
“Razox!”
“...”
“Razox!”
“...”
“Tidak ada jawaban...”
Tino yang berada di depan rumah Razox dan sedang memanggilnya.
“Razox!!”
Dan mencobanya lagi...
“...”
“Masih tidak ada jawaban...”
Kriiieett...
Akhirnya pintu terbuka, dan langsung terlihat seseorang keluar muncul dari pintu itu.
“Ah! Ayo berangkat, sudah telat nih!”
“Maaf, Razox sedang tidak ada, aku juga tidak tau dia kemana, kemarin dia tidak pulang.” Ucap orang yang baru muncul di pintu.
Orang yang baru saja keluar dari rumah Razox bukanlah Razox, melainkan adiknya, Jefran.
“Eh?” Tino bingung mendengarnya.
“Tidak mungkin...”
Tino langsung berlari ke sekolah.
Dia tidak menunggu Cinta di halte seperti biasa, dia langsung berlari ke kelas.
BIP
“Razox!”
Kelas dalam keadaan sepi, tidak ada tanda-tanda Razox ada disana, bahkan tasnya tidak ada.
“Dimana dia??”
“Dengan siapa kemarin dia...???”
“...”
Tino berpikir untuk mengingat.
“Ah! Lisa!”
Tino berlari ke kelas Lisa.
“Kalau tidak salah, dia ada di kelas X-6.”
BIP
“Lisa! Aku ingin bicara denganmu!”
“...”
Tidak ada balasan dari ruang kelas itu, kelas itu juga masih dalam keadaan sepi.
“Kenapa kelas masih sepi???”
“...”
“...”
Tino melihat jam dinding di kelas itu.
“Oh, ini masih jam 5.30 pagi, aku datang terlalu cepat.”
“Lebih baik aku menunggu disini.”
Tino mencari kursi kosong dan duduk disitu sambil menunggu.
...
...
...
45 menit yang penuh kebosanan kemudian...
“Huh... penghuni kelas ini pemalas ya, jam 6 saja belum ada yang datang.” Keluh Tino.
“...”
BIP
“Akhirnya ada yang datang.”
Tino melihat orang yang baru saja datang,
dan ternyata orang itu bukanlah orang yang dia cari.
“Eh? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya orang yang baru datang itu.
“Aku? Um... aku sedang mencari seseorang dari kelasmu.”
“Siapa namanya?”
“Lisa! Namanya Lisa!”
“Ohh.. Lisa, dia biasanya datang kalau sudah mau masuk.”
“Ohh.. begitu...”
“Lagipula, bukannya kau itu yang biasanya bersama gadis di kursi roda itu ya?”
“Eh? Bagaimana kau tau?”
“Aku sering melihatmu saat pulang sekolah.”
“...”
“Aku baru tau kenapa aku tidak pernah melihatmu saat berangkat. Ternyata kau datangnya pagi sekali.”
“Ya, terima kasih.”
“Oh ya, satu lagi.”
“Hm?”
“Sekarang gadis itu sedang menunggumu di depan sekolah.” Ucap orang itu dengan santai.
“Eh??!! Kenapa tidak bilang daritadi?!”
Tino langsung beranjak dari kursi dan keluar dari kelas itu.
Tino berlari ke depan sekolah dan berpikir pasti Cinta sedang menunggunya di haltenya.
“Cinta! Maaf membuatmu menunggu.” Teriak Tino yang baru sampai.
“Eh? Tino?” Cinta bingung dengan kehadiran Tino.
“Ayo kita ke kelas sekarang, sudah mau masuk.” Tino langsung memegang kursi roda itu dan mendorongnya.
“Eh? Dimana Razox? Kenapa kamu tidak bersamanya? Dan kenapa kamu datang dari arah sekolah?” Tanya Cinta.
“Uhh... apa aku harus menceritakan ini kepada Cinta?” Gumam Tino.
“Menceritakan apa?” Tanya Cinta.
“Eh? Kau mendengarnya?”
“Tentu saja, kamu mengatakannya dengan keras.”
“Uhh...”
“Ceritakan saja, Tino.”
“Tapi berjanjilah kau tidak akan terkejut.” Ucap Tino dengan serius.
“Terkejut? Memang apa yang ingin kamu kasih tahu?”
“Uhh...” Tino ragu untuk memberitahunya.
“Biarku tebak, Razox hilang.” Ucap Cinta.
“Eh?! Ba-bagaimana kau tau?”
“Hanya tebakanku dari keadaan saja. Kamu datang sendirian dengan wajah panik dari arah sekolah.”
“Uhh.. sepertinya kau sudah tau.”
“Jika Razox sedang sakit, pasti kamu sudah tau, dan tidak akan datang dari arah sekolah dengan wajah panik.”
“Kita akan mencarinya nanti...”
“Ya, tentu saja.”
“...”
Tino berjalan sambil mendorong kursi roda itu dengan rasa bersalah, entah kenapa, mungkin karena dia membiarkan Razox menghilang.
“Tidak ada yang tau dia kemana...” Ucap Tino lesu.
“HOIII!! Tunggu aku!!”
Terdengar suara teriakan gadis yang menuju kemari.
“Eh?” Tino berhenti dan menengok ke arah datangnya suara itu.
“Ivi.” Sapa Cinta.
“Diviana.” Tino ikut menyapa.
Orang itu adalah Diviana, dia berlari ke arah Tino dengan nafas tidak beraturan.
“Kenapa, kalian, tidak, menungguku?” Tanya Diviana yang nafasnya tidak beraturan.
“Umm... aku pikir kau sudah di kelas.” Ucap Tino.
“Yang benar saja?! Ini baru jam segini!”
“Ini sudah jam 6 lewat, sebentar lagi masuk.” Ucap Cinta.
“Eh? Ayo kita cepat ke kelas!” Ajak Diviana.
Diviana berlari lagi, Tino juga mempercepat gerakannya mendorong kursi roda.
TING TING
...
...
...
---
Waktu istirahat tiba, Tino merasa ada yang hilang karena ketidakhadiran Razox.
“Kira-kira kemana dia? Apa dia sakit?” Tanya Diviana.
“Tidak, dia tidak sakit, dia memang menghilang, aku tadi pagi ‘kan ke rumahnya.”
“Lalu?”
“Adiknya bilang kalau kemarin dia tidak pulang. Aku akan ke kelas sebelah, setauku kemarin terakhir kali Razox sedang bersama Lisa dari kelas X-6.”
Tino melangkah pergi keluar kelas.
BIP
Tapi tepat saat dia akan membuka pintu, ada yang masuk.
“Eh?” Tino bingung ketika melihat orang itu.
“Permisi, apa ada Razox? Aku ingin konsultasi dengannya.” Ucap orang itu.
“Kau...”
“Ya, aku Juniardo, aku pernah datang kesini.” Ucap orang itu yang ternyata adalah Juniardo.
“...” Tino bingung untuk meresponnya.
“Apa ada Razox?”
“Umm... Razox sedang tidak ada, dia tidak masuk hari ini.” Ucap Tino sambil melihat isi kelas.
“Eh? Kenapa dia bisa tidak masuk? Apa sedang ada urusan?”
“Umm... tidak, di-dia sedang sakit, ya! Sakit demam! Dia tidak bisa masuk sekolah karena itu.”
“Sakit? Bolehkah aku menjenguknya sepulang sekolah nanti?”
“Umm... maafkan aku, tidak bisa, aku juga ingin menjenguknya tadi, tapi katanya hal itu tidak perlu, karena besok dia akan masuk.”
“Ohh... begitu, kalau begitu aku titip salam saja, ya.”
“Tentu, akan kusampaikan.”
Juniardo pergi dari kelas, Tino menunggu Juniardo menghilang dari pandangannya, dan baru dia keluar kelas.
Tino pergi ke kelas X-6 untuk menemui Lisa.
BIP
“Permisi, apa Lisa ada?”
Tino langsung disambut dengan tatapan datar saat dia masuk ke kelas itu.
“Lisa... kalau tidak salah dia sedang ke kantin tadi.” Jawab seorang gadis yang ada di dekat pintu.
“Terima kasih!”
Tino langsung meninggalkan kelas itu dan berlari ke kantin.
...
Sesampainya di kantin, Tino melihat Lisa sedang makan sendirian di meja dan langsung menghampirinya.
“Permisi, Lisa.” Ucap Tino yang salah memasang wajah, dia memasang wajah mesumnya.
__ADS_1
“Uhh... iya... ada apa ya?” Tanya Lisa dengan nada takut.
“Aku ingin bicara denganmu, sebentar saja, boleh?”
“Boleh, silahkan saja.”
Tino duduk berhadapan dengan Lisa, dan Lisa berhenti memakan makanannya.
“Uhumm...”
“Ini tentang Razox, dia tidak masuk hari ini, adiknya bilang kalau dia tidak pulang kemarin.”
“Apa?! Razox hilang?!” Lisa langsung kaget mendengarnya.
“Tenang dulu, seingatku kemarin Razox terakhir kali bersamamu. Apa itu benar?”
“Ya, benar, kemarin dia bersamaku saat pulang sekolah. Terakhir aku melihatnya di dekat perpustakaan, dia seperti sedang memata-matai sesuatu. Karena hal itu, aku bosan dan pulang duluan.” Jawab Lisa gemetar.
“Hmm...”
“Baiklah, terima kasih.”
Tino langsung beranjak dari sana dan pergi ke perpustakaan.
“Tolong cari dia sampai ketemu!” Teriak Lisa dan dia kembali makan.
...
Tino sedang mencari sesuatu di depan perpustakaan seperti yang Lisa bilang.
“Terakhir dia disini ya...”
“Tapi tidak terlihat tanda kalau Razox pernah disini.”
“...”
“Belakangan ini juga Razox sering ke perpustakaan...”
Tino melihat sekitar untuk mencari petunjuk.
“...”
“Ah...”
Tino melihat ada CCTV yang mengarah kepadanya.
“Mungkin itu bisa memberiku petunjuk...”
“Tapi dimana aku bisa melihat rekaman CCTV sekolah ini???”
“...”
“...”
“Mungkinkah...???”
BIP
Tino masuk ke dalam perpustakaan.
“Uhh... perpustakaan, tempat yang sangat membosankan, aku heran kenapa Razox bisa sering ke tempat seperti ini.”
Tino berjalan ke penjaga perpustakaan yang ada di dekat pintu, dia sedang fokus membaca buku.
“Permisi.”
“Hm?” Penjaga perpustakaan itu langsung menengok ke Tino dengan tatapan datar, hal itu membuat Tino sedikit kaget.
“Uh! Itu... apa aku bisa melihat rekaman CCTV disini?”
“Ohh itu... ada di komputer itu, kau bisa melihatnya dengan bebas.” Ucap penjaga perpustakaan menunjuk komputer yang ada di ujung ruang.
“Te-terima kasih.” Tino langsung berjalan menuju komputer.
“...”
Tino melihat sekitar, ada beberapa orang yang hanya fokus dengan bacaannya saja, tumpukan buku, dan komputer yang berjejer.
Tino langsung menghampiri komputer itu dan menjalankan program CCTV dan melihat rekaman kemarin.
“Jadi, Razox sering ke perpustakaan bukanlah tanpa alasan.”
“Dia ingin melihat sesuatu.”
Tino melihat rekaman CCTV yang merekam kejadian kemarin.
...
Terlihat Razox dan Lisa ada di depan UKS. Razox sedang mengawasi pintu UKS.
“Apa yang dia lakukan? Kenapa dia mengawasi UKS?”
Tino memindahkan rekamannya ke dalam UKS.
“Eh? Padahal tidak ada siapa siapa di UKS. Lalu Razox mengawasi apa?”
Tino kembali ke rekaman depan UKS.
Razox melangkah ke dalam UKS dan masuk ke dalamnya.
“Padahal tidak ada siapa siapa.”
Tidak lama kemudian, terlihat Razox keluar dari UKS, diikuti dengan penjaga perpustakaan.
“Eh?! Itukan...”
Tino melihat penjaga perpustakaan di mejanya sedang sibuk membaca bukunya.
Kembali melihat rekaman itu.
Razox berjalan ke Lisa, dia terlihat sedang berpikir dan kemudian berbicara sedikit kepada Lisa.
Razox mengikuti penjaga perpustakaan itu ke perpustakaan secara diam-diam, dia terlihat sangat menjaga langkahnya agar tidak bersuara. Lisa mengikuti keduanya dari kejauhan agar tidak menimbulkan suara.
Penjaga perpustakaan itu masuk ke perpustakaan, sedangkan Razox menunggunya di depan.
“Jadi, disitu terakhir kali Razox terlihat.”
Sampai 30 menit ke depan, tidak ada yang berubah pada rekaman.
“Pantas Lisa pergi...”
Lisa pergi meninggalkan Razox, sedangkan Razox masih tetap disitu.
...
Tidak lama kemudian, Razox pergi dari tempat itu.
“Eh? Kemana dia?”
Tino mengikuti kemana Razox pergi.
“Eh?”
Dia masuk ke UKS.
Di dalam UKS, terlihat Razox tiduran di ranjang yang ada di UKS.
Tino justru bingung dengan yang Razox lakukan.
Tidak sengaja Tino kembali ke rekaman yang memperlihatkan rekaman di depan UKS.
Tino melihat sosok hitam lewat dan masuk ke UKS begitu saja.
“Apa itu?!” Tidak sengaja juga Tino mengeluarkan suara keras.
Tino langsung dilihat semua orang di perpustakaan.
“...”
“Maaf.” Tino tertunduk malu.
Tino memindahkan rekaman CCTV yang memperlihatkan dalam UKS.
“...”
Kosong.
“Padahal beberapa detik yang lalu masih ada Razox, kemana dia?!”
Tino dilihat lagi oleh seisi perpustakaan, tapi sekarang dia tak peduli.
Tino memundurkan rekaman itu beberapa detik yang lalu.
Razox sedang tiduran di UKS dan di depan dan ada sesosok berjubah hitam yang ada di depan UKS.
Tino tidak melanjutkan rekaman itu, dia terus mundur untuk melihat sosok itu datang darimana.
“Dia...”
Tino terus memundurkan rekamannya sampai melihat asal datangnya sosok berjubah hitam itu.
“datang...”
...
“dari...”
...
“perpustakaan?”
Sosok berjubah hitam itu keluar dari perpustakaan dan menuju UKS.
“Jangan-jangan...”
“Itu adala—”
Semuanya menjadi gelap.
---
TING TING
BIP
Diviana masuk ke kelas sambil mengelus-elus perutnya.
“Ah, kenyangnya~”
Diviana menghampiri Cinta yang sedang duduk.
“Cinta,”
“mana Tino?” Tanya Diviana.
“Aku juga tidak tau.”
“Aku jadi khawatir...”
“Memangnya dia kemana?”
“Aku pun tidak tau, sejak awal istirahat dia langsung meninggalkan kelas.”
“Hei, tadi ‘kan Tino berbicara denganku sebelum keluar kelas,” Ucap Diviana.
“Tenanglah, dia akan kembali sebentar lagi.”
Sebentar lagi...
...
...
...
TING TING
Sampai jam pulang sekolah, Tino juga tidak ada di kelas.
“Uhh... aku benar-benar khawatir...”
“Ivi, tadi Tino kemana?” Tanya Cinta.
“Entahlah, dia juga tadi tidak bilang mau kemana.”
“Uhh... kemana ya dia???”
Cinta terlihat sangat khawatir soal Tino.
“Tenang, Cinta, mungkin dia tertidur di toilet saat sedang buang air.”
“Mungkinkah?”
“Baiklah, ayo kita keluar.”
Mereka berdua keluar dari kelas dan ingin turun.
“Umm... aku tidak bisa menurunkannya sendirian. Terlalu berisiko.”
Diviana melihat seorang laki-laki yang sedang berjalan menujunya.
“Aha!”
“Hoi!” Diviana memanggil orang itu.
“Eh?” Orang itu menyadari kalau dirinya sedang dipanggil.
“Kau Kevin, ’kan?”
“Bukannya itu teman sekelas kita? Masa kamu tidak ingat.” Ucap Cinta.
“I-iya, benar.” Jawab orang itu yang adalah Kevin.
“Bisa tolong bantu aku menurunkan Cinta ke lantai 1?”
“Te-tentu saja.”
“Kenapa tingkahnya seperti bukan teman sekelas?” Gumam Cinta.
...
...
...
Mereka sampai di lantai 1 dengan selamat.
“Terima kasih atas bantuannya, Kevin.” Ucap Diviana sambil membungkukkan badannya.
__ADS_1
“Ti-tidak masalah.”
“Umm... Kevin, bisa aku meminta tolong lagi?” Tanya Diviana.
“...”
“Tolong temani aku mencari sesuatu sebentar.”
“Ba-baiklah. Memangnya mencari apa?”
“Tino, apa kau tidak sadar tadi dia tidak ada di kelas?”
“Eh? Memangnya tadi dia tidak ada ya?”
Kevin justru tidak ingat dengan kejadian tadi.
“Dia benar-benar seperti tidak sekelas dengan kami.” Gumam Cinta.
Diviana mengajak mereka untuk pergi ke kantin, padahal di kantin sudah tidak ada orang.
“Mau apa kita kesini?” Tanya Kevin.
“Ini sebagai tempat berkumpul awal kita.” Jawab Diviana.
“Huh?” Kevin masih bingung dengan maksudnya.
“Cinta, tunggu disini, “
“aku dan Kevin akan mencari Tino.”
“Kami tidak akan lama.” Ucap Diviana sambil memegang kedua pipi Cinta untuk meyakinkannya.
“...”
“Baiklah.” Jawab Cinta ragu.
“...”
“Terima kasih, ayo, Kevin!”
Diviana dan Kevin pergi dari kantin, sedangkan Cinta diam sendirian di kantin.
“...”
“Tidak ada siapa-siapa, tidak ada yang perlu ditakutkan...” Ucap Cinta.
“...”
WUSSHHH
Sosok hitam baru saja lewat dengan cepat di penglihatan Cinta.
“Hah?!”
“Gawat!”
“IVIII!!!”
Teriakan itu langsung menghasilkan langkah kaki yang sedang berlari menuju Cinta, Diviana yang baru saja pergi kembali lagi tanpa Kevin.
“Cinta! Ada apa?!” Tanya Diviana yang dengan suara keras juga.
“Ta-tadi aku melihat sosok hitam lewat di depanku...” Ucap Cinta sambil menunjuk ke depan dengan gemetar.
“Kemana dia?”
“Kesana...” Cinta menunjuk arah yang menuju perpustakaan.
“Ayo kita kejar!” Diviana langsung ke arah yang Cinta tunjuk tadi sambil mendorong kursi roda itu.
“Dimana Kevin yang bersamamu itu?” Tanya Cinta.
“Dia ingin pulang tadi, jadi kuperbolehkan saja.”
“...”
Saat Cinta melihat sosok itu tadi, dia tidak mendengar suara langkah ataupun langkah menaiki tangga, yang berarti mereka terus mencari di lantai 1.
“Tadi kau bilang ke arah perpustakaan?”
“Iya.”
“Baiklah, kita kesana.”
Saat mereka melewati taman untuk ke perpustakaan, mereka melihat seseorang yang sedang duduk di dekat air mancur.
“Eh? Bukannya tadi tidak ada orang di sekitar sini?” Diviana heran dengan apa yang dia lihat.
Diviana melepaskan Cinta dan perlahan melangkah mendekati orang itu.
“Per....mi...”
Semakin dekat, sosok dari orang itu semakin jelas walaupun dari belakang.
“Eh?”
“Razox?!” Diviana kaget melihat apa yang dia lihat.
Begitu juga Cinta, kaget dengan apa yang ia dengar.
Orang itu menengok dan wajahnya langsung terlihat, dan ternyata benar itu adalah Razox.
“Ada apa?” Tanya Razox tanpa ekspresi.
“Uhh... tidak,”
“apa yang sedang kau lakukan disini?”
“Razox, bukannya kamu menghilang?” Cinta bingung melihatnya.
“Eh? Menghilang? Tentu aku ada, ini buktinya.” Ucap Razox.
“Hmm...” Diviana memperhatikan Razox, seperti ada yang aneh, dia terlihat tidak tau apa-apa. Bahkan pakaian seragamnya sangat rapih, seperti baru berangkat. Tapi Diviana melihat sesuatu di leher Razox, terlihat garis-garis warna merah.
“Memangnya darimana kau?” Tanya Diviana.
“Dari kelas.” Jawab Razox singkat.
“...”
“Dia jelas-jelas tadi tidak ada di kelas, aku jadi yakin kalau ingatannya ada yang dihapus.” Gumam Diviana.
“Huh? Apa kamu melihat Tino? Kami sedang mencarinya.”
“Tino? Dia sudah pulang.”
“...” Diviana dan Cinta semakin bingung dengan Razox.
“Kenapa kalian tidak pulang juga? Ini sudah mau malam.” Ucap Razox.
“...”
Diviana dan Cinta menuruti perkataan Razox dan pergi dari sekolah.
“...”
Diviana memikirkan tentang Razox yang baru saja dia lihat. Diviana menatap curiga Razox, kenapa dia tidak bergerak dari tempatnya.
...
Mereka sampai di halte depan sekolah, tidak terlihat Tino ada di sana.
“Eh? Mana Tino?” Tanya Cinta.
“Apa Razox berbohong kepada kita?” Tanya Cinta lagi.
“Uh, benar. Ada yang tidak beres.”
“Cinta, tunggu disini, aku akan segera kembali.”
Diviana langsung berlari ke arah sekolah.
“Kalau Razox menyuruh kami untuk pulang, kenapa dia sendiri tidak pulang??”
Saat berada di koridor sekolah, Diviana berpapasan...
... dengan Razox.
“Eh?” Diviana bingung melihat Razox.
Padahal tidak ada satu jam, tapi Diviana merasa kalau itu adalah Razox yang berbeda dengan Razox yang ia temui sebelumnya.
“Hai, Ivi, apa kau melihat yang lain?” Tanya Razox dengan nada yang ramah.
“...”
“Jam berapa sekarang, pasti aku tertidur lagi di kelas...” Keluh Razox.
“Uhh... kenapa badanku sakit ya?” Razox menggaruk-garuk tubuhnya.
“...”
Tidak salah lagi, itu memang Razox yang tadi Diviana temui, dia bisa mengetahui hal itu dari luka pada leher Razox.
“...”
“Sekarang sudah sore, yang lain sudah pulang, ayo kita pulang...” Ajak Diviana.
Diviana berjalan kembali keluar sekolah dan Razox mengikutinya.
“Ivi, kenapa kau tadi berlari ke dalam sekolah?” Tanya Razox.
“Oh! Itu, itu bukan apa-apa, kok. Aku tadi ingin mencarimu, tapi karena kita bertemu, ya tidak jadi...”
“Oh... hahaha...”
...
...
...
“Sekarang giliran temanmu...”
...
...
...
“Aku pulang!” Teriak Razox yang baru saja sampai rumah.
“Kakak! Darimana saja, kak?!” Tanya Jefran khawatir.
“Eh? Kakak sekolah.” Jawab Razox dengan bingung.
“Hah?” Jefran juga bingung dengan jawaban itu.
Razox langsung pergi ke kamar mandi untuk mandi.
“Eh?”
Razox bingung kenapa bajunya bersih, sedangkan badannya kotor.
Karena hal itu, Razox justru pergi ke kamarnya dan bercermin.
“Apa?!”
Razox kaget melihat sukujur tubuhnya penuh dengan luka goresan, kalau diperhatikan lebih teliti, itu bekas cambukan.
Seett
Razox memegang lukanya.
Luka itu tidak terasa sakit ketika dipegang dan sudah tidak mengeluarkan darah. Luka itu sudah mengering.
“Apa yang sebenarnya terjadi...???”
...
...
...
Di suatu tempat di sekolah...
KRAKK
“Uhh...”
CTAS!!
“Arrghh!!”
“Kenapa kau menyiksaku seperti ini...???”
“...”
“Tino Johnson...”
“... aku melakukan hal ini bukan tanpa alasan...”
“... kau mencoba membuka identitasku...”
CTAS!!
“Arrgghh!!”
“Ternyata benar dugaanku, kau adalah orang itu...”
“...”
“PENJAGA PERPUSTAKAAN!!”
BUAAKK!!
“Beraninya kau...”
“Uhh...”
“Kau tidak akan ingat siapa diriku...”
...
__ADS_1