I Want A Normal Life : No Romance

I Want A Normal Life : No Romance
#37


__ADS_3

“Eh?! Aku?!”


---


Saat itu hari ke-15, saat kita ingin mengambil kursi roda milik Cinta, aku ingat jelas kau mengatakan itu.


“Kita tetap akan mengambilnya, ini strategi.” Ucap Razox dengan tegas.


“Gadis itu tidak bisa terus-terusan seperti itu,”


“jika dia tidak berada di kursi rodanya, salah satu dari kita harus terus menjaga dia, gendong-turun dia setiap saat. Itu bisa menurunkan efektifitas kelompok kita dalam bertarung maupun berjalan...” Jelas Razox.


“Maka dari itu, kita akan mengambil kursi rodamu.”


“Ayo, Tino.” Ajaknya.


Walaupun kau memang melakukan itu untuk Cinta, tapi secara tidak langsung kau menganggap dia sebagai beban kelompok. Saat aku mendengar pernyataanmu itu, membuatku sangat tersinggung.


“...”


Aku hanya terdiam dan memikirkan kata-katamu.


Aku ingin membuatmu menyesal karena sudah mengucapkan kata-kata itu.


“Oh ya, bolehkah aku meminjam persenjataan kalian, aku takut ada yang menyerang kami nanti.”


Aku sudah tau tongkat besi itu akan kugunakan untuk apa.


...


Kau terus berjalan di depanku, aku terus mencari momen yang tepat untuk membuatmu pingsan.


...


Kau melihat kursi roda itu dan masuk ke dalam ruangan itu.


“Baguslah, ayo kita langsung kembali.” Razox langsung menghampiri kursi roda itu.


Aku melihat kau berjalan tanpa memperhatikan sekitarmu, dan saat itulah aku mengambil kesempatan untuk membuatmu pingsan.


“Razox! Awas!”


BUK


Dan kemudian kau langsung pingsan dalam satu pukulan kerasku.


“...”


“Kau salah berkata...”


Sebenarnya aku ingin membuangmu saja, atau meninggalkanmu, tapi saat nanti kembali, aku tidak bisa berbohong, terutama kepada Cinta.


Jika aku meninggalkanmu dan melapor pada yang lain kalau kau masih di ruang itu, mereka pasti akan menghampirimu.


Namun jika aku membawamu ke tempat lain, aku bisa menutupi fakta.


Aku membawamu ke lantai paling atas di gedung ini, lantai 40.


Setiap kali kau akan sadar sepenuhnya, aku akan memukul kepalamu lagi hingga kau pingsan, hal itu terus kulakukan sampai lantai 40. Ditambah kau cepat sadarnya, itu menghambatku saat aku berjalan, terutama saat aku sedang berada di tangga.

__ADS_1


Setelah aku meletakkanmu di lantai 40, aku kembali ke ruang dimana kursi roda itu ada dan kembali lagi ke ruang dimana yang lain sedang berkumpul.


“Tino, kau lama sekali. Padahal kursi itu ada di lantai yang sama! Mana Razox?” Tanya Tasla dengan nada keras.


“...”


“Dia diculik.” Jawabku dengan tenang.


“Eh? Kenapa bisa?”


“Aku tidak tau, semuanya terjadi begitu saja.”


Mereka tidak bertanya siapa yang menculiknya, jadi aku diam saja.


“Dimana Cinta?” Tanyaku.


“Itu.” Jawab Tasla sambil menunjuk Cinta yang berada di ujung


Aku juga melihat mereka tidak memperlakukan Cinta dengan selayaknya, mereka membiarkan Cinta duduk di lantai dan bersandar seperti orang tidak berdaya.


“...”


“Tino?”


Aku menghampiri Cinta sambil membawa kursi roda miliknya.


“Cinta, ayo cepat naik.”


“Iya, Tino.”


Cinta naik ke kursi rodanya.


“TIDAK!”


Aku langsung menghantam semuanya, dan saat aku akan menyerang Rani, dia tiba-tiba membela diri dengan pisau.


“TINO!”


“Ternyata kau diam-diam punya senjata.”


Tapi aku tetap menghabisi Rani dengan tangan kosong.


Kemudian ketika semua tidak sadarkan diri, aku membawa Cinta pergi. Saat itu Cinta seperti melawan dan ingin melepaskan diri, tapi dia tidak mampu melakukan itu.


“Tino, Kita mau kemana?”


“Ke tempat yang aman.”


“Bagaimana dengan yang lain? Kenapa kau melakukan itu?”


“Aku ingin kau tetap aman. Kita akan keluar dari tempat ini.”


Kami berdua meninggalkan tempat itu dan berlindung di ruangan manapun sampai waktunya habis.


“...”


“Cinta, apa kau sudah punya 2 kartu pelajar?”


“Be-belum, Tino.”

__ADS_1


“Baiklah, aku juga belum, kita akan mencarinya bersama.”


---


“Ya, seperti itu, yang kumaksud.” Ucap Tino dingin.


“...”


Ivi menatapku.


“Razox, benarkah itu?” Tanya Ivi.


“I-itu benar.”


“...”


“Tapi kau salah paham! Aku tidak menganggapnya sebagai beban!” Teriakku membela diri.


“Lalu kau menanggap Cinta sebagai apa?!”


“...”


“Jawab aku!” Teriak Tino.


“Aku menanggapnya sebagai teman.”


“Siapa yang kau anggap teman?!”


“Dia, dia yang kuanggap sebagai teman.”


“Dia siapa?!”


“DIA! GADIS DI KURSI RODA!”


“...”


“Bahkan kau tidak mau menyebut namanya.” Ucap Tino.


SRING


Dia menunjukku dengan pisau.


“Aku sudah muak denganmu.”


“Aku tidak ingin kartu pelajarmu.”


“Aku tidak ingin melihatmu nanti kelas XI.”


“Aku hanya ingin kau mati.”


“Tino, jangan lakukan itu.” Ucap gadis itu sambil menahan Tino dengan memegang tangannya.


“Maaf, Cinta, tapi aku harus melakukan ini.”


“Tino, kau salah paham, mari kita cari jalan keluar untuk kesalahpahaman ini.” Ucapku.


“Tidak, aku sudah membencimu, dan kau harus hilang dari dunia ini.”


 

__ADS_1


 


__ADS_2