I Want A Normal Life : No Romance

I Want A Normal Life : No Romance
#01 - Setiap Masa Akan Berbeda


__ADS_3

KRIIINNNGGG


TIP


Aku bangun dari tidurku yang nyenyak karena suara alarm dan langsung mematikannya.


“...”


“Hari ini, ya?”


Aku langsung beranjak dari ranjangku dan menuju kamar mandi.


“Pagi, Jefran.” Sapaku kepada Jefran, dia sedang menyiapkan sarapan di dapur.


“Mana yang lain?” Tanyaku.


“Masih tidur, kak, sebentar lagi aku bangunkan.” Ucap Jefran sambil memasak.


“Ohh...”


Aku langsung masuk ke kamar mandi, aku menanyakan hal tadi bukan untuk basa-basi di pagi hari, tapi untuk memastikan tidak ada yang ingin memakai kamar mandi.


Setelah mandi, aku langsung pakai seragam SMA-ku, tidak lupa memakai parfum untuk menambah nilai plus penampilan.


Setelah itu aku ke meja makan, tidak ada siapa-siapa disana, hanya aku dan 6 porsi makanan nasi dengan telur mata sapi.


“Ciee.. kakak udah SMA...” Ucap seseorang dengan wajah ngantuknya ke meja makan. Dia adalah adikku, Hendrik.


“Hehe...” Aku hanya membalas dengan tawa kecil.


“Jef!! Kecapnya mana??!!” Teriak Hendrik sambil melihat piringnya.


“Habis, kak! Belum beli lagi.” Balas teriak Jefran dari dapur.


Padahal jarak dapur dengan meja makan tidak terlalu jauh, tapi mereka saling berteriak, ah, itu sudah menjadi kebiasaan di rumah ini.


...


Setelah makan, aku bersiap-siap untuk berangkat di teras rumahku.


“Hei, kau sudah ingin berangkat?” Sapa seseorang yang tiba-tiba muncul di depan rumahku.


“Eh? Padahal aku ingin menjemputmu.” Ucapku yang sedang mengikat tali sepatu kepada orang itu.


“Kau bangunnya kurang pagi, ini ‘kan hari pertama kita sekolah, kita harus membuat impresi pertama yang bagus.” Ucap orang itu.


Orang itu adalah temanku, Tino Johnson, aku mengajaknya untuk masuk ke SMA Platinum, dia adalah temanku sejak aku SD dulu, dari berbagai orang yang kutemui saat sekolah, hanya dia yang tidak pernah melontarkan pertanyaan semacam itu kepadaku, makanya aku bisa berteman dengan dia, tapi dia yang suka cari pasangan, aku tidak tau kenapa. Sejak dulu, kami selalu dapat satu sekolah, tapi tidak pernah dapat di kelas yang sama. Dan dia juga setuju karena dia tidak ingin menambah beban kedua orang tuanya. Akhirnya kami berdua terdaftar di SMA Platinum.


“Ayo.” Ajak Tino.


“Baiklah.” Aku selesai mengikat tali sepatuku dan berdiri lalu menghampiri Tino.


“Jefran! Kakak berangkat dulu! Ayo.” Teriakku.


Kami berdua pergi ke sekolah jalan kaki, karena kami belum tau jalur angkot yang tersedia, dan kami juga berangkat saat masih pagi buta agar tidak terlambat di hari pertama kami.


“Hei, hei, Razox, kau pikir bagaimana nanti para gadis yang akan kita temui?” Tanya Tino dengan senyum paksanya untuk memecah keheningan kami.


“Uhh... kurasa biasa saja.” Jawabku dengan wajah datar.


“Aku akan memacari ketua OSIS jika dia perempuan di minggu ini!” Ucap Tino dengan yakin.


“Eh? Kau gila? Kita saja masih belum tau ketua OSIS-nya perempuan atau laki-laki.”


“Haha! Tidak apa! Kalau ketuanya laki-laki, aku akan memacari bawahannya saja! Pasti ada gadisnya, haha!”


“Temanku ini kenapa ya? Tergila-gila dengan perempuan.” Gumamku.


Sejak pertama kali aku bertemu dengannya, dia sudah sangat terobsesi dengan hal itu...


“Kalau kau sendiri bagaimana?” Tanya Tino.


“Aku?!” Aku terkejut saat tiba-tiba dia bertanya kepadaku.


“Iya, bagaimana ekspetasimu tentang kehidupan SMA yang akan kita jalani?”


“Umm... entahlah, aku tidak berekspetasi apapun tentang kehidupan SMA-ku selama 3 tahun nanti.”


“Lagipula 3 tahun itu waktu yang sebentar, ‘kan?” Tambahku.


...


“...”


Tino tiba-tiba menghentikan langkahnya.


“Razox...”


“Eh?”


“3 tahun tidaklah sebentar...”


“...”


“Kita berteman sejak SD, 6 tahun, SMP, 3 tahun, dan sekarang kita sudah SMA dan masih berteman, 3 tahun tidaklah lama, Razox...”


“Baiklah, baiklah, aku akan berekspetasi tentang 3 tahunku nanti.”


“Sekarang kita lanjut berjalan, ayo.” Ajakku.


...


...


...


Kami berjalan sampai ada plang yang menunjukkan arah SMA Platinum.


“Eh? Disini?” Tanyaku sambil melihat arah yang ditunjukkan oleh plang itu.


Ada jalan setapak panjang di samping plang yang menunjukkan arah SMA Platinum.


“Aku ragu kalau sekolah kita ke arah sana.” Ucapku sambil berpikir.


“Itu benar.” Sela Tino.


“Itu sekolahnya, terlihat dari sini.” Ucap Tino menunjuk bangunan yang ada di ujung jalan setapak itu.


Jalan setapak itu hanya bebatuan lurus dan langsung menuju SMA Platinum. Gedung sekolah itu sudah terlihat dari pinggir jalan.


“Baiklah... ini dia...”


Aku mengambil langkah pertamaku di jalan setapak, ini adalah masa dimana aku menjadi siswa SMA Platinum, aku tidak tau kenapa sekolah ini dinamakan ‘SMA Platinum’, kukira karena sekolah yang berisi anak-anak elit ber-uang banyak, naik mobil ke sekolah, selalu ada pengasuh di sampingnya, namun perkiraanku salah, ini ada sekolah biasa dengan gedung yang biasa.


Tapi kelihatannya sekolah ini memiliki fasilitas yang lengkap, dilihat dari ukuran gedungnya yang besar.


“Kita akan menjalani masa SMA ini bersama...” Ucap Tino dengan senyum kecilnya.


BRUK


Tiba-tiba aku terjatuh, ada yang menabrakku.


“Aw!!” Terdengar suara rintihan gadis.


“Adudu...” Aku juga merintih kesakitan karena kepalaku duluan yang jatuh ketanah, tepatnya wajah.


“Razox!” Tino langsung panik dan membantuku berdiri.


“Uhh.. Maafkan aku!” Ucap gadis yang baru saja menabrakku sambil mengambil beberapa buku yang jatuh juga.


Ketika aku perhatikan gadis itu, dia membawa banyak buku yang jika ditumpuk akan menghalangi penglihatan. Untuk apa dia membawa buku sebanyak itu? Padahal ini hari pertama sekolah yang identik dengan perkenalan tanpa harus mengeluarkan buku.


“Eh?” Gadis itu melihat sesuatu dariku.


“Adudu...” Aku masih merintih kesakitan.


“Kamu Razox, ‘kan?” Tanya gadis itu.


“Eh? Bagaimana kau tau?” Tanyaku balik.


“Aku temanmu saat kita masih kanak-kanak, kamu ingat?” Tanya gadis itu lagi sambil menunjuk dirinya.


“...” Aku justru kebingungan ketika mendengar pernyataannya.


“Kita sering bermain bersama dulu. Bermain lari-larian saat hujan, mengerjakan tugas bersama, saling menjenguk jika ada yang sakit...” Jelas gadis itu dengan sangat ceria.


“...” Aku dan Tino hanya menatap gadis itu dengan tatapan bingung.


“Sepertinya kau mengada-ada, aku tidak pernah punya teman sepertimu.” Ucapku yang sudah berdiri dan membersihkan pakaianku.


“Ehh... kejamnya...”


“Biar aku ingatkan kembali, namaku adalah Lisa Putri.” Ucap gadis itu yang juga berdiri dan membersihkan pakaiannya.


“Bagaimana? Kamu ingat?” Tambahnya dengan pertanyaan.


“Ohhh Lisa...”


“iya, iya.”


“Siapa ya?”


“Haha, kamu memang pikun ya.” Lisa justru tertawa mendengarku.


“Sudah ya, aku mau ke sekolah dulu, sampai jumpa.” Lisa pergi dengan membawa buku-buku yang sudah dia tumpukkan lagi.


“...”


“Semoga kita sekelas.” Tambahnya dengan nada genit.


“...”


“Bukannya aku mau ke sekolah juga? Kenapa kita tidak jalan bareng?” Tanyaku kepada diriku sendiri.


“Razox!” Tino tiba-tiba menepuk pundakku.


“He!” Aku terkejut dan tidak sadar, kalau dia dari tadi ada di dekatku.


“Siapa itu? Pacarmu, ya?” Tanya Tino dengan nada genit.


“Ah, tidak. Bukan siapa-siapa kok, ayo lanjut jalan.”


...


Kami melanjutkan langkah kami ke sekolah, sesampainya gerbang sekolah terlihat, ada banyak orang yang berjejer memenuhi jalan masuk ke sekolah.


“Eh? Siapa itu?” Tanyaku dengan berbisik.


“Siapkan uangmu, kita akan dipalak.” Ucap Tino yang sudah memegangi kantung celananya.


Kami berjalan dengan biasa menekati mereka, saat dekat dengan mereka, mereka justru memberi kertas kepada kami.


“Eh?” Aku bingung melihatnya.


“Silahkan dilihat.” Ucap salah seorang gadis yang memberi kertas kepadaku.


“Umm... terima kasih...” Aku langsung tertunduk malu ketika tau kalau mereka bukan ingin memalak kami.


Kami akhirnya melewati orang-orang itu, dan kami melihat kertas yang diberikan oleh mereka.


“Ini... brosur promosi ekskul.” Ucapku yang melihat isi brosur itu dengan seksama.


“Heh?” Tino bingung melihat brosur itu.


“Ini promosi seluruh ekskul yang ada di sekolah ini...”


“Kau mau pilih untuk masuk mana?” Tanyaku.


“Aku pilih...” Tino terlihat berpikir untuk melanjutkan ucapannya.


“Kakak yang tadi! Dia cantik banget ya!” Teriak Tino bersemangat.


“Uhh.. sudah kuduga, harusnya aku tidak perlu bertanya...”


“Eh...” Tino tersadar sesuatu dan berhenti berjalan.


“Ada apa?”


“Apa kau sadar akan sesuatu?”


“...”


Aku melihat sekitar, dan hanya ada beberapa orang yang lebih tua dari kami berdiri berjejer di gerbang sekolah.


“Umm... tidak.”


“Siapa mereka??”


“Mereka...”


“Mereka kakak kelas.”


“Bukan itu maksudku.”


“Lalu apa?”


“Coba lihat, jam berapa sekarang?”


Aku melihat jam lewat ponselku.


“5.45 pagi...”


“Kita berangkat dari rumahmu sekitar jam 5.15, sampai sini 5.25, lalu bertemu pacarmu...”


“Dia bukan pacarku!” Selaku.


“... lalu kita jalan lagi ke sekolah, dan melewati mereka... dan sekolah masih sepi, artinya...”


“Artinya...”


“... mereka datang lebih pagi dari kita.”


“Memang, mereka pasti sudah merencanakan ini semua.” Ucapku polos.


Keadaan sekolah memang sepi, masih hanya ada kami.


Kami berjalan ke papan pengumuman yang tidak ramai, jadi kami bebas untuk melihat.


“Victor Razox...” Aku mencari namaku di setiap kelas.


Dan Tino juga mencari namanya.


“Tino! Namamu ada di kelas ini!” Teriakku sambil menunjuk nama ‘Tino’ di kelas X-8.


“Mana?” Tino melihat nama yang kutunjuk.


“...” Tino terdiam melihatnya.


“Sayang sekali, namaku tidak ada di kelas ini, tahun ini kita tidak sekelas lagi.” Ucapku yang kecewa.


“Razox...”


“Hm?”


“Itu bukan namaku!” Bentaknya.


“Namaku ada di kelas ini!” Lanjutnya sambil menunjuk namanya yang ada di kelas X-5.


“Dan namamu juga ada di kelas ini, kita sekelas.” Lanjutnya lagi.


“...”


“Hahahaha!!” Tiba-tiba kami berdua tertawa.


...

__ADS_1


Waktu kami lewati, duduk di bangku yang ada di koridor, lalu menunggu bel masuk, kami berbaris di lapangan sekolah yang cukup luas, ada 2 lapangan disana. Menonton semua pidato sambutan yang membosankan, serta sambutan dari ketua OSIS, dia laki-laki. Sampai penampilan dari semua ekskul yang ada. Hal itu memakan waktu hampir 2 jam, para siswa akhirnya bubar dan masuk ke kelas masing-masing. Aku dan Tino berjalan ke kelas kami yang ada di lantai 3.


“Sudahku bilang apa, ketua OSIS-nya laki-laki, ‘kan?” Ucapku ketus.


“Eh, lagipula tadi aku bilang, kalau ketua OSIS-nya laki-laki, aku bisa memacari bawahannya, pasti ada yang perempuan.” Balas Tino.


“Terserah kau...”


“Oh ya, aku baru ingat, kalau sekolah ini memiliki sistem khusus.” Ucapku.


“Benarkah? Apa itu?”


“Kartu pelajar.” Aku mengeluarkan kartu pelajarku.


“Tadi ‘kan sudah dijelaskan oleh kepala sekolah saat sambutan.”


“Aku hanya mengingatkannya lagi...”


Ternyata sekolah ini sudah canggih, untuk setiap masuk ruangan, kita harus memakai kartu pelajar sebagai kartu akses masuk dan menggesekkannya ke kotak yang ada di samping pintu di ruang yang akan kita masuki.


Kami masuk ke ruang kelas yang menandakan kalau itu adalah kelas kami, kelas X-5. Setelah masuk, aku dan Tino langsung mengambil kursi yang paling pojok belakang untuk duduk bersebelahan, karena walau kami satu sekolah terus, kami tidak pernah satu kelas, baru kali ini.


Kami duduk rapi di kursi masing-masing.


BIP


Sampai seseorang datang... seorang pria yang kelihatannya sudah tua, rambutnya sudah tidak banyak dan sudah berwarna putih, dia membawa buku yang cukup tebal. Dia berjalan ke meja guru. Tidak salah lagi, dia pasti wali kelas.


“Selamat pagi anak-anak.” Ucap orang itu.


“Pagi pak...” Kami para siswa menjawabnya serentak juga.


“Perkenalkan, nama bapak adalah Kusnandar. Kalian boleh memanggil bapak dengan nama ‘Pak Kus’ saja, bapak di sini mengajar pelajaran Bahasa Indonesia. Sebelumnya di sini belum saling kenal, kan?  Seperti kata pepatah : ‘Tak kenal maka tak sayang’, jadi kita kenalan dulu ya. Bapak absen dulu. Aaron Gillian.”


Orang yang disebutkan namanya itu berdiri, memperkenalkan diri, lalu duduk kembali. Kemudian Pak Kus menyebutkan nama selanjutnya, selanjutnya, selanjutnya...


“Cinta.”


“Cinta Felia.”


“!!!” Aku langsung kaget mendengarnya, ada orang yang mempunyai nama itu disini, di kelas ini.


“Uh...”


“...”


Tidak ada yang menjawab panggilan nama itu, mungkin orangnya tidak ada.


“Cinta! Cinta Felia!”


...


Masih tidak ada yang menjawab.


“Sepertinya tidak ada...”


“Oke, selanjutnya.”


BIP


Tiba-tiba pintu terbuka.


Seseorang masuk dari pintu, seorang gadis, dengan duduk di kursi roda.


“Permisi.”


“...”


“Maaf, aku terlambat.” Ucap si gadis.


“...”


Semua langsung terdiam ketika melihat gadis itu.


“Kayanya dia yang namanya Cinta.” Bisik Tino.


“...”


Pak Kus melihat gadis itu dengan tatapan serius.


...


“Silahkan masuk.” Ucap Pak Kus.


Gadis itu masuk ke kelas dan mencari kursi yang masih kosong. Aku melihat sekitarku untuk memastikan semua kursi sudah diisi.


...


“Sial, kursi di seberangku kosong, dia pasti akan duduk di situ.”


Dan benar saja, hal yang pertama gadis itu lihat adalah kursi di seberangku, dia langsung menuju kesana.


“Apakah anda yang bernama Cinta Felia?” Tanya Pak Kus.


“Iya, benar, pak.” Gadis itu mengangguk.


“Perkenalkan diri anda...”


“Baiklah...”


“Namaku Cinta Felia, umur 15 tahun, dulu sekolah di SMP Harapan Bumi, kalian semua bisa lihat, kakiku lumpuh dan di bantu berjalan dengan kursi roda ini, jadi...”


“Mohon kerjasamanya!” Teriak gadis itu sambil membungkukkan badan.


“...”


Para siswa masih saja diam, sejak dia muncul.


“Baiklah...” Pak Kus memecah keheningan yang ada di ruangan ini.


"Selanjutnya...”


“Uh, aku merasa tidak nyaman saat berada di dekatnya, kenapa ya?” Gumamku.


...


Nama siswa lain dipanggil, mereka memperkenalkan diri, sampai akhirnya namaku dipanggil.


“Victor Razox.”


Aku langsung berdiri ketika namaku disebut.


“Namaku Razox, Victor Razox, kalian bisa memanggilku ‘Razox’.”


...


“Terima kasih.” Aku kembali duduk.


“Baiklah, itu adalah nama-nama siswa yang ada di kelas ini, semoga kalian bisa mengingatnya dengan baik.” Ucap Pak Kus.


“Eh? Aku yang terakhir? Berarti nama paling terakhir di kelas ini adalah aku, yang berawalan ‘V’.” Pikirku.


“Baiklah, sekarang mari kita bentuk struktur kelas...”


Setelah itu Pak Kus membuat struktur kelas seperti yang beliau bilang. Hal itu cukup lama terjadi sampai bel istirahat berbunyi.


...


TING TING


Aku dan Tino turun ke lantai 1 untuk makan, tapi tidak di kantin karena tidak dapat tempat kosong, kami berada di taman sekolah.


“Ahh...”


“Syukurlah kehidupan SMA-ku berjalan baik-baik saja sampai sekarang.” Ucap Tino.


“Yaa... ini baru hari pertama, kita masih ada 3 tahun lagi untuk menjalani masa SMA.”


“...”


“...”


“Hei, tiba-tiba aku memikirkan gadis itu.” Ucapku sambil memandangi langit.


“Siapa? Cinta? Kau suka dengannya, ya?” Tanya Tino yang memandangi langit juga.


“Jelas tidak!” Bantahku.


“Maksudku, kenapa dia tidak turun ya?”


“Kau ini bodoh atau apa?”


“Eh?”


“Jelas dia tidak ikut turun, walaupun sekolah ini fasilitasnya lengkap, tapi sekolah ini tidak punya lift.” Jelas Tino.


“Lagipula kalau dia turun, dia harus lewat tangga, dan akan memakan waktu.” Tambahnya.


“Bisa saja kalau dia turun sendiri, saat sampai lantai 1 sudah bel masuk.” Tambahnya lagi.


“Hmm...”


“Kenapa sekolah ini tidak punya lift ya?” Tanyaku.


“Apa sih yang kau harapkan dari sekolah ini? Syukur-syukur masuk sekolah ini gratis.” Sela Tino.


“Tidak ada sih...”


...


...


...


“Halo.” Sapa seorang gadis yang tiba-tiba datang.


“Hmm..??” Kami berdua menoleh ke arah sumber suara itu.


“Razox, kenapa kamu tidak ke kantin??” Tanya gadis itu.


“Dan...” Gadis itu bingung ketika melihat Tino.


“Itu ‘kan gadis yang tadi.” Ucap Tino.


“Kenalkan! Namaku Tino Johnson! Kau bisa memanggilku Tino!” Tino langsung berdiri dan menyodorkan tangan kanannya untuk berkenalan.


Kalau diingat-ingat, mereka berdua belom saling kenal walaupun mereka sudah bertemu tadi pagi. Tidak biasanya Tino lupa berkenalan dengan gadis.


“Namaku Lisa Putri, salam kenal.”


Mereka saling menjabat tangan tanda mereka sudah saling kenal.


Tapi Tino sepertinya sangat ingin bersentuhan dengan perempuan, dia tidak melepaskan tangannya dari jabat tangan.


“Uhh...” Lisa terlihat risih dan langsung melepaskan jabat tangannya dengan paksa.


“Hei, Razox, kenapa kamu tidak ke kantin?” Tanya Lisa dengan pertanyaan yang sama karena tadi aku tidak menjawabnya.


“Kami sudah kesana, tapi kami tidak kebagian tempat, makanya kami kesini.” Jawabku dengan nada malas.


“Memangnya selamanya akan penuh? Ayo kita kesana, pasti sudah ada tempat yang kosong.” Ajak Lisa.


Kami pergi ke kantin karena kata Lisa sudah ada tempat yang kosong, dan untungnya hal itu benar. Kami duduk di meja yang kosong di kantin, aku dan Tino hanya membeli cemilan kripik, sedangkan Lisa membeli bakso.


“Hei, aku ingin bertanya kepada kalian.” Ucap Lisa.


“Bagaimana impresi pertama tentang sekolah ini?”


“...” Aku kebingungan untuk menjawabnya.


“Sekolah ini lebih bagus dari SMP-ku dulu! Fasilitasnya lengkap! Gratis pula!” Ucap Tino dengan tegas.


“Ditambah para gadis di sekolah ini lebih cantik!” Lanjutnya.


“Ohhh begitu...”


“Kalau kamu, Razox?” Tanya Lisa sambil melihat ke arahku.


“Eh? Aku?”


“Kalau aku... ya... tidak jauh dari Tino, karena dulu kami satu sekolah.” Ucapku dengan nada ragu.


“Maksud kamu gadis-gadis disini lebih cantik?” Tanya Lisa.


“Eh?! Bukan! Bukan!” Aku kaget ketika mendengar Lisa berbicara itu.


“Hihi... aku hanya bercanda.” Lisa menahan tawanya.


“...”


“Oiya, apa menurutmu tentang ekskul yang ada di sekolah ini?” Tanya Tino.


“Hmm... cukup lengkap.” Jawab Lisa


“Mungkin aku akan ikut ekskul melukis, kalau kalian?” Lanjutnya.


“Aku... akan ikut ekskul photografi.” Ucap Tino.


“Aku akan ikut taekwondo, meneruskan ekskul yang kuikuti dulu.”


“Lisa, apa kau tadi melihat Cinta?” Tanya Tino.


“Cinta? Siapa itu?” Lisa bertanya balik.


“...” Tino diam dan berpikir.


“Dia perempuan yang kakinya lumpuh dan naik kursi roda.” Ucapku.


“Kursi roda ya... sepertinya aku tadi lihat.” Ucap Lisa.


“Eh? Kenapa kau tidak membantunya naik?” Tanya Tino yang terlihat kesal.


“Dengarkan aku dulu! Semua orang dikelasku juga melihatnya, dia tadi lewat depan kelasku.” Ucap Lisa yang terlihat kesal juga.


“Aku juga sebenarnya ingin membantu dia, tapi aku tidak bertemu dengannya tadi saat dia ingin naik tangga!” Lanjutnya dengan nada sedikit menyesal.


“Uhh...”


“Lagian kenapa ya sekolah yang fasilitasnya lengkap gini gak ada lift?” Keluh Lisa.


“Kalau kupikir, sekolah ini memang diciptakan untuk siswa normal.” Ucapku dengan nada serius.


“Keberadaan gadis itu di sekolah ini adalah kekeliruan.” Lanjutku.


“Atau kesalahan.” Tambah Lisa.


“Sebagai teman sekelasnya, kita akan membantunya setiap hari untuk menaiki dan menuruni tangga.” Ucap Tino dengan nada tegas.


“Selama kita satu sekolah dengannya.”


“Ya!” Kami berdua setuju dengan apa yang Tino katakan.


“Eh? Kau ‘kan tidak sekelas dengan kami.” Ucap Tino ke Lisa.


“Umm... aku hanya ingin membantu, boleh ‘kan?”


“...”


...


...


...


Kami selesai makan dan kembali ke kelas masing-masing.

__ADS_1


BIP


Aku dan Tino masuk ke kelas, dan melihat kalau gadis itu dengan dikerumuni banyak gadis juga.


“Eh?” Aku bingung melihatnya.


“Sepertinya dia sudah mendapatkankan teman.” Pikirku yang langsung duduk di tempatku.


TING TING


Tidak lama kemudian bel masuk berbunyi.


...


...


...


Sampai akhirnya jam pulang sekolah tiba, Pak Kus bilang kalau ada surat pemberitahuan yang harus dibagikan. Raul sebagai ketua kelas membagikan surat itu kepada masing-masing para siswa. Setelah surat pemberitahuan itu dibagikan, kelas langsung dibubarkan dan para siswa keluar dari kelas, kecuali aku, aku masih membereskan barang-barangku.


“Eh?”


Aku melihat seorang gadis yang duduk di sebelah gadis di seberangku, dia keluar kelas dan terlihat terburu-buru.


Uh, aku belum mengingat namanya.


BIP


Ketika gadis itu keluar, seseorang masuk lagi.


“Razox! Disitu kau rupanya!” Sapa Tino yang baru saja masuk.


“Aku daritadi disini.” Gumamku.


“Haha.. aku tau itu. Hei, bagaimana kalau sore ini kita bermain futsal?” Tanya Tino.


“...” Aku melihat gadis itu menggerakkan kursi rodanya untuk menuju pintu dan keluar. Tiba-tiba aku mempercepat membereskan barang-barangku.


“Kalau soal biaya sewa lapangan, kita patungan saja.” Ucap Tino.


Aku langsung meninggalkan Tino untuk mengejar gadis itu yang sudah keluar kelas.


“Hei!” Teriak Tino.


...


Aku berlari dan melihat gadis itu berada di depan tangga sambil menatap ke bawah.


“Kemana mereka?” Tanyaku melihatnya, aku ingat kalau tadi dia dikerumuni banyak gadis, sekarang kemana mereka?


Aku berjalan dan menghampiri gadis itu.


“Hai, apa kau mau kubantu menuruni tangga?” Tanyaku dengan gugup.


“Uhh... tentu saja, terima kasih kamu sudah peduli.” Ucap gadis itu.


...


“... kau Razox, ‘kan?” Tanya gadis itu.


“Iya, kita sekelas.”


“Wah, wah, sepertinya ada yang sedang jatuh cinta, nih!” Teriak Tino yang tiba-tiba muncul.


“EH?! Ini tidak seperti yang kau lihat!” Bantahku dengan panik.


“Aku hanya ingin membantu!” Lanjutku.


“Hahaha... aku juga ingin membantu.” Ucap Tino dengan tawa kecilnya.


Tino berjalan mendekatiku dan mulai memegangi kursi roda gadis itu sambil tersenyum paksa.


“Uhhh...” Aku menghela nafas karena mengerti maksudnya.


Aku menggendong gadis itu sedangkan Tino mengangkat kursi rodanya, kamipun menuruni tangga dengan pelan.


“Hei, bolehkah aku bertanya?” Tanyaku sambil menggendong gadis itu.


“Hei... kita sedang di tangga, nanti ‘kan bisa. Nanti kalau kau kehilangan keseimbangan, bagaimana?” Sela Tino.


“Uhhh...” Aku menghela nafas lagi.


...


...


...


Akhirnya kami sampai di lantai 1, gadis itu duduk kembali di kursi rodanya dan aku yang mendorongnya.


“Nah, kalau sekarang kau boleh bertanya.” Ucap Tino.


“Umm... aku ingin bertanya sesuatu, boleh ‘kan?” Tanyaku yang ragu.


“Tentu saja boleh, Razox.” Balas gadis itu dengan nada yang sangat ramah.


“...”


“Tadi aku melihatmu bersama banyak gadis juga tadi, kemana mereka?”


“Mereka siapa?”


“Gadis-gadis yang mengerumunimu tadi, kemana mereka? Kenapa di saat seperti ini mereka juga tidak ada?”


“Dan juga teman sebangkumu, tadi aku melihatnya keluar kelas duluan.”


“...” Dia terdiam.


...


Kupikir dia tidak bisa menjawab, tapi sepertinya dia tidak ingin aku mendengar jawabannya.


“Mereka...”


“... aku juga tidak tau...” Ucap gadis itu.


“...” Sekarang aku yang terdiam, ternyata benar kalau dia tidak ingin aku mendengar jawabannya.


“Lalu kenapa kau bisa berada di kursi roda?” Tanyaku lagi untuk mencairkan suasana.


“Itu... karena kecelakaan...”


Sepertinya dia ingin bercerita.


---


Aku begini karena kejadian yang tidak lama sebelum aku masuk sekolah, karena kupikir semua akan baik-baik saja.


Aku pergi berlibur bersama teman-temanku, semua berjalan lancar tanpa adanya hambatan, tapi siapa sangka akan terjadi kecelakaan setelah kami selesai berlibur, tepatnya saat kami dalam perjalanan pulang.


Mobil yang kunaiki mengalami kecelakaan, jatuh ke jurang. Semua yang ada di mobil itu tewas, teman ayahku sebagai supirnya, teman-temanku. Herannya hanya aku yang masih terselamatkan dari kecelakaan itu, tapi walaupun begitu, kakiku patah saat aku ditemukan masih hidup. Aku dilarikan ke rumah sakit dan mendapatkan diagnosa bahwa kakiku lumpuh, dan harus diamputasi, tapi aku menolaknya dengan alasan kalau kakiku akan sembuh suatu saat.


---


“...”


“Kau harusnya bersyukur masih hidup...” Ucap Tino.


“... dan bertemu kami.” Lanjutnya dengan senyum tambahan.


“Aku turut berduka atas kematian teman-temanmu...” Ucapku tertunduk.


...


...


...


Aku terus mendorong kursi roda itu sampai ke pinggir jalan dan kita berhenti disana.


“Lalu, bagaimana kau pulang?” Tanyaku.


“Tidak perlu khawatir, aku dijemput oleh ibuku.” Jawabnya.


“Itu dia!” Teriaknya.


Seorang wanita dengan pakaian sederhana tapi tas gandeng yang ia bawa kelihatannya mahal, menghampiri kami.


“Cinta...” Panggil wanita itu.


BOING BOING


Suara apa itu?!


“Sepertinya itu ibunya.” Pikir Tino.


Wanita itu akhirnya dekat dengan kami.


“Oh, apa kalian yang membantu anakku kemari?” Tanya wanita itu.


“Iya, tante.” Jawabku dengan canggung.


“Kenalkan, nama ibu adalah Mawar Felia, ibu dari Cinta.” Ucap wanita itu.


BOING


“...”


“Kalau kalian namanya siapa?”


“...” Kami tidak menjawab, masing-masing dari kami hanya membuang wajah kami.


“Perkenalkan, bu, yang ini namanya Razox, kalau yang ini namanya Tino.” Tiba-tiba gadis itu yang memperkenalkan kami berdua.


“Mereka berdua sangat baik.” Lanjutnya sambil tersenyum. Aku mengetahui itu dari suaranya.


“Ohhh... nak Razox dan nak Tino, terima kasih ya, kapan-kapan datang ke rumah.” Ucap Mawar.


BOING


“I-iya, tante!” Ucap Tino yang terlihat gugup. Tidak biasanya dia gugup dengan perempuan.


Ibu itu mengambil alih kursi roda dan mendorongnya menjauh dari kami.


...


“Sekali lagi, terima kasih!” Teriak ibu itu yang sudah jauh.


“...”


“Kau kenapa?! Tiba-tiba gugup seperti itu?!” Tanyaku dengan nada keras.


“Kau sendiri kenapa?! Biasanya kau tidak berekspresi kepada siapapun!” Balas Tino dengan nada keras juga.


“Entahlah, aku sendiri juga tidak tau kenapa...” Tiba-tiba aku kembali seperti diriku yang tidak berekspresi.


“Tapi, kalau menurutku...” Tino mulai mengeluarkan wajah genitnya.


“... ibunya Cinta lumayan juga ya.” Lanjutnya.


“...”


“Sudahlah, aku pulang dulu, besok masih sekolah.” Ucapku yang berjalan pergi.


“Eh? Mau kemana? Kita ‘kan memang satu arah.”


“...” Aku berpikir sejenak untuk memikirkan maksud dari perkataan Tino.


“Oh, kau benar.”


“Ayo.”


Kami berdua berjalan pulang menuju rumah kami.


...


...


...


KRIET


“Aku pulang!” Teriakku.


“Oh, kakak!”


Sesampainya di rumah, aku langsung disambut oleh Jefran yang sedang menonton TV.


“Yang lain kemana?”


“Masih di luar, belum pulang.”


Aku meletakkan surat yang tadi aku dapatkan di sekolah di meja makan.


...


Jefran menghampiriku dan mengambil surat itu.


“Apa ini?” Tanya Jefran sambil membuka isi surat itu.


“Surat pemberitahuan, lihat saja.” Jawabku dengan nada malas.


“Tolong bacain dong, aku malas membacanya.” Ucapku yang nada bicaranya semakin malas.


“...”


Jefran membaca isi dari surat itu.


“...”


“Apa intinya?”


“Inti dari surat ini adalah...”


...


Jefran ingin membuatku penasaran, tapi hal itu tidak akan berhasil padaku.


“...”


“...”


“Katakan saja...”


“...”


“... kau tidak bisa pindah dari SMA Platinum.” Ucap Jefran.


“Eh? Yang benar?”


“Lihat saja sendiri.” Jefran memberikan surat itu.


“...” Aku menerima surat itu, akhirnya aku membaca surat itu juga.


“...”


Benar, siswa SMA Platinum tidak boleh pindah sekolah, dengan alasan administrasi.


“Bukankah ini bagus? 3 tahun sekolah gratis?” Pikirku.


Ini adalah win-win solution, kupikir tidak ada yang dirugikan jika seperti ini.


“Kak, ayah udah transfer uang bulanan kita.” Ucap Jefran.


“Iya, nanti kakak ke ATM.”

__ADS_1


“Baiklah, kakak ke ATM dulu ambil uang.” Ucapku yang langsung bergegas keluar.


...


__ADS_2