
“...”
“Syukurlah kau selamat.” Ucap gadis itu.
“Kemarilah.”
Tino langsung berlari menghampiri gadis itu...
dan memeluknya.
“Aku senang kamu masih hidup.” Ucap Tino yang terdengar sedih.
“...” Aku melihat mereka dengan tatapan datar, sedangkan Claudia terlihat iri dengan mereka, sedangkan Yuli sibuk melihat isi kulkas ketika tau kalau sosok itu adalah Tino.
“... karena jika kau mati, aku juga pasti akan mati...”
Kata-kata itu keluar dari mulut Tino.
“Uh...”
“Maaf mengganggu momen kalian.” Ucapku menginterupsi mereka.
“Tino, kenapa kau tidak keluar dan mencari kami? Padahal setauku kau juga bisa bertarung.” Tanyaku.
“...”
Tino tidak meresponku, dia masih saja berpelukan dengan gadis itu dengan mesranya.
“Ehm, Tino.”
“Eh? Apa?”
Dia langsung sadar dan melepaskan pelukannya.
“Kenapa kau tidak keluar dan mencari kami?” Tanyaku lagi.
“Oh itu... kupikir itu adalah ide buruk untuk keluar, dan lebih baik menunggu pertolongan seperti ini.” Jawabnya dengan penuh percaya diri.
“Teman-teman, kita jalan lagi besok, ya, aku lelah.” Keluh Yuli yang sudah mengambil makanan di dalam kulkas.
“Ayo, Yuli, kita pasti bisa!” Ucap Claudia berbinar-binar.
“Ingat, kita dulu di sekolah naik-turun 3 lantai dan tidak kelelahan sama sekali.” Lanjutnya.
Dia seperti berorasi.
“Umm... kupikir kita beristirahat dulu saja.” Ucapku.
“Lantai 1 masih jauh, dan kita tidak bisa terburu-buru juga.”
“Iya, kita lanjutkan perjalanan kita besok saja, aku tidak ingin merepotkan kalian.” Ucap gadis itu.
“Baiklah, kita akan beristirahat di ruang ini sampai besok.”
“Tapi ingat, jangan ada yang sampai terlihat.”
...
...
...
Malam hari telah tiba, dan sepertinya memang tidak akan ada pembunuhan. Orang-orang mendekati air terjun lahar dan membakar kayu mereka untuk menjadi sumber cahaya di ruangan mereka yang gelap, kami pun melakukan hal yang sama. Membuat api unggun dengan pecahan kayu dari kursi dan meja berkumpul di ruang dan mengelilingi api unggun.
“...”
Suasana ini terlalu canggung, semuanya terdiam sambil memandangi api unggun.
“Sepertinya semuanya sudah lelah, ayo kita tidur dan lanjutkan perjalanan kita besok.” Ucap Tino untuk sekedar memecahkan keheningan.
“...”
Dan semuanya tertidur, termasuk aku...
...
...
...
TING TING
“Uh...”
Aku terbangun karena suara bel itu.
“Selamat pagi semua!!”
“Hari pertama sudah berlalu, sekarang hari kedua! Semoga kalian masih tetap hidup di hari kedua ini!”
“Oh ya, untuk kalian yang bingung saat kemarin diserang dan orang yang menyerang kalian punya senjata dan kalian bingung mereka dapat darimana, sebenarnya aku sudah menyiapkan 1 senjata tajam pada setiap ruangan, mereka sudah memilikinya karena lebih dulu menelusuri ruangan.”
“Semoga beruntung.”
TINGNONG
“Selamat pagi, semua.” Sapaku yang baru bangun.
“...”
Semuanya ikut terbangun.
“Hooaaammm...”
“...”
“Uaaahhhh...”
“...”
Dan saat aku melihat semuanya, posisi semuanya sama seperti saat aku tertidur semalam. Benar kata gadis itu, tidak ada pembunuhan saat malam hari.
“Kita sarapan dulu.” Ucap Yuli langsung berjalan ke kulkas.
Dan tadi kata penguman ada 1 senjata pada setiap ruang, mungkin Tino belum mencari senjata di ruang ini, lebih baik aku mencoba menelusurinya.
“Waahh!!” Yuli berteriak sambil melihat isi kulkas.
“Mereka benar-benar memperbaruinya!” Lanjutnya berteriak lagi.
“Eh? Yang benar?” Claudia penasaran dan menghampirinya juga.
“Wah, iya benar!”
“Artinya kita memang tidak akan mati kelaparan disini.” Ucap Tino.
__ADS_1
“Tapi mati dengan cara lain.” Ucap gadis itu takut.
“Itu tidak akan terjadi, kita akan hidup.”
“...” Aku berjalan keluar dan mengintip koridor.
Sepanjang koridor terlihat sepi.
“Eh?”
Ternyata aku salah, aku melihat seorang perempuan berjalan sendiri ke arah ruang ini sambil memegangi perutnya.
“Apa dia sakit perut juga seperti Claudia?”
“Sepertinya aku harus memberitahu yang lain.”
“...”
“Hei, ada yang datang.”
Semuanya diam dan langsung melihat ke arahku.
“Eh? Siapa?” Tanya Tino.
“Pagi-pagi begini sudah kedatangan tamu?” Tanya Yuli yang tetap menyiapkan makanan.
“Entahalah, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.”
“Tapi sepertinya dia tidak bersenjata.”
“Tetap saja, kita tidak tau itu siapa.” Ucap Tino.
“Dia kesini! Cepat sembunyi!” Aku langsung berlari ke dalam.
“Baru mau makan.” Keluh Yuli.
Kami langsung mencari tempat bersembunyi di dalam.
...
Orang itu masuk ke dalam ruang.
“Apa disini masih ada makanan?” Tanya orang itu kepada dirinya sendiri.
Orang itu adalah perempuan dan berjalan ke kulkas yang tadi tidak Yuli tutup dengan rapat, tapi sepertinya dia tidak menyadari kalau disini ada orang. Dia langsung mencari makanan yang bisa dimakan.
KKRRRUUUKKK
“Suara apa itu?”
“Suara perut dia...” Ucap Claudia dengan pelan sambil menunjuk perempuan itu.
“Eh?” Claudia menyadari sesuatu dan melihat orang itu dengan seksama.
“Razox, kau yakin tidak tau siapa itu?” Tanya Claudia.
“Tidak, memangnya siapa?”
“Sudahlah.”
Claudia langsung berdiri dan keluar dari tempat persembunyian.
“Hoi, ini aku, Claudia!” Teriak Claudia.
“Eh?” Yuli menyadarinya juga dan keluar dari tempat persembunyian juga.
“...”
“Claudia?!”
Orang itu langsung berlari ke Claudia dan memeluknya.
“Akhirnya kita bertemu dengan cepat!” Ucap Claudia terharu.
Yuli ikut berpelukan dengan mereka.
Kami juga keluar dari tempat persembunyian karena melihat kalau itu memang orang yang tidak bersenjata dan bukan musuh.
“Memangnya siapa itu?” Tanyaku yang benar-benar tidak tau.
“Masa kau lupa? Itu Tasla. Kita pernah berlibur bersama.” Ucap Tino.
“Aku senang sudah bertemu denganmu. Sekarang kita harus mencari yang belum ketemu.” Ucap Claudia.
“Yang belum ketemu, ya...” Gadis itu terlihat murung.
“Aku berharap bisa bertemu dengan Ivi...” Lanjutnya.
“Tenang saja, kita akan menemukannya.” Ucap Tino yang menyemangatinya.
“Segera.” Lanjutnya.
“...”
“Maaf, tapi bagaimana dengan kartu pelajar kita? Bagaimana kita bisa mendapatkan kartu pelajar orang lain?” Tanya Yuli.
“Tadi bisa saja kita membunuh gerombolan itu dan mengambil kartu pelajarnya.” Lanjutnya mengeluh.
“Setauku Razox jago bela diri.” Lanjutnya lagi yang sudah terlihat kesal melihatku.
“Uhh... aku tau aku bisa bela diri, tapi aku sudah berjanji kalau bela diriku tidak dipergunakan untuk menyakiti dan memenuhi keinginanku, apalagi sampai membunuh.” Balasku.
“Lalu bagaimana kita bisa mendapat kartu pelajar?” Tanya Yuli lagi.
“Uh, aku akan pikirkan nanti selagi kita turun ke lantai 1.” Jawabku dengan ragu.
“...”
Claudia dan Tasla masih saja berpelukan.
“Hei, kapan kita mau melanjutkan perjalanan kita?” Tanya Tino.
“Kalau aku sudah siap.” Ucap gadis itu.
“Tapi sepertinya yang lain masih lelah.” Lanjutnya sambil memperlihatkan yang lain.
“Razox, aku masih sakit perut.” Ucap Claudia.
“Uhh... sepertinya itu diare biasa, mungkin kau harus ke toilet sekarang.” Ucapku dengan nada datar.
“Ayo, aku temani.” Ajakku.
...
Aku, Claudia, dan Yuli pergi ke toilet yang tidak jauh dari ruang kami beristirahat. Mereka berdua masuk, sedangkan aku menunggu mereka di luar.
__ADS_1
“...”
Aku hanya melihat sekitar.
Aku sedikit bingung tentang tempat ini...
Yang pasti tempat ini bukan sekolah, tapi setiap lantai ini seperti salinan dari lantai 3 sekolah yang di tumpuk menjadi 40 lantai.
Tapi yang kuheran lagi, kenapa harus terjadi kepada semua siswa SMA Platinum yang masih kelas 1? Padahal itu adalah masa yang bagus untuk memperkenalkan lingkungan sekolah.
Sepertinya masih ada tempat di sekolah ini yang belum pernah kukunjungi, tapi apa?
“Razox! Kami sudah selesai.” Claudia dan Yuli baru saja keluar dari toilet.
“Sudah? Bagaimana?”
“Aku sudah merasa sedikit lega, tapi entah kenapa masih sakit.” Keluh Claudia yang masih memegangi perutnya.
“Hmmm... kau yakin sudah baikan?” Tanyaku untuk memastikan.
“Sudah, ayo kita kembali.” Ucap Claudia.
“Tapi kalau kau ingin ke toilet lagi, bilang saja.”
...
Kami bertiga kembali ke ruangan kami.
“Ayo, Razox, aku sudah siap.” Ucap gadis itu.
“Baiklah.”
Kami berjalan keluar ruangan itu dan turun.
...
“Ugh! Razox! Aku sakit lagi!” Keluh Claudia.
“Eh?! Cepat cari ruang kosong!” Ucapku menyuruh yang lain.
Untungnya kami sedang tidak di tengah tangga.
Kami menemukan ruang kosong dan beristirahat lagi disana.
“Sebenarnya sakit apa yang kau alami? Sepertinya ini bukan diare...” Tanyaku bingung.
“Memangnya kau makan apa kemarin?” Tanya Yuli kepada Claudia.
“Aku... aku makan seperti biasa.” Jawab Claudia.
“Bahkan seperti berbulan-bulan yang lalu, aku tidak apa-apa...” Lanjutnya.
“...”
“Uhh... dimana kau Ivi...???” Gadis itu terlihat gelisah.
“Uh, kita akan menemukannya,” Ucapku yang mengubah perhatianku.
“teman-temanku juga belum ketemu.” Lanjutku dengan santai.
“Hei!” Tino langsung memukul punggungku.
“Teman-teman,” Tasla menginterupsi kami.
“ini bukan saatnya untuk memikirkan mereka,”
“tapi mencari mereka.” Ucapnya dengan nada bijak.
“...”
Dia berjalan keluar untuk mengawasi keluar.
“Kita akan jalan sebentar lagi.” Ucap Tino.
“...”
“Hm?!” Tino terlihat terkejut.
“Ada apa?”
“Ada yang datang!” Bisik Tino dengan keras.
“Mereka melihatku! Mereka langsung berlari kesini!”
“Mereka membawa senjata! Mereka akan menyerang kita!”
Tiba-tiba semua menjadi panik.
“Kita harus melawannya!” Ucapku bersemangat.
“Cepat cari senjata di ruang ini!” Teriak Tino.
Semua memeriksa kursi dan meja yang ada di ruang ini, bahkan membuka lemari, dan juga mencari di celah-celah makanan di dalam kulkas.
“Aku menemukannya!” Seru Tasla, dia menangkat tinggi-tinggi sebuah tongkat besi, dia menemukannya di laci meja barisan belakang.
“Cepat berikan itu!” Teriakku.
Dia langsung melempar tongkat itu kepadaku.
“Eh?” Aku menangkap tongkat besi itu dan melihatnya.
“Tino, kau saja yang memegang ini.” Aku memberikannya kepada Tino.
“Hah? Bagaimana denganmu?” Tanya Tino yang masih terlihat panik.
“Aku bisa melawan mereka dengan tangan kosong.”
“Semua, bersiaplah, kita akan melawan lagi.” Ucapku dengan nada serius.
Tidak, hanya aku dan Tino yang siap untuk melawan, yang lainnya bersiap untuk lari.
Aku dan Tino keluar dari ruang dan akan menghadapi mereka.
Benar kata Tino, mereka berlari ke arah ruang ini.
“8 orang, 5 orang memegang senjata...” Ucapku menganalisis mereka.
“Aku tidak yakin bisa melawan mereka semua.” Ucapku ragu.
“Razox, apa kita harus membunuh mereka?” Tanya Tino.
“Tidak, jangan ada nyawa yang melayang oleh tangan kita.”
__ADS_1