
“Apa?”
“Bisakah aku bertukar tempat denganmu?”
“Kenapa?”
“Aku tadi tidak sengaja melihat tiket milik gadis itu, dan ternyata dia duduk di sebelahku.” Ucap Kevin sambil menunjuk Lulu.
“Memangnya kenapa?”
“Aku tidak enak kalau duduk di sebelah orang yang kurang kukenal. Aku bisa merasa canggung selama perjalanan.”
“Ummm... baiklah, memangnya kau tau aku duduk dengan siapa? Aku saja belum tau.”
“Coba biar kulihat tiketmu.”
“Ayo, semuanya! Kereta kita akan segera berangkat!” Teriak Ivi.
“Uh, nanti saja, Kevin, kita naik ke gerbong kita dulu.”
“...”
...
...
...
Aku harusnya sudah menduganya, aku duduk bersebelahan dengan Tino, dan Kevin tidak jadi menukar tiketnya, dia tetap duduk di sebelah Lulu. Dan sebelah kami adalah Ivi dan gadis itu. Ini seperti di kelas! Aku butuh suasana baru!
“...”
Tapi semua kata-kata itu hanya tersangkut dalam pikiranku, aku tidak berani untuk berpendapat tentang ini.
...
Tidak banyak percakapan yang terjadi selama perjalanan, aku hanya melihat pemandangan yang jarang kulihat di tengah perkotaan. Tidur, bangun, melihat yang lain sedang tidur, dan tidur lagi.
...
8 jam kami di perjalanan menuju Jawa Timur, dan akhirnya kami sampai. Ini juga masih siang, aku masih bisa melihat matahari, walau sepertinya matahari itu akan terbenam.
“Kota apa ini?” Tanya gadis itu
“Yogyakarta.” Jawab Ivi.
“Wah, aku suka dengan suasana kota tuanya.” Ucap gadis itu.
“Haa... akhirnya!” Kevin terlihat sangat lega.
“Baiklah, sekarang kita pergi ke tempat penginapan kita dulu untuk meletakkan barang-barang kita.” Ucap Ivi.
“Memangnya kita akan menginap dimana?” Tanya Juniardo.
“Hotel, hotel berbintang, tidak jauh darisini, kok.” Jawab Ivi sambil melihat ponselnya.
“Tino, tolong pesankan 2 taksi lagi untuk menuju ke tempat itu, ya.”
“Baiklah...”
...
Kami ke hotel dengan taksi yang dipesan oleh Tino.
Sesampainya di sana, Kami langsung disambut oleh pegawai hotel dan membawakan barang-barang kami.
“Woh! Lihat!” Teriak Tino.
“Iya! Keren, ya!” Teriak Kevin juga.
“Maaf, mereka memang tidak pernah ke hotel seperti ini sebelumnya.” Ucap Ivi ke pegawai hotel yang membawakan barang-barang kami.
“Tidak apa, Nyonya, itu adalah salah satu kepuasan pelanggan kami.” Ucap si pegawai hotel.
“Uh, terima kasih, ngomong-ngomong, dimana meja resepsionisnya?”
“Disana, Nyonya.” Ucap si pegawai hotel menunjuk meja resepsionisnya dengan jempol.
__ADS_1
Uh, disini etikanya terlalu bagus, aku merasa tidak pantas ada disini.
“Terima kasih.”
“Baiklah, semuanya, tunggu disini, aku akan memesan kamar kita dulu.” Ucap Ivi yang berjalan ke meja resepsionis.
“...”
“Tak kusangka kalau kita akan menginap di hotel seperti ini.” Ucap Juniardo yang terlihat kagum.
“Yaa... kupikir juga kita akan menginap di rumah singgah, atau di gubuk, atau di tempat lain...” Lanjutnya.
“Teman-teman, ayo kita ke kamar kita.” Ucap Ivi yang baru saja kembali.
“Kamar kita ada di lantai 6, ayo kita kesana.”
...
Sesampainya di lantai 6, Ivi menjelaskan tentang pembagian kamar. Ada 3 kamar yang kami sewa, 2 untuk perempuan, dan satu lagi untuk laki-laki.
“Baiklah, untuk pembagian kamar, kamar ini akan diisi olehku, Cinta, Lulu, dan Lisa.” Ucap Ivi.
“Sementara kamar di sebelahnya diisi oleh Claudia, Tasla, Rani, dan Yuli.”
“Dan kamar terakhir akan diisi oleh para laki-laki.”
“Eh? Siapa saja?” Tanya Tino.
“Tentu saja kalian, kalian ‘kan hanya berempat.” Jawab Ivi.
Aku, Tino, Kevin, dan Juniardo.
“... huhu... kenapa aku harus sekamar dengan dia lagi??” Keluh Tino.
“Err... Diviana, aku ingin menyewa kamar sendiri untukku dan pacarku...” Ucap Juniardo.
“Tidak boleh, selain kalian itu belum menjadi pasangan resmi, harga sewa kamar hotel disini cukup mahal, kau mungkin tidak bisa membayarnya, walau hanya semalam.” Balas Ivi.
“Uhh... baiklah...” Juniardo terlihat kecewa.
“Semuanya, masuk kamar masing-masing, letakkan barang-barang kalian, lalu kita akan bersiap untuk pergi lagi, kau mau kita kemana, Cinta?” Tanya Ivi.
“Aku ingin ke pantai bersama kalian.” Jawab gadis itu.
“Baiklah, kita akan segera berkumpul lagi untuk pergi ke pantai.” Ucap Ivi sambil memberikan kunci kamar ke Claudia dan Tino.
“Baiklah.”
Kami semua ke kamar masing-masing dan bersiap.
Tidak ada percakapan yang terjadi selama aku di dalam kamar, kami yang di dalam kamar hanya meletakkan barang-barang dan ganti baju, lalu langsung keluar lagi.
“...”
“Semua sudah hadir?”
“Sepertinya sudah lengkap.”
“Kalau begitu, ayo kita berangkat.”
---
“Uhh... kenapa kita tidak naik taksi saja???” Keluh Tino.
“Kau tidak lihat jalan? Lagipula itu akan menjadi ide yang buruk. Dan juga aku sudah melihat jarak hotel ke pantai di ponselmu, tidak jauh, kok.” Ucap Ivi yang terus berjalan dengan semangat walau sambil mendorong kursi roda gadis itu.
Benar juga, daritadi yang kulihat di jalan hanya kemacetan, aku juga baru ingat kalau sekarang adalah akhir tahun dimana banyak yang berlibur juga. Pasti akan ramai disana.
“Iya, sih, memang tidak jauh, tapi panas.” Keluh Tino.
“Yang daritadi mengeluh sejak kita berangkat hanya kau, lihat yang lain, tidak ada yang mengeluh.” Ucap Ivi menunjuk yang lain di belakangnya.
Mereka sepertinya ingin mengeluh, jalan mereka sudah sempoyongan dan mengipas-ngipas tubuh mereka, serta sampai mengelap keringat yang terus keluar dari tubuh mereka.
“...”
“...”
---
Akhirnya kami sampai. Tapi ini sudah sore, matahari akan terbenam, dan pencahayaan akan berkurang. Ah, itu bukan masalah untukku.
“Huh, kau bilang jaraknya dekat. Harusnya kita naik taksi saja.” Keluh Tino.
“Kau tidak lihat jalan tadi? Kalau kita naik taksi sampai sini pasti malam.” Balasku menunjuk jalan yang masih ramai.
“Ini justru momen yang bagus.” Ucap gadis itu.
“Ayo, kita bersenang-senang selagi bisa.”
“Ayo!” Seru semuanya, kecuali Tino.
Tapi ujung-ujungnya, dia tetap ikut ke pantai.
Pantai itu tidak ramai karena sudah sore dan kami mencari tempat yang sepi.
Aku, Tasla, Rani, dan Yuli hanya selonjoran saja, orang-orang menyebut ini ‘duduk-duduk cantik’, huh? Padahal aku laki-laki.
Juniardo dan Claudia bermain air pantai seperti pasangan yang berlibur ke pantai pada umumnya.
Tino, Ivi, Lisa, dan gadis itu berkumpul bersama, mereka membuat istana pasir bersama.
Sementara itu Kevin mengubur dirinya hingga yang terlihat dari permukaan hanya kepalanya saja.
Hmm... sepertinya tadi yang ikut bukan segini.
Siapa yang tidak ada???
...
...
...
Lulu! Dimana dia?!
Dia sama sekali tidak terlihat di sekitar kami.
Aku harus mencarinya.
Akh, aku lupa bagaimana penampilan fisiknya...
Dan juga dia seorang yang sangat kikuk dalam bersosial, aku khawatir ada yang terjadi dengannya.
Eh, setauku dia sangat sering menjadi pusat perhatian orang-orang, itu bisa menjadi petunjukku!
Akan mencarinya.
“Tasla, aku pergi ke toilet dulu, ya.”
“...” Tasla hanya membalasnya dengan anggukan malas.
Aku langsung berlari keluar pantai.
Tapi tidak mungkin keluar pantai... apa dia berani mengenakan pakaian renang seperti itu ke publik? Aku saja tidak berani.
Semuanya juga tidak memakai baju renang saat menuju kemari, mereka mengganti pakaian mereka, termasuk aku, jadi kupikir dia masih ada di sekitar sini, tapi masalahnya : dimana?
“Lebih baik aku kembali saja.”
...
“Eh?”
Aku melihat seseorang sedang duduk sendirian di ujung dermaga.
“Sepertinya itu Lulu...”
__ADS_1
Aku sedikit menghampirinya dan ternyata benar itu adalah Lulu.
Tau hal itu, aku langsung menghampirinya.
“Lulu!”
“Hm? Razox?”
“Apa yang kau lakukan disini sendirian?” Tanyaku yang ikut duduk di sebelahnya.
“...” Lulu tidak menjawab dan melihat lepas pantai.
Aku juga ikut melihatnya, hanya ada air laut sejauh mata memandang.
“Razox, sebenarnya aku sedang bingung dengan hidupku...” Ucap Lulu.
“...”
“Aku senang bisa mendapat teman di SMA berkat kau, sementara itu, aku juga bingung kenapa aku bisa mendapat teman.”
“Kau bisa mendapat teman lebih banyak lagi.” Ucapku menyemangatinya.
“Tidak mungkin, kau tau ‘kan kalau aku itu canggung dalam bersosial. Dan juga, aku berteman dengan mereka itu bukan karena tindakkanku sendiri.”
“...”
Benar juga... aku yang memperkenalkan dia kepada semua.
“Tidak apa, Lulu. Aku akan membantumu untuk mendapat lebih banyak teman.”
“Terima kasih, Razox. Tapi aku masih khawatir juga.”
“Soal apa?”
“Soal suaraku yang tiba-tiba berubah jika aku merasa canggung, suaraku itu membuatku merasa malu juga”
“Maka dari itu, agar kau tidak canggung lagi, kau harus berteman dengan banyak orang.”
“...”
“Aku akan mencobanya...”
“...”
“Razox.”
“...”
“Besok aku akan pergi ke pusat kota untuk membeli oleh-oleh untuk ibuku.” Ucap Lulu.
“Baiklah, aku akan menemanimu.”
“Terima kasih.”
Suasana ini...
“Oh ya, Razox.”
“Kenapa kau selama ini membantuku?”
“Oh, itu...”
“...”
“Sebenarnya aku tidak perlu alasan khusus untuk membantumu, aku membantumu karena aku bisa. Lihat saja di sekolah, aku membuka jasa konsultasi gratis. Ya... walau memang ada alasannya aku membuka jasa itu...”
“Oh... aku sangat berterima kasih atas bantuanmu selama ini...”
“...”
“Sekarang, ayo kita kembali ke pantai, jangan jauh-jauh dari mereka, hari mulai gelap.” Ajakku yang berdiri dari dudukku.
“Ya.”
Kami pergi ke mereka lagi, ikut bermain istana pasir bersama.
“Hei, tolong angkat aku.” Ucap Kevin yang masih terkubur.
Sampai hari sudah berganti menjadi malam...
“Wah, asyiknya.” Ucap gadis itu.
“Lulu ternyata pandai membuat istana pasir.” Lanjutnya.
“Hehe...”
“Yak, ayo kita kembali ke hotel.” Ucap Tino.
“Hei, aku masih disini.” Ucap Kevin yang masih terkubur.
“Oh ya, angkat dia dulu.”
...
Setelah kami ganti baju, kami berkumpul kembali.
“Kita kembali ke hotelnya naik taksi saja, ya.” Usul Tino.
“Hmm... boleh saja, jalanan juga sudah tidak macet.” Ucap Ivi.
“Baiklah, aku akan pesan...” Tino mengeluarkan ponselnya.
BIP
...
Sesampainya di hotel, kami makan malam di balkon hotel.
“Liburan kali ini menyenangkan, ya. Banyak yang ikut.” Ucap gadis itu.
“Apalagi semua dibayari oleh Lulu.” Tambahnya.
“Eh??!!” Semuanya langsung terlihat kaget.
Sementara itu Lulu hanya tertunduk.
“Terima kasih, Lulu.” Ucap Kevin.
“Terima kasih, Lulu.” Yang lain ikut berterima kasih kepada Lulu.
“...”
“Dan karena hal itu, aku akan mengembalikan uang kalian.” Ucap Ivi.
“Ivi, ngomong-ngomong, apa agenda kita untuk besok? Besok sudah akhir tahun.” Tanyaku.
“Hmm...”
“Jujur saja, aku tidak terpikirkan apapun...” Ucap Ivi.
“Hmm... bagaimana kalau besok acara bebas saja?” Usul Juniardo.
“Ya, aku setuju dengan sarangmu!” Ucap Tino.
“...”
“Baiklah, besok kita acara bebas saja.” Ucap Ivi.
“Tapi jam 2 pagi sudah ada di hotel, karena siangnya kita akan pulang lagi.” Tambahnya.
“Oke, kalau begitu kita sudah selesai makan, ‘kan?” Tino melihat piring-piring yang sudah bersih.
“Ayo kita tidur di kamar masing-masing.”
__ADS_1