
Hari berikutnya. Aku berangkat sekolah dengan biasa, aku sampai halte sekolah duluan dan menunggu Tino.
“Razox!!”
Aku kenal dengan suara itu, suara tinggi tapi laki-laki, itu pasti Tino.
Tapi aku tidak membalas sapaannya.
“Hei, tadi aku ke rumahmu, adikmu bilang kau sudah berangkat. Jadi aku langsung kemari.”
“...”
“Kau kenapa, sih?”
“...”
“Kau tau pelangganku yang pertama kemarin?”
“Iya, ada apa memang?”
“Diluar perkiraanku, kupikir aku akan senang mendengar masalahnya...”
“Haha, maklum saja Razox, kau harus menerimanya bagaimanapun juga, karena itu pelanggan pertama. Bisa saja dia memberikan testimoni bagus dan menyebarkan kepada teman-temannya.”
“Bukan itu maksudku, tapi...”
BOING
“Halo, semua.”
“...”
Ibu gadis itu datang bersama dengan gadis itu yang berada di kursi roda, seperti biasa.
“Eh? Ibu Cinta.”
“Nak Tino, apa hari ini jadi ke rumah Cinta? Karena aku akan menyiapkan makanan yang enak untuk kalian!”
“Iya, tante!” Ucap Tino dengan nada gugup.
“Tapi tidak perlu repot-repot untuk menyiapkan makanan enak.” Lanjutnya.
“Eh, ngapain?” Tanyaku dengan nada malas.
“Masa kau lupa? Hari ini kita kerja kelompok!” Ucap Tino.
“Iyakah?”
“Iya.”
“Hah?! Hari ini?! Bagaimana dengan-”
“Baiklah, tolong jaga Cinta, ya!”
“Iya, tante!”
...
Aku dan Tino langsung pergi ke kelas bersama gadis itu.
“Tino, apa kita tidak menunggu Ivi?” Tanya gadis itu.
“Siapa Ivi?”
“Diviana? Kau tidak kenal?”
“Ohh... kita tidak menunggunya, aku sudah mengirim pesan padanya kemarin malam, aku menyuruhnya untuk langsung ke kelas saja.”
...
Kami akhirnya sampai di depan kelas, aku melihat plang yang ada di atas pintu kelas.
“Plang itu masih ada...”
Saat itu, aku melakban ‘Pintu Depresi’ dan lakban itu langsung menghilang besoknya, tapi plang aneh ini dibiarkan saja, keadaannya masih seperti kemarin. Padahal ada CCTV yang mengarah ke pintu, tapi kenapa tidak dicopot ya?
“Razox, kau sedang memikirkan apa?” Tino tiba-tiba menepuk pundakku.
“Eh?! Tidak ada, ayo masuk.”
BIP BIP BIP
Keadaan kelas sudah ramai.
“Wah, sepertinya aku bangunnya kurang pagi.”
Tino tiba-tiba melihat seseorang yang duduk di belakang.
“Ivi!” Teriak Tino.
Ivi yang sedang melihat tangannya, kaget mendengarnya.
Tino menghampirinya bersama gadis itu.
“Se-sejak kapan kau memanggilku dengan nama itu?” Tanya Ivi yang panik.
“Eh? Cinta yang memberitahuku.”
“Jangan memanggilku begitu! Panggil saja aku dengan nama lengkapku! Aku merasa aneh jika kau yang memanggilku begitu.”
“Oke...”
“Ivi, jangan lupa sepulang sekolah nanti, kita ke rumahku untuk kerja kelompok.”
“Pastikan kalian tidak ada kegiatan apapun nanti.”
“Eh?” Tiba-tiba aku panik, lagi.
“Ba-bagaimana jika aku ada klien dan harus konsultasi sore ini?”
“Kenapa konsultasimu tidak libur sehari saja? Memang tidak bisa?” Usul Ivi.
“Memang siapa sih yang mau datang kesini lagi?” Ucap Tino.
“Ehhh?? Kenapa kau jadi begini? Kayanya kemarin tidak.”
“Dan aku tidak mau libur, konsultasiku akan selalu buka selama aku di sekolah ini!” Ucapku dengan gagah.
BIP
“Permisi, apa ada Razox?!” Tanya seorang gadis yang baru saja masuk.
Lisa?
Kami menoleh ke arah suara itu.
Ternyata bukan.
“A-aku Razox.” Aku mengangkat tanganku dengan ragu.
Gadis itu langsung menghampiriku.
“Razox! Namaku Claudia, Claudia Rose, salam kenal!” Ucap gadis itu yang bernama Claudia.
“Baik... lalu apa urusanmu kemari?”
“Jangan pura-pura tidak tau, aku datang kesini untuk membuat perjanjian.” Ucap Claudia.
“Perjanjian?”
__ADS_1
“Ya, aku ingin berkonsultasi nanti sore!”
“Umm...”
Aku menoleh ke arah yang lain untuk pasrah, aku ada klien sore ini. Ivi hanya menghela nafasnya.
“Boleh saja... tapi kau ingin berkonsultasi tentang masalah apa?”
Semoga saja tentang psikologisnya dan tidak seperti kemarin.
“Razox!” Tino tiba-tiba merangkulku.
“Sudahku bilang apa?! Testimoni pelanggan pertama sangat penting, ‘kan? Lihat! Kau sudah mendapat pelanggan lagi!” Ucap Tino.
“Kau ini kenapa, sih?”
“Eh?”
“Baiklah, Sampai nanti!”
Gadis itu tiba-tiba sudah lari keluar kelas.
“Kau belum menajawab pertanyaanku!”
...
...
...
TING TING
“Razox, kau tidak lama, ‘kan?” Tanya Tino.
“Sepertinya begitu.”
“Kami akan menunggumu di halte. Kita akan ke rumah Cinta bersama.”
“...”
Tino meninggalkanku sendirian di kelas, yang lain sudah keluar duluan, sekarang aku sendirian, lagi.
“Huft...”
...
Menunggu lagi...
...
BIP
“Razox!”
Itu Claudia.
“Maaf, aku terlambat 1 menit.”
“...”
Dia langsung duduk di depanku, padahal belum kupersilahkan.
“...”
“Jadi, tolong perkenalkan namamu.”
“Namaku Claudia Rose, aku dari kelas X-4.”
“X-4... artinya kau sekelas dengan Lisa?”
“Tidak, tapi aku mengenal Lisa.”
“Uhh...”
Tiba-tiba dia tertunduk malu.
“Apa privasiku terjaga? Aku ragu untuk menceritakannya.”
“Ceritakan saja, privasimu pasti aman. Aku akan menjaganya baik-baik.”
“Tapi, sebelum aku bercerita, bolehkah aku bertanya?”
“Tentu, apa itu?”
“Tadi temanmu bilang ‘testimoni pelanggan pertama’, apa ini berarti aku bukan pelanggan pertama?”
“Itu... ya... begitulah...”
“Tempat ini sudah dibuka kemarin, memangnya kau tidak tau?”
“Eh? Yang benar? Aku baru tau tadi pagi. Temanku , Lisa, bilang kalau di kelas ini bisa konsultasi masalah apapun.”
‘Apapun’ apanya? Siapa yang salah informasi disini?
“Jadi, kemarin aku sempat bercerita dengan Lisa, katanya coba saja konsultasi kesini, masalahmu pasti akan selesai, begitu katanya. Besok paginya, aku baru diberitau tempat ini olehnya.”
“Sudahlah, ceritakan saja apa yang mau kau ceritakan.”
Tiba-tiba firasatku tidak enak lagi.
“Baiklah, aku punya masalah dengan pacarku.”
Yap, benar.
Aku harus berusaha profesional!
“Aku merasa kalau dia berubah...”
“perubahannya tidak drastis, sih.”
“Setiap hari, dia selalu mengirimku chat, menanyai kabarku... menanyakan keadaanku... menanyakan keberadaanku...”
Bukannya itu sama saja?
“Dia juga sering berkunjung ke kelas untuk menemuiku akhir-akhir ini...”
Kita baru masuk sekolah ini kurang dari seminggu...
“Tapi secara tiba-tiba, dia mengabaikanku, kupikir dia sudah membenciku.”
“Hmm...”
“Bagaimana perlakuanmu kepadanya? Dia pasti mengabaikanmu dengan sebab.” Tanyaku serius.
“Umm... aku selalu bersikap ramah dengannya.” Jawabnya sambil melihat ke atas untuk mengingat.
“Boleh aku melihat chat¬¬-mu? Di ponselmu.”
“Umm...”
Dia kelihatan ragu, lagipula untuk apa aku melihat chat-nya?
“Silahkan.”
Dia memberikan ponselnya!
“Ini percakapanku dengannya dua hari yang lalu, besoknya dia sudah tidak mengirimku chat apapun. Bagaimana ini?” Dia menunjukkan percakapannya dengan pacarnya.
“Tunggu! Jangan bingung!”
__ADS_1
Aku membaca chat itu dengan cepat.
Rabu, 13 Juli
Halo, Claudia.
Apa?
Lagi ngapain?
Kepo lu.
Ih, ama pacar sendiri gitu.
Biarin.
Besok mau jalan gak?
Gak.
Kenapa?
Males.
Yaudah, aku ajak yang lain, ya?
Gak.
Kenapa?
Harus aku.
Kamis, 14 Juli
Tidak ada percakapan di tanggal ini, pacarnya benar-benar mengabaikannya.
...
“Ini.”
Aku mengembalikan ponselnya.
“...”
“Jadi... itu yang kau sebut ‘bersikap ramah’?”
“Memangnya salah, ya?”
“Kau salah... bukan seperti itu ‘bersikap ramah’.”
“Lalu, apa yang harus aku lakukan?”
“...”
“Aku takut hubungan kami berakhir seperti ini...”
Eh? Kata-katanya sama dengan yang kudengar kemarin.
“Hmm...”
“Aku memberimu saran...” Ucapku sambil menunjuk Claudia.
Semoga saja ini berhasil...
“... jauhi balik dia.”
“...”
“...”
Sepertinya tidak...
...
...
BUK
Claudia memukul meja dan berdiri.
“TERIMA KASIH!”
“Ehh??”
“AKU SAMA SEKALI TIDAK MEMIKIRKAN HAL ITU!!”
“TERIMA KASIH! TERIMA KASIH!”
“...”
Ini benar-benar diluar dugaan.
“Ini untukmu! Sebagai tanda terima kasihku!”
Dia memberikanku sejumlah uang berwarna merah, ini lebih tebal dari kemarin, ada apa dengan orang-orang sekolah ini? Apa semuanya orang kaya?
“...”
“Satu... dua...”
“Sudahlah.”
Aku memasukkan uang itu ke kantung tanpa menghitungnya.
“Tapi kalau dipikir-pikir, ada hal yang berkaitan dengan yang kemarin...
“Jangan-jangan pacarnya itu Juniardo?”
“Uhh... aku tidak bisa memastikan hal itu, nama kontak pada chat tadi hanyalah darling, dan pada percakapan itu tidak disebutkan namanya.”
“Oiya, yang lain sudah menungguku di bawah, aku harus cepat.”
...
...
...
“Hoi! Tino!”
Untunglah, mereka hanya sedang berbincang-bincang di halte.
“Razox, kupikir kau akan lama.”
“Tidak, ‘kan sudah kubilang akan sebentar.”
“Jadi, sudah semua? Ayo berangkat.” Ajak Ivi.
Kami berjalan ke rumah gadis itu yang aku tidak tau.
...
...
...
__ADS_1