
Minggu, aku berjalan ke Level seperti yang dibilang Ivi kemarin, aku melihat Tino dan Ivi sedang duduk disana, untungnya mereka memilih tempat di depan Level.
“Oi!” Sapa Tino yang baru saja melihatku.
“Uhh, lama sekali.” Keluh Ivi.
“Lama apanya? Kita baru disini 5 menit yang lalu.” Ucap Tino.
“Huh, sudahlah, cepat duduk.”
“Jadi, kenapa kau memanggilku untuk kemari?” Tanyaku yang baru saja duduk.
“Aku ingin langsung membahas ini, kalian pikir, kenapa penjaga perpustakaan mengenakan pakaian seperti itu?” Tanya Ivi dengan nada serius.
“Hah?” Kami berdua bingung mendengar itu.
“Huh, sudah kuduga, kalian tidak ingat dengan hal itu.” Ivi terlihat kesal.
“Hal apa?”
“Kalian di-’culik’.”
“Hah? Kapan? Aku tidak merasakan hal itu.”
“Huh... darimana aku harus menjelaskannya??”
Aku dan Tino menatap Ivi dengan tatapan kebingungan.
“Hmmm, jadi begini, beberapa hari yang lalu, sebenarnya kalian ‘menghilang’, dan satu hari setelah kalian ‘menghilang’, kalian muncul dengan polosnya tanpa mengingat kejadian sebelumnya.”
“Aku masih tidak mengerti apa maksudmu.” Ucap Tino.
“Eh? Masa? Aku belajar bersamamu di kelas, mungkin kau yang lupa.” Ucapku menunjuk Ivi.
“Aku juga begitu.” Sambung Tino.
“Uh, aku tau kalau hal ini akan terjadi...” Keluh Ivi sampai dia memegangi kepalanya.
“Baiklah,” Ivi mempertegas suaranya.
“Yang jadi masalah sekarang, kenapa penjaga perpustakaan berpakaian seperti itu dan berpatroli keliling sekolah?”
Aku dan Tino sama sekali tidak mengerti apa yang Ivi bicarakan.
“Ini tidak akan berhasil.”
...
“Hei, kalian!” Sapa seseorang yang baru saja lewat.
“Eh?” Aku melihat asal suara itu dan melihat Kevin yang sedang berjalan menghampiri kami.
__ADS_1
“Kalian sedang apa disini?” Tanya Kevin.
“Umm... kami sedang membicarakan rencana kami untuk liburan nanti.” Ucap Ivi gugup.
“Wah... kedengerannya menarik, bolehkah aku ikut?”
“Uhh... aku ragu kalau kau bisa ikut.”
“... setauku Kevin tidak tau tentang ini, dan dia tidak boleh tau.” Gumam Ivi.
“Ughh... aku seharusnya tidak bilang sedang membicarakan liburan.” Ivi terlihat kesal sendiri.
“Apa yang Razox dan Tino lakukan disini? Apa mereka ikut liburan juga?” Tanya Kevin lagi.
“Ahaha... iya, tentu saja mereka ikut.”
“Apa Cinta juga ikut?”
“Ya, dia juga ikut.”
“Hoo... ngomong-ngomong, dimana dia? Kenapa dia tidak bersama bersamamu sekarang? Biasanya kalian terlihat bersama.”
“Dia... dia tidak bisa ikut sekarang, mungkin ada urusan lain...”
“Oh begitu ya...”
“Iya... hehe...”
...
Aku merasa suasana ini menjadi canggung tanpa sebab.
...
“Umm... aku pergi dulu, ya!” Ucap Kevin.
Dan dia langsung pergi tanpa menunggu kami merespon.
“Sampai mana tadi kita?” Ivi bingung sendiri.
“Ah! Iya,”
“Menurut kalian kenapa penjaga perpustakaan berpakaian seperti itu dan berpatroli berkeliling sekolah, dan juga kenapa setiap orang yang di-’culik’ tidak ingat dengan kejadian saat mereka di-’culik’?”
“Uhh... pertanyaanmu tambah panjang saja. Aku bahkan tidak mengerti pertanyaanmu dari awal.” Keluh Tino.
“... aku juga bingung harus mengajak siapa lagi.” Ucap Ivi.
“Bisa kau jelaskan lebih rinci?”
“Uhh... Aku juga tidak mengerti, biar kuulang, kali ini kalian harus mengerti.”
__ADS_1
Aku dan Tino mengangguk.
“Ya, beberapa hari yang lalu kalian ‘menghilang’ dan muncul begitu saja.”
“Itu lebih singkat daripada yang tadi.” Ucap Tino.
“Tunggu, kenapa kami ‘menghilang’ atau di-’culik’?”
“Nah, ini pertanyaan yang harusnya kujawab,”
“mungkin kau di-’culik’ karena berusaha mencari identitas asli dari ‘Dewa Kematian’ saat itu.”
“Begitu juga Tino, dia juga mencoba mencari identitas asli dari ‘Dewa Kematian’. Mungkin karena hal itu.”
“Dan kemungkinan lain, siswa lain tidak mengetahui tentang hal ini, baru kita bertiga yang tau tentang hal ini.” Ucap Diviana yang berbicara sendiri.
“Yang kau maksud ‘Dewa Kematian’ itu...” Tino mencoba mengatakan sesuatu.
“Aku ingat!” Aku tiba-tiba menggebrak meja.
“’Dewa Kematian’ yang kau bicarakan, itu adalah sosok yang pernah kulihat saat aku menutup ‘Pintu Depresi’ dengan lakban!”
“Memang itu yang sedang kita bicarakan...” Ucap Ivi.
“Eh? Bagaimana kau tau tentang itu?” Tino bingung.
“Yoshhh... kita akan apakan sosok itu???” Tiba-tiba saja aku bersemangat membahas topik ini.
“Kenapa tiba-tiba kau...”
“Dia adalah sosok yang pernah merobek lakban pada ‘Pintu Depresi’ yang pernah kututup!”
“Eh?? Hanya itu... kukira hal yang sangat penting...” Ivi terlihat kecewa mendengar keluhanku.
“Hmm... jadi apa kau daritadi ingin mengatakan untuk menangkap ‘Dewa Kematian’?” Tanya Tino.
“Akhirnya kau mengerti juga...”
“Memang aku ingat kemarin, penjaga perpustakaan itu terlihat sangat menjaga penampilannya agar tetap menjadi ‘Dewa Kematian’.” Pikir Tino.
“Bagaimana kalau kita menangkapnya dan mempublikasikan identitasnya,”
“Kalau dipikir-pikir, jika kita mempublikasikan identitasnya, dia akan tidak menjadi ‘Dewa Kematian’ lagi karena banyak orang sudah tau tentang hal itu.” Usul Tino.
“Boleh juga, tapi kupikir sosok ‘Dewa Kematian’ adalah sosok yang sangat sulit untuk ditangkap begitu saja.” Pikir Ivi.
“Kalau tidak dicoba kita tidak akan tau.” Ucapku yang sok tau.
“Kalau begitu, aku akan membuat rencana untuk menangkap ‘Dewa Kematian’ besok.”
“Persiapkan diri kalian, besok kita akan melakukan ini.”
__ADS_1