I Want A Normal Life : No Romance

I Want A Normal Life : No Romance
#22 - Tidak Ingin


__ADS_3

Satu minggu kemudian, aku berhasil melewati minggu ujian, sekarang banyak siswa yang bolak-balik dari ruang guru dan kelas, mereka yang mengikuti remedial karena nilai ujiannya di bawah nilai minimal.


Untungnya nilaiku tidak ada yang di bawah nilai minimal, semuanya cukup memuaskan untukku, walaupun nilaiku masih lebih rendah dari yang lain.


Aku dan yang lainnya sedang berkumpul di kantin, mereka sedang membahas nilai mereka dan soal ujian kemarin, sementara aku hanya memperhatikan mereka sambil makan mie ayam.


“Aku bingung kenapa nilaiku bisa segini, apa kata ibuku nanti?” Keluh Tino sambil menunjukkan kertas dengan tulisan ‘80’ yang berwarna merah mencolok.


“Aku juga bingung kenapa dapat nilai segini, padahal aku sudah yakin kalau jawabanku sudah benar semua.” Keluh Ivi juga sambil menunjukkan kertas dengan tulisan ’85’ yang berwarna merah mencolok.


“Kalian harusnya bersyukur, aku saja yang dapat nilai pas-pasan biasa saja.” Ucapku.


“Benar kata Razox, kalian harusnya bersyukur bisa dapat nilai berapapun dan kalian tidak perlu ikut remedial seperti siswa lainnya.” Ucap gadis itu.


“Memangnya berapa nilaimu?” Tanya Tino.


“98.” Ucap gadis itu dengan nada polos.


“...”


Sepertinya aku salah lingkarang pertemanan...


“Ra-Razox!”


Seseorang memanggilku, aku langsung menengok ke arah sumber suara itu.


“Lulu? Duduklah, kita ngobrol bareng.” Ucapku yang menggeserkan diri untuk memberi tempat.


“Tidak perlu, aku hanya sebentar, kok.” Ucap Lulu.


“...”


“Baiklah...”


“Ada perlu apa, Lulu?” Tanya Ivi.


“Ini, aku ingin membayar uang untuk liburan.” Ucap Lulu sambil memberi Ivi segepok uang berwarna merah muda.


“Eh? Ini terlalu banyak, kau hanya butuh 3 lembar.” Ivi kaget melihatnya.


“Ti-tidak apa, aku akan membayari semuanya, termasuk kalian.” Ucap Lulu.


“Se-serius?! Aku tidak salah dengar?!” Tino terlihat tidak percaya dengan apa yang dia dengar.”


“Iya, dan tidak, semuanya akan kubayari...”


“Wah, makasih banyak!”


“Ba-baiklah...” Ivi menerima uang itu dengan ragu.

__ADS_1


“Terima kasih.”


“Terima kasih, Lulu.” Ucap gadis itu.


“Te-terima kasih...” Aku juga tidak percaya.


Ternyata benar kalau Lulu itu banyak uang, apa dia anak orang kaya?”


“Baiklah, sampai jumpa!” Lulu langsung pergi meninggalkan kami.


“Kukitra saat itu hanya bercanda...”


“Oke... karena kita sudah punya uang yang cukup, bahkan sepertinya ini lebih. Kita akan menentukan destinasi tujuan kita dan transportasi kita!” Ucap Ivi yang tiba-tiba bersemangat.


“Apa kalian punya rekomendasi?”


“Kalau menurutku, lebih baik untuk penginapannya 2 kamar saja seperti saat itu, untuk perempuan dan laki-laki.” Usulku.


“Heh, aku tidak mau sekamar denganmu.” Ucap Tino.


“Hah? Kenapa? Memangnya kau pernah tidur sekamar denganku?”


“Kau lupa, ya? Saat di vila saat itu, aku tidur sebelahmu, kau sudah tidur. Kau tanpa sadar menendangku sampai aku terjatuh, bahkan aku sudah tidur di lantai pun kau masih berisik mengigau.” Keluh Tino.


“Akhirnya, aku tidur di ruang tengah saja.” Lanjutnya.


“...”


“Ya jelas, aku masuk dan keluar kamar, kau dalam keadaan tertidur.”


“Sudah, sudah.” Sela Ivi.


“Nah, sekarang kita sedang membicarakan tujuan dan penginapan kita disana nanti.” Ucap Ivi.


“Kalau secara finansial kita sudah siap dan bebas menentukan semuanya. Ini semua berkat Lulu yang dermawan.”


“...”


“Hei.” Sapa seseorang yang tiba-tiba muncul.


“Eh? Ketua OSIS? Ada apa? Bukannya kau sekarang ada rapat?” Tanya Tino yang sedikit kaget karena kehadirannya muncul dari belakang Tino.


“Eesa saja. Oh, rapat itu, aku baru saja selesai.”


“Ngomong-ngomong, kalian sedang membicarakan apa?” Tanya Eesa.


“Kami sedang membicarakan rencana liburan kami.” Jawab Ivi.


“Wah, asyik juga, apa aku boleh ikut?”

__ADS_1


“Tidak.” Ucap gadis itu dingin.


“Eh?”


Hal itu membuatku dan Tino bingung.


“E... menangnya kenapa?”


“Kami sudah memesan tiket.”


“Oh, hanya itu, katakan saja destinasi kalian, aku bisa menyusul.”


“Tidak bisa, kau akan bingung nanti.”


“Baiklah...”


“Oh, Razox, aku pergi dulu, ada rapat lagi sebentar lagi.” Ucap Eesa sambil melihat waktu di jam tangannya.


“Aku pergi dulu.”


Eesa langsung pergi meninggalkan kami.


“Cinta, kenapa kau tidak mau dia ikut?” Tanya Tino.


“... aku tidak mau dia ikut, dia sepertinya adalah orang sibuk.” Ucap gadis itu.


“Walau sedang berlibur, pasti akan ada kesibukannya yang menginterupsi.” Lanjutnya.


“Aku tidak mau mengajak orang sibuk untuk berlibur. Itu sangat mengganggu untukku.” Lanjutnya lagi.


“Ok...”


“...”


TING TING


“Jam istirahat sudah habis, ayo kita kembali ke kelas.” Ajak Ivi.


Kelihatannya hanya aku yang sudah makan selama jam istirahat ini.


...


...


...


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2