
Sekarang sudah bulan Desember, aku akan menghadapi ujian akhir semester dari sekolah ini. Aku dan yang lainnya sedang berjalan ke kelas.
“Liburan sebentar lagi, kita liburan lagi, yuk, ke pantai, kali ini ajak lebih banyak orang.” Ucap gadis itu.
“Eh? Mau kemana memangnya?” Tanya Ivi.
“Aku sih rencananya mau ke pantai.” Ucap gadis itu lagi.
“Tapi kalau begitu, kita harus mengajak siapa? Kau ‘kan tidak kenal banyak orang di sekolah ini.”
“Hmm...”
“Tidak perlu kenal banyak orang, kita bisa mengajak orang yang Razox kenal!” Gadis itu tiba-tiba menunjukku.
“Eh?”
“Iya, justru dari antara kita yang kenal banyak orang itu kamu, berkat jasa konsultasimu. Terutama Lulu, gadis yang sering bersamamu itu.”
“Lulu, ya...”
“Tapi aku tidak kenal dekat dengan semua klienku.”
“Bagaimana kalau ajak juga teman ekskul? ‘Kan ekskul yang kita ikuti berbeda-beda, pasti akan banyak kalau diajak.” Usul Ivi.
“Wah, ide bagus.” Ucap gadis itu, terdengar sangat senang.
“Hei, Razox.” Sapa seseorang yang tiba-tiba merangkulku.
“Eh? Ketua OSIS.”
“Eesa saja, aku tidak gila hormat, kok.” Ucap orang itu yang ternyata adalah Eesa, sang ketua OSIS.
“Umm.. baiklah, ada apa, Eesa?”
“Apa kau sudah belajar untuk ujian nanti?” Tanya Eesa sambil melepaskan rangkulannya.
“Tentu saja sudah!” Jawabku yang sedikit emosi.
“Memangnya apa saja mata pelajaran ujian hari ini?”
Dia seperti meragukanku...
“Bahasa Inggris dan Matematika.”
“Ternyata kau benar, ya.”
“Permisi, kami ingin belajar lagi di kelas.”
Aku mempercepat langkahku dan yang lain mengikutiku, meninggalkan ketua OSIS.
“Razox, kenapa tadi kamu tidak mengajak dia?” Tanya gadis itu.
“Kau bercanda? Dia adalah ketua OSIS di sekolah ini, dia pasti akan tetap sibuk walaupun sedang liburan.”
“Hee... itu ketua OSIS? Aku tidak tau itu.”
“Mungkin karena kau tidak melihatnya saat upacara penerimaan siswa baru.” Ucap Ivi.
“Yang benar saja, padahal dia selalu muncul saat upacara, masa kau tidak sadar?” Ucap Tino.
“Aku tidak melihatnya.” Ucap gadis itu dengan polos.
...
...
...
Sesampainya di kelas, Ivi langsung mengeluarkan buku Matematika, untuk belajar.
“Jika nanti banyak yang ikut liburan, aku ingin kita naik kereta. Sudah lama sekali sejak 10 tahun yang lalu terakhir kali aku naik kereta.” Ucap gadis itu.
“Umm... kamu memangnya mau kemana?” Tanya Ivi sambil membaca buku.
“Tadi ‘kan aku sudah bilang, aku ingin ke pantai.”
“Hmm... pantai, ya...” Ivi tetap fokus membaca.
BIP
Lulu masuk ke kelas dan tiba-tiba menghampiriku.
“Eh?”
“Razox!” Ucap Lulu yang membuat seisi kelas bingung, karena dia menyebut namaku dengan suara ‘berat’-nya.
“A-ada apa?”
“Aku ingin bicara denganmu sebentar!”
“Iya, duduk saja.”
“Umm... hanya berdua...”
“Baiklah... memangnya ada apa, sih?”
Lulu mengajakku untuk berbicara di depan kelas.
“Jadi begini...” Suaranya sudah kembali normal lagi.
“Ini.” Lulu memberikanku selembar kertas.
“Eh? Apa ini?”
“Lihat saja.”
Ini adalah laporan konsultasiku, berisi tentang daftar siapa saja yang berkonsultasiku.
“Itu laporan bulan kemarin.” Ucap Lulu.
“Hmmm...” Aku membolak-balik kertas itu, ya, itu hanya selembar.
“Hanya satu, hanya Reyfall?”
“I-iya, lagipula memang hanya itu ‘kan pelangganmu selama bulan kemarin?”
“...”
“Baiklah, terima kasih, kau boleh kembali ke kelasmu.”
Lulu langsung berjalan pergi.
...
BIP
...
Aku kembali duduk di tempatku.
“Aku jadi bingung...” Dan langsung mengeluarkan uneg-uneg.
“Ada apa, Razox?” Tanya Ivi yang masih membaca buku.
“...”
“Ya... soal mengajak yang pernah menjadi pelangganku, apa aku harus mengajak mereka? Aku tidak pernah berbicara dengan mereka lagi...”
“Tak apa, ajak saja mereka.”
“Bukan masalah itu, kemungkinan besarnya mereka akan menolak, apalagi saat mereka tau kalau liburannya pakai uang sendiri.”
“Coba saja dulu.”
“...”
“Tenang saja, aku akan membantumu.” Ucap Tino sambil menepuk pundakku.
---
Saat istirahat, kami masih di kelas, Ivi dan Tino terkeluh kesah tentang soal ujian tadi, sementara gadis itu terus membicarakan tentang liburan sejak bel istirahat berbunyi, aku hanya memperhatikan mereka.
“Tadi ada soal yang caranya belom diajarin!” Keluh Tino.
“Masa? Soal nomor berapa?” Tanya Ivi dengan wajah tidak percaya.
“Hmm... kalau tidak salah... nomor 15!”
“15 ya...”
“Eh? 15 itu... bukannya sudah diajari, aku bisa mengerjakannya.” Ucap Ivi dengan wajah polos.
“Ketahuan kamu tidak memperhatikan guru.” Ucap gadis itu.
“Uhhh...”
“Oiya, Razox, bagaimana? Kamu bisa mengajak orang-orang yang pernah menjadi pelangganmu?” Tanya gadis itu.
“Baiklah.” Aku langsung berhenti makan dan berdiri.
“Kamu juga, Ivi dan juga Tino, ajak teman ekskul kalian, aku akan menunggu disini.”
“Jangan deh, aku menunggu disini saja bersamamu. Aku tidak tega meninggalkanmu sendiri.” Ucap Ivi.
“Ya, aku juga, kau pasti butuh teman ngobrol.” Sambung Tino.
Bilang saja kalian malas.
“Tidak apa, kok, aku akan memanggil Lulu untuk menemaniku. Kalian pergilah.”
__ADS_1
“Uhhh... baiklah...”
Kami pergi berpencar untuk mengajak ‘yang lain’.
---
Pertama-tama, aku langsung pergi ke kelas sebelah untuk mengajak orang yang kata dia, dia mengenalku sejak kecil, Lisa.
Tiba-tiba aku terdiam di depan kelas X-6, dan berpikir ‘apa dia masih mengingatku?’. Terakhir kali kami bertemu itu sudah beberapa bulan yang lalu, aku berpikir kalau hubunganku dengan dia sudah renggang.
“Mungkin yang lain saja...”
GREK
Pintu terbuka dari dalam dan ada yang keluar.
“Eh? Razox?” Tanya orang itu yang baru saja keluar.
“Li-Lisa?”
“Lama tidak bertemu lagi, bagaimana kabarmu? Kau tidak banyak berubah ya.” Tanya Lisa yang langsung tersenyum melihatku.
“Ba-baik, bagaimana denganmu?”
“Baik juga, oh ya, bagaimana dengan jasa konsultasimu? Apa sudah ada kemajuan? Aku sudah lama tidak melihatnya, terakhir kali saat kau bercerita denganmu.”
“Eh, iya, aku sudah punya ruang kerja dan sekertaris sendiri.”
“Wah, hebat ya. Siapa sekertarismu? Apa dia perempuan? Atau laki-laki?”
“Umm... Lisa, sebenarnya aku punya tujuan tersendiri ke kelasmu.”
“Kenapa tidak bilang daritadi? Katakanlah.”
“Kau tadi terus berbicara...”
“Begitukah? Haha, maaf ya.”
“Jadi begini, aku dan teman-temanku ingin pergi untuk liburan akhir tahun ini, aku disuruh untuk mengajakmu, apa kau mau ikut?”
“...”
Tiba-tiba Lisa terdiam dan menatapku dengan tatapan bingung.
“Lisa?”
“...”
“Tentu saja!”
“Ummm... tapi kita menggunakan uang masing-masing untuk pergi.” Tambahku.
“Tidak apa-apa. Aku memang ingin ikut berlibur, apalagi bersamamu!”
“...”
“Baiklah, aku akan mengabarimu lagi nanti.”
Aku langsung berjalan pergi meninggalkan Lisa.
Selanjutnya ke kelas Juniardo.
“Eh? Bukannya kelas Juniardo itu kelasnya sama dengan kelas Lisa? Untuk apa aku pergi?”
Aku berjalan kembali ke kelas X-6.
BIP
Dan masuk ke kelas itu.
“Eh? Razox? Ada apa?” Tanya Lisa yang langsung menyadari keberadaanku.
“Umm... apa ada Juniardo?”
“Oh, Juniardo? Itu orangnya.” Lisa menunjuk Juniardo yang sedang memainkan smartphone-nya di mejanya.
Aku langsung menghampirinya.
“Permisi, Juniardo.”
“...”
Dia berhenti memainkan smartphone-nya dan melihatku dengan wajah bingung.
Seperti sedang menerawang siapa diriku ini.
“Ah, Razox! Maaf, aku sempat kebingungan dengan wajahmu yang sekarang.”
“...”
“Ada apa, Razox, sampai ingin bertemu denganku?”
“Aku dan teman-temanku ingin pergi untuk berlibur akhir tahun ini, apa kau mau ikut?”
“Wah, kebetulan sekali aku dan pacarku ingin mencari acara untuk liburan nanti. Apa pacarku boleh ikut juga?”
“Bo-boleh kurasa...”
“Baiklah kalau begitu, aku akan ikut.”
“Tapi liburannya memakai uang masing-masing, apa tidak masalah?”
“Tidak, aku dan pacarku juga sudah menyiapkan uang untuk pergi liburan. Kami akan tetap ikut.”
“...”
“Baiklah, nanti akan kukabari lagi.”
Aku langsung keluar dari kelas itu.
Selanjutnya, aku akan menemui Kevin, teman sekelasku. Tadi dia tidak ada di kelas, kemungkinan sekarang dia berada di kantin.
Aku langsung pergi ke kantin.
Saat memasuki kantin, aku langsung melihatnya, untung dia mudah ditemukan.
“Kevin!”
“Hm?”
Dia sedang makan bubur di meja, sendirian.
“Kevin, aku ingin bicara denganmu, sebentar.”
“Iya, silahkan saja...”
“Jadi, teman-temanku ingin pergi berlibur akhir tahun ini, apa kau mau ikut?”
“Hmm... sebelum itu, aku ingin bertanya.”
“Eh?”
“Kita pergi liburannya pakai uang siapa?”
“Uh, ada juga yang bertanya seperti itu... kita pergi pakai uang sendiri.”
“Hmm... begitu ya... bagaimana, ya...???”
“Kau mau ikut atau tidak?”
“Hm... aku takut aku tidak ada kegiatan saat liburan nanti, aku ikut saja, deh, memangnya bayarnya berapa, sih?”
“Aku tidak tau, mungkin 300 ribu, siapkan saja uang yang banyak.”
“Baiklah, nanti aku memeriksa tabunganku.”
“Oke, aku akan mengabarimu lagi nanti.”
Aku langsung meninggalkan Kevin dan menuju kelas kembali.
“Eh?”
Aku melihat beberapa gadis sedang berkumpul di tanggan, menghalangi jalan.
Tunggu dulu, mereka gadis-gadis yang pernah mengerubungiku saat itu, apa aku harus mengajak mereka?
“...”
“Siapa ya nama mereka...???”
“Uh...”
Aku tetap menghampiri mereka.
“Permisi.”
Para gadis itu langsung melihatku.
“Razox?”
“Razox!”
“Tumben sekali menghampiri kami, ada apa?”
“...”
Mereka mengenaliku...
“Umm... teman-temanku ingin pergi berlibur akhir tahun ini, apa kalian mau ikut?”
__ADS_1
“Hee?? Diajak liburan oleh Razox? Apa aku bermimpi?”
“Iya, temanku menyuruhku untuk mengajak kalian...”
“Ah, tentu saja kami ikut.”
“Ba-baiklah, aku akan mengabari kalian nanti.”
Aku langsung meninggalkan mereka dan kembali ke kelas.
...
BIP
“Aku kembali.”
Saat aku kembali ke kelas, aku melihat Ivi dan Tino sudah ada di sana.
“...”
“Kenapa kalian cepat sekali??”
“Teman-temanku ada di lantai ini semua, jadi aku tidak perlu turun.” Ucap Ivi.
“Kalau aku, aku baru ingat aku tidak punya kenalan dari kelas lain.” Ucap Tino.
“...”
Bilang saja malas.
“Oh ya, Tino, aku ingin bertanya.”
“Apa?”
“Siapa nama gadis yang pernah beramai-ramai menghampiriku itu.”
“Kapan?”
“Sudah lama, sih? Aku juga tidak ingat tepatnya kapan. Yang kuingat jelas mereka bertiga.”
“Hmm... mereka, ya...”
“Kalau tidak salah namanya Rani...”
“Semuanya.”
“Eh? Aku juga sedikit lupa, kalau tidak salah Tasla, dan satu lagi Yuri...”
“Yang benar? Apa kau punya kontaknya?”
“Iya, seingatku begitu, aku tidak punya, memangnya kenapa?”
“Aku mengajak mereka.”
“Hah? Mereka ‘kan tidak pernah menjadi pelangganmu.” Ucap Ivi.
“Uhh... memangnya aku tidak boleh mengajak yang bukan pelangganku?”
“Bo-boleh, sih...”
“Memangnya kau mengajak pelangganmu yang bulan lalu?” Tanya Tino.
“Yang mana?”
“Jangan pura-pura tidak tau, orang yang saat itu masuk ke kelas saat aku ingin keluar, dia pasti menghampirimu, ‘kan? Apa dia sudah kau ajak?”
“...”
“Ti-tidak...”
“Eh? Kenapa?”
“Tidak, aku tidak mengajaknya, lagipula dia pasti tidak mau, dia itu kakak kelas.”
“Hah? Orang seperti itu?”
“Aku merasa canggung jika pergi liburan dengan dia...”
“Padahal dia pernah jadi pelangganmu, tapi malah tidak kau ajak, sementara mereka yang tidak pernah, kau ajak.”
“Tidak masalah, Razox, ajak saja.” Ucap gadis itu.
“Eh?”
“Sudah, turuti saja, ini juga untukmu.” Bisik Ivi yang tiba-tiba di belakangku.
“Baiklah...”
Aku pergi keluar kelas lagi dan menuju kelas XI di lantai 2.
...
Aku sudah berada di depan kelas XI-IPS-2.
GULP
Aku ragu untuk masuk ke kelas XI, apa nanti aku akan di-bully di dalam sana?
“Aku harus berani!”
BIP
WOOSSHHHH
Ketika aku membuka pintu, aku langsung merasakan aura yang sama dengan Reyfall, tapi jumlahnya lebih banyak.
“...”
“Permisi, apa Reyfall ada?
“Reyfall? Ada dia disana.” Ucap salah seorang siswa yang dekat dari pintu dan menunjuk Reyfall yang sedang duduk di pojok.
GULP
Aku menghampirinya.
Kelas ini... apa ini benar kelas XI? Kupikir hanya Reyfall saja yang punya aura suram seperti itu, ternyata sampai kelasnya seperti ini.
Dan juga, kelas ini tidak memiliki ‘Pintu Depresi’ di ujung kelas, apa maksud dari semua ini?
“Permisi, Reyfall.”
“...”
“Ra... zox...”
“Reyfall, teman-temanku ingin pergi liburan akhir tahun ini, apa kau mau ikut?”
“...”
“Tidak.” Dia menjawabnya dengan tegas.
“Eh?”
“Banyak kok yang ikut.”
“Tidak.” Jawabannya tetap sama.
“Ayolah, kau juga butuh refreshing.”
“Tidak.”
“...”
“Baiklah kalau kau tidak mau, terima kasih atas waktunya. Maaf menggangu.”
Aku langsung cepat-cepat keluar dari ruang itu dan berjalan ke kelasku dengan normal.
“...”
Kupikir tadi aku akan di-bully.
BIP
“Bagaimana?” Ivi langsung menghampiriku.
“Dia tidak mau.”
“Eh? Yang benar?”
“Iya, dia terus menolaknya tanpa alasan walaupun aku beri dia alasan untuk ikut.”
“Kalau dia tidak mau tidak perlu dipaksa, Razox.” Ucap gadis itu.
“Baiklah, sekarang aku dan Cinta akan mengatur liburan kita nanti akan lebih meriah dari kemarin!” Ucap Ivi.
“Eh? Kenapa kau dan Cinta yang mengatur?” Keluh Tino.
“Kau mau yang mengaturnya? Boleh saja, kok.”
“Ti-tidak perlu, aku juga malas mengurus seperti itu.”
“Aku senang bisa liburan bersama kalian lagi.” Ucap gadis itu sambil tersenyum.
“...”
__ADS_1