I Want A Normal Life : No Romance

I Want A Normal Life : No Romance
#29


__ADS_3

TINGTING


“Selamat pagi semua!”


“Sekarang sudah hari ke-3! Sisa siswa saat ini adalah 301 dari 320! Pastikan kalian bisa bertahan hidup sampai waktu habis!”


“Semangat semua!”


TINGNONG


“...”


Aku terbangun dan masih mengantuk, aku melihat yang lain masih tertidur nyenyak, sepertinya suara pengumuman itu kurang keras untuk membangunkan mereka.


“...”


Mereka tidak akan bangun dalam waktu dekat.


Aku berjalan ke kulkas dan mengeluarkan makanan yang bisa dimakan, aku menyiapkan makanan untuk mereka semua.


“Sepertinya aku terlalu rajin.”


“Oke, roti untuk kami berlima, ini cukup.”


Aku menyiapkan roti itu di depan mereka, satu per satu, namun ketika aku meletakkan rotiku di depan Claudia, aku melihat bagaimana dia tidur.


“Hm?”


Dia tidur sambil memegangi perutnya, apa dia masih sakit perut? Sebenarnya apa sakit yang dia alami?


Aku tidak berani menanyakannya.


Aku membangunkan yang lain untuk sarapan, dan mereka langsung bangun, aku khawatir dengan keadaan mereka, mereka langsung bangun kalau ada kontak fisik langsung, tidak karena pendengaran mereka. Bagaimana kalau ada yang mengendap-endap masuk dan langsung menusuk mereka?


“...”


Aku sampai menghela nafas menyadari hal itu.


“Hooaammm... selamat pagi, semua.” Ucap Tino yang masih mengantuk.


Yang lainnya ikut bangun dan menguap, memangnya tidur semalam itu kurang?


“Wah, kau sudah menyiapkan sarapan untuk kami?” Tanya gadis itu sambil melihat roti di pahanya.


“Iya, begitulah.”


“Terima kasih, Razox.” Ucapnya sambil tersenyum ke arahku.


“...”


Kami sarapan bersama.


“Tino, bagaimana kalau hari ini kita tidak turun?” Tanya Tasla sambil makan.


“Maksudmu?” Tanya balik Tino.


“Ya maksudku kita tidak turun, kita naik lagi, sambil mencari yang lain. Mungkin saja yang lain masih di atas.” Jawab Tasla.


“Uhh.. aku malas untuk naik lagi, kalau naik, kita hanya akan menjauh dari pintu keluar di lantai dasar.” Ucap Tino.


“Bagaimana kalau kita berpencar? Ada yang naik dan ada juga yang turun.” Ucap Tasla.


Aku kaget mendengar itu dan langsung menyela pembicaraan mereka.


“Itu ide yang buruk!” Selaku.


“Jika kita berpencar seperti katamu, akan sangat sulit sekali untuk berkumpul lagi.”


“Tapi bisa saja temanku, Rani, masih ada di atas. Kalian bisa duluan ke lantai dasar.” Ucap Tasla.


“Tidak semudah katamu, bisa saja kami atau kau terbunuh nanti jika berpencar.” Balasku.


“Apalagi kau tidak dibekali dengan senjata apapun, aku juga bingung bagaimana kau akan membela dirimu jika diserang.” Balasku lagi.


“...”


Tasla langsung terdiam.


“Eh?” Aku menyadari sesuatu, “bukannya aku peduli denganmu! Aku tidak ingin salah satu dari kita mati lagi!”


“Cieee, Razox.” Sela Tino senyum-senyum dan menyikutku.


“Argh, lupakan itu!”


“Sudah ikuti saja perkataanku, kita harus terus bersama jika sudah saling menemukan.” Ucapku dengan nada tegas.


“Teman-teman.” Gadis itu menginterupsi kami.


“Benar kata Tasla, kita berpencar, ada yang ke atas dan ada yang ke bawah.” Ucap gadis itu.


“*dan* ada yang tetap di ruang ini.” Lanjutnya.


“...”


Semuanya terlihat sedang berpikir oleh perkataan gadis itu.


“Sepertinya saran Cinta boleh juga.” Ucap Tino.


“...”


Aku langsung menatap sinis Tino.


“Baiklah kalau begitu, kita akan mengikuti saran dari Cinta!” Seru Tino.


“Padahal awalnya itu saran dariku.” Gumam Tasla.


“Jadi, kita akan membagi tiga grup untuk perpencar,” Ucap Tino bersemangat.


“Tunggu dulu!” Selaku.


“Kita berlima dan akan dibagi tiga? Itu berarti ada yang sendiri!”


“Dengarkan aku dulu,” Tino menarik nafas panjang.


“Claudia dan Tasla, kalian naik untuk mencari yang lain. Aku dan Cinta tetap di ruang ini,”


“Aku sudah menebaknya.” Gumamku.


“Dan kau Razox, turun sendiri.” Ucap Tino.


“Hei! Aku tau kalau aku bisa bela diri dan melawan, tapi kupikir kalau aku pergi sendirian itu terlalu berisiko.” Keluhku.


“Razox, tolong carikan Ivi untukku.” Ucap gadis itu dengan wajah minta dikasihani, dia memohon.

__ADS_1


“Baiklah, aku setuju dengan saranmu, tapi aku ikut dengan Claudia dan Tasla.”


“Oke, aku dan Cinta akan tetap di ruang ini sampai kalian kembali.” Ucap Tino bersemangat lagi.


“Kau di ruang ini di persenjatai dengan tongkat besi, apa itu cukup?” Tanyaku.


“Ya, tentu saja.”


“Baiklah, kami pergi dulu.”


Aku, Claudia, dan Tasla berjalan keluar.


“Jangan macam-macam selama kami pergi.” Ucapku dingin kepada Tino.


Dia hanya membalas dengan anggukan sambil tersenyum.


...


Kami naik 1 lantai dan memeriksa setiap ruang yang kami lewati, kami tidak menemukan apa-apa di lantai terebut.


Kami naik 1 lantai lagi dan memeriksa setiap ruang yang kami lewati.


“Eh?”


Aku sedikit terkejut melihat sesuatu di ruang itu.


Mayat seorang laki-laki yang bermandikan darah, namun darahnya sudah mengering.


“...”


“Sepertinya dia sudah dibunuh kemarin.” Pikirku sambil memeriksa mayat itu.


SET


Aku memeriksa kantung baju dari mayat itu untuk mencari kartu pelajar.


“Razox!” Claudia langsung memanggilku dengan suara keras.


Aku langsung menarik tanganku kembali.


Sepertinya dia tau aku ingin melakukan apa.


“Jangan lakukan itu, itu bukanlah tindakkan yang manusiawi.” Ucap Claudia.


“Cih, kita dikurung di tempat ini juga bukan tindakkan yang manusiawi.” Balasku.


Memang tidak ada tindakkan yang manusiawi di tempat ini...


“Uh, lagipula tidak ada karu pelajar di mayat itu.” Keluhku yang langsung berjalan keluar bersama Claudia dan Tasla.


Kami kembali berjalan dan naik lagi.


“...”


“Kita tidak punya target harus ketemu berapa orang, ya?” Tanya Tasla yang kelihatannya sudah lelah.


“Sepertinya begitu.” Jawab Claudia.


“Pst! Ada yang datang!” Aku langsung mendorong mereka untuk masuk ke ruang dekat kami.


“KYA--!”


Aku menutup mulut Tasla yang hampir saja berteriak, untungnya mereka tidak melihat kami, aku mengintip mereka.


Aku melihat gerombolan yang kemarin bersama Juniardo, tapi mereka tidak bersama Juniardo, aku berpikir kalau dia tertinggal dan terpisah karena kemarin memang dia lari terakhir.


Claudia tidak melihat gerombolan itu karena dia benar-benar bersembunyi dan menghliangkan keberadaannya.


Sebaiknya aku juga tidak memberitahu Claudia soal ini.


...


Mereka hanya lewat...


...


Keadaan koridor sudah aman...


Aku langsung memberi tanda kalau koridor sudah aman dan kami bisa keluar kembali.


Kami berjalan lagi dan naik lagi.


“Mereka dimana, sih?” Keluh Tasla.


...


“Razox, lihat!” Seru Tasla sambil menunjuk ke depan.


“Hm?” Aku melihat apa yang Tasla tunjuk.


Tasla menunjuk 2 orang perempuan yang sedang berjalan, mereka terlihat bingung dan tidak bersenjata. Mungkin aku bisa menolong mereka.


“Mungkin itu Diviana.” Ucap Claudia.


“Mari kita cari tau.”


Kami terus berjalan dan kedua perempuan itu akhirnya berpapasan dengan kami.


“Permisi nona-nona.” Sapaku dengan nada menggoda.


Para perempuan itu langsung terlihat takut ketika mendengarku mengeluarkan suara.


“Hei, dengarkan kami.” Ucap Tasla dengan nada tinggi.


“HIII!!!” Para gadis itu benar-benar ketakutan,


dan langsung pergi...


“Bagus, kau baru saja menghilangkan potensi kita menambah teman.” Sindirku.


“Hei! Yang sebenarnya bikin takut mereka itu kau!” Balas Tasla.


“Padahal aku ingin mengajak mereka untuk bergabung.” Gumam Tasla.


“Sudahlah! Ayo kita berjalan lagi!” Sela Claudia.


“Baiklah, ayo.”


“Tunggu, aku lelah, kita istirahat dulu, di ruang itu.” Ucap Claudia sambil menunjuk ruang yang ada di dekatnya.


Bukannya tadi dia yang minta jalan lagi?


...

__ADS_1


Di dalam ruang itu masih ada makanan, Claudia dan Tasla makan, sementara aku berjaga di pintu.


“Tempat ini sangat aneh...”


“Sebenarnya siapa yang mengurung kami di tempat ini...???”


Tempat ini persis seperti koridor sekolah, tepatnya koridor lantai 3. Dan yang kubingungkan, tempat ini terlihat sepi walaupun sebenarnya banyak orang...


...


“Uh... bagaimana keadaan Tino dan gadis itu, ya?” Aku tiba-tiba khawatir dengan mereka.


“Hm? Kenapa kau tiba-tiba khawatir dengan mereka?” Tanya Tasla yang sedang makan.


“Aku tidak tau, sekarang ayo kita turun.” Ajakku.


“Eh? Jangan sekarang, aku masih tidak kuat berjalan jauh.” Keluh Claudia.


“Aku juga ingin ke toilet.” Tambahnya.


“...”


Setelah makan, aku menemani Claudia ke toilet, Tasla juga ikut karena dia tidak ingin ditinggal sendirian walaupun hanya sebentar.


“Toilet ini dekat tangga, setelah kau selesai, kita langsung turun.” Ucapku.


Claudia tidak menjawab, dia langsung masuk ke toilet bersama dengan Tasla, aku yang menunggu mereka sendiri di luar.


“...”


“Akhirnya aku yang sendiri...”


“...”


TAP TAP


Suara seseorang berjalan dari arah tangga.


“Ada yang datang.” Aku langsung masuk sedikit ke toilet untuk bersembunyi.


Tapi aku hanya mendengar suara langkah kaki 1 orang.


Mungkin itu aman.


Aku perlahan keluar lagi, dan berdiri diam di sebelah pintu toilet.


“Razox!” Sapa orang itu.


“Akhirnya aku menemukanmu!”


“Eh?” Aku sedikit terkejut melihat orang itu.


“Lisa?”


Orang itu adalah Lisa, aku sendiri tidak percaya melihat dia berjalan sendirian di tempat seperti ini.


“Bagaimana kau bisa-??”


“Aku hanya bertahan hidup sambil berjalan turun. Kau sendiri sedang apa dekat toilet?”


“A-aku, yaa... kau tau...”


Kenapa aku bisa gugup seperti ini?!


“Razox, aku sudah selesai, ayo kita turun.” Ucap Claudia yang baru saja keluar dari toilet bersama Tasla.


“Eh? Claudia? Tasla?”


“Lisa?!”


“Claudia! Tasla!”


“Lisa!”


Mereka bertiga langsung berpelukkan.


“Aku pikir kita tidak akan bertemu lagi.”


“...”


“Maaf mengganggu, ayo kita turun.” Ucapku yang menginterupsi mereka yang sedang saling rindu.


“Eh? Bagaimana dengan Diviana?” Tanya Tasla.


“Err... itu nanti saja, aku akan menemukannya, sekarang ayo kita turun dulu.”


...


Kami turun kembali ke ruang dimana Tino dan gadis itu berada.


Gadis itu langsung terlihat senang ketika melihat kami kembali.


“Mana Ivi?” Tanya gadis itu.


“Aku belum menemukannya,” Ucapku dengan nada menyesal.


“maaf.”


Gadis itu langsung murung ketika mendengar kabar seperti itu.


“...”


“Aduhh!!” Claudia merintih kesakitan dan terjatuh.


“Claudia!” Tasla dan Lisa langsung panik dan menghampiri Claudia.


“Kau tidak apa?”


“Ya, aku baik-baik saja,” Ucap Claudia menahan sakit.


“Ugh, maaf, tapi aku menyarankan agar kita menetap untuk sementara di ruang ini...” Ucap Claudia.


“Baiklah kalau itu maumu...” Ucap gadis itu.


“Tapi bagaimana dengan Ivi?” Tanya Tino.


“Kita bisa saja berpencar lagi.” Usulku.


“Ivi akan menemukan kita disini, dan Claudia juga butuh perlindungan dari kita, maka dari itu, kita harus menetap di ruang ini untuk sementara.” Ucap gadis itu yang tiba-tiba tegas.


“Baiklah...” Tino membalasnya dengan pasrah.


 

__ADS_1


 


__ADS_2