I Want A Normal Life : No Romance

I Want A Normal Life : No Romance
#04 - Psikiater Amatir


__ADS_3

Hari sudah beganti, Aku pergi ke sekolah sambil membawa papan kayu yang cukup besar. Berjalan buru-buru ke kelas. Saat aku baru sampai tangga, aku bertemu dengan Tino, Ivi, dan gadis itu.


“Kupikir kau sudah ada di kelas duluan.” Ucap Tino.


Tino melihat papan yang kubawa.


“Hei, papan yang kau bawa besar juga, kau bisa membantu kami. Cinta akan naik di papan itu, jadi kita akan lebih mudah membawanya ke kelas.”


“Tidak, aku takut papan ini tidak kuat, dan patah.”


“Jahatnya.” Gumam Ivi.


“Hei, aku mendengar itu!”


“Memangnya papan itu apaan, sih?”


“Nanti kau juga tau.”


“Sudah ya, aku ke kelas duluan!”


Aku langsung berlari meninggalkan mereka.


“Apa ini ada hubungannya dengan pesan singkat yang kau kirim kemarin?!” Tanya Tino dengan berteriak.


...


...


TOK TOK TOK


SRET SRET


“Fuh, jadi juga.” Ucapku dengan bangganya.


Papan itu adalah papan promosi jasa konsultasiku. Aku membuka jasa konsultasi psikologis, dan pesan singkat yang kukirim kemarin adalah pesan broadcast yang kukirim dan kusebar pada banyak orang, khususnya siswa SMA Platinum. Sekarang papan itu kuletakkan di atas pintu kelas.


Pasti akan banyak yang datang ke kelas untuk berkonsultasi denganku, karena kemungkinan setiap siswa di sekolah ini memiliki setidaknya 1 masalah psikologis.


“Hai lagi, Razox.” Sapa Tino.


Tino dan yang lainnya baru sampai dan langsnug melihat papanku yang ada di atas pintu.


“Heee... konsultasi psikologis...???”


“Jadi ini maksud pesan singkat yang kau kirim kemarin?”


“Yap.”


“Eh? Bukannya sekolah ini sudah ada Bimbingan Konseling?” Tanya Ivi sambil mengingat sesuatu.


“Ya, aku tau, tapi Bimbingan Konseling setauku hanya untuk konsultasi tentang akademik.”


“Kalau ini tidak.”


“Aku sengaja tidak menunggumu, kupikir kau akan datang lebih pagi dariku.” Ucap Tino.


“Ya, tadi aku sedikit telat bangun.”


“Kupikir ini akan sepi.” Ucap Tino melihat papan itu.


“Ehh?? Kenapa kau tiba-tiba bilang begitu??”


Tino melihat papan itu dengan teliti, seakan ada yang kurang.


“Hmmm...”


“Sebenarnya aku bilang begitu bukan tanpa dasar.”


“Kau lihat papanmu,”


“orang-orang tidak tau berapa harga konsultasi denganmu,”


“kau tidak memberi label ‘gratis’.”


“...”


“Uhh... kau benar, tapi memang ini gratis,”


“untuk minggu pertama.”


“Mungkin untuk selanjutnya aku akan mengenakan biaya Rp. 5000.”


“Cih, siapa juga yang mau membayar 5 ribu untuk konsultasi dengan amatiran sepertimu.” Keluh Ivi.


“Masalah yang diceritakan belum tentu selesai, bisa jadi muncul masalah baru.” Lanjutnya.


“Biarlah, nanti aku juga berkembang seiring berjalannya waktu.”


“Aku akan pelajari tentang psikolog lebih banyak di internet.”


“Konsultasi ini mulai dibuka jam istirahat nanti, jangan lupa berkunjung.” Ucapku dengan senyum paksa.


“Kami ini teman satu kelasmu, bodoh.” Ucap Ivi.


“Baiklah, kawan, semoga beruntung dengan bisnismu.” Ucap Tino.


BIP BIP BIP


“Gadis itu belum berbicara sepatahpun sejak aku melihatnya tadi pagi...”


“Sudahlah...”


BIP


...


“Hei, Tino.”


Ketika masuk kelas, aku langsung menghampiri Tino.


“Kau ingat dengan yang kukatakan kemarin?”


Aku mendekatinya dan memegang pundaknya.


“Maksudku pintu itu!”


Aku menunjuk pintu yang ada di ujung kelas.


“Oh, itu, ya, aku tau. ‘Pintu Depresi’, ‘kan?” Balasnya dengan datar.


“EEEHHH???”


...


...


...


Waktu istirahat tiba, aku masih duduk manis di kursiku.


“Hei, Razox, mau ke kantin bareng?” Ajak Tino.


“Ah, tidak.”


“Aku nitip saja.”


“Belikan aku roti blueberry.”


“Ini uangnya.”


Aku memberikan sejumlah uang kepada Tino.


“Baiklah kalau begitu...”


“Aku ke kantin bersama yang lain.”


...


...


Aku menunggu klien pertamaku...


...


...


“Lama juga ya.” Gumamku sambil melihat pergelangan tanganku yang tidak memakai jam tangan.


...


...

__ADS_1


BIP BIP BIP


“Hahaha! Kalau saja tadi aku tunjukkan gambar itu.”


Tino dan yang lainnya sudah masuk ke kelas lagi.


“Hei, Razox, sudah dapat berapa pelanggan?” Tanya Tino yang menghampiriku.


“...”


“Kau mengejekku, ya?” Tanyaku menatap sinis Tino.


“Eh? Aku hanya bertanya.”


“Nol...”


“Aku belum mendapatkan satupun pelanggan.”


“Sabarlah, memang seperti itu jika membuka usaha, tidak langsung ramai.” Ucap Tino dengan nada bijak.


“Ini, rotimu, makanlah.”


Tino memberikan roti pesananku, dan botol air mineral.


“Eh? Apa ini? Aku ‘kan hanya memesan roti.”


“Kau pasti lelah ‘kan menunggu? Ini, untukmu.” Ucap Tino yang tiba-tiba jadi tampan.


“Ti-Tino...”


Mataku terasa basah, aku mau menangis.


Tidak! Jangan menangis sekarang!


“Mungkin saja, orang-orang tidak tau kalau di kelas ini ada konsultasi gratis.” Ucap Tino.


“Memangnya kau mengirim pesan itu kepada siapa saja?”


“Umm... itu...”


“Semua siswa SMA Platinum.”


“Iya, siapa saja?”


“Umm...”


“Kau, ivi, gadis itu, dan temanku dari kelas lain, Lisa.” Jawabku dengan polosnya.


“...”


“Aku tidak punya banyak orang yang kukenal di sekolah ini. Kontakku saja sedikit.”


“...”


“Tino?”


...


Suasana kelas tiba-tiba hening...


BUAKKK


Kepalaku dipukul oleh Tino dengan keras.


“PANTAS SAJA SEPI!!!”


“Aww... sakit, tau!”


“Orang yang kukenal di sekolah ini sedikit...” Ucapku sambil memegangi kepalaku yang ternyata benjol.


“Uhh... harusnya kau bilang aku!”


“Iya, maafkan aku!”


“Dan juga kenapa kau ti-“


BIP


“Eh?”


Kami berdua langsung melihat ke pintu, ada seorang laki-laki yang sepertinya bukan dari kelas ini masuk, dia berjalan dengan biasa...


“Permisi...” Ucap orang itu dengan sangat sopan.


Aku dan Tino menatap orang itu dengan bingung.


“Apa ada yang bernama Razox? Aku tadi melihat papan di depan, katanya kelas ini menerima jasa konultasi.”


“...”


“...”


“Razox, apa kau sudah siap dengan pelanggan pertamamu?” Bisik Tino.


“...”


“...”


Aku langsung berdiri dan mendorong Tino agar menjauh.


“Tentu! Saya yang bernama Razox, kau bisa memanggilku Razox!” Ucapku dengan cepat sambil mengambil tangan orang itu untuk berjabat tangan.


“Silahkan duduk!”


“Bisa kau perkenalkan dirimu? Jadi apa masalahmu? Apa masalahmu sangat mempengaruhi hidupmu? Apa masalahmu sangat parah? Tidak ada penanganan sebelumnya? Apa sebelumnya kau pernah berkonsultasi? Kelas ini sulit ditemukan ya?”


“...”


“Razox, pelan-pelan.” Bisik Tino.


“Ehm.”


“Tolong perkenalkan nama anda.” Ucapku yang tiba-tiba tenang.


“O...ke...”


“Umm... namaku adalah Juniardo.”


“Juniardo? Nama yang bagus! Kau pasti lahir di bulan Juni! Sama denganku!”


“Umm... tidak, aku lahir di bulan Juli.”


“...”


“Oke, lanjut.”


“Aku... dari kelas X-6.”


Kelas itu ‘kan ada di sebelah kelas ini.


“Hmm...”


“Ada apa, Razox?” Tanya Juniardo.


Aku melihat pergelangan tanganku yang tidak pakai jam tangan lagi.


“Maafkan aku, sepertinya waktu kita tidak cukup.”


“Bisakah kita lanjutkan nanti, sepulang sekolah? Di kelas ini.”


“Baiklah.”


“Mungkin aku akan mengubah kebijakan, waktu istirahat hanya untuk membuat perjanjian, sedangkan konsultasinya dimulai pada saat pulang sekolah. Apa itu tidak masalah?”


“Tidak sama sekali, aku kembali ke kelas.”


“Terima kasih!” Juniardo sampai membungkukkan badannya kepadaku.


Dan keluar dari kelas.


“...”


“YEESSSSS!!!”


“Ciee... dapat pelanggan...” Tino langsung menghampiriku.


“Sebentar lagi aku akan jadi psikiater profesional! Lulus dari sekolah ini aku akan kuliah dengan jurusan psikologi di universitas ternama! Aku akan punya perusahaan sendiri! Lalu aku akan membuka cabang sampai perusahaanku menguasai pasar dunia!”


“Mimpimu tinggi juga.”


“Dan juga punya sekretaris pribadi.” Tambahku.

__ADS_1


PLAK


“Dasar mesum!” Bentak Ivi yang baru saja memukul kepalaku.


“...”


“Aku ‘kan belum menyebut jenis kelaminnya...”


...


...


...


---


TING TING


Jam pulang akhirnya tiba, aku sudah membereskan barang-barangku, tapi aku tetap duduk manis di kursiku.


“Razox, aku butuh bantuanmu!”


“Bantu Cinta turun dari tangga.” Ucap Tino.


“Maaf, aku tidak bisa, kau ‘kan tau sendiri aku ada ketemuan dengan klienku nanti.” Ucapku dengan nada berat.


“Ayolah, Razox, hanya sebentar.”


“Maaf, aku tidak bisa, mungkin besok.”


“...”


“Baiklah, aku tunggu kau di bawah.”


“Semoga bisnismu lancar.”


“Ayo, Ivi.”


Tino keluar dari kelas dengan yang lainnya, sekarang hanya ada aku sendiri di kelas.


...


“Harusnya aku meminta kontaknya...”


...


BIP


Seseorang masuk ke kelas, dan orang itu adalah Juniardo. Dia langsung menghampiriku.


“Wah, kemana yang lain?” Tanya Juniardo.


“Sudah pulang.” Jawabku singkat.


Juniardo duduk di kursi kosong yang ada di depanku.


“Tolong perkenalkan diri anda lagi.”


“Namaku adalah Juniardo, dari kelas X-6.”


Kalau kuingat lagi, aku ternyata memesan pesan singkatku ke sedikit orang.


“Darimana kau tau tempat ini?”


“Umm... teman sekelasku, Lisa, dia yang memberitahuku tentang tempat ini, ditambah plang yang ada di depan kelasmu ini, aku semakin yakin dengan adanya tempat ini.”


“...”


Kupikir dia tau dengan sendirinya...


“Huft...”


“Baiklah, kau boleh menceritakan masalahmu sekarang...”


“Beberapa hari yang lalu...”


‘Beberapa hari yang lalu’? Ini masalah baru.


“... pacarku...”


Firasatku jadi tidak enak...


“... jutek kepadaku, doi selalu membalas chat-ku dengan singkat, kurang dari 5 kata.”


Benar kata firasatku.


“Umm... Juniardo, sepertinya kau salah orang, seharusnya kau tidak menceritakan hal itu kepadaku.”


“Padahal aku selalu baik kepadanya...”


Dia tidak mendengarku!!!


“...”


Tunggu, dia bahkan tidak melihatku!


“Dia juga seakan menghindariku, kemarin aku datang ke kelasnya, dan dia langsung pergi melewatiku, seakan kami tidak pernah kenal. Hari ini juga begitu.”


Sudahlah, biarkan saja, dia pelanggan pertamamu,


“Padahal beberapa bulan lalu itu janji kami, untuk berada di satu sekolah supaya bisa bertemu setiap hari...”


Testimoninya akan menentukan usahaku seterusnya, jika aku memberikannya pelayanan yang memuaskan, tempat ini akan mendapat reputasi bagus dan akan cepat menyebar. Jika tidak, tempat ini akan sepi untuk seterusnya.


“Kupikir hubungan kami akan baik-baik saja.”


“...”


“Bagaimana ini? Aku takut hubungan kami berakhir seperti ini...”


Juniardo tiba-tiba memegang kedua tanganku.


“Kumohon, bantu aku!” Dia sampai memohon kepadaku, matanya sampai berkaca-kaca.


“Ba-baiklah.”


“Jadi apa solusinya???”


“Errr... kau...”


“Kau jauhi saja dia.”


“...”


“...”


Suasana tiba-tiba hening, lagi.


“...”


Sepertinya aku salah berucap.


“...”


“TERIMA KASIH!!”


Juniardo tiba-tiba memegang tanganku sambil menahan air mata dan ingus yang mau keluar.


“SUNGGUH! AKU SAMA SEKALI TIDAK MEMIKIRKAN HAL ITU!”


“Eh...”


“INI UNTUKMU!”


Juniardo memberikanku beberapa lembar uang berwarna merah.


“Eh? Ini gratis, tidak dipungut biaya apapun.” Ucapku sambil menghitung berapa lembar yang dia beri.


“TERIMA KASIH!” Teriak Juniardo, diikuti dengan suara pintu yang bergeser. Dia langsung keluar dari kelas.


“...”


Aku benar-benar tidak minta bayaran...


Sudahlah...


Aku memasukkan lembaran itu ke kantung celana, dan mengambil barang-barangku lalu keluar juga untuk pulang.


 


 

__ADS_1


__ADS_2