
TUT....
“Halo, ibu, aku akan pulang hari ini, tolong masakkan makanan yang enak.”
“Halo, Yu, aku akan pulang hari ini, tolong masakkan makanan yang enak.”
“...”
BIP BIP BIP
Aku bingung sendiri dengan handphone yang kupegang.
“Razox, sudahlah.” Ucap Ivi sambil yang memegang tanganku.
“...”
Kami berjalan dari koridor sekolah menuju rumah masing-masing.
“Ivi?!”
Tiba-tiba terdengar suara panggilan nama Ivi dari tangga.
Ivi pun menengok ke arah asal suara itu.
“Eh? Cinta?”
“Ivi! Ternyata itu benar kamu!”
Terlihat gadis itu bersama dengan Kevin sedang menuruni tangga, Ivi dan Tino langsung menghapirinya untuk membantunya turun.
“Darimana saja kamu?”
“Aku, aku tadi ada urusan dari sekolah, kau tau, ‘kan?”
“Iya aku tau, maksudku, darimana Razox? Aku tau kalau kalian berdua izin, tapi kemana tadi Razox? dia tidak masuk tanpa keterangan.”
“Eh? Aku tadi bersama Tino dan Ivi. Masa kau tidak tau?”
“Setauku juga begitu, Diviana dan Tino tidak masuk karena izin, sedangkan kau tidak masuk tanpa keterangan.” Ucap Kevin.
“Eh??” Aku tambah bingung mendengarnya, sudah aku tidak bisa menghubungi orang di rumahku, sekarang aku dicatat tidak masuk tanpa keterangan.
“Sudahlah, itu tidak penting, nilaimu tidak akan berkurang, tadi hanya materi saja.” Ucap Kevin.
“Oh ya, aku pergi duluan ya, Cinta kuserahkan pada kalian. Sampai ketemu besok!” Ucap Kevin yang setelah itu langsung pergi meninggalkan kami.
“Teman-teman, kita ke kantin dulu, yuk. Aku sedikit lelah dan mau istirahat sebentar.” Ajak Ivi.
“Ivi, memangnya tadi kamu melakukan apa? Kenapa baju kalian masih terlihat bersih?” Tanya gadis itu.
“Kita hanya rapat tentang study tour untuk nanti.” Jawab Tino.
“Eh? Rapat? Itu ‘kan pekerjaan OSIS, kalian ‘kan bukan anggota OSIS , bagaimana kalian bisa mengikuti rapat itu?”
“Mereka juga butuh suara dari siswa sekolah, makanya kami mewakilkan kelas kita.” Ucap Ivi.
Kenapa mereka lancar sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan itu? Jelas-jelas tadi aku bersama mereka, tapi aku tidak ingat melakukan apa saja, apa benar aku tadi bersama mereka?
“Ohh.. begitu...”
Dan sepertinya gadis itu percaya saja karena Ivi yang memberitahu.
“Oh ya, Ivi, bagaimana tentang rencana liburan kita?” Tanya gadis itu.
“Hmm... tentang itu, kau sendiri sudah mendapatkan transportasi untuk kita?”
“Tentu, pamanku bersedia untuk mengantar kita, kita hanya tinggal menentukan tujuan kita kemana. “
“Baiklah, mungkin kita akan pergi ke pantai akhir pekan ini.”
“YEESSS!!!” Tino tiba-tiba mengeluarkan suara keras.
“Eh?” Mereka berdua heran dengan suara Tino yang seperti itu.
“Kamu... tidak apa?”
“... tidak, tidak apa-apa, ayo lanjut jalan.”
“...”
...
...
...
Keesokan harinya, aku dan Tino berangkat sekolah seperti biasa, berangkat pagi dan menunggu gadis itu di halte depan sekolah.
Setelah gadis itu bersama kami, kami langsung pergi ke kelas bersama dengan gadis itu.
KRIITT
Sesampainya di depan kelas, aku tidak langsung masuk dulu.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Tino.
“Hm?”
“Memeriksa kotak suratku.”
“Memangnya itu untukmu?”
“Iya, kau bisa lihat sendiri.”
“Kapan ada kotak itu di kelas??”
“Sejak kemarin juga sudah kupasang, sepertinya sejak Senin, memangnya kau tidak tau?”
Aku membuka kotak surat itu dan mendapati satu helai kertas yang terlipat di dalamnya.
“Eh?”
“Memangnya itu kotak surat apa, sih? Kau sudah dapat berapa surat dari kotak itu? Seribu? Sejuta?”
“Ehh?? Kau menyindirku ya??”
“Ini hanya kotak saran konsultasiku.”
“Lihat ini.”
Aku menunjukkan kertas yang baru saja kuambil dari kotak itu, kertas itu berisi ulasan atas jasa konsultasiku, di menggambar jempol dan 5 bintang serta ucapan terima kasih.
“Lihat?! Aku mendapat ulasan bagus!”
“Biar kulihat.” Tino mengambil kertas yang kupegang.
“...”
“Ya... kau harusnya tau ini surat dari siapa.”
“Eh?”
__ADS_1
“Pelangganmu masih kurang dari 10 dan sudah ada yang memberi ulasan seperti itu, pasti salah satu dari pelangganmu.”
“Ya, tapi aku tidak perlu tau siapa itu.”
“Paling-paling itu hanya karangan.”
BIP BIP BIP
Kami bertiga masuk ke kelas.
...
...
...
Waktu istirahat tiba, Tino langsung berdiri.
“Razox, mau makan di kantin?”
“Tidak, aku di kelas saja, aku bawa bekal.”
“Baiklah....”
Tino keluar bersama Ivi dan gadis itu.
“...”
Aku memakan bekalku.
BIP
Seseorang masuk ke kelas dan tidak ada yang mempedulikan kehadirannya kecuali aku.
Orang itu adalah gadis yang menutupi wajahnya dengan topeng, dia berjalan ke arahku.
“Eh?”
“Apa kau yang bernama Victor Razox?” Tanya orang itu.
“I-iya...”
“Beruntung sekali aku bisa bertemu langsung denganmu...”
“Perkenalkan, namaku Jennia Lucy, kau bisa memanggilku Lucy.”
“Jadi... apa keperluanmu datang kemari?”
“Aku mendengar rumor bahwa kau bisa menyelesaikan berbagai masalah-“
“Ahahaha!!!”
Tiba-tiba saja aku tertawa keras sampai-sampai semua yang ada di kelas mentatapku.
“Hee??” Dia kebingungan melihatku tertawa keras.
“Kenapa?”
“Tidak, hanya saja, rumor yang kau dengar itu salah, aku tidak bisa menyelesaikan berbagai masalah. Tapi aku berusaha untuk memberikan solusi yang bisa menyelesaikan masalah.”
“Uhh... kalau begitu, aku akan menceritakan masalahku, semoga kau bisa menyelesaikan masalahku ini.”
Orang itu duduk di kursi kosong di depanku.
“Umm... Lucy...”
“Jadi sebenarnya aku adalah gadis yang sangat pemalu...”
“Aku juga tahu tempat ini bukan karena rekomendasi teman, karena kebetulan saja aku lewat sini dan melihat papanmu itu di depan.”
“...”
“Dan aku juga benar-benar mendengar rumor itu dari percakapan seseorang, bukannya aku menguping, tapi suara mereka terlalu keras.”
“Lucy!”
Aku sampai harus memegang pundaknya.
“Umm.. bukannya aku tidak mau mendengar ceritamu, tapi lebih baik aku mendengarkan ceritamu saat jam pulang sekolah, agar kita punya lebih banyak waktu.”
“...”
“...”
“Baiklah, aku akan menemui nanti sepulang sekolah.”
“Sampai nanti.”
Gadis itu langsung berdiri, dan pergi.
“Akhirnya aku mendapat pelanggan yang normal...”
“Hmm... aku mendapat sedikit bocoran tentang masalahnya tadi.”
“Gadis yang sangat pemalu...”
“Hmm... aku justru tidak tau tentang itu...”
“Mungkin aku harus ke perpustakaan, mungkin saja disana ada buku yang bisa membantu.”
“...”
Aku langsung meninggalkan kelas dan pergi ke perpustakaan di lantai 1. Sesampainya di lantai 1, aku berpapasan dengan Ivi dan gadis yang berada di kursi roda itu.
“Hai, Razox, mau kemana?” Sapa Ivi.
“Aku mau ke perpustakaan, kalian sendiri mau kemana?”
“Kami hanya ingin ke toilet.”
Kami hanya berbicara sebentar karena saat kami berpapasan, kami tidak menghentikan langkah kami.
BIP
Aku masuk ke perpustakaan, suasana di dalam benar-benar sepi dan sepertinya ruang ini sangat kedap suara, aku tidak mendengar suara dari luar sedikitpun, bahkan aku mendengar suara detak jantungku sendiri.
Aku berjalan ke meja resepsionis dan mengisi buku tamu.
“Eh?”
Kenapa namaku ada disini? Bukannya ini kali pertamanya aku ke tempat ini?
Mungkin saja ada yang namanya Victor Razox juga di sekolah ini.
“Eh?”
Saat aku melihat kelasnya, itu adalah Victor Razox dari kelas X-5, aku sendiri. Dan kalau diingat-ingat lagi, Victor Razox di sekolah ini hanyalah aku. Itu memang aku.
“Kapan aku pernah kesini?”
“Sstt..!!”
__ADS_1
Aku tidak sengaja mengeluarkan suara sampai disuruh diam oleh penjaga perpustakaan.
“Uh...”
“Umm... apa disini apa buku tentang psikolog?” Tanyaku untuk mengelak.
“Ada, di rak F, cari saja.” Ucapnya dengan dingin.
“...”
Aku langsung berjalan ke rak F yang dimaksud, mencari buku yang sesuai, melihat beberapa, dan mengambil buku yang menurutku cocok.
“Aku tidak akan membacanya disini, aku merasa tidak nyaman, mungkin aku akan membacanya di kelas.”
“Tapi di kelas terlalu berisik. Dimana tempat yang tenang di sekolah ini.”
“...”
“Ah, sudahlah.”
Aku berjalan lagi ke meja resepsionis dan meminjam buku itu.
Dan akhirnya aku membaca buku itu di toilet, tepatnya di dalam bilik kloset.
Lucu, seperti kutu buku yang sering di-'bully'.
...
...
...
Waktu pulang sekolah telah tiba.
“Razox, kami pulang duluan!”
Tino dan yang lainnya keluar kelas, meninggalkan aku sendiri di kelas.
“...”
Aku menunggu Lucy yang katanya akan datang kesini.
“...”
BIP
Seorang gadis masuk ke kelas dan berjalan ke arahku, itu adalah Lucy, aku tau dari topengnya.
“Halo, silahkan duduk.”
“Maaf! Aku terlambat dan tidak tepat waktu!” Ucap Lucy sambil membungkuk.
“Eh? Kau kesini 5 menit setelah bel pulang sekolah, itu tidak telat untukku.”
“Maafkan aku!” Lucy tetap saja membungkuk.
“Sudahlah, sekarang duduk saja,”
“dan ceritakan apa masalahmu yang mau kau ceritakan.”
“Terima kasih!”
Lucy menegapkan diri dan duduk di kursi kosong depanku.
Semoga saja buku yang kubaca tadi berguna.
“Baiklah, aku akan melanjutkan yang tadi...”
“Aku adalah gadis yang sangat pemalu, sejak SD dulu, aku tidak punya teman dekat, sahabat karib, maupun teman masa kecil. Aku selalu meminta bantuan kepada keluargaku, padahal hubunganku dengan keluargaku tidak terlalu dekat, apalagi aku juga adalah anak tunggal.”
“Jadi, aku memintamu untuk memberikanku solusi agar aku bisa mendapat banyak teman! Aku sering kali menonton anime tentang kehidupan sekolah, dan itu membuatku ingin punya banyak teman, aku pernah mencobanya, tapi gagal sebelum aku mencobanya, aku tidak punya keberanian untuk berkenalan dengan orang.”
“Kalau tidak salah, aku tidak berani berkenalan dengan orang karena kedua orang tuaku overprotektif kepadaku. Jadi aku terlalu memilih dalam berteman, hingga akhirnya aku justru tidak punya teman.”
“Umm... tapi, kenapa kau bisa berkenalan kepadaku dan memperkenalkan dirimu? Padahal kau sendiri yang bilang kalau kau sangat pemalu sampai tidak bisa berkenalan dengan orang baru.” Tanyaku yang bingung dengan ceritanya.
“Kau bercanda? Ini karena aku menyembunyikan identitasku! Lucy bukanlah nama asliku. Orang-orang tidak tau kalau ini adalah aku.”
“Aku akan terus menyembunyikan identitasku sampai waktunya tiba.”
“Baik... lah...”
“Jadi bagaimana menurutmu agar aku bisa mendapat banyak teman dalam waktu dekat ini? Apa aku harus memakai sihir hitam?”
“Jangan! Aku akan memberikan solusi.”
“Bagaimana?”
“Hmm...”
“Hm.... jujur saja, temanku di sekolah ini juga masih sedikit, mungkin hitungan jari.”
“Bagaimana kalau kau berteman denganku dan teman-temanku?”
“Eh? Apa boleh?”
“Tentu saja, kau pasti akan diterima dengan baik.”
“Uhh, terima kasih. Besok aku akan datang ke kelasmu!”
“Umm... Lucy, apa aku boleh bertanya sesuatu?”
“Apa itu, Razox?”
“Umm... siapa nama aslimu? Dan bisakah kau membuka topengmu?”
“Ahahahaha.”
Dia hanya tertawa mendengar permintaanku, ini memang konyol juga untukku, mempertanyakan sesuatu yang menjadi privasi orang.
“Tidak.”
“Aku akan memberitahumu besok.”
“...”
“Baiklah...”
“Kalau begitu, terima kasih atas saranmu, aku pulang duluan ya!”
Lucy langsung pergi meninggalkan kelas, sedangkan aku malah duduk selonjoran.
“Huffttt...”
“Memang seharusnya seperti itu konsultasi yang kuinginkan.”
“Ya, tapi walaupun itu tidak ada hubungannya dengan psikologisnya, tidak apalah.”
“Yak, sekarang waktunya pulang, Tino dan yang lainnya masih ada di halte tidak ya?”
__ADS_1